Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 25, 2021

SKETSA PANDEMI-Bagian 8


                Hari ini, Kamis tanggal 25 Februari 2021, bertepatan dengan tanggal 13 Rajab 1442 H (hari pertama puasa ayyamul bidh, puasa pada pertengahan bulan), bertepatan juga dengan tanggal kelahiran adik lelaki kami. Hari ini, jika raga dan nyawanya masih bersama kami, mungkin ia sudah meminta hadiah dan sebagainya dengan wajah ‘sok’ melas dan imutnya haha. Seperti yang biasa ia lakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Yah, meski keluarga kami tidak secara ‘literally’ merayakan hari ulang tahun karena saking seringnya berbeda lokasi, tapi kami masih saling mengucapkan dan mendoakan. Terlebih hari ini, kami menghadiahkan bacaan surah yasin dan tahlil padanya.

                Ngomong-ngomong soal ulang tahun, sebentar lagi adalah peringatan satu tahun rakyat Indonesia berkawan dengan virus corona. Berbeda dengan negara asalanya, yaitu China, dan negara lain yang telah dapat meminimalisir kasus positifnya, pemerintah dan rakyat Indonesia masih harus berusaha lebih keras untuk menurunkannya. Meski vaksin sudah disuntikkan, tapi kenyataannya belum dapat dibedakan. Semoga kita semua masih diberi kekuatan oleh Tuhan untuk menghadapi segala ujian.

                Hampir dua bulan berlalu, sejak tanggal satu mulainya tahun baru. Bukannya menjalankan visi misi setelah merdeka, malah kondisi Indonesia masih sama saja. Bahkan semakin banyak kejahatan yang diperlihatkan oleh pihak penguasa. Polisi yang memenjarakan seenaknya, presiden yang menyebabkan kerumunan tapi tak merasa, perilaku korupsi yang tak ada habisnya, dan masyarakat yang sudah mulai acuh pada aturan dan tak percaya pada pemerintah yang berkuasa. Terlebih, satu per satu ulama pergi dari dunia meninggalkan kita untuk menghadap pada Tuhannya. Sungguh menyedihkan sekali kondisi negeri ini.

                Abad 21, selain penuh dengan memori semakin maju dan berkembangnya teknologi, kejadian yang menyakitkan juga masih terjadi. Sejarah memang berlaku berulang kali, hanya saja pemerannya berganti. Semoga kasih sayang, rahman dan rahim Allah masih sudi diberikan oleh-Nya pada seluruh rakyat, para penguasa, dan semua penduduk di bumi ini. Amiin ya Robbal ‘Alamin~

Sabtu, November 21, 2020

Menapaki Kelucuan Takdir


                Salah satu hal yang selalu membuat manusia penasaran adalah Takdir. Dengan siapa kita dipertemukan? Dengan siapa kita dinikahkan? Di mana kita disekolahkan? Di mana kita dipekerjakan? Dan segala hal tentang rejeki apa yang akan Dia berikan? Hingga suatu saat kita tahu jawabannya, kita tahu maksudnya mengapa dulu hal ini tidak dan itu dikabulkan, atau sebaliknya hal itu tidak dan ini diiyakan. Meskipun kita berhak memilih jalan kita sendiri, tetapi hanya Dia yang memberi restu dan persetujuan.

                Satu kisah lucu ini terjadi lima belas tahun lalu.

                Setelah dua setengah tahun bersekolah di salah satu madrasah dasar di Tanggulangin, Sidoarjo, akhirnya aku diijinkan mengikuti ujian nasional (UN) yang hasilnya akan menentukan kelulusanku. Selain UN, hal lain yang menjadi persoalan bagi siswa-siswi kelas 6 MI adalah kelanjutan sekolah ke tingkat menengah. Tak terkecuali aku. Namun sebenarnya, orangtua telah memberiku penjelasan bahwa aku akan melanjutkan sekolah di pondok pesantren. Jadi aku tak perlu khawatir tentang hal itu.

                Sejak dulu, aku tak pernah komplain tentang sekolah. Dipondokkan oke, tidak pun juga tak masalah. Tetapi, satu hal yang tak pernah kualami sejak tingkat SD hingga SMA adalah bersekolah di sekolah umum negeri. Selama sembilan tahun, aku tak pernah punya kawan selain beragama Islam. Karena sejak awal, aku merasa nyaman dengan hal itu. Saat pindah dari Surabaya ke Sidoarjo pun demikian, aku minta disekolahkan di MI daripada SDN. Beruntung, orangtuaku menemukan satu-satunya MI di desa sebelah, tetangga terdekat dari perumahan tempat tinggalku. Tak kusangka, di madrasah itu, aku bertemu seorang kawan sekelas dari perumahan yang sama denganku (meski beda blok). Saat pertama kali aku masuk, yaitu kelas 4 semester dua, hanya ada kami bertiga (aku, adekku, dan seorang kawan itu) yang berasal dari perumahan di antara seluruh siswa-siswi satu madrasah. Namun tahun berikutnya, saat aku kelas 5 dan 6, akhirnya ada tiga kawan baru (yang kebetulan adalah teman sekelasku) dari perumahan itu.

                Tetiba suatu hari, orangtua memintaku untuk mengikuti tes masuk salah satu SMPN kecamatan sebelah, yang perjalanannya masih dapat kutempuh dengan sepeda ontel. Untuk uji coba katanya, untuk mengukur kemampuanku. Walhasil, Qodarullah, aku tak lolos, namaku tak ada di papan pengumuman penerimaan. Entah apakah aku benar akan disekolahkan di sana dan tak jadi dipondokkan jika diterima di SMPN itu, atau itu benar hanya untuk uji coba. Selang beberapa waktu setelah tes, masa lulus MI pun tiba. Akhirnya, aku dipondokkan di salah satu ponpes di Surabaya. Selulus dari ponpes itu, Alhamdulillah, aku adalah satu dari empat teman seangkatan yang diterima dan diberi beasiswa oleh MAN Insan Cendekia Serpong.

                Ya, itu adalah salah satu takdir lucu yang terjadi padaku. Tak diterima di sekolah yang menurut kita terbaik bukan berarti kita tak pantas mendapatkan hal yang baik. Allah akan memberikannya tepat waktu, bahkan menggantinya dengan suatu hal yang lebih baik. It’s surprise, dan kita tak pernah tahu kapan hal itu terjadi. Tetapi kita harus mengusahakan yang terbaik untuk meminta Allah memberi kita takdir yang baik. Wallahu a’lam.

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, November 17, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 5

 

                Riset bulan April 2020 menyebutkan bahwa prediksi berakhirnya pandemi covid-19 di Indonesia terjadi pada awal bulan Oktober 2020. Sebulan telah berlalu, namun ternyata pandemi itu belum berakhir. Sayangnya, sebagian masyarakat sudah tak peduli. Tak melakukan protokol kesehatan dengan semestinya hingga beraktivitas semaunya. Ya, namanya juga manusia, sifatnya pasti beda-beda. Dengan demikian, penelitian terbaru terbitan Oktober 2020 menyebutkan prediksi mundurnya akhir pandemi hingga pertengahan tahun 2021 dan sangat mungkin terjadi pandemi gelombang kedua jika kita abai dan tidak menangani permasalahan ini dengan serius.

                Tentu saja masih banyak orang yang peduli dengan protokol kesehatan yang telah disepakati. Mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, mengurangi aktivitas di luar rumah, mengurangi aktivitas berkerumun dengan banyak orang, hingga mengurangi silaturrahim fisik. Akibatnya, banyak orang saling merindu karena sudah hampir setahun tak bertemu. Termasuk aku. Kerinduan itu membuncah, terlebih karena tahun ini adalah tahun kelima angkatanku C-29 CHEM11TS (saat kuliah sarjana) berpisah pasca wisuda, juga tahun kelima pasca lengsernya Keluarga Harmoni (kabinetku di LDK JMMI ITS). Selain itu, adalah tahun kesembilan angakatan ke-14 AXIVIC MAN IC Serpong berpisah pasca lulus. Sedangkan tahun depan, saat tahun kesepuluh, kami sudah berencana (sejak sepuluh tahun lalu) untuk reuni di sekolah. Mudah-mudahan kondisi sudah membaik sehingga rencana itu bisa terlaksana. Oleh karena iitu, kami memutuskan untuk temu virtual lebih dahulu via portal zoom.

                Mei 2020, temu virtual (all member) pertama AXIVIC. Pembahasan ringan mulai dari update kabar per orang, update kabar dan kondisi sekolah, tausiyah dari salah satu guru dan QnA. Berlanjut Juni, kami membahas permasalahan krusial yang terjadi pada masyarakat khususnya untuk seusia kami. Ya, finansial terutama terkait investasi pada temu kedua, kesehatan mental (pribadi dan keluarga) pada temu ketiga. Lalu Agustus ada temu menyambut Tahun Baru Islam, hingga September ada temu membahas persiapan mengahadapi resesi ekonomi. Pembahasan yang beragam karena angkatan kami berlatar pendidikan tinggi yang beragam, ada yang sudah jadi penulis, ada yang otw jadi hakim, ada yang lawyer, ada yang dokter dsb dsb yang sungguh keren dan mulia pekerjaannya. Saat ramai UU Cipta Kerja, grup virtual kami juga membahas itu, tapi temu virtual tak diadakan sebab organisasi alumni IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia Serpong) telah mengadakan kajian dengan pembicara (dari alumni) yang sangat kompeten di bidang terkait.

                Nopember 2020, tetiba ketua angkatan CHEM11TS meminta temu virtual. Seperti ada hal urgent yang harus dibahas segera. Lebih dari seratus orang, mungkin 144, (aku sendiri lupa berapa angka pastinya, karena di tengah perjalanan studi ada beberapa member yang keluar) dikirimi pesan pribadi untuk menentukan jadwal. Ternyata benar, pertemuan pertama kami, tanpa basa-basi update kabar dll, materi financial planning dan investasi langsung disodorkan. Sharing pengalaman dan diskusi terkait investasi, bisnis dan sejenisnya, kami lakukan. Juga ada games yang dilombakan, hadiah yang diperebutkan dan video nostalgia yang diputarkan. Setelah itu, mungkin akan ada temu kedua dan seterusnya, tapi entah kapan. Mudah-mudahan silaturrahim ini dapat terus berjalan.

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, November 13, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 4

 

                Di tengah kebahagiaan kaum muslim menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW., menyiapkan perayaan dan acara-acara kemaulidan Rosulullah, saat itu terjadilah suatu hal yang tak diinginkan. Hal itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, hal yang memunculkan kemarahan di hati muslimin muslimat sekalian. Ya, di sebuah negara yang berada jauh di ujung eropa, negara yang dijuluki dengan negeri mode dan fashion, negara yang ‘katanya’ menganut asas kebebasan, terjadi (untuk ke-sekian kalinya) suatu hal yang sangat mengecewakan.

                Beramai-ramai umat Islam di seluruh dunia (kembali) bersatu. Melawan balik dengan mengecam perbuatan buruk itu, memboikot produk negara itu, dan menjadikan kasus itu sebagai bahan pelajaran pada kajian maulid Nabi, serta meningkatkan kecintaan muslimin muslimat pada Rosul SAW. Hingga hari ini, kasus itu masih diperbincangkan sebagian kalangan. Sebagian yang lain, sudah disibukkan dengan persiapan dan perayaan pilkada (pemilihan kepala daerah) serentak.

                Hikmah selalu ada pada setiap kejadian. Baik atau buruk pun demikian.

                Tanggal 25 Oktober 2020. Alhamdulillah, akhirnya aku menyandang gelar master setelah sekian puluh purnama kulewati. Berharap ilmu ini bermanfaat untuk diriku sendiri, untuk umat islam  dan untuk bangsa ini. Berharap ilmu ini menjadi berkah untuk siapapun. Berharap hal ini memberi kebahagiaan pada siapapun, terutama para dosen dan orangtuaku yang tak henti-hentinya mendoakan dan membersamai perjuanganku selama ini.

                Lulus sarjana dan lulus master, pun nanti jika lulus doktor, tak berarti perjuangan telah berakhir. Justru saat itulah, kisah petualangan yang baru akan dimulai. Roda kembali berputar, sukses dan gagal kembali dipergulirkan, langkah-langkah pun harus terus dipertimbangkan dan belajar dari masa lalu sudah pasti adalah hal yang harus dilakukan. Selamat dan sukses sahabat seperjuangan. Siapapun kalian yang tengah berjuang, bangkitlah dan jangan mengalah dengan keadaan. Karena keterpurukan hanyalah buah dari prasangka dan pikiran, begitupun dengan kegemilangan.

follow me @qhimahatthoyyib

Senin, November 09, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 3

 

                Alhamdulillah, ini adalah tulisan bebas ke-101 (di luar tulisan bulan Romadhon ’36 dan ‘37 H serta tulisan tentang Keluarga Harmoni) setelah sepuluh tahun aku menulis di blog ini. Meskipun tidak rutin, tak pula banyak pembaca, aku bersyukur masih bisa dengan bebas menuliskan banyak hal dan memberikan manfaat untuk sahabat pembaca. Tentangku, tentang keluargaku, tentang ilmuku dan tentang semua yang ada di pikiranku. Ya.. mudah-mudahan gak akan kena UU ITE yang menjebak itu sih. Hmm, parah sih emang, belum lama dibuat aja udah menimbulkan banyak kegaduhan. Banyak pasal karet katanya. Saat itu, sudah jelas banyak masyarakat termasuk kaum terpelajar menolak RUU itu. Tapi yaa, tetap aja tuh disahkan oleh yang berwenang.

                Belum lama ini juga, lagi-lagi DPR (Dewan Perwakilan Rakyat ‘katanya’) dan pemerintah membuat keributan dengan masyarakat. Mereka telah mengesahkan Omnibus Law, kumpulan berbagai UU, termasuk di dalamnya adalah UU Cipta Kerja. UU itu mengkhawatirkan banyak pihak, mulai dari pekerja, pengusaha hingga investor. Namun, seperti kita ketahui, endingnya tetap saja RUU itu disahkan menjadi UU. Lucunya, jumlah halaman dan isi dari UU tersebut berubah-ubah setelah disahkan. Bukannya menyelesaikan masalah pandemi, pemerintah malah membuat masalah baru. Atau jangan-jangan memang sengaja untuk mengalihkan perhatian? Yaahh.. who knows~

                Pandemi, ternyata tidak banyak mengubah perilaku manusia, termasuk masyarakat Indonesia. Setelah satu semester menjalani kehidupan yang lumayan ketat dan membosankan, orang-orang kembali menjalani kehidupannya dengan bebas seolah masa pandemi telah berakhir. Banyak alasan yang memang tak dapat disalahkan. Kondisi keuangan misalnya, rindu berkumpul dengan keluarga, ingin jalan-jalan bersama dengan kesayangan, atau sekedar iri dengan negara yang telah berhasil menekan penyebaran si virus. Meskipun demikian, kita terus berdoa agar Allah selalu menjaga negeri ini dan meridhoi kebaikan yang kita niatkan dan kita perbuat.

                Allah selalu memberikan kemudahan di tengah kesulitan yang terjadi. Ia selalu menepai janji.

                Tiga setengah tahun adalah jangka waktu abnormal untuk menyelesaikan studi magister. Studi itu harusnya selesai dalam waktu singkat, hanya 1,5 atau 2 tahun saja. Namun, kondisi yang tak biasa terjadi padaku. Seperti kukisahkan pada lembar-lembar sebelumnya. Di tengah perjalanan, tentu saja ada sepercik rasa ingin menyerah. Penyakit yang muncul, penelitian yang tak kunjung selesai, biaya belajar yang tak murah adalah sebagian sebab munculnya perasaan itu. Namun tentu saja, lebih banyak sebab lain yang memicuku untuk melanjutkan dan menyelesaikan amanah ini hingga akhir. Perlukah kutuliskan? Mungkin enggak ya, karena terlalu emosional dan mungkin sebagian sahabat yang mengalami ujian serupa sudah mengetahui alasannya hhe~ Ya, semoga Allah selalu memberi kita kekuatan untuk menyelesaikan persoalan duniawi yang sangat kecil ini.

follow me @qhimahatthoyyib

Kamis, November 05, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 2

 

                Masyarakat Indonesia dan juga seluruh dunia sedang berduka. Banyak korban berjatuhan akibat makhluk kecil satu ini. Masyarakat sipil, militer, anak-anak, orang tua, rakyat biasa, hingga pejabat bahkan petugas kesehatan tak terlewatkan sebagai korban. Januari 2020, kudengar pertama kali kejadian bermula di suatu tempat, di sebuah negeri daratan, beberapa ribu kilometer di sebelah utara pulau Jawa. Hingga maret 2020, kondisi itu merambah dan terjadi di Indonesia, tepat di ibu kota. Pertokoan, sekolah, kantor, dan segala tempat keramaian ditutup. Kejadian ini, memang tak menguntungkan untuk manusia, tapi mungkin menguntungkan untuk makhluk lain. Perbaikan kondisi bumi misalnya, atau perbaikan habitat sebagian flora fauna.

                Seketika mewabah di Indonesia, meskipun berjarak beberapa ratus kilometer dari pusatnya, kampusku mengondisikan diri untuk tutup. Saat jadwal hari pertama wisuda masih di gedung, namun jadwal hari kedua dengan sekejap berubah menjadi daring. Dosen dan pegawai dirumahkan, mahasiswa pun dipulangkan. Kampusku membenahi diri, menyiapkan protokol dan melengkapai perangkat lain yang dibutuhkan agar kehidupan kampus dan pembelajaran segera kembali berjalan.

Pandemi mengubah semua kondisi. Tak terkecuali, aku.               

Dosen pembimbingku yang tak lagi muda, memilih untuk bekerja sepenuhnya dari rumah meskipun diberi pilihan dari kampus untuk bekerja sebagian di kantor dan sebagian di rumah. Grup kami melakukan pertemuan daring sepekan sekali agar penelitian tetap terpantau dengan baik. Namun, karena laboratorium ditutup sementara sebelum semuanya selesai disiapkan, sehingga aku dan beberapa kawan tidak dapat melanjutkan penelitian. Padahal kami dituntut untuk berakhir dan lulus semester ini (bulan agustus lalu).

Sejak saat itu, perubahan yang signifikan terjadi padaku. Terutama pada penelitian yang kukerjakan. Target penelitianku berubah, dipermudah. Bapak pembimbing memberi keringanan padaku, menyesuaikan dengan data yang telah kudapatkan dan menyesuaikan dengan hal yang bisa kulakukan secepat mungkin di masa sulit ini. Alhamdulillah, aku sangat beruntung tahun ini. Meskipun kesulitan terjadi, kemudahan pun selalu mengikuti.

Beberapa pekan setelahnya, semua persiapan dan perangkat selesai dilengkapi, akhirnya kampus dibuka kembali dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, hanya diperbolehkan untuk mahasiswa yang melakukan penelitian di laboratorium. Kalau adek tingkat yang hanya kuliah di kelas, ya masih di rumahnya masing-masing. Masuk ke dalam lab dan kantor pun terjadwal. Sehingga, kami tak leluasa bekerja seperti sebelumnya. Namun demikian, sesegera mungkin target yang sudah diringankan itu kuselesaikan. Meskipun ada perasaan tak rela karena berbeda dengan mahasiswa magister lain bimbingan beliau. Tetapi, begitulah nasib (dan keuntungan) yang harus kuterima. Akhirnya, pada bulan Juli, semua persyaratan untuk lulus segera kupenuhi. Agar aku tak lagi menjadi beban, baik untukku sendiri, untuk dosen-dosenku, dan terutama untuk orangtuaku.

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Februari 19, 2019

Semakin Sabar, Semakin Handal (Part 3)



                Jika dua tulisan sebelumnya mengisahkan kesabaran pengendara bermotor dengan cc besar, kali ini kisah yang akan saya sampaikan adalah point of view dari pengendara sepeda ontel. Let’s check this out~
Alhamdulillah, mulai senin kemarin saya aktif olahraga pagi yaitu cycling. Ya walaupun masih dua hari, tapi ini merupakan awal yang baik dalam sebuah perencanaan, hehe. Mudah-mudahan bisa istiqomah entah sampai kapan, yaa itung-itung mengaktifkan kembali sensitifitas otot kaki. Olahraga ini cukup ringan bila dibandingkan dengan jalan atau lari, karena gerak kita bergantung pada sutu benda. Lingkup rumah juga kebetulan mendukung untuk bersepeda pagi hari. Sepanjang jalan saat berkeliling komplek kelurahan Nginden Jangkungan, ternyata cukup banyak orang-orang berolahraga terutama di area taman perumahan Nginden Intan.
Saat jalanan mulai ramai dan pasar mulai penuh, sesungguhnya inilah tantangan bagi pengendara sepeda. Maka dari itu, aku mencoba olahraga sepagi mungkin setelah shubuh. Ketika jalanan mulai padat, laju sepeda tidak dapat sekencang sebelumnya. Hal ini menyebabkan aktifitas kaki menurun dan tidak mencapai fungsi olahraga seperti halnya bersepeda biasa. Dari pengalaman ini, aku jadi teringat kisahku dengan penjual jamu bersepeda keliling yang sepertinya sudah pernah kuceritakana tapi aku tak ingat di tulisan mana hehe. Saat itu, tidak kurang dari dua meter aku akan memasuki gang rumah. Namun, di depan motorku ada si ibu penjual jamu keliling dengan sepeda tuanya. Bukannya bersabar menunggu si ibu melewati gang rumah, aku malah mengencangkan laju motor dan mendahului si ibu tersebut. Walhasil, seperti yang sudah kalian perkirakan, si ibu itu mengomel karena hampir saja kami bertabrakan.
Sesungguhnya saat itu, aku sudah memperkirakan kecepatan si ibu itu. Akan lebih cepat mendahuluinya daripada menunggunya. Dan benar saja, jarak kami saat hampir bertabrakan itu masih sekitar 500 cm. Tapi mungkin beliau saat itu tidak tahu bahwa motorku akan masuk gang. Ah, itu hanya alasanku saja untuk membela diri. Padahal meskipun menunggunya, aku tidak sedikitpun rugi karena tempat tujuan sudah di depan mata. Sehingga sejak saat itu, aku tidak pernah mendahului pengendara sepeda yang akan melewati gang sedangkan aku akan masuk ke gang tersebut. Terlebih jika gang itu berada di sebelah kiri jalan. Meskipun tempat tujuan masih jauh, namun setelah menunggunya aku masih bisa mempercepat laju motorku. Saat bersepeda akhirnya aku tahu mengapa si ibu itu mengomel. Bisa jadi karena sepedanya tak ada rem, atau si ibu dalam kondisi susah mengerem, atau bawaan jamunya terlalu berat jika mendadak mengerem, atau kondisi-kondisi lain yang tidak kita ketahui. Ya, pasti banyak hal yang tidak kita ketahui dari kondisi orang lain, terutama pengendara-pengendara yang tidak kita kenali di jalanan.
Sebetulnya ini bukan kali pertama aku bersepeda. Namun, terakhir kali aku bersepeda sudah lama sekali yaitu sekitar tahun 2013. Setelah itu, aku pergi ke kampus dengan sepeda motor. Sehingga, ontel mini di rumah pun diberikan kepada adek sepupuku hehe. Demikian, mudah-mudah tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga kita selalu dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Semoga Allah selalu merahmati kita, Amiin~ Bye-bye, see you later~ Wassalamu’alaikum.

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Agustus 25, 2018

SELINGAN 1 : Gelora Gempita 18th ASIAN GAMES 2018



Melihat euforia masyarakat dan atlet Indonesia terhadap ASIAN GAMES khususnya yang berada di Jakarta, Palembang, Bekasi, Bogor, Subang serta tempat-tempat lain yang menjadi tempat terselenggaranya pesta olahraga se-Asia ini membuatku flash back, mengingat memori masa-masa lampau saat aku masih berkecimpung di dunia bulutangkis. Memang tidak bisa disebut sebagai atlet, tetapi setidaknya aku pernah benar-benar menekuni cabang olahraga tersebut. Seingatku di beberapa tulisan sebelumnya pernah kusebutkan. Tetapi akan kukisahkan ulang jika tulisan itu sulit ditemukan.
Sangat teringat di dalam memoriku masa-masa di mana arena lapangan badminton menjadi teman baikku setiap satu pekan sekali pada hari jumat. Kurang lebih tiga tahun aku berada di sana saat usiaku masih sekitar 8 tahun. Aku tak yakin apakah aku merupakan anggota klub karena aku tidak hafal atlet lainnya kecuali seorang senior lelaki yang kerap kali memakai kaos bertuliskan CAMEL di punggungnya, itupun juga aku tak tahu namanya. Karena bagiku, keberadaan seorang pelatih sudah cukup untuk membakar semangatku.
Berlari mengelilingi lapangan adalah rutinitas kami sebelum berlatih. Meski rentang usia kami cukup jauh, kurasa sekitar 10 tahun, banyaknya putaran yang harus kulakukan saat itu sama dengan senior lainnya. Melelahkan, bahkan aku seringkali menangis setelahnya. Baik setelah berlari, maupun setelah berlatih. Karena tak banyak anak seusiaku pada jam-jam tersebut, aku seringkali bermain privat dengan pelatih, terkadang sesekali juga bermain melawan senior. Maka dari itu aku tak yakin apakah aku masuk ke dalam klub, atau les privat badminton. Tetapi aku bersyukur pernah serius bermain badminton dan pernah punya pelatih yang tidak jemu untuk membuat kemampuan bermainku menjadi semakin lebih baik.
Tujuh tahun kemudian, aku sempat mengikuti pertandingan antar sekolah SMA se-Tangerang. Menjadi salah satu wakil dari sekolah merupakan kebanggaan tersendiri. Sayangnya, aku tak sebaik pemain lainnya yang berasal dari klub ataupun telah berlatih rutin. Karena saat itu, aku dan kawanku yang berasal dari sekolah kami tidak benar-benar menekuni olahraga ini. Tak ada pelatih, tak ada latihan rutin, serta tak juga mengikuti klub. Wajar saja kami tak mampu untuk lanjut ke tahap selanjutnya. Itulah akhir dari karir permainanku dalam badminton. Meskipun sempat pada tahun pertama kuliah aku masuk ke dalam UKM badminton tetapi mataku sudah tak mampu lagi mengamati pergerakan shuttlecock yang terkena lighting GOR. Maka dari itu, saat ini badminton hanya kujadikan sebagai hobi, yang kulakukan jika ada waktu senggang.
Setelah mengalami sendiri, ditambah lagi dengan mengamati pertandingan dari beberapa jenis cabang olahraga, membuatku sadar bahwa ada dua macam pertandingan yaitu pertandingan melawan diri sendiri dan kedua pertandingan melawan orang lain. Olahraga yang termasuk dalam kategori melawan diri sendiri adalah cabang atletik seperti lari, lompat, atau cabang lain seperti balap sepeda, paralayang, panjat tebing, renang, panahan, bowling, dayung, angkat besi dan permainan lain yang sudah bisa dilakukan sendiri. Sedangkan olahraga yang termasuk kategori melawan orang lain adalah badminton, voli, tennis, tennis meja, sepak takraw, dan permainan lain yang hanya bisa dilakukan jika ada dua pemain/tim.
Kedua macam pertandingan tersebut selain terjadi dalam olahraga, pada umumnya juga terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Adakalanya kita harus melawan diri sendiri dengan kondisi lingkungan yang ada, kadang juga kita harus menghadapi kondisi untuk melawan orang lain. Tetapi seperti yang kusebutkan pada cerita awal bahwa keberadaan pelatih sangatlah penting. Begitu juga dalam menjalani kehidupan, keberadaan pelatih alias orang-orang yang dapat memberikan nasihat, menyalurkan semangat, dan menawarkan solusi sangat kita butuhkan. Terlebih dari orang-orang yang telah melalui kondisi yang sama dan mempunyai pengalaman yang sama.
Demikian tulisan selingan kali ini, sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Akhir kata, saya tutup dengan kutipan lagu ASIAN GAMES 2018 yaitu “and Give Your Best, Let God Do The Rest”. Fighting Indonesia!!


follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Agustus 03, 2018

RUMAH SAKIT BERCERITA #1



                Assalamu’alaikum sahabat semua, semoga kita selalu dalam kondisi hati dan iman yang baik serta bersih. Meskipun pada hari ini sebagian kita mendapat cobaan, atau sebagian yang lain mendapat kesenangan mudah-mudahan kita selalu mendapatkan keberkahan. Amiin~ Sahabat, kali ini saya mencoba berkisah dan mengambil ibroh (pelajaran) dari kejadian-kejadian di Rumah Sakit selama saya berobat kurang lebih dua tahun terakhir.
                Pagi itu, seperti biasa aku berobat ke RS (Rumah Sakit) yang jaraknya sekitar 20 km dari rumah. Kontrol pertama setelah dua bulan lamanya aku meliburkan diri. Meskipun pada hari-hari sebelumnya keluhan itu ada, tetapi kucoba bertahan namun sia-sia. Semakin hari semakin parah, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke RS. Meskipun harus melewati drama di puskesmas saat minta rujukan, karena aku libur minta rujukan dua bulan, seharusnya tidak boleh langsung kembali ke RS. Tapi petugas puskesmasnya baik sekali :) Alhamdulillah Allah masih memberikan kemudahan padaku.
                Kubuyarkan kebosanan menunggu antrian dengan membuka hape (handphone), membaca al-qur’an, memainkan game asah otak, menulis puisi, terkadang bercakap dengan orang sebelah dan apapun yang bisa dilakukan. Akhir-akhir ini aku menikmati buku yang baru saja kubeli NEGERI SENJA sambil menunggu antrian. Saat itu, ketika sedang menikmati story kawan-kawan di layar hapeku, aku mendengar seorang ibu berbincang dengan ibu lain di sampingnya. Obrolan ringan yang memang biasa dilakukan di rumah sakit, tidak jauh dari tema seputar penyakit, cara penanganannya, bagaimana di rumah, bagaimana pelayanan rumah sakit. Tetapi satu kalimat yang membuatku terhenti bermain hape dan fokus pada obrolan mereka adalah, ”bojoku mba seng loro, wong e maem e rewel, koyok gak gelem waras”, “iyo, lek wong lanang loro awak dewe repot, tapi lek awak dewe loro wong lanang iki gak gelem repot”.
                Percakapan mereka memang dalam bahasa jawa, maka kutuliskan seperti asalnya. Jadi begini, maksud dari kata-kata kedua ibu tersebut adalah sebagian keluarga jika suami yang sakit maka istri akan setia merawatnya, memenuhi segala kebutuhannya dan mendukung untuk kesembuhannya. Tetapi jika istri yang sakit maka seringkali suami acuh dan tidak bisa memberikan perawatan terbaik atau yang dibutuhkan istrinya. Setelah mendengar pernyataan tersebut, aku mulai berpikir sepertinya bukan kali pertama aku tahu akan hal itu. Saat di puskesmas, atau ruang rawat inap, atau IGD, banyak wanita terutama seorang istri dan ibu berpikiran sama, menyampaikan pendapat yang sama. Apakah memang hal tersebut terjadi pada sebagian besar keluarga? Tetapi hebatnya adalah wanita memiliki kemauan sembuh lebih besar daripada pria. Terlebih jika wanita tersebut adalah seorang istri yang merasa dibutuhkan oleh suami atau ibu yang merasa dibutuhkan oleh anak-anaknya.
                Di masa-masa sakit seperti ini, kisah epik dan heroik yang selalu terlintas adalah kisah Nabi Ayyub. Bagaimanapun di masa sulit beliau, sang istri satu-satunya yang mau merawatnya dengan sabar selama 7 tahun. Bukan waktu yang sebentar, tetapi jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang sudah diberikan bertahun-tahun lebih lama maka kata beliau 7 tahun bukanlah apa-apa. Ketika seorang istri dengan sabar dan rela merawat suaminya, serta sellau mendekat kepada Allah, maka keberkahan dan kemudahan akan diberikan oleh Allah kepada keluarga kita. Setelah masa suit itu, akhirnya harta mereka kembali, anak-anak pun dilahirkan lagi. Semoga kita selalu dapat mengambil hikmah dari semua kejadian yang kita alami. Sampai jumpa di Rumah Sakit Bercerita selanjutnya. Semoga bermanfaat~

follow me @qhimahatthoyyib

Minggu, Januari 14, 2018

Untuk Apa Tangan Kita Diciptakan?

Beberapa waktu lalu saya melihat dorama Jepang jadul berjudul Great Teacher Onizuka (GTO)-Taiwan series. Dorama jepang dengan genre sejenis atau hampir mirip dengan GTO mudah sekali ditemukan, misalnya dorama akhir tahun 2017 Saki ni Umareta Dake no Boku dan Minshuu no Teki atau dorama lama yaitu Gakko no Kaidan (2016) dan Change. Perbedaan dari masing-masing dorama tersebut adalah aktor utama yang berperan sebagai agen perubahan dan target wilayah yang diubah. Kembali pada dorama GTO Taiwan, terdapat salah satu scene (saya lupa pada episode ke berapa) Onizuka sensei berbicara pada Xieli sensei kurang lebih terjemahnya adalah “...lalu, buat apa kedua tanganmu itu?...” kemudian Xieli sensei terdiam dan berpikir. Pada dorama tersebut, Onizuka sensei berperan sebagai agen perubahan dalam suatu sekolah. Ia digambarkan sebagai guru yang sangat peduli kepada muridnya dan mengatasi berbagai masalah yang menimpa muridnya dengan cara unik versinya.
Kata-kata tersebut kemudian membuatku berpikir bahwa mungkin saja kita diciptakan tidak hanya untuk memikirkan keberadaan diri sendiri, egois nama lainnya, khususnya dengan hadirnya kedua tangan ini. Entah pemikiran tersebut sudah berapa kali muncul di kepala selama seperempat abad hidupku ini. Pemikiran jenis ini entah sudah pernah kutuangkan dalam tulisan atau belum. Seperti sudah pernah kuungkapkan tetapi dicari tulisannya pun tidak ketemu. Mungkin sudah waktunya untuk saya tuliskan tentang hal ini sekarang.
Sahabat, mengenai persoalan ‘untuk apa kedua tangan kita’ diciptakan ini kemudian saya mencari kata ‘tangan’ di dalam al Qur’an dan menemukan satu ayat yang tepat untuk menjawabnya. Selain itu, di dalam hadits Rosulullah menyebutkan pula kegunaan dari tangan pada manusia yang tepat digunakan sebagai jawaban dari pertanyaan Onizuka sensei terhadap Xieli sensei. Al-Qur’an surat al-Isro’ (17) ayat ke-29 menyebutkan (artinya):
29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal
Menurut Abu Umamah r.a. ayat ini turun ketika suatu hari Rosulullah SAW berkata kepada ‘Aisyah r.a. “aku akan menafkahkan semua yang aku miliki”, kemudian ‘Aisyah menjawab "jika begitu, tentu tidak akan ada lagi yang tersisa sedikitpun.” (HR ibnu Mardawaih).
Tafsir Jalalain menyebutkan bahwa tangan yang terbelenggu pada leher artinya menahan diri dari berinfak secara keras-keras (pelit sekali) karena hal itu akan membuatnya tercela. Sedangkan membelanjakan atau mengeluarkan harta secara berlebihan dan tidak memiliki apa-apa lagi maka hal itu akan membuatnya menyesal.
Hadits Rosulullah SAW yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi pada Riyadhus Shalihin bab ke-23 tentang Memerintah Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran nomor 1/184 menyebutkan bahwa Abu Said Al-Khudri mendengar Rosulullah SAW bersabda “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Imam Ahmad menjelaskan lebih lanjut tentang hadits ini  yaitu mengubah kemungkaran dengan tangan maksudnya bukanlah dengan pedang atau senjata melainkan kemampuan/kedudukan yang digunakan untuk mengingatkan dengan berlaku santun dan lembut, tanpa kekerasan, halus dan tidak mengundang kemarahan serta kebencian.
              Sahabat, telah jelas sudah mengapa tangan ini diciptakan oleh Allah untuk kita. Bukan hanya sebagai alat untuk mengepal, tetapi juga untuk menggenggam tangan-tangan yang membutuhkan bantuan. Bukan hanya digunakan untuk menyendok makanan, tetapi juga untuk meraih kembali orang lain pada jalan kebaikan. Bukan hanya memberikan nafkah pada keluarga atau apapun namanya, tetapi juga untuk menebarkan kebahagiaan. Jadi, sudahkah kau temukan jawaban untuk apa selama ini kedua tanganmu kau gunakan?
Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan dari sastrawan sekaligus ahli tafsir Sayyid Quthb yaitu “Orang yang hidup untuk dirinya sendiri akan hidup sebagai seorang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup untuk orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.” Jadi, untuk siapa kau dedikasikan hidup yang kau jalani sekarang? Semoga Allah merahmati kehidupan sahabat sekalian. Wallahu a’lam.


follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 29, 2016

For Desember



Louvember, 20th 2021
Desember aku senang sekali hari ini, kau tahu kenapa? Entahlah! Sebenarnya aku juga tak begitu mengerti mengapa diriku dan perasaanku terasa sangat bahagia, tanpa beban, dan sangat ringan. Aku ingin sekali bercerita sesuatu kepadamu tentang negeriku saat ini. Aku sangat senang, sekarang negeriku menjadi nyaman, tenteram dan menyenangkan. Semua warga negara sejahtera dan sentosa, tidak ada kerusuhan dimana-mana, sungguh menyenangkan sekali tinggal di negeri yang semacam ini.
Sekarang aku tinggal di sebuah rumah dengan ayahku, ibuku, adik-adikku sayangnya aku tidak punya kakak, maukah kau menjadi kakakku Desember? Tidak perlu sih sebenarnya, aku cukup senang kau menjadi sahabat terbaikku yang selalu mau menemaniku selama ini. Desember, aku sangat senang meskipun di rumahku tidak ada barang-barang yang kata orang sudah menjadi kebutuhan pokok mereka, seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci juga barang-barang yang lainnya. Aku sudah cukup senang meski tak ada semua barang itu di rumah, aku senang punya keluarga yang sangat istimewa, selalu tertawa, selalu bahagia, aku pun senang jika semua tetanggaku sudah sejahtera, aku sangat senang.
Desember, lihatlah di sekelilingku, semua bahagia, tertawa, semua sejahtera, aku pun akan bahagia jika semua bahagia. Orangtuaku pun selalu bahagia, kami sekeluarga selalu bahagia. Satu tetanggaku yang sangat kukagumi, ia selalu bahagia meskipun setiap hari harus mencari sampah demi memenuhi kebutuhan hidupnya, ia selalu tersenyum meskipun tak seberapa banyak hasil jerih payah yang ia dapatkan setelah seharian penuh mencari sampah, ia selalu berbagi kepada keluargaku, berbagi tentang cerita hidupnya, berbagi rezeki yang telah ia dapatkan, berbagi apapun kepada kami. Sungguh hidup kami sudah sejahtera.
Desember, lihatlah langit itu! Senja itu begitu mempesona, selalu merona berwarna merah dan jingga, selalu membuatku bahagia dan merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Desember, sungguh aku sangat senang berada di negeri ini, negeri yang hijau, negeri yang biru, negeri yang penuh dengan warna, warna yang selalu membuat negeri ini mempesona dan membuat siapapun terpesona padanya. Desember, harusnya kau kuajak kesini untuk melihat betapa indahnya negeri yang kutempati ini.
Desember, pagi ini aku harus berangkat bekerja. Aku harus pergi mencari rezekiku yang telah ditetapkan Tuhan dan akan diberikan oleh-Nya padaku. Aku bekerja di tempat yang tak disukai banyak orang tetapi desember, aku sangat bahagia, jika tempat itu tak disukai banyak orang maka tidak banyak orang mencari nafkah disana namun ternyata aku salah, banyak sekali orang bernasib sama seperti aku. Jadi aku punya banyak sekali kenalan dari tempat kerja itu. Kata orang sih jarak dari rumah ke tempat kerjaku kurang lebih 2,5 km karena aku tidak tahu pasti ukurannya berapa, kau tahu kenapa? Karena aku tidak pernah lulus SMA dan pendidikan terakhirku adalah sekolah dasar.
Desember, tempat kerjaku tak berbeda jauh dengan tempat kerja tetanggaku yang kuceritakan tadi, tetapi tempat kerjaku jauh lebih nyaman dari tempatnya. Di tempatku lebih banyak sampah yang dapat kuambil, sedangkan di tempatnya sedikit. Di tempatku lebih banyak kawan yang bisa kuajak berkenalan sedangkan di tempatnya sangat sepi. Di tempatku banyak orang baik yang dengan senang hati memberikan sampahnya pada kami, sedangkan di tempatnya tak ada orang yang peduli. Tempat kerjaku juga sangat luas daripada tempatnya.
Desember, sekarang aku bingung bagaimana harus membahagiakan kedua orangtuaku, meskipun mereka selalu terlihat bahagia di depanku padahal aku sangat tahu bagaimana perasaan mereka terhadap keadaan kami. Kami sungguh sudah sejahtera, negeri ini pun sudah sejahtera, kami sangat diurus dengan sangat baik oleh pemerintah negeri ini. Warga di sekitar kami, semuanya sejahtera. Kami dapat bekerja dengan aman dan nyaman tanpa ada yang mengganggu kami.
Desember sudah dulu ya, kita berbincang-bincang lagi besok. Sekarang senja sudah mulai tenggelam dan kau juga harus istirahat, jaga kesehatanmu, bekerjalah dengan baik jangan lupa tersenyum karena dunia ini akan takluk pada senyum kita. Semangat!! Sampai jumpa..
000
Senja turun dengan indahnya semakin merah dan jingga saat ia mengakhiri tulisannya yang akan ia berikan pada Desember. Ah entahlah! jika kalian bertanya kepadaku tentang siapa itu Desember yang dia maksud sungguh, aku juga tidak tahu siapa Desember yang ia maksud sebenarnya jadi sebaiknya tanya saja sendiri kepadanya.
Namanya Shofiy, pria yang lembut—sama seperti namanya yang berasal dari bahasa arab yang artinya lembut—tipikal orang yang ramah dan sopan dengan rambut hitam legam namun telah menjadi kemerahan karena teriknya sinar matahari selalu mengenai rambutnya saat ia bekerja. Usianya kira-kira 28 tahun, terlihat dari parasnya yang tampan namun telah pudar karena tak pernah dirawatnya dan badannya yang gagah namun sedikit kurus karena nutrisi tubuh yang tak pernah dipenuhi.
Aku tak begitu tahu dimana ia tinggal, dimana ia bekerja, namun kami bertemu disini, di tempat ini ia ceritakan semua padaku, tentang Desember—meski sampai saat ini aku tak tahu Desember itu siapa—tentang keluarganya, tentang tempat kerjanya, tentang semua aktifitas yang ia lakukan. Di tempat ini, kami sering bertemu, saat aku menjajakan daganganku dan saat itu ia beristirahat dari pekerjaannya. Di tempat ini pula kami mengatakan janji itu.  
000
Louvember, 20th 2012
Desember, hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sangat istimewa menurutku. Ia seorang pria namanya Rizqi, seorang pedagang keliling yang ramah dan murah senyum.
Ceritanya begini, saat aku tiba-tiba saja merasa penat dan sangat lelah, aku berjalan menyusuri waktu, maju perlahan-lahan menghindari tempat kerjaku dan tanpa terasa aku telah berjalan sejauh 1 km dari tempat kerjaku. Di tempat itulah tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang yang tersenyum padaku, menawarkan dagangannya padaku. “Dia pikir, siapa dia? Senyum-senyum gak jelas! gak tahu orang lagi pusing apa?” aku berceloteh dengan diriku sendiri saat melihatnya tersenyum padaku.
“Minum mas?” ia tersenyum padaku.
“Gak butuh!” kujawab dengan muka masamku.
“Sepertinya mas-nya ada masalah ya? Ada apa?” masih dengan senyumnya.
“Dasar orang aneh, dibentak malah gak pergi” omelku dalam hati.
“Kenapa mas? Ada apa? Mau minum? Gak papa ini saya beri, gratis kok..”
“Benarkah! Gratis?” tetap bertanya dalam hati.
“Tetapi sebagai gantinya, mas bisa cerita pada saya ada apa sebenarnya..” lanjutnya.
“Hmm, orang aneh! Dagangan kok dikasih ke orang asing gak dikenalnya..”
“Mas, siapa namanya?” tanyanya padaku tetap dengan senyumnya ditambah uluran tangannya.
Tidak tega membiarkannya, kujawab saja seenakku. “Indra” tanpa menjabat uluran tangannya.
“Oh mas Indra, saya Rizqi pake q lho mas jangan pake k..” ia perkenalkan dirinya tetap dengan ulasan senyum di wajahnya. “Mari mas duduk sini kita minum sebentar.” Lanjutnya dengan memberikan sebotol teh padaku.
Dengan sedikit terpaksa dan sangat ingin, kuambil saja botol itu dari tangannya dan anehnya ia malah tersenyum senang melihatku mengambil botol itu dari genggamannya. “Nah begitu dong.. tawaran saya diambil, mari minum sambil duduk mas Indra.” Ucapnya setelah aku mengambil botolnya dan kami duduk berdampingan, aku ada di sebelah kanannya, dan ia ada disebelah kanan gerobaknya.
“Mas Indra, sungguh sebenarnya tidak ada hidup seorang manusia itu mudah, kaya miskin, tua muda, pria wanita, semuanya sulit, saat kaya sulit memberi, saat miskin sulit menerima, saat tua sulit berkarya, saat muda sulit bekerja, pada pria sulit merasa, pada wanita sulit memaksa. Semuanya serba sulit namun dengan kesulitan, kita bisa mengerti dan merasakan adanya kemudahan. Ketika kesulitan melanda, kita harus memaksa, memaksa diri kita untuk menerima, memaksa diri kita untuk memberi, memaksa diri kita untuk berkarya, memaksa diri kita untuk bekerja,memaksa diri kita untuk merasa, memaksa diri kita untuk  memaksa.
Mas Indra, hidup ini adalah seni mengelola keterpaksaan, jika kaya harus terpaksa memberi, jika miskin harus terpaksa menerima, jika tidak sejahtera terpaksa harus bersikap sejahtera.”
000
Pertama yang aku tahu, namanya Indra orang yang sangat cuek dan tidak punya harapan, entah mungkin karena hari itu ia benar-benar suntuk atau memang tabiatnya seperti itu, aku tidak tahu. Lalu saat hari itu berlalu, ia kembali ke tempat itu kedua kalinya, membawa temannya dengan wajah gembira entah karena apa, aku belum tiba di tempat itu saat ia datang kemudian duduk dan menantiku. Ia yang kemudian aku tahu dipanggil shofiy oleh temannya, pria ramah luar biasa sesaat sebelum aku tiba disana.
“Kenapa baru datang!” tiba-tiba ia membentakku.
“Kita tidak janjian di sini kan? Siapa suruh kamu kesini?” tetap dengan senyumku. “Mau minum?” lalu kutawarkan minuman pada temannya.
“Kenapa harus berbohong padaku tentang namamu Shof? Itukan nama yang bagus.. nama pemberian orangtuamu, kau tahu kan apa artinya? Mereka sangat berharap kau akan menjadi pria yang lembut. Dalam hidup ini, kau harus yakin bahwa apapun yang kau jalani dan semua yang kau tekuni akan membuahkan hasil.”
Ah! Semua kenangan itu membuatku rindu padanya, sahabat terbaik yang pernah kumiliki seumur hidupku, bersama merasa sejahtera meski tak sejahtera, bersama merasa gembira meski tak sepenuhnya gembira, bersama merasa bahagia meski tak pernah bahagia, bukankah saat kesedihan dibagi maka kesedihan itu berkurang setengahnya dan saat kebahagiaan itu dibagi maka akan bertambah dua kali lipat? Tapi mengapa banyak orang tak sadar, Tak pernah mau berbagi saat ia bahagia tapi selalu berbagi saat ia berduka, padahal saat ia tiada siapa yang mau berduka untuknya?
Hari ini pun aku masih berduka, hari kesepuluh setelah pemakamannya, ia yang selalu gembira, ia yang selalu membuatku bahagia, ia sahabat terbaik yang pernah ada, semangatnya, jasanya, meski tak banyak orang tahu karena tak banyak orang mau tahu. Entah seberapa miskinnya, ia selalu menganggap dirinya sejahtera, menganggapku, menganggap keluarganya, menganggap tetangganya, menganggap negeri ini sejahtera.
Negeri yang kaya, negeri yang hijau, negeri yang biru, negeri yang berwarna katanya. “Tak ada negeri yang seperti ini kawan, negeri yang memberimu banyak pelajaran, negeri yang memberimu kesempatan untuk menunjukkan kekreatifanmu dalam menjalani hidup, negeri yang sungguh mempesona. Mari bersama-sama berjuang memperbaiki hidup ini dan memperbaiki negeri ini. Sungguh! Dengar janjiku, kau juga harus berjanji ya.. kita BERSAMA bermimpi dan MEWUJUDKANNYA.”
Itulah kat-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya, semangat yang menggebu-gebu untuk memperbaiki negeriku, negeri kami, tempat tinggal kami. 
000
For Desember
Desember, kumohon pertemukan kembali aku dengannya, sungguh bahagia sekali bertemu dengannya hari ini, ia memberiku banyak hal, tak hanya minuman, tapi juga pelajaran untuk menjalani hidup di negeri yang sejahtera ini. Ia mengajariku berseni dalam hidup, ia membuatku bermakna, meski sebenarnya tak ada orang yang menganggapku bermakna, selain ia, orangtuaku, dan adik-adikku.
Desember, kumohon, aku rindu sekali pada mereka meski negeri ini tak sama sejahteranya dengan tempat ini, meski negeri ini tak sehijau tempatku saat ini, meski negeri ini tak sebiru tempat ini, meski negeri ini sungguh tak sebaik tempat ini.
Desember, Senja ini, aku sangat rindu padanya, aku rindu pada hidupku, tapi aku senang sudah merasakan kesejahteraan ini lebih dahulu daripada mereka. Ingin sekali aku mengajak mereka ke tempat ini, merasakan kenyamanan ini, merasakan kesejahteraan ini. Sungguh benar katanya, hidup ini adalah seni melawan dan memanfaatkan keterpaksaan. Senja ini aku terpaksa meninggal, meninggalkan dunia, meninggalkan keluarga dan temanku di sana. Senja ini aku terpaksa meninggalkanmu Desember, sampai jumpa, semoga kau selalu ceria, hiduplah dengan semua keterpaksaan yang ada dan rasakan manfaatnya.

Selesai ditulis pada 16 September 2014
follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Juni 24, 2016

Setapak Cahaya: CINTA DAN PENGORBANAN



Ada yang bilang bahwa cinta perlu diperjuangkan. Sedangkan perjuangan memerlukan pengorbanan. Sehingga untuk mendapat cinta diperlukan pengorbanan. Maka, apapun yang kita dapatkan akan bergantung kepada seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan. Pun dalam beragama juga demikian. Seorang yang mengaku cinta kepada Allah dan Rosul-Nya dengan semurni-murni cinta akan rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan yang ia inginkan.
Terdapat salah satu kisah ketika perang Ahzab (diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah) bahwa Rosulullah SAW mendapat berbagai kesulitan yang sangat hebat dan kepungan musuh yang sangat ketat. Sehingga turunlah ayat 214 pada surat Al-Baqoroh yang artinya: 214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan. Ya, layaknya seorang yang mengaku cinta, menghamba kepada pemiliknya, ia akan lakukan segalanya demi mendapatkan perhatian dari cintanya. Semoga kita semua tidak meninggalkan Islam dan tetap yakin kepada Allah meski berbagai ujian dan cobaan menimpa kita. Amiin~


follow me @qhimahatthoyyib