Tampilkan postingan dengan label iseng aja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng aja. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 18, 2019

Semakin Sabar, Semakin Handal (Part 2)



                Akhirnya setelah delapan tahun, pikiran-pikiran liar yang ada di kepalaku menemukan pasangannya. Akirnya, kata-kata yang kutuliskan pada tahun 2011 lalu berjudul “Semakin Sabar, Semakin Handal” telah menemukan jawabannya. Saat itu, pemikiran yang kutuangkan dalam tulisan tersebut hanya berdasar pada hal-hal yang kuperhatikan dan pengalaman setelah 14 tahun menempuh pendidikan. Kenyataan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan atau semakin bertambah usia, maka semakin besar pula intensitas kesabaran dan kapasitas hati yang diperlukan. Rosulullah SAW bersabda dalam suatu hadits, “Bukanlah orang yang hebat itu adalah orang yang hebat dalam pertempuran, tetapi orang hebat itu adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika sedang marah”.
Kemarahan merupakan suatu ekspresi yang ditunjukkan saat seseorang tidak sabar dalam menghadapi suatu ujian. Salah satu wujud ujian adalah mengendarai kendaraan saat peak season atau crowded di jalan. Perkiraanku dalam tulisan itu terbukti saat tahun 2016 aku berlatih mengendarai kendaraan roda empat. Sejak saat itu, aku tahu perasaan sesama pengendara mobil. Semua pertanyaan yang selama ini ada di kepala terjawab sudah setelah aku mengalami sendiri kejadian itu. Misalnya, mengapa pengendara mobil itu bisa pelan dan sabar? Awalnya kukira karena di mobil itu dingin karena ada AC (air conditioner) atau karena ada musik dan radio yang bisa disetel kapan saja. Ternyata tidak, meskipun kedua benda itu tidak berfungsi, pengendara mobil tetaplah harus sabar.
Pikiran-pikiran itu terbukti lagi, saat pekan lalu, pekan pertama Februari 2018, aku dan tim yayasan SDM IPTEK berlibur ke DIY dan Klaten, Jawa Tengah. Entah mengapa tiba-tiba kami membahas pengendara mobil. Si teman yang menyopiri kami tiba-tiba berkisah tentang ayahnya yang dulu sempat bekerja mengendarai truk. Setelah sekian lama mengendarai truk, pada akhirnya beliau sudah tidak berani mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Kebiasaan beliau membawa truk membuatnya menjadi lebih pelan dan lebih sabar dalam berkendara. Kejadian itu mirip dengan apa yang kualami saat ini. Setelah operasi, aku juga tidak berani mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Hingga saat ini ketika aku sudah merasa lebih baik dan sehat, aku pun masih belum berani mengendarainya dengan kecepatan lebih dari 60 km/jam.
Begitulah, seringkali kita perlu menjalani hal yang sama untuk mengerti perasaan orang lain. Rasanya sulit sekali berempati dan bersimpati jika kita tak pernah mengalami hal yang mirip atau serupa dengan orang tersebut. Misalnya, mengutamakan tempat duduk untuk lansia dan wanita hamil. Atau mendahulukan kendaraan di bagian depan dan tidak terburu memencet klakson setelah 1 detik lampu berubah hijau. Atau mendahulukan para penyeberang jalan jika lampu sudah berubah merah untuk pengendara kendaraan bermotor. Atau mengantri dan mengutamakan orang yang datang lebih dahulu. Dan budaya-budaya lain di Indonesia yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, Allah selalu mengingatkan kepada kita untuk terus berada dalam jalan kebaikan. Dengan sikap islami, insyaa Allah apapun yang kita lakukan pastilah hal yang diridhoi oleh Allah SWT. Akhirul kalam, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin~

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 29, 2016

Saksi Sunyi Tak Tersembunyi



“Mamaaaa,,, sepatuku mana yaa?” teriak Ira dari balkon kamarnya yang berada di lantai dua.
“Apa sih ra, kamu ini semua nanya mama! Yang punya sepatu siapa, yang nyimpen siapa, nanyanya ke siapa.. makanya kamu ini jadi anak perempuan belajar mandiri lah, apa perlu mama pesantrenin?” balas mama dengan teriakan lebih kencang dari dapur.
“Mama, aku kan cuma nanya sepatu malah diceramahin panjang lebar. Tiap hari mama udah bilang kan..” Jawab Ira sembari mencari sepatunya di gudang sepatu.
“Mama bukannya ceramah Ira, tapi kamu emang sudah waktunya diberitahu kalau tidak segera diberitahu nanti lama-lama kamu bisa ngelonjak..” jelas mama dengan semangat sambil menyiapkan makanan dari dapur ke ruang makan.
“Maksud mama ngelonjak gimana, harusnya tuh ya mama itu udah ngajarin Ira sejak kecil dulu, bukannya baru ngeribetin sikap Ira sekarang.. emangnya selama ini mama kemana aja? Ira selalu main sama bi inah, tapi gak pernah sama mama!” tegas Ira dengan suara lebih lantang.
                Pagi yang cerah, bukannya suasana nyaman yang berkeliaran tapi malah keadaan super ribet. Beginilah yang terjadi sehari-hari di rumah mewah bak istana yang kami tempati. Omelan pagi khas ibu dan anak, maklum papa Ira sedang pergi ke luar negeri, katanya sih ada urusan kerja tapi entahlah. Mungkin Ira begitu kesepian karena hanya ditemani tembok dan tanaman di rumah mewah yang berdiri diatas tanah seluas 1 hektar ini. Sudah sebulan sejak kepergian bi inah dan suaminya, rumah ini jadi semakin ricuh. Belum lagi tanaman dan kebersihan rumah yang tidak terawat. Wah, kacau balau deh pokoknya, termasuk juga kondisi kami saat ini.
======------======
                “Papa gimana sih? Katanya balik hari ini.. jam berapa jadinya?” suara mama di telepon membangunkan tidur siang kami hari ini.
                “Maaf ma, masih belum selesai ternyata. Jadi mungkin papa baru bisa pulang dua atau tiga hari ke depan.. Kabar Ira gimana ma?”
                “Ah kelamaan, papa ijin aja gih. Kasian Ira dia marah-marah terus di rumah jadinya sering main ke luar sama tman-temannya. Mama jadi gak tega pa, nanti jadi gimana itu anak sering main ke luar?”
                “Mama cari pembantu lagi aja atau mama cuti dulu dari kerjaan mama biar papa yang urus semuanya.”
                “Urus gimana maksudnya! Ah terserah papa aja deh, ribet ngomong sama papa!” klik, kemudian telepon ditutup.
                Entah keributan apalagi yang dibuat siang ini oleh mama dan papa, yang jelas suara mama sudah mengganggu kami pun kami tidak bisa mendengar jawaban dan balasan papa dari seberang telepon. Akhir-akhir ini memang mama terlihat resah, Sepertinya beliau belum bisa menemukan orang yang cocok untuk mengganti posisi bi inah pasalnya memang bi inah bekerja dengan sangat profesional dan merawat kami dengan baik. Tak hanya kami, tanaman dan mobil-mobil mama juga dIrawat dengan baik oleh suami bi inah. Sampai akhirnya kami harus rela ditinggal bi inah dan menjadi lusuh seperti ini. kondisi kami buruk kawan, kalau saja kalian tahu kondisi kami. Namun, kami pun tak bisa berteriak dan mengungkapkan hal ini kepada mama. Sayangnya bi inah memang harus pergi, dan mama sudah tak peduli lagi pada kami. Apalagi si Ira anak mama satu-satunya itu, tak sekalipun ia mau mengurusi kami, mengurus isi kamarnya sendiri pun rasanya ia sudah enggan.
Kami hanya bisa berteriak dalam sunyi kawan, membangun pikIran kami sendiri, membicarakan hal-hal yang kami senangi dengan siapa dan apa saja yang peduli pada kami. Kami tak peduli apakah ada yang peduli pada kami. Manusia? ah apalagi mereka, mereka adalah makhluk paling tak peduli yang kami temui, kecuali bi inah. Ya! sangat sedikit makhluk-makhluk bumi ini yang seperti bi inah, perlu kIranya bi inah dilestarikan. Tak tahukah mereka bahwa kami tersakiti? Di tempat setinggi ini dan kami tak dipedulikan meski sekali? Terpanggang mentari, terganggu dinginnya malam. Sampai saat ini, kami tetap menunggu kehadIran bi inah di rumah ini, rumah mewah yang tak berpenghuni.
======------======
                Pagi hari tanggal 22 januari 2013,              
“Bapak sampun siap?” Tanya bi inah pada suaminya.
                “Sabentar bu, bapak selesaikan tugas terakhir dulu ya.. biasa, merapikan dan menyIram tanaman di kebun.”
“Oh iya pak, monggo.. saya juga mau pamitan sama perkakas-perkakas nyonya dulu..” Tak lama kemudian, pak suryo suami bi inah telah berada di kebun untuk menunaikan tugas terakhirnya. Begitu pula bi inah, beliau langsung membersihkan perkakas-perkakas yang belum terjamah dalam sehari ini, lantai, jendela, perkakas ruang tamu dan tak lupa juga kami.
“Baik-baik ya, semoga nyonya segera menemukan pengganti saya supaya kalian selalu dIrawat dan diperhatikan.. supaya rumah ini selalu terlihat nyaman dan berpenghuni.” ucap bi inah pada semua perkakas, begitu pula pak suryo mengucapkan hal yang sama pada tanaman-tanaman “peliharaan beliau”.
“Ya, Semoga..” bisik kami serentak meski kami tak bisa berharap banyak pada mama, papa apalagi Ira.
Kami akan selalu ingat kejadian itu, kejadian satu bulan yang lalu sebelum bi inah pergi meninggalkan kami, meninggalkan keluarga ini, meninggalkan rumah mewah yang memang tak nyaman untuk dihuni. Ingin rasanya ikut dengan bi inah untuk jua pergi meninggalkan istana yang kami tinggali namun apalah daya, kami hanyalah saksi sunyi, atap dan langit-langit, yang tak perlu bersembunyi untuk mendengar kisah dan rahasia rumah mewah ini.

Selesai ditulis 23 Januari 2014
follow me @qhimahatthoyyib

Roti Bakar Penyemangat




Menurut berita perkiraan cuaca yang gua lihat di TV Nasional semalam seharusnya hari ini tidak turun hujan. Jadi, gua putuskan saja untuk tidak membawa payung ataupun jas hujan hari ini.
“Sip, semuanya udah lengkap.”
“Ma, berangkat dulu ya..” Jam 06.00 gua udah harus berangkat, daripada telat dan gak ngerti apa yang bakalan diomongin sama dosen, lagian telat itu juga bukan kebiasaan gua.
“Kamu gak makan dulu? Kalo gitu ini bawa bekalnya..”
“Oke, makasih ma..” gua ucapin sambil mencium tangan mama.
Seperti biasa mama selalu bawain gua bekal meskipun gua udah sarapan, tapi hari ini gua telat bangun jadi gak sempet sarapan dulu. Dan seperti biasa juga setelah gua pergi, rumah pasti langsung sepi karena.. ah! Ntar dulu masa pagi-pagi gini gua langsung cerita kesitu.
Setelah pamitan sama mama, langsung gua ambil sepeda butut kesayangan gua dan ngibrit mengejar waktu karena sekarang udah jam enam lebih sepuluh. Kalian tahu kenapa gua harus berangkat jam enam? Karena perjalanan dari rumah gua ke kampus memakan waktu minimal 30 menit, itu pun kalo gua ngebut di jalan dan kalo santai banget bisa satu jam.
000
Jam tujuh kurang 15 menit, akhirnyaaa! Gua sampai juga dan tidak terlambat. Setelah memarkir sepeda, gua langsung menuju kelas pertama gua hari ini. Kelas itu cukup jauh jaraknya dari tempat parkir gua sekarang, tapi, gua gak mungkin parkir di deket kelas karena gua harus muterin kampus dulu kalo mau kesana jadi gua putuskan untuk berjalan saja kesana.
“Hai tsa..”
“Hai juga..”
Mata kuliah yang akan gua hadapi adalah Kewarganegaraan. Sejujurnya gua agak gak suka dengan mata kuliah ini tapi terkadang juga gua sangat suka. Sayangnya, semester ini gua gak dapet mata kuliah Bahasa Indonesia jadi ya.. gua berharap tetap bisa refreshing meskipun gak ada Bahasa Indonesia.
Jam tujuh lebih sepuluh menit dan dosennya belum juga datang. Bosan menunggu, gua baca aja novel yang gua bawa judulnya Rumah Kaca dan penulisnya.. yaa kalian pasti tahu! Sastrawan yang pernah dipenjara di pulau Buru dan karyanya dibakar, mengerikan! Gua gak bisa ngebayangin seberapa sabar penulis itu sampai-sampai tidak melakukan perlawanan saat karya-karyanya dibakar dan betapa jahatnya jajaran pemerintah yang memutuskan untuk melakukan pembakaran. Yap! Siapa lagi kalau bukan Pramodya Ananta Toer.
“Assalamu’alaikum..” suaranya sangat pelan dan seisi kelas tidak mendengar tapi.. kenapa gua dengar ya? Entahlah terkadang hal yang sederhana tidak sesederhana yang kita pikirkan dan tidak mudah untuk dilakukan. “Wa’alaikumussalam” gua bergumam.
Gua alihkan pandangan sebentar ke arah sumber suara, gua pikir suara pak dosen tapi ternyata bukan. Suara seorang pria, sepertinya salah satu mahasiswa di kelas ini karena dia langsung mengambil tempat di kursi yang ada di barisan ketiga sebelah barat belakang gua. Gua emang suka banget memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar gua sampai-sampai gua tahu seperti apa mereka dari cara mereka berjalan dan berbicara. Sepertinya gua cocok jadi psikolog tapi gua gak mau berurusan terlalu dalam dengan makhluk yang bernama manusia khususnya para pria, gua lebih suka berurusan dengan tumbuhan.
Sudah duapuluh menit berlalu dari jam tujuh tapi dosen kami belum juga datang, jadilah kelas ini sangat ramai oleh suara teman-teman yang belum gua kenal kecuali teman yang sejurusan ama gua karena mereka emang benar-benar udah gua kenal. Gua tutup novel gua dan mengedarkan pandangan gua ke seisi kelas, aneh! rasanya ada yang berbeda tapi apa ya?
000
Sepanjang pertemuan pertama ini, dosen gua nerangin Rancangan Pembelajaran selama satu semester ke depan dan bercerita tentang apa itu kewarganegaraan dan sejarahnya. Menarik! Apalagi akhirnya gua menyadari ternyata yang aneh adalah perasaan gua yang tiba-tiba senang melihat wajah adem pria yang tadi gua jawab salamnya dan sekarang baik banget mau ngebantuin dosen itu. Gua tahu itu gak boleh, tapi..
Kata bu Rin, dosen Kewarganegaraan gua, sebelum berubah nama menjadi Kewarganegaraan dulu namanya adalah Kewiraan yang diajarkan pada orang-orang dari kalangan tertentu dan lama pembelajarannya adalah 3 bulan dan hanya sekali seumur hidup jadi seperti sebuah seminar yang berkelanjutan selama tiga bulan. Seminar yang menuntut manusia-manusia yang ada di Indonesia ini menjadi rakyat yang taat aturan, hukum dan taat dengan pemerintah. Pelajaran macam apa itu? Hanya selama tiga bulan namun menuntut seumur hidup? Apalagi setiap sekali seminar hanya 40 orang dewasa, sungguh! Sangat tidak efisien. Kemudian, banyak yang protes karena tidak mendapat pelajaran itu jadilah Kewiraan menjadi mata kuliah wajib mahasiswa. Selanjutnya gua sedikit lupa, sepertinya pada tahun 2001 atau sebelum itu ya? nama Kewiraan berubah menjadi Kewarganegaraan karena dua nama itu adalah dua hal yang mempelajari bagian-bagian yang berbeda. Gua juga lupa tentang apa karena gak gua catat sejarah yang diterangin bu Rin.
Hal lain yang dapat gua ambil dari semua yang diterangkan oleh bu Rin adalah, mahasiswa tidak pernah belajar dari apa yang mereka pelajari. Saat menjadi sukses nanti kebanyakan dari mereka akan melupakan apa itu hak, apa itu kewajiban, apa itu tenggang rasa, tolong menolong,  membela dan membangun negara, persatuan, kesatuan, arti dan filosofi pancasila, apalagi peran dan fungsinya. Tapi tetap saja dimanapun, seorang guru atau dosen akan mendoakan kesuksesan untuk mahasiswa mereka.
Sebelum mengakhiri kelas, bu Rin mengabsen nama-nama kami dan gua menunggu kapan pria itu mengangkat tangannya.
“Ilham Fauzi Hassan..” ya! Itu namanya, lihat! Dia mengangkat tangannya.
Setelah semua selesai diabsen, bu Rin meninggalkan kami, kelas pun bubar dan gua menunggu datangnya pekan depan di kelas ini.
“Tsabii..” sahabat gua, Rara, dateng ke gua dengan nafas terengah-engah sepertinya dia habis berlari.
“Ada apa ra, tenang dulu.. baru ngomong.”
“Kita kesana yuk, ngobrol.”
“Oke!”
000
Sambil makan roti bakar yang udah di bawain sama mama, gua dan Rara ngobrol apa saja, berdiskusi apa saja, dan berkomitmen serta berjanji.
“Ra, aku jadi mikir kenapa aku bisa seneng ya ngeliat wajah anak itu, emang sih wajahnya menenangkan. Aku juga mikir tentang apa yang diomongin sama bu Rin banyak benarnya. Coba deh, pikirin aja ya, mahasiswa di Indonesia kan banyak meskipun tidak sampai sepertiga dari penduduk Indonesia, di kampus kita aja contohnya meskipun sudah seringkali digembor-gemborkan Peran dan Fungsi Mahasiswa alias PFM yang berjumlah empat itu buktinya Indonesia tidak berubah, padahal kan lulusan kampus kita katanya sudah menyebar dimana-mana entah sukses, entah tidak. Malahan sekarang mahasiswa banyak yang tidak peduli apa yang terjadi di luar sana karena sistem pendidikan saat ini membuat mahasiswa disibukkan dengan tugas dan tugas tanpa boleh melihat dunia luar. Aku jadi takut kalo aku juga cuma bisa ngomong doang tanpa berbuat, tapi beneran aku pengen banget bermanfaat dan mengubah Indonesia dengan memelihara yatim-piatu dan pertanian Indonesia.”
“Setuju! Ah iya! Aku juga inget sama kata-kata yang ada di novel roman yang kamu baca. Sejak dulu, sebenarnya aturan dan hukum itu dibuat bukan untuk melindungi tapi untuk seenaknya hati dipakai kapan. Jadi sejak dulu sampai sekarang kita masih dijajah, buktinya prinsip itu dateng dari kolonial tapi masih dipakai turun-menurun sampai sekarang. Iya ya, kapan kita bisa merubah Indonesia kalo pemudanya aja kayak gini.” Rara meyakinkan kata-katanya dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.
“Eh ra, kamu liat deh anak itu..” lo liat yang baik ra, kayaknya gua kagum ama dia tapi kan kita gak boleh kayak gini, bagaimana mengubah Indonesia apabila kita mudah terpesona pada dunia? Tidak bisa!
“Ada apa? Tsa, kok kamu diem aja..”
“Enggak, bukan apa-apa, gak jadi.”
“Oke deh kalo gitu, kalo ada apa-apa bilang ya tsa.. Pokoknya kita harus janji gak boleh bertingkah sembarangan demi Indonesia. Oh ya, sahabatku Tsabita Rahmania kamu yakin gak perlu aku antar jemput.. aku takut kamu kecapean aja kalo harus ngontel tiap hari jam enam pagi pula!”
“Enggak apa-apa Rastika Fitriatna, aku sudah harus bersyukur punya sepeda itu daripada harus jalan kaki. Benar kan?”
“Hmm begitu ya, kalo gitu hati-hati ya.. Semoga Allah membalas usahamu.”
“Amiin, makasih. Aku pulang duluan ya.. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam.”
Hah, senang rasanya.. ternyata perkiraan cuaca semalam benar dan hari ini gua tidak basah kuyup di tengah jalan. Mulai detik ini ada semangat baru yang menggebu dalam hati gua. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari semua sejarah yang pernah terjadi dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk negara dan bukan berpikir apa yang akan kita dapatkan dari negara.
000
“Tsabita Rahmania ya? Aku Ilham Fauzi, kita kelompok lima bareng ama Ristia Farasya temen sejurusanku dan dia juga dia..” tunjuknya pada anak yang masih menyiapkan barangnya dan menuju kami.
Apa? Gua sekelompok sama Ilham? Kok bisa? Dan darimana dia tahu kalo nama gua Tsabita? Walah-walah, gua gak boleh tergoda dengan apapun! “Oh, iya aku ngerti.. namanya Saiful Ramadhani dan satu lagi aku gak tau.”
Ya Tuhan.. sepertinya Kau mulai mengujiku dengan ini.. sekarang harus bagaimana???

Selesai ditulis 2 Juni 2012
follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Juni 17, 2016

Setapak Cahaya: PHOBIA (FOBIA)



Sahabat bagaimana kabar hari ini? Semakin hari semakin berkurang waktu kita membersamai Romadhon. Sedih? Iya, sangat. Selain karena bulan ini adalah bulan dilipatgandakannya amal serta bulan yang terdapat di dalamnya malam seribu bulan, bulan Romadhon juga dapat mengondisikan umat muslim sendiri dan bahkan umat kepercayaan lain untuk memperbaiki perilakunya. Seandainya saja sepanjang tahun adalah bulan Romadhon atau setidaknya mulia seperti bulan Romadhon, tentu hal ini sangat menyenangkan. Hanya saja, pengharapan tersebut tidak terjadi pada semua orang. Bahkan lebih banyak yang berharap agar bulan ini segera berakhir.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai fobia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa, kata fobia memiliki arti seperti berikut “fobia/fo·bia/ n ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya”. Perlu digarisbawahi yaitu pada kata ‘sangat berlebihan’ dan ‘keadaan’. Kata pertama ‘sangat berlebihan’, yap sesuatu yang berlebihan telah jelas dilarang oleh Rosulullah. Pada salah satu hadits disebutkan agar kita tidak mencintai sesuatu secara berlebihan juga tidak membenci sesuatu secara berlebihan. Karena boleh jadi sesuatu yang kamu benci suatu saat akan menjadi hal yang disukai dan sebaliknya.
Salah satu ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal ini dan juga menjadi salah satu ayat favorit saya terdapat pada surat Al-Baqoroh ayat 216, artinya: 216. diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Ya, ‘boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui’. Pada ayat tersebut jangan terfokus pada kewajiban berperang ya, karena untuk hal itu ada kaitannya dengan ayat setelahya. Serta ada sebab-sebab mengapa turun perintah wajib perang saat itu.
Selanjutnya, kata kedua ‘keadaan’ adalah suatu hal yang berada di sekitar kita. Keadaan juga bisa berarti lingkungan atau juga kondisi dari dalam diri (di dalam ilmu pengetahuan alam bisa juga disebut sistem). Lingkungan dan kondisi seseorang adalah sesuatu yang bisa berubah-ubah tergantung masa dan waktu. Terlebih bila kondisi tersebut bergantung kepada hati karena hati sangat mudah terbolak-balik. Maka dari itu, berdasarkan dua keterangan tersebut seharusnya fobia bisa disembuhkan. Tergantung bagaimana hati dan pikiran kita apakah ingin sembuh atau tidak. Tetapi tampaknya hal ini berbeda dan tidak berlaku bagi orang-orang yang fobia terhadap Islam atau yang umum disebut Islamophobia. Sampai akhir hayat mungkin mereka sudah menutup diri dari hidayah Allah. Ya, bukan karena Allah tidak memberikan hidayah. Tapi layaknya jendela, hati mereka sudah tertutup rapat sehingga cahaya hidayah itu tidak memasuki rumah mereka.
Demikian, untuk mengakhiri tulisan ini mari kit abaca terjemahan surat As-Shaff ayat 7-8 berikut: 7. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan Dusta terhadap Allah sedang Dia diajak kepada Islam? dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. 8. mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya".


follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Juni 07, 2016

Setapak Cahaya: BERADA DI ZONA NYAMAN



Assalamu’alaikum sahabat, saat bulan Romadhon saya yakin setiap orang mempunyai targetnya sendiri. Mulai dari target tilawah, target hafalan, target sholat malam, target infaq dan sedekah, target menu masakan tiap hari, target masjid untuk berbuka, sampai target olahraga dan target diet alias turun berat badan hehe. Berbicara mengenai target, apakah target para sahabat sekalian meningkat dari tahun ke tahun? Ataukah stagnan? Apapun itu, semoga target-target tersebut tidak hanya bertahan di bulan Romadhon tapi juga dapat kita terapkan dalam sebelas bulan lainnya. Karena orang yang beruntung adalah ia yang semakin baik dari hari ke hari.
Bulan puasa begini, Indonesia adalah tempat paling pas untuk menikmati hidup hehe. Sahabat, beruntung sekali kita berada di Indonesia. Indonesia merupakan Negara tropis karena berada tepat di garis (imajiner) khatulistiwa. Sehingga lama waktu siang dan malam hampir sama. Hal ini menyebabkan jam berpuasa dan berbuka tidak jauh berbeda. Inilah kenyamanan hidup yang saya maksud hehe. Karena apabila dibandingkan dengan negara lain, lama waktu siang dan malam di Indonesia merupakan waktu yang paling optimal dalam menjalani hidup. Bayangkan saja di Denmark dan Swedia waktu puasa sepanjang 21 jam sedangkan di Argentina sembilan jam tiga puluh menit.
Seperti yang kita tahu bersama bahwasannya Allah menciptakan siang dan malam. Siang untuk bekerja atau beraktifitas dan malam untuk beristirahat. Seandainya waktu siang dan malam di Indonesia tidak seimbang mungkin akan memberatkan kita. Namun, ternyata hal ini tidak terlalu berdampak baik untuk masyarakat Indonesia. Suasana yang nyaman mengakibatkan masyarakat menjadi manja. Inilah mengapa banyak motivator berkata ‘tinggalkanlah zona nyaman’. Sehingga kita bisa menggali lebih dalam apa potensi kita yang sebenarnya. Baiklah insyaAllah demikian saja untuk hari ini, semoga dapat diambil manfaatnya. Selamat menjalankan ibadah puasa :)

follow me @qhimahatthoyyib