Tampilkan postingan dengan label peradaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peradaban. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 12, 2023

Dorama denga Kondisi Ekstrem—yang Menyatukanmu

 

                Sudah kita ketahui bersama bahwa Jepang adalah negara yang paling banyak mengalami gempa bumi atau bencana alam. Oleh karena itu, mereka mengembangkan berbagai teknologi untuk mencegah atau mengantisipasi dan meminimalisir kerusakan/kerugian akibat bencana tersebut. Mulai dari bangunan tahan gempa, museum teknologi penanganan gempa, hingga ransum dan berbagai macam produk kemasan yang kreatif, mudah digunakan dan mudah dijumpai masyarakat di minimarket atau swalayan.

                Nah, berkaitan dengan bencana alam, ada dua drama Jepang bertema survival yang sangat menarik untuk ditonton. Drama pertama berjudul Cold Game (2021), yang mengisahkan tentang seorang wanita penipu cerdas dalam menghadapi kericuhan kondisi manusia yang bertahan hidup di bumi yang tiba-tiba berubah menjadi dunia es bersuhu -45°C. Drama kedua berjudul Pending Train (2023), yang mengisahkan sekelompok manusia yang terjebak di kereta yang putus dari rangkaian lalu bepindah ke masa depan (2050) melalui worm hole dan saat itu kondisi bumi sangat alami setelah mengalami bencana besar pada tahun 2026.

                Beberapa kesamaan yang ditunjukkan dalam kedua dorama tersebut adalah tahap penyatuan manusia/komunitas, bermacam karakter manusia yang ada saat survival adalah tipe pemimpin, pencari solusi, penyemangat, acuh tak acuh dll, serta tahap kebersamaan dan kekompakan untuk bertahan hidup. Sehingga banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari dorama ini terutama berkaitan dengan survival atau bertahan hidup saat terjadi bencana. Mungkin inilah yang ingin disampaikan oleh tim produksi khususnya kepada masyarakat Jepang, agar manusia selalu berhati-hati dan adaptif terhadap segala kondisi demi keberlangsungan generasi.

Demikian review kali ini, semoga teman-teman selalu dapat mengambil hikmah dari semua aktivitas yang dilakukan~ ja matta ne, arigatou minna-san~~

 


cold game (2021)

pending train (2023)


Rabu, Juli 14, 2021

Miskin Boleh, Tapi Bodoh Jangan

 

                Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan sekaligus pencabutan yang dicabutnya dari para manusia, tetapi Allah mencabut ruhnya -wafatnya- para alim ulama, sehingga apabila tidak ditinggalkannya lagi seorang alim pun -di dunia ini-, maka orang-orang banyak akan mengangkat para pemimpin -atau kepala-kepala pemerintahan- yang bodoh-bodoh. Mereka -para pemimpin dan kepala pemerintahan- itu ditanya, lalu memberikan keterangan fatwa tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka akhirnya mereka itu semuanya sesat dan menyesatkan -orang lain-." (Muttafaq 'alaih)

                Hadits di atas memberi pengetahuan pada kita bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang istimewa dalam islam. Hingga hari ini, kesedihan akan kehilangan para tokoh dan cendekiawan ternyata masih berlanjut. Belum lagi, semakin banyak anak-anak yang tetiba menjadi yatim/piatu bahkan yatim piatu menjelang hari anak nasional. Tak dipungkiri, orang-orang pasti mengkhawatirkan nasib anak-anak tersebut. Terlebih berkaitan dengan pembiayaan hidup mereka. Namun, sebagai seorang muslim seharusnya kita yakin bahwa Allah telah menyiapkan rejeki-Nya untuk mereka.

                Bertambahnya jumlah anak yatim/piatu berarti bertambah pula ladang amal untuk orang-orang beriman. Banyak ayat di dalam Al Qur’an dan hadits Rosulullah yang menyatakan keutamaan berbuat baik dan memuliakan anak yatim dan fakir miskin. Di surat al Baqoroh ayat 177 misalnya, atau an Nisa ayat 36, atau al Insan ayat 8. Berikut beberapa hadits yang berkaitan:

  • ·         Dari Sahl bin Sa'ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu." (Riwayat Bukhari) Kafilul yatim ialah orang yang menanggung segala perkara yang diperlukan oleh anak yatim -baik makan, minum, kediaman, pakaian dan pendidikannya, juga lain-lainnya pula.
  • ·         Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pemelihara anak yatim, baik miliknya sendiri atau milik lainnya, saya -Nabi s.a.w.- dan ia adalah seperti kedua jari ini di dalam syurga." Yang merawikan hadits ini yakni Malik bin Anas mengisyaratkan dengan menggunakan jari telunjuk serta jari tengahnya. (Riwayat Muslim) Sabda Nabi s.a.w. Alyatim iahu au lighairihi, artinya ialah yang masih termasuk keluarganya atau yang termasuk orang lain. Yang masih keluarganya seperti anak yatim yang dipelihara oleh ibunya, neneknya, saudaranya atau lain-lainnya orang yang masih ada kekeluargaan dengannya. Wallahu a'lam.
  • ·         Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat. (HR. Ath-Thabrani)

Seperti yang teman-teman baca, di dalam ayat-ayat tersebut, Allah menyebutkan suatu kondisi yatim dan fakir miskin, yang artinya dapat kita telaah bahwa hal itu sunnatullah pasti terjadi. Bahwa anak yatim dan utamanya keberadaan kemiskinan (akan materi duniawi) adalah suatu kejadian yang tidak dapat kita hilangkan 100%. Oleh karena itu, dapat kita ambil pelajaran bahwa miskin (secara materi) bukanlah suatu kondisi yang memalukan. Namun, seperti disebutkan dalam hadits berikut, kemisikinan (hati dan jiwa) adalah sumber segala keburukan.

“Hampir saja kemiskinan (kemiskinan jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)”

Jadi, sesuatu yang seharusnya kita hindari adalah terus berada dalam kebodohan.



                Merasa bodoh dan terus haus akan ilmu adalah keharusan. Tapi terus berada dalam kebodohan (dalam definisi apapun) adalah awal mula kehancuran.

  • ·         "Berilah pengampunan, perintahlah kebaikan dan janganlah engkau menghiraukan kepada tindakan orang-orang yang bodoh." (al-A'raf: 199)
  • ·         Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  • ·         Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)
  • ·         Sesungguhnya Allah membenci orang yang berhati kasar (kejam dan keras), sombong, angkuh, bersuara keras di pasar-pasar (tempat umum) pada malam hari serupa bangkai dan pada siang hari serupa keledai, mengetahui urusan-urusan dunia tetapi jahil (bodoh dan tidak mengetahui) urusan akhirat. (HR. Ahmad)
  • ·         Dari Ummul Mu'minin Ummu Salamah dan namanya sendiri adalah Hindun binti Abu Umayyah yaitu Hudzaifah al-Makhzumiyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu apabila keluar dari rumahnya, bersabda -yang artinya: "Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu kalau-kalau saya sampai tersesat atau disesatkan, tergelincir -dari kebenaran- atau digelincirkan, menganiaya atau dianiaya, menjadi bodoh -tidak mengerti sesuatu- ataupun dianggap bodoh oleh orang lain atas diriku." Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan lain-lainnya dengan sanad-sanad yang shahih. Tirmidzi berkata bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Hadits di atas adalah menurut lafaznya Imam Abu Dawud.

Sabtu, Juni 26, 2021

One of The Sights – Ichikei no Karasu

 

                “Sampai jumpa di pengadilan akhirat!”

                Kata-kata itu tidak pernah ada di salah satu drama Jepang bertema pengadilan berjudul Ichikei no Karasu (Ichikei’s Crow) yang tayang baru-baru ini. Karena si hakim satu ini adalah hakim yang sangat adil dan benar-benar mencari kebenaran atas suatu perkara. Bahkan, ia seringkali menggunakan otoritasnya untuk melakukan rekonstruksi kejadian guna menghindari kesalahan putusan. Sehingga, ia ditakuti oleh para pengacara dan jaksa. Selain itu, organisasi kehakiman tertinggi pun ingin menyingkirkannya karena ulah yang ia perbuat merugikan para atasan dan politisi.


                Tentu saja yang ditampilkan dalam drama ini hanyalah hal fiksi, tapi tidak menutup kemungkinan perkara tersebut terjadi di dunia nyata. Bahwa hakim yang baik dan benar akan dibenci dan perlahan-lahan disingkirkan oleh kekuasaan. Sehingga, para hakim tak punya pilihan lain selain menjalankan amanah sebagaimana pesanan atasan. Namun, drama ini menggambarkan bahwa kebenaran akan selalu menunjukkan wujudnya, dan sedalam apapun kesalahan disembunyikan, suatu saat hal itu akan muncul ke permukaan.

                Persoalan pengadilan ternyata sama saja di negeri ini dan negeri itu. Sedemokratis apapun kondisinya, yang namanya penguasa ya pasti merasa punya kuasa atas segalanya. Atas rakyatnya, atas sumber dayanya, bahkan atas segala yang terjadi pun harus sesuai kehendaknya. Siapa yang seharusnya bertahta, siapa yang semestinya dipenjara, mereka atur sedemikian rupa. Tak peduli yang terjadi pada rakyatnya, asalkan mereka bisa makan enak dan tidur nyenyak. Sungguh, hal itu bukanlah kepemimpinan yang digambarkan dalam Islam. Tapi bagaimanapun kondisinya, pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Oleh karena itu, teruslah jadi orang baik dan bertahanlah dalam kebaikan agar suatu saat muncul pemimpin terbaik di antara yang baik itu.

Minggu, Maret 07, 2021

Atas Nama Leluhur dan Nenek Moyang

 


                Berkaitan dengan judul ini, dua tulisanku sebelumnya berjudul Salah Taat Kepada Orang Tua dan (Day6) Menasihati Nenek Moyang membahas tema yang sama. Lagi-lagi ada yang perlu kita bahas berkaitan dengan hal ini. Kejadian cukup luar biasa terjadi dalam dua pekan ini, yaitu adanya peraturan presiden yang dikeluarkan berkaitan dengan investasi pada minuman beralkohol. Karena banyaknya penolakan dari berbagai kalangan (yang sebagian besar adalah organisasi Islam), alhasil lampiran ketiga perpres tersebut dibatalkan (kata berita sih begitu).



Selain penolakan, sebenarnya banyak juga netizen yang mendukung peraturan tersebut, berikut alasan-alasan yang populer dari mereka, yang saya lansir dari berbagai sumber:

1.          Ada cukup banyak minuman beralkohol (minol) produk lokal yang merupakan warisan leluhur.

2.  Minol, selain untuk menghangatkan diri juga dipakai dalam peribadatan umat tertentu, untuk mendekatkan diri pada sang Kuasa.

3.     Minol adalah produk kekreatifan akal manusia untuk menikmati dan menghargai sumber daya alam.

4.     Minol juga alat untuk mengakrabkan diri dengan orang lain.

5.   Minol produksi Indonesia perlu dikenal seluruh dunia. Bukankah akan menghasilkan banyak pemasukan jika banyak ekspor minol berkualitas?

6.      Minol punya banyak manfaat, tapi mengapa hanya efek ‘kekerasan’ saja yang ditekankan? Seolah-olah begitu minum, sudah pasti terjadi kekerasan.

7.       Orang yang gak boleh minum, ya gak usah minum lah. Gitu aja kok repot.

Semua alasan tersebut sepertinya cukup masuk akal. Dalam Al Qur’an surat al Baqoroh ayat 219 pun juga disampaikan bahwa khamr (minol) punya manfaat, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Sebagai muslim tentu saja kita hanya bisa taat pada sang pencipta. Selain itu juga perlu kita sampaikan (dakwahkan) ayat ini ke seluruh penjuru dunia. Tapi bukan itu fokus kita pada tulisan ini.

Alasan paling kuat yang cocok untuk tabiat masyarakat Indonesia adalah minol dilestarikan atas nama leluhur dan nenek moyang. Mereka beritikad baik untuk melestarikan budaya yang telah diwariskan turun temurun. Sayangnya, hal ini juga  tertolak di dalam Islam. Memang kita dianjurkan berbuat baik pada orang tua, meskipun mereka bukan seorang muslim. Tapi, Al Qur’an diturunkan untuk memberi peringatan kepada kaum yang nenek moyangnya (atau bapak-bapaknya) belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Ini disebutkan dalam surat Yasin ayat 6. Jadi, tradisi leluhur dan nenek moyang yang tidak sesuai dengan syariat sudah jelas harus dihentikan. Selain itu, manusia memang diciptakan dengan akal yang dapat digunakan untuk berpikir dan berkreasi sekreatif mungkin, namun tentu saja ada batasan yang harus dijaga karena bagaimanapun ia diciptakan oleh zat yang Maha Sempurna. Wallahu A’lam.

Kamis, November 19, 2020

Bertamu dan Menjamu


                Salah satu hal menarik yang diajarkan oleh orang tuaku adalah adab bertamu dan menjamu tamu. Karena cara mengajarkannya adalah secara langsung dengan perilaku dan aku mengamatinya sehingga hal itu dapat mempengaruhi kebiasaanku. Hal terkait ini sebenarnya telah diajarkan oleh Rosulullah SAW kepada kita melalui hadits tetapi penerapan dalam kehidupan sehari-hari sepertinya tidak sesempurna yang beliau sunnahkan. Jika sahabat cek di web hadits.id dan mengetikkan kata tamu, maka akan muncul sekitar seratus hadits yang berkaitan. Hadits-hadits itu dikumpulkan di dalam kitab makanan, kitab minuman, dan kitab adab, bahkan ada pula di dalam kitab barang temuan, kitab wasiat dan kitab pajak.

                Pada lembaran ini, akan kuceritakan kejadian menarik yang berkaitan dengan hal itu.

                Kisah ini terjadi dua tahun lalu, yaitu pada Juli 2018. Hari itu aku diminta adek untuk mengantarnya bertamu ke seorang temannya (yang juga temanku). Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengambil kamera yang telah dibeli adek dari si teman. Tentu saja kami datang tidak dengan tangan kosong. Seperti yang biasa orangtua kami lakukan saat bertamu, yaitu membawa sesuatu. Jika tak ada acara khusus atau tak tahu keperluan yang dibutuhkan oleh tuan rumah, hal yang paling mudah dibawa adalah (sebagian) sembako. Namun saat itu, karena si teman memiliki bayi, maka kami membawa hadiah untuk si bayi.

                Sesampainya di rumah si teman, kami dipersilakan duduk di ruang tamu sementara ia sedang bersiap. Teman itu pun menemui kami dan membicarakan banyak hal, karena itulah pertemuan pertama adek dan teman setelah 6 tahun tak bertatap muka. Kalau denganku, sepertinya itu kali pertama bersua setelah 4 atau 5 tahun tak berjumpa. Selama sekitar satu jam berbincang, tak ada segelas air pun yang dihidangkan untuk kami. Meskipun masih dalam suasana bulan syawwal, meja di ruang tamu itu tampak kosong. Ada beberapa wadah plastik yang isinya sudah sangat menipis. Itupun juga tak dipersilahkan untuk dinikmati. Malam itu, jejak kemeriahan menjamu tamu masa idul fitri sepertinya sudah tak tampak di rumah ini.

                Kejadian itu sangat berbeda dengan kisah yang baru saja kualami senin malam kemarin. Aku menemui seorang teman untuk mengambil sebuah undangan yang ditujukan untukku. Teman itu mempersilakanku masuk ke dalam kos-nya, tetapi aku menolak dan menurutku, kami tak akan lama berbincang karena hampir tengah malam. Ternyata dugaanku salah. Kami menghabiskan waktu satu jam untuk mengobrol, padahal hanya satu tahun saja kami tak bersua dan beberapa waktu lalu pun kami sudah bertemu di reuni virtual angkatan kami.

Aku menemuinya sepulang mengajar privat. Sebelumnya, aku berencana mampir ke mart untuk membeli sesuatu untuk si teman, tetapi ternyata tak perlu. Aku mendapatkan rejeki seplastik buah mangga dan sekotak roti dari ibu adek les. Sesampainya di kos teman, setelah sekian lama berbincang, kuberikan beberapa buah dan kue itu padanya. Ternyata, tanpa kuduga, dia memberiku dua kotak susu liter-an yang ia dapat dari kantornya.

‘’Ini buat kak ota. Aku dapat banyak dari kantor dan gak mungkin kuhabisin sendiri”, katanya.

“Wah, makasih ya, ternyata kita barter hehe, bisa dipakai bikin kue ini”, jawabku.

Kalimat yang ia tujukan padaku saat memberikan dua kotak susu itu sangat menarik bagiku. Entah dia sendiri sadar atau tidak, direncanakan dan disengaja atau tidak. Karena sebelumnya, aku menanyakan apakah ada kulkas untuk menyimpan beberapa buah yang kuberikan, dan jawabannya ‘ada’. Jika ada, maka seharusnya susu (yang menurutnya banyak) itu bisa disimpan, ditambah lagi masa kadaluarsanya adalah tahun depan. Jadi, sebenarnya tak ada alasan baginya untuk memberikan sebagian susu itu padaku.

Sahabat, hal menyedihkan dan menggembirakan ini dapat terjadi karena mungkin kita melihat hal yang sama atau serupa dari orangtua dan lingkungan kita. Menjamu tamu dengan baik atau tidak. Bertamu dengan baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan itu bermula dari satu hal kecil yang terjadi pada diri kita. Secara teori tentu saja kita semua tahu, namun secara praktik, sangat perlu kita latih setiap waktu. Sejauh yang kuamati dari kebiasaan orangtuaku, semua orang luar yang tidak tinggal di rumah yang sama dengan kita adalah tamu. Baik itu saudara, teman, orang asing yang datang untuk urusan bisnis, survei, dll bahkan orang yang kita pekerjakan di rumah kita. Hal yang paling mudah kita lakukan untuk menjamu tamu adalah memberikan segelas air minum. Jika kondisi cuaca panas, maka kita bisa upgrade hidangan menjadi air dingin, atau air manis dingin seperti es teh manis dan es sirup. Kalau kondisi cuaca dingin, maka kita bisa hidangkan air hangat. Jamuan menjadi lebih lengkap jika kita tambahkan cemilan pendamping atau bahkan makan besar ketika waktunya makan. Kalau kita sudah tahu selera tamu, maka hidangan bisa kita sesuaikan dengan kesukaan tamu. Wallahu a’lam, Barokallah fiikum.

follow me @qhimahatthoyyib

Senin, Desember 31, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 5: Kesetimbangan Reaksi



                Di dalam reaksi kimia, selain berlangsung searah menuju hasil reaksi, terdapat pula reaksi bolak-balik. Jika diibaratkan dalam kehidupan manusia, maka reaksi ini seperti reaksi imbal balik atau umpan balik (feed back). Reaksi yang setimbang berlangsung dengan kecepatan yang sama tanpa meperhatikan satuan waktu. Menurut asas Le Chatelier “jika terhadap suatu sistem kesetimbangan dilakukan suatu tindakan (aksi), maka sistem kesetimbangan tersebut akan cenderung mengurangi pengaruh aksi tersebut dengan melakukan pergeseran sampai terbentuk kesetimbangan baru. Akan tetapi, faktor-faktor yang mengubah kesetimbangan tiidak akan mempengaruhi harga tetapan kesetimbangan (Kc)”. Sedangkan tetapan kesetimbangan, Kc, hanya bergantung pada besarnya konsentrasi zat gas atau larutan pada reaski tersebut.

Berikut merupakan contoh reaksi kesetimbangan pada pembentukan gas karbononoksida.
2C (s) + O2  (g) ↔ 2CO (g)

Besar tetapan kesetimbangan reaksi tersebut adalah Kc = [CO]^2 / [O2]

Faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan reaksi:

  1.          Konsentrasi. Kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang konsentrasinya berkurang.
  2.          Suhu. Jika dinaikkan maka kesetimbangan bergeser ke arah reaksi endoterm (entalpi positif).
  3.     Tekanan. Jika dinaikkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang jumlah molekulnya paling sedikit.
  4.     Volume. Jika diturunkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang jumlah molekulnya paling sedikit.
Peristiwa kesetimbangan reaksi ini dapat kita aplikasikan pada kehidupan. Misalnya terdapat dua orang/organisasi/perusahaan dll menjalin hubungan, maka tetapan kesetimbangan reaksi/eratnya jalinan hubungan tersebut dipengaruhi oleh orang/organisasi/perusahaan yang masih berada dalam tahap gas atau larutan. Berarti dalam hal ini, orang/organisasi/perusahaan tahap gas atau larutan adalah bagian yang memiliki kekuasaan lebih rendah/lebih labil/berhati lembut dibandingkan partnernya yang bersifat solid/sudah memiliki kekuatan yang baik/keras kepala. Sehingga orang/organisasi/perusahaan tersebut harus lebih fleksibel mengubah dirinya. Karena jika tidak demikian maka reaksi yang setimbang tidak akan terjadi.
Pengubahan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan reaksi yang setimbang oleh orang/organisasi/perusahaan bersifat gas atau larutan tersebut dalam menghadapi partner yang bersifat solid/sudah memiliki kekuatan yang baik/keras kepala dapat berupa 4 faktor seperti yang telah disebutkan di atas yaitu konsentrasi, suhu, tekanan dan volume. Sekian tulisan di akhir tahun ini. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Selamat merancang target-target baru untuk tahun 2019 ke depan. Sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya. Wassalamu’alaikum~

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Desember 15, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 2: Pembentukan Ikatan



                Fakta yang ada di Indonesia yaitu bahwa Islam adalah agama mayoritas. Sebanyak apapun orang membenci islam, entah terhadap orangnya, entah terhadap agamanya, entah memang parno dari sononya, atau sudah sakit telinga saat mendengarnya, kita tidak dapat menafikan kenyataan bahwa Islam telah menguasai Indonesia. Jika agama islam adalah agama penebar kebencian, maka tidak masuk akal jika 80% penduduk negeri ini adalah muslim. Padahal sebelum Islam datang, kita tahu bahwa Majapahit dengan latar belakang Hindu-Budha-Animisme telah menguasai Nusantara yang meliputi Indonesia  dan beberapa Negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Islam merupakan pilihan utama masyarakat.
                Kini, islamophobia, ungkapan untuk seseorang yang fobia dengan Islam, semakin berani menunjukkan dirinya. Mereka meyakini bahwa Islam harus ditumpas, apapun alasannya. Kejadian ini serupa dengan hal yang telah dialami oleh Rosulullah dan kholifah setelahnya. Bukankah tidak ada hal yang baru di dalam hidup kita? Semuanya pasti berulang, berputar seperti roda, meskipun jaman dan teknologi semakin berkembang tetapi sifat manusia pada dasarnya begitu-begitu saja. Jika kita baca sejarah perkembangan Islam di masa Rosulullah, kaum kafir Quraisy atau musuh islam lainnya ‘hanya’ merasa terancam dengan keberadaan Islam. Mereka akan melakukan segala cara agar Islam tak dapat mengalahkan ‘kepopuleran’ mereka. Orang-orang itu ‘hanya’ gengsi, tinggi hati dan ingin berkuasa atas segala.
                Kebencian ini berimbas pada seluruh aspek kehidupan. Kampus dan sekolah Islam dianggap ladang teroris, organisasi Islam dianggap mengancam kesatuan Negara, hingga parta Islam pun tak luput dari berbagai tudingan. Oleh karena itu, untuk menghadapi kebencian ini diperlukan sikap politik (taktik, rencana, siasat, strategi) agar umat Islam tidak terbakar, terpengaruh atau termakan ucapan tersebut. Bagaimanapun umat islam harus bersatu, memperkuat ikatan ukhuwah islamiyah, agar tidak mudah terpecah-belah.
                Kekuatan akan terbentuk jika masing-masing diri kita saling berikatan. Peristiwa ini bahkan terjadi pada partikel terkecil pembentuk materi yaitu atom. Tidak ada satu atom pun di muka bumi ini yang tidak berikatan. Karena ikatan ini diperlukan agar atom-atom tersebut menjadi lebih stabil. Kestabilan pada atom terjadi apabila elektronnya telah memenuhi kaidah duplet (dua elektron) atau oktet (delapan elektron). Kaidah tersebut hanya terjadi apabila suatu atom berikatan dengan atom lain. Sehingga tak ada cara lain untuk mencapai tingkat kestabilan yang lebih tinggi selain saling berikatan.
                Berbagai ikatan yang terjadi di dalam senyawa adalah ikatan ion (umumnya antara atom logam dan nonlogam), ikatan kovalen (umumnya antara atom nonlogam dan nonlogam), ikatan kovalen koordinasi dan ikatan logam. Jenis-jenis ikatan tersebut ada karena masing-masing sifat atom berbeda. Di antaranya ada atom yang mempunyai pasangan elektron bebas, ada yang mudah melepaskan elektron, ada yang senang mengambil elektron, dan ada juga yang senang dengan sesama kelompoknya sendiri. Selain terjadi antara dua atom, ikatan juga dapat terbentuk antara sekelompok atom. Oleh karena itu, beberapa istilah yang dikenal pada atom-atom yang saling berikatan yaitu molekul, unsur dan senyawa.
                Jadi, begitupun halnya yang terjadi pada manusia. Pembentukan ikatan, perkuat ukhuwah, juga merupakan salah satu cara untuk mencapai kestabilan. Namun, apakah kestabilan tersebut bersifat kekal? insyaAllah akan kita bahas pada tulisan selanjutnya. Wassalamu’alaikm dan selamat berjuang~

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Desember 14, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 1: Ionisasi



                Semakin dekat dengan tahun 2019, semua kegiatan yang ada tidak pernah lepas dari dugaan “ini pasti ada apa-apa”, ”pasti ingin menaikkan elektabilitas”, “wah, ini pasti jadi ajang kampanye”, dan pernyataan lain yang lebih heboh. Maklum, 2019 mendatang adalah tahun pergantian pemerintahan semua elemen, dari legislatif sampai eksekutif. Ingat! April 2019 nanti jangan golput yaa~ meskipun banyak sekali anggapan ‘halah, siapapun pemerintahnya toh gak akan ngaruh buat kehidupan kita’. Perlu diketahui oleh buibu dan pakbapak sekalian bahwa pemerintah punya kekuasaan untuk mengatur pajak, mengeluarkan perundang-undangan, mengatur semua elemen dari pendidikan sampai kesehatan. Hanya ada dua kemungkinan hasil dari semua aturan tersebut yaitu mensejahterakan dan membahagiakan rakyat, atau mencekik dan menyakiti rakyat. Berhubung Indonesia masih menggunakan sistem kedaulatan rakyat, maka mari kita gunakan dengan baik hak tersebut. Karena nasib bangsa ini, nasib rakyat, nasib kita, dan keturunan kita ada di tangan kita.
                Pada tema tulisan ‘Politisasi Kehidupan’ berikut, saya tidak akan membahas hal di luar bidang saya atau di luar kemampuan saya. Singkat kata, saya akan mencoba membahas dari sisi keilmuan Kimia. Fokusan ilmu kimia adalah sifat, bentuk dan perubahan. Intinya adalah jika terjadi perubahan dalam suatu reaksi, maka perubahan reaksi tersebut berasal dari perubahan bentuk senyawa di dalamnya. Sehingga sifatnya pun mengalami perubahan dan terjadilah reaksi. Oleh karena itu, mendalami ilmu kimia setara dengan mempelajari kehidupan. Karena kehidupan terkecil di muka bumi berasal dari partikel terkecil yang disebut atom.
                Sangat sempit pemikiran seseorang apabila menganggap sikap politik hanya digunakan dalam politik praktis, atau selalu mengaitkan kata politik dengan partai politik, dan hal-hal lain yang serupa. Padahal sikap politik sudah terjadi dari kehidupan terkecil hingga kehidupan terbesar. Jika dipelajari lebih rinci, sikap politik terjadi pada atom, tubuh makhluk hidup, kehidupan makhluk hidup serta alam semesta. Berdasarkan KBBI, kata politik (n) mempunyai beberapa arti yaitu 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain; 3 cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah), kebijaksanaan. Jadi, kata ‘politik’ dapat digunakan dalam berbagai hal mengenai pengambilan tindakan atau siasat. Sehingga tidak ada satu hal pun yang terhindar dari politik.
                Atom merupakan partikel terkecil penyusun materi yang di dalamnya terdapat elektron (partikel negatif), proton (inti atom postif), dan neutron (inti atom tidak bermuatan). Di dalam sistem periodik, atom dikelompokkan berdasarkan sifatnya, nomor massanya, jumlah kulit atau tingkat energinya, banyaknya elektron valensi/terluar dan sebagainya. Atom-atom logam yang tergolong pada 1A dan 2A mudah mengalami ionisasi dengan melepaskan elektron terluarnya, sebaliknya atom-atom golongan 6A dan 7A dapat mengalami ionisasi dengan menangkap/mengambil elektron dari atom sekitarnya. Ionisasi/pembentukan atom bermuatan merupakan salah satu sikap politik yang terjadi pada atom. Atom selalu mencari cara termudah dan tercepat untuk mencapai kondisi stabil.
Seperti atom, manusia pun mencari cara tercepat dan termudah untuk mencapai kestabilan. Berbagai kondisi stabil yang diharapkan oleh manusia seperti badan yang sehat sehingga apapun bisa dilakukan atau harta yang melimpah agar semua keinginan terkabulkan serta hal-hal lain yang berkaitan. Setelah mencapai kondisi stabil, mengapa setiap manusia masih memerlukan manusia lainnya? InsyaAllah akan kita lanjutkan di bagian dua. Terimakasih, selamat beraktifitas~

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Desember 12, 2018

Revolusi Industri 4.0: VR, AR, KOREA AND INDONESIA



Assalamu’alaikum sahabat, semoga Allah selalu limpahkan kebaikan pada kita semua amiin. Kali ini saya mencoba menuliskan sesuatu sedikit keluar dari bidang saya. Seperti sahabat semua ketahui, bahwa banyak tulisan saya yang mengedepankan analisis. Terutama di bidang keilmuan saya yaitu Kimia, serta bidang lain yang saya tekuni yaitu tadabbur ayat Al-Qur’an, juga hal lain yang menarik bagi saya yaitu variety show Korea, dorama Jepang, dan tontonan dengan action and sci-fi theme. Namun kali ini kita akan membahas sesuatu yang berbeda yaitu salah satu drama Korea yang baru saja tayang pada awal bulan Desember 2018 ini.
Beberapa sahabat yang telah mengikuti tulisan ini sejak lama, mungkin sudah tahu bahwa saya tak suka dengan drama Korea (read: drakor bukan movie/film). Terutama karena tema-tema drakor 90% adalah romance yang membuat saya ithcy and chilly. Berbeda dengan penggemar lain yang menggandrungi negeri ginseng itu karena drama dan idolnya, saya menggandrungi mereka karena kecepatan perkembangan teknologi dan kekokohan warisan budayanya. Jadi, banyak judul drakor terlewatkan bagi saya meskipun hal tersebut sangat hits di Indonesia.
Selama ini, drakor yang menarik bagi saya adalah ‘Jang Yeong Sil’ (2015) yang menceritakan ilmuwan perbintangan Korea, ‘SPY’ yang menceritakan agen rahasia China, dan ‘Descendent of the Sun’ (2016) yang bertema perang dan pemberontakan. Sebelum itu belum banyak mengenal Korea dan setelah itu tak ada. Namun saat ini, saya tidak menyangka bahwa akan kembali tertarik pada drakor. Drama ini setengahnya berisi adegan roman dan sisanya adalah adegan aksi. Tidak seperti drama bertema aksi lainnya, drama ini mengambil konsep AR (Augmented Reality) yang telah dikembangkan pada aplikasi permainan.
Berjudul ‘Memories of the Alhambra’, saya mengira drama ini hanya berisi roman seperti biasa. Hanya saja kata Alhambra sangat mengusik saya, karena tempat ini adalah salah satu tempat bersejarah bagi dunia Islam. Namun, sangat tidak disangka bahwa episode pertama sudah membuat saya terkagum dengan adegan virtual yang disajikan. Menurut saya dengan konsep baru ini, drakor yang biasanya hanya mengambil hati penonton wanita melalui adegan roman, kini dapat juga mengambil hati penonton pria melalui adegan game yang dibuat nyata. Saya yakin drama ini akan disukai oleh kaum adam (terutama para gamers) karena konsep AR dan graph editing yang sangat meyakinkan.
VR (Virtual Reality) dan AR adalah dua kata asing bagi saya karena istilah tersebut tidak dikenal di bidang kami. Bidang-bidang yang menggunakan VR dan AR adalah bidang elit teknologi seperti teknologi pesawat, teknologi militer, dan teknologi kedokteran. Namun saat ini, kedua istilah tersebut sangat umum dikenal terutama di kalangan gamers. Salah satu aplikasi permainan berkonsep AR yang terkenal adalah pokemon GO!. Permainan menjadi sangat menarik karena melibatkan benda dan lingkungan nyata di sekitar kita.
Korea merupakan salah satu negara yang terkenal cepat dalam pengaplikasian teknologi. Permainan berkonsep VR dan AR sudah dapat dinikmati oleh orang-orang umum. Selain dengan mobile phone, mereka juga dapat menikmatinya di kios permainan setempat. Sebagai negara yang kemerdekaannya hanya dua hari setelah negeri ginseng itu, Indonesia, menurut saya patut mencontoh cara berkembangnya negeri tersebut. SDM negeri ini tak kalah banyak dan tak kalah pandai. Kampus teknik sudah tersebar di mana-mana. Sebagian ilmuwan juga telah belajar dari kampus negara lain. Jadi, tunggu apa lagi?
Indonesia yang saat ini hingga 15 tahun ke depan sedang mengalami bonus demografi, dinyatakan oleh banyak ahli bahwa kita berada dalam “masa emas”. Terlebih dengan adanya Revolusi Industri 4.0 yang berbasis teknologi digital, Indonesia harus segera memperbaiki diri sebelum terlambat jika ingin menguasai dunia. Berbicara tentang perbaikan Indonesia, maka perbaikan terkecil harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Sekian tulisan kali ini, semoga bermanfaat dan selamat menikmati perubahan.

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 22, 2016

Setapak Cahaya: ISLAM DAN BUDAYA



Asssalamu’alaikum sahabat, hari ini mungkin sedikit saja yang bisa kita bahas. Karena membahas berita sudah terlalu mainstream, saya ingin membahas hal lain yang lebih mainstream lagi hehe. Sahabat pasti sering dengar orang bilang bahwa Indonesia memiliki budaya ketimuran yang kental dengan keramahan, kesopanan, kerendahhatian dan sebagainya. Ya, banyak orang bilang bahwa budaya Indonesia tidak seperti budaya barat. Oleh karena itu, perilaku atau hal-hal yang tidak sesuai budaya timur sudah seharusnya disensor.
Jujur saja, orang timur pun tidak memiliki adat dan budaya yang demikian. Tidak ada perbedaan bernama budaya barat dan budaya timur. Sahabat masih ingat atau mungkin pernah tahu bahwa sejarah mencatat orang-orang Indonesia dahulu tidak mengenal pakaian. Patung-patung serta gambar manusia jaman lampau di dalam museum atau taman historikal menampakkan bahwa perempuan terdahulu bahkan tidak menutup bagian atas tubuhnya, sama seperti lelaki. Jadi, bagian mana yang menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai budaya ketimuran?
Salah kaprah dalam mencampurkan aturan kepercayaan satu dengan lainnya sehingga memperoleh kesimpulan bahwa itulah budaya yang kita miliki adalah suatu hal yang tidak logis. Bagaimana mungkin orang yang seenaknya mencampuradukkan hal benar dan salah kemudian ingin dianggap sebagai orang baik? Sayangnya, seperti yang pernah kita bahas bahwa kebaikan setiap orang memiliki kadar yang berbeda. Bisa saja kita menganggapnya baik tapi orang lain tidak demikian. Kebaikan di mata manusia, bukanlah sesuatu yang mutlak benar menurut Allah.
Oleh karena itu, Islam kemudian datang meberikan pencerahan, menunjukkan jalan-jalan kebenaran. Alhamdulillah, hingga kini Islam masih tersebar di seluruh dunia dan sampailah kepada kita. Ya, yang ingin saya katakana di sini adalah “Hei, budaya yang kita anut ini bukanlah budaya ketimuran. Tapi inilah budaya yang diajarkan oleh Islam”. Jika ada yang mengatakan bahwa negeri ini tidak dibangun atas dasar agama, maka aku akan katakan “Hei, coba lihat kembali. Tidak mungkin ada sila satu Pancasila yang menyebutkan ‘Tuhan Yang Maha Esa’ jika negeri ini tidak dibangun atas dasar agama. Bahkan sila tersebut sudah mengalami revisi dari versi perdananya.”. Mari kita telaah kembali, kepercayaan dan agama mana yang menganut Tuhan Yang Esa. Hanya Islam bukan? Jadi, apakah mereka masih ingin bilang kalau negara ini tidak dibangun atas dasar agama.
Mari kita tengok negara daerah timur lainnya yang mana umat muslim adalah minoritas di sana. Singapura, Hongkong, India, Papua Nugini, atau lainnya lagi apakah juga memiliki budaya ketimuran seperti yang kita miliki? Ternyata tidak. Tidak jika mereka bukan seorang muslim yang taat. Sahabat, mari kita ingat lagi bahwa Allah selalu melihat perilaku kita. Ia mengirimkan petugasNya untuk mencatat amal baik dan buruk kita. Oleh karena itu, janganlah kita campuradukkan hal benar dan salah atas nama adat dan kebudayaan. Untuk mengakhiri tulisan ini, mari kita baca terjemah surat Qaf ayat 19-23 berikut:
19. dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.
20. dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.
21. dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan Dia seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi.
22. Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu Amat tajam.
23. dan yang menyertai Dia berkata : " Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku".


follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Juni 21, 2016

Setapak Cahaya: MENYERAHKAN DIRI



Sahabat, mohon maaf bila tidak ada cerita pada hari ini. Namun, ada satu doa Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an yang ingin saya bagikan kepada sahabat sekalian. Oya, sebelum itu sahabat tahu kan bahwa ayah Nabi Ibrahim tidak menyembah Allah dan ia lah ternyata si pembuat berhala. Ternyata seorang Nabi sekeren Ibrahim mempunyai keluarga yang tidak seiman dengannya. Dari sini dapat kita lihat bahwa Allah telah memberikan contoh-contoh nyata yang mungkin kejadian tersebut bisa terulang kembali saat ini.
Beriman, seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Tidak akan berbatasan dengan apapun. Siapapun kamu, bagaimanapun keluargamu, dimanapun keberadaanmu, beriman kepada Allah adalah satu-satunya jalan untuk selamat dari kecaman dunia ini. Siti Asiyah misalnya, ia beriman meski mempunyai suami sekeji Fir’aun. Nabi Ibrahim, ia beriman meski ayahnya seorang penyembah dan pembuat berhala. Siti Masyitoh, ia beriman meski sang majikan tidak sama keyakinannya. Ashabul Kahfi, mereka beriman meski pemerintahan tidak mendukungnya. Nabi Yusuf, tetap beriman meski saudara-saudaranya begitu kejam padanya. Siti Maryam, masih beriman meski masyarakat setempat mencaci-makinya. Dan masih banyak contoh lainnya.
Beriman, percaya kepada Allah, malaikat-Nya, utusan-Nya, kitab-Nya, ketentuan-Nya hingga datangnya hari akhir. Ya, beriman adalah simbol penyerahan diri seorang hamba kepada pemiliknya, kepada majikannya, kepada Tuhannya. Namun, seperti yang juga sudah kita bahas sebelumnya. Berserah diri bukan berarti kita tidak perlu berusaha atas kehidupan kita. Masih ingatkah sahabat bahwa Allah selalu melihat amal kita, kerja keras kita, proses-proses yang kita usahakan, dan Allah yang akan menilainya. Oke, kembali kepada topik dan mengakhiri tulisan ini bahwa ada satu doa dari Nabi Ibrohim yang keren abis di surat Asy-Syu’aro ayat 70-91 yang artinya seperti berikut dan dilengkapi Tafsir Jalalain:
70. ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?"
71. mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala (mereka menjelaskan secara terang-terangan supaya berhala-berhala itu disukai olehnya) dan Kami Senantiasa tekun menyembahnya (mereka menyembah sepanjang siang dan malam, jawaban ini untuk membanggakan diri mereka terhadap Nabi Ibrahim)".
72. berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?,
73. atau (dapatkah) mereka memberi manfaat (jika kalian menyembahnya) kepadamu atau memberi mudharat (jika kalian tidak menyembahnya)?"
74. mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang Kami berbuat demikian".
75. Ibrahim berkata: "Maka Apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah,
76. kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,
77. karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku (Nabi Ibrahim tidak emnyembah mereka), kecuali Tuhan semesta alam (hanya yang di sembah),
78. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku (kepada agama yang benar),
79. dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu,
80. dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,
81. dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),
82. dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (hari pembalasan)".
83. (Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh (golongan para Nabi),
84. dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian (orang-orang sesudah nabi Ibrahim hingga hari Kiamat),
85. dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan (yakni di antara orang-orang yang memperolehnya),
86. dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat (Allah memberikan jalan taubat lalu diampuni. Doa ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim sebelum jelas baginya bahwa ia adalahmusuh Allah, sebagaimana pada surfat At-Taubah),
87. dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,
88. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
89. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (dari syirik dan munafik yaitu hati orang mukmin yang imannya memberikan manfaat kepada dirinya),
90. dan (di hari itu) didekatkanlah surga (dijadikan dekat hingga mereka dapat melihat dengan jelas) kepada orang-orang yang bertakwa,
91. dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang- orang yang sesat (orang-orang yang kafir)",


follow me @qhimahatthoyyib