Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 16, 2021

Miskin Boleh, Tapi Bodoh Jangan, Ditambah Lagi Penyakitan


                Tulisan ini masih satu series dengan tulisanku sebelumnya yang berjudul Sketsa PandemiBagian 10 dan Miskin Boleh, Tapi Bodoh Jangan. Berikut sebuah hadits Rosulullah SAW untuk membuka tulisan ini, Hadis riwayat Abu Hurairah ra., Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah. (Shahih Muslim No.4022). Dari hadits tersebut kita tahu bahwa salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah menjenguk saudara semuslim yang sakit.

Penyakit atau Wabah yang menimpa manusia, bisa termasuk dalam siksaan, ujian, atau rahmat. Bergantung pada kondisi keimanan si penerima. Seperti disebutkan dalam hadits berikut, Dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal penyakit taun, lalu beliau memberitahukannya bahwa sesungguhnya taun itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Ta'ala kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya, tetapi juga sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah Ta'ala kepada kaum mu'minin. Maka tidak seorang hamba pun yang tertimpa oleh taun, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keridhaan Allah serta mengetahui pula bahwa taun itu tidak akan mengenainya kecuali karena telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan memperoleh seperti pahala orang yang mati syahid." (Riwayat Bukhari).

Berdasarkan hadits tersebut, penyakit/wabah adalah sesuatu yang dikirimkan oleh Allah ke muka bumi. Tapi seperti kita tahu, bahwa sebagian besar musibah (termasuk penyakit) yang terjadi pada kita adalah akibat ulah kita sendiri. Kita sudah diciptakan demikian sempurna, tapi karena kurang bersyukur dan tak merawat diri sebaik mungkin, sehingga banyak penyakit hinggap dalam diri. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. QS: As-Syuura (42)  ayat 30-31”. Hal ini menjadi peringatan bagi kita semua.

Tetapi sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berikut hadits-hadits yang berkaitan dengan hal itu:

  • 1.       Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kami berobat?" Beliau menjawab, "Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)". (HR. Ashabussunnah)
  • 2.       Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • 3.       Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)
  • 4.       Dalam riwayat selain Tirmidzi disebutkan: "Peliharalah Allah, maka engkau akan mendapatkanNya di hadapanmu. Berkenalanlah kepada Allah -yakni tahulah kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan untuk Allah- di waktu engkau dalam keadaan lapang -sehat, kaya dan lain-lain-, maka Allah akan mengetahuimu -memperhatikan nasibmu- di waktu engkau dalam keadaan kesukaran –sakit, miskin dan lain-lain-. Ketahuilah bahwa apa-apa yang terlepas daripadamu itu -keuntungan atau bahaya, tentu tidak akan mengenaimu dan apa-apa yang mengenaimu itu pasti tidak akan dapat terlepas daripadamu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran dan bahwasanya kelapangan itu beserta kesukaran dan bahwasanya beserta kesukaran itu pasti ada kelonggaran."

Penyakit memang bukan hal yang menguntungkan untuk keseharian kita, tapi pasti ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian tersebut. Berkaitan dengan judul tulisan, bukan bermaksud untuk memojokkan kaum fakir miskin tetapi justru menjadi renungan kita bersama. Terlebih karena kondisi negara yang belum bisa optimal dan maksimal dalam memberikan pengobatan gratis kepada mereka. Akhir kata, semoga kita semua selalu bisa menjadi hamba yang bersyukur.



Selasa, Juli 13, 2021

SKETSA PANDEMI-Bagian 10

                 Assalamu’alaikum semuanya~ semoga dalam keadaan sehat yaa..

                Sungguh, pekan-pekan ini terasa menyedihkan. Setiap hari, dari setiap grup yang kuikuti, selalu ada berita duka, kalau tak berkabar sakit, pasti tentang kematian, entah ayah, ibu, atau keluarga dekat ybs. Sedih sekali rasanya, sejak tahun lalu, sudah ratusan ulama dan ribuan orang-orang baik diambil kembali oleh Sang Pemilik nyawa mereka. Cepat sekali mereka berpulang. Mudah sekali bagi Allah untuk mengangkat ilmu dan mengambil kebaikan yang telah diberikan-Nya di dunia.

                Dengan cara yang tak pernah kita sangka dan kondisi yang tak pernah kita duga. Allah datangkan makhluk kecilnya. Ia beri ujian pandemi pada manusia. Lalu ambil kembali orang-orang baik dan berilmu yang menjadi penerus para Nabi dan Rosul-Nya. Dan seterusnya entah ada ujian apa lagi, hingga yang tersisa di dunia hanyalah kebodohan dan DUARRR!! Entah kapan kiamat akan terjadi, yang jelas sudah pasti sebentar lagi. Karena tanda-tanda datangnya waktu itu, sudah semakin marak jika kita cermati.


                Tak adanya orang beriman yang berilmu merupakan malapetaka yang lebih besar dari pada sekedar ujian kemiskinan. Ratusan kelompok kehilangan kader cerdasnya, ribuan murid kehilangan gurunya, dan jutaan masyarakat kehilangan pemimpin terbaiknya. Kalau ekonomi bisa cepat diperbaiki, tapi tidak dengan regenerasi. Entah berapa puluh tahun lagi pengganti dan penerus generasi terbaik itu dihadirkan oleh Allah lagi di dunia ini.

-cek LAPORAN MUI-

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun,

Teriring doa untuk semua almarhum/ah para alim ‘ulama, para cendekiawan, para mu’minin dan mu’minat dimanapun dikuburnya mereka. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi mereka, mengampuni segala dosa mereka, menerima segala amal perbuatan mereka, menerima segala pengorbanan yang telah mereka lakukan dalam menyebarkan kebaikan dan keilmuan mereka.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه\ها وَارْحَمْه\ها وَعَافِه\ها وَاعْفُ عَنْه\ها، وَأَكْرِمْ نُزُوْلَه\ها، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه\ها، وَاغْسِلْه\ها بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَ\ها مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْه\ها دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه\ها، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه\ها، وَأَدْخِلْهَ\ها الْجَنَّةَ، وَأَعِذْه\ها مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَه\ها وَلاَ تَفْتِنّا بَعْدَه\ها وَاغْفِرْلَنَا وَلَه\ها وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثوَاه\ها.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَه\ها رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهُ\ها حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِيْرانِ.

آمِـيْنَ... آمِيْنَ... آمِيْنَ... يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Selasa, Juni 29, 2021

SKETSA PANDEMI-Bagian 9

 

                Kenyataannya sampai saat ini, pandemi belum usai. Malah muncul beberapa varian virus korona yang baru. Rumah sakit mulai penuh kembali, stok tabung oksigen pun menipis, terlebih para nakes yang berjuang sudah mulai ada yang tumbang lagi. Tapi sebagian masyarakat masih tak percaya kalau virus ini benar-benar ada, bahkan hingga tingkat pejabat negara. Ada apakah sebenarnya? Apakah koar-koar pemerintah tentang protokol kesehatan masih kurang? Atau masih banyak sebenarnya yang belum tercerahkan? Alih-alih mengatakan masyarakat kita kurang pendidikan, atau mungkin akses pendidikan memang belum merata (?).


Aihhh, jangankan masalah virus dan penyakit yang baru ada, bukankah penyakit yang lama masih kita pelihara? Berlebihan makan gorengan misalnya, atau melupakan kelengkapan gizi yang seharusnya, lalu kurangnya olahraga. Selain penyakit fisik, berbagai penyakit pikiran dan kebiasaan buruk pun bermunculan. Jam karet lah, buang sampah sembarangan lah, tak tertib rambu lalu lintas lah, terkadang masih ada juga yang tidak bisa antri dengan baik dan benar, dan lain-lain lagi. Tentu saja, sebagian lainnya tak berbuat demikian dan terus mengupayakan kebaikan. Semoga itu termasuk aku dan kalian ya.

Para sahabat yang sampai saat ini masih sulit berbuat kebaikan, yuk semangat yuk pasti bisa. Cari teman yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita. Para sahabat yang saat ini sudah mulai mengusahakan berbuat baik, teruslah berbuat baik, selalu berusaha menjadi versi terbaik kita dari hari ke hari. Para sahabat yang sudah istiqomah dalam kebaikan, yuk bagi ilmunya dan ajak semakin banyak orang untuk bergabung sebagai bagian dari pejuang kebaikan. Selamat berjuang semuanya~ semoga Allah meridhoi setiap langkah dan gerakan kita.

Rabu, Maret 17, 2021

Kritik Sosial

 


                Kritik sosial adalah hal yang wajar, tapi kenyataan saat ini, pembicaraan itu kembali tabu di Indonesia. Bahkan orang sekelas pejabat negara yang seharusnya menampung aspirasi rakyat malah bilang, “Kalau pemerintah sudah bilang itu hoaks, ya hoaks”. Sungguh pernyataan yang menyakitkan bagi kita sebagai rakyat jelata, yang meskipun kedaulatan ada di tangan rakyat, tapi tak punya kuasa apa-apa. Meskipun demikian, kritik sosial masih harus dilakukan, sampai negara benar-benar mempunyai pemimpin yang sesuai dengan visi misi negara dalam pancasila dan undang-undang dasar yang Indonesia punya.

                Salah satu kritik sosial yang mudah dilakukan adalah dengan film/sinetron atau media visual lainnya. Maka dari itu, segala tipe konspirasi, aspirasi hingga imajinasi banyak dipamerkan dan dijejalkan pada otak banyak orang melalui tontonan. Sehingga kritik tersebut dikenal oleh banyak orang sampai dipercaya hal itu benar-benar nyata terjadi. Banyak orang yang terlena, bahkan saling berkomentar tentang apa yang ditayangkan. Padahal sebagian besar merupakan hiperbola dari kenyataan.



                Seperti yang semua sahabat tahu, di antara semua tontonan yang ada, kalau soal drama atau film, aku paling update tontonan dari Jepang. Kalau variety show adalah dari Korea dan kalau dari Indonesia, saat ini aku lebih tertarik berita politik, sejarah, pendidikan dan kuliner yang itu pun bukan tayangan televisi, melainkan media daring. Sedangkan tontonan dari barat sudah lama aku tinggalkan, sejak tahun 2012-an sepertinya. Segala hal dari barat yang sebagian besar dari Amerika tidak lagi kutonton, meskipun itu adalah film ter-hits. Tapi, tontonan berbahasa inggris yang kutonton di media daring bukanlah film/drama, melainkan kuliner, teka-teki, seni/kreasi, dan eksperimen.

                Saking seringnya nonton drama/film jepang, salah satu pertanyaan yang ada di kepalaku adalah apakah tayangan tersebut diproduksi sebagai kritik sosial? Baik itu kepada masyarakat atau kepada pemerintah. Karena saat kuamati, setiap tahun ada tema-tema khusus yang diangkat. Pada tahun 2020 misalnya, selain banyak tontonan dengan tema utama pandemi, mengatasi pandemi, bertahan saat pandemi dan sebagainya, ada banyak juga tontonan bertema nikah muda yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tema ini sudah lama digaungkan, tapi sebagian besar adalah married by accident, bukan benar-benar dirancang sebagai anjuran pernikahan hingga promosi matching app untuk menemukan jodoh. Apakah ini metode yang digunakan untuk meningkatkan populasi mereka kembali? Aku sendiri juga tak tahu, selain karena tak tinggal di Jepang, aku juga tak mengikuti berita atau kejadian populer dari sana.

                Tema-tema yang selalu ada tiap tahun adalah berkaitan dengan aparat keamanan yaitu detektif dan kepolisian, ada juga tema yang berkaitan dengan pemerintahan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tayangan yang pernah kutonton dengan tema tersebut adalah CHANGE!, HERO, Legal High, Against False Charge, dan Legal V. Selain itu, ada juga tayangan bertema permainan tradisonal. Permainan Go, Shogi, Karuta, Kindama, dan Haiku adalah hal tradisional mereka yang kuketahui lewat dorama/movie Jepang. Ketiga tema tersebut membuatku bertanya-tanya apakah hal yang demikian ini merupakan kritik sosial, ataukah itu merupakan kenyataan yang terjadi di Negeri matahari terbit itu? Yaahh, seperti kita tahu, Jepang sangat bangga akan dirinnya, meskipun negaranya kecil tapi tekad mereka sangat luar biasa besar. Hingga mereka mampu menguasai Indonesia di tahun-tahun yang pahit itu. Mereka juga pernah berkelana menguasai Korea, dari salah satu kisah yang kutahu.

Minggu, Maret 07, 2021

Atas Nama Leluhur dan Nenek Moyang

 


                Berkaitan dengan judul ini, dua tulisanku sebelumnya berjudul Salah Taat Kepada Orang Tua dan (Day6) Menasihati Nenek Moyang membahas tema yang sama. Lagi-lagi ada yang perlu kita bahas berkaitan dengan hal ini. Kejadian cukup luar biasa terjadi dalam dua pekan ini, yaitu adanya peraturan presiden yang dikeluarkan berkaitan dengan investasi pada minuman beralkohol. Karena banyaknya penolakan dari berbagai kalangan (yang sebagian besar adalah organisasi Islam), alhasil lampiran ketiga perpres tersebut dibatalkan (kata berita sih begitu).



Selain penolakan, sebenarnya banyak juga netizen yang mendukung peraturan tersebut, berikut alasan-alasan yang populer dari mereka, yang saya lansir dari berbagai sumber:

1.          Ada cukup banyak minuman beralkohol (minol) produk lokal yang merupakan warisan leluhur.

2.  Minol, selain untuk menghangatkan diri juga dipakai dalam peribadatan umat tertentu, untuk mendekatkan diri pada sang Kuasa.

3.     Minol adalah produk kekreatifan akal manusia untuk menikmati dan menghargai sumber daya alam.

4.     Minol juga alat untuk mengakrabkan diri dengan orang lain.

5.   Minol produksi Indonesia perlu dikenal seluruh dunia. Bukankah akan menghasilkan banyak pemasukan jika banyak ekspor minol berkualitas?

6.      Minol punya banyak manfaat, tapi mengapa hanya efek ‘kekerasan’ saja yang ditekankan? Seolah-olah begitu minum, sudah pasti terjadi kekerasan.

7.       Orang yang gak boleh minum, ya gak usah minum lah. Gitu aja kok repot.

Semua alasan tersebut sepertinya cukup masuk akal. Dalam Al Qur’an surat al Baqoroh ayat 219 pun juga disampaikan bahwa khamr (minol) punya manfaat, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Sebagai muslim tentu saja kita hanya bisa taat pada sang pencipta. Selain itu juga perlu kita sampaikan (dakwahkan) ayat ini ke seluruh penjuru dunia. Tapi bukan itu fokus kita pada tulisan ini.

Alasan paling kuat yang cocok untuk tabiat masyarakat Indonesia adalah minol dilestarikan atas nama leluhur dan nenek moyang. Mereka beritikad baik untuk melestarikan budaya yang telah diwariskan turun temurun. Sayangnya, hal ini juga  tertolak di dalam Islam. Memang kita dianjurkan berbuat baik pada orang tua, meskipun mereka bukan seorang muslim. Tapi, Al Qur’an diturunkan untuk memberi peringatan kepada kaum yang nenek moyangnya (atau bapak-bapaknya) belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Ini disebutkan dalam surat Yasin ayat 6. Jadi, tradisi leluhur dan nenek moyang yang tidak sesuai dengan syariat sudah jelas harus dihentikan. Selain itu, manusia memang diciptakan dengan akal yang dapat digunakan untuk berpikir dan berkreasi sekreatif mungkin, namun tentu saja ada batasan yang harus dijaga karena bagaimanapun ia diciptakan oleh zat yang Maha Sempurna. Wallahu A’lam.

Selasa, Maret 02, 2021

Historical Dorama



                   Hai semuanya~ pandemi udah setahun nih, kalian semua sehat-sehat kan? semoga semuanya sehat yaa~ eh tapi pemerintah ini kayaknya yang lagi gak sehat ups.. Rasanya pengen banget time travel ke masa Rosulullah, atau setidaknya ke masa The Golden Age~

                Ngomong-ngomong soal masa lalu, salah satu genre drama/movie favoritku adalah sejarah. Drama sejarah yang menarik buatku adalah historical dorama Jepang, karena drama yang mereka produksi sangat kreatif, memadukan science fiction, sejarah dan romance. Nobunaga Concerto (2016) misalnya, atau Likes! Mr. Genji (2020), atau yang terbaru Edomoiselle (2021). Selain itu, drama jepang bertema sejarah yang merupakan biografi tokoh juga dibuat sangat seru dan menarik penonton, drama paling hits yang semua peminat jepang tahu yaitu Rurouni Kenshin (2012 dan 2014), atau Oshin yang dirilis di Indonesia pada tahun 90an yang digemari orang tua. Judul lain yang juga menarik adalah The Tale of Genji (2011) atau yang terbaru Youkai Sharehouse (2020). Dorama sejarah yang menceritakan peperangan/tragedi pun juga cukup menarik seperti Donten ni Warau (2018), The Great War of Archimedes (2019), Kingdom (2019), Fukushima 50 (2020), atau Taiyo no Ko (2020). Ada juga yang bertema cooking yaitu Tenno no Ryoriban (2015) yang pernah kutuliskan sebelumnya dan The Last Recipe (2017). Tapi, sejujurnya ada juga yang membosankan menurutku seperti Kurui Musashi (2020).

                Hal itu sangat berbeda dengan Indonesia yang sebagian besar dramanya bertema permasalahan keluarga dan percintaan remaja masa kini. Kalau ada drama/film bertema sejarah pun kurang menarik minat pemuda. Film sejarah yang diputar saat hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus pun itu-itu aja. Belum ada karya yang benar-benar menggugah semangat kebangsaan, atau berani berselisih dan mengoreksi pemerintah. Seperti dorama politik berjudul CHANGE! (2008) atau yang sangat fiksi seperti Ace Attorney (2012). Jadi, secara pribadi, semakin ke sini, aku tak banyak menonton karya drama/film bangsa Indonesia karena menurutku tak seru.

                Historical drama di Indonesia sebenarnya juga pernah ada, Tutur Tinular (1997-1999) dan Angling Darma (2000-2005) misalnya, atau Wiro Sableng yang bahkan remakenya ditayangkan pada tahun 2018 lalu. Ada juga drama sejarah bertema mistis yang dulu menemani masa kecilku dan sebagian episodenya pernah kutonton yaitu Misteri Gunung Merapi (1998-2005) dan Nyi Roro Kidul (2003), atau drama yang tidak pernah kutonton sama sekali yaitu Kisah Sembilan Wali (2012) dan Brama Kumbara (2013). Drama-drama tersebut memang cukup menarik, tapi apa yang tidak kusukai dari drama sejarah Indonesia adalah pakaian yang dikenakan. Berbeda dengan pakaian tradisional Jepang yang cukup tertutup, pakaian tradisional atau adat masyarakat Indonesia jaman dulu sangat terbuka, sehingga seperti itu juga lah yang ditayangkan di televisi. Hal itu menurunkan level ketertarikanku pada drama Indonesia. Kalau menurut kalian bagaimana?

Kamis, Februari 25, 2021

SKETSA PANDEMI-Bagian 8


                Hari ini, Kamis tanggal 25 Februari 2021, bertepatan dengan tanggal 13 Rajab 1442 H (hari pertama puasa ayyamul bidh, puasa pada pertengahan bulan), bertepatan juga dengan tanggal kelahiran adik lelaki kami. Hari ini, jika raga dan nyawanya masih bersama kami, mungkin ia sudah meminta hadiah dan sebagainya dengan wajah ‘sok’ melas dan imutnya haha. Seperti yang biasa ia lakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Yah, meski keluarga kami tidak secara ‘literally’ merayakan hari ulang tahun karena saking seringnya berbeda lokasi, tapi kami masih saling mengucapkan dan mendoakan. Terlebih hari ini, kami menghadiahkan bacaan surah yasin dan tahlil padanya.

                Ngomong-ngomong soal ulang tahun, sebentar lagi adalah peringatan satu tahun rakyat Indonesia berkawan dengan virus corona. Berbeda dengan negara asalanya, yaitu China, dan negara lain yang telah dapat meminimalisir kasus positifnya, pemerintah dan rakyat Indonesia masih harus berusaha lebih keras untuk menurunkannya. Meski vaksin sudah disuntikkan, tapi kenyataannya belum dapat dibedakan. Semoga kita semua masih diberi kekuatan oleh Tuhan untuk menghadapi segala ujian.

                Hampir dua bulan berlalu, sejak tanggal satu mulainya tahun baru. Bukannya menjalankan visi misi setelah merdeka, malah kondisi Indonesia masih sama saja. Bahkan semakin banyak kejahatan yang diperlihatkan oleh pihak penguasa. Polisi yang memenjarakan seenaknya, presiden yang menyebabkan kerumunan tapi tak merasa, perilaku korupsi yang tak ada habisnya, dan masyarakat yang sudah mulai acuh pada aturan dan tak percaya pada pemerintah yang berkuasa. Terlebih, satu per satu ulama pergi dari dunia meninggalkan kita untuk menghadap pada Tuhannya. Sungguh menyedihkan sekali kondisi negeri ini.

                Abad 21, selain penuh dengan memori semakin maju dan berkembangnya teknologi, kejadian yang menyakitkan juga masih terjadi. Sejarah memang berlaku berulang kali, hanya saja pemerannya berganti. Semoga kasih sayang, rahman dan rahim Allah masih sudi diberikan oleh-Nya pada seluruh rakyat, para penguasa, dan semua penduduk di bumi ini. Amiin ya Robbal ‘Alamin~

Kamis, Desember 31, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 7


                Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2020. Sayangnya, menjelang lembaran pertama tahun 2021 ini, kondisi Indonesia semakin memprihatinkan. Pandemi tak kunjung diselesaikan, ekonomi tak kunjung dibangkitkan, demokrasi pun terkekang, kebaikan semakin terhalang, dan kejahatan sangat jelas terpampang. Negara dengan mayoritas muslim tapi tak bangga dengan keislamannya, malah saling benci saling murka terhadap sesama pemeluk Islam lainnya. Negara dengan latar belakang sejarah yang kaya dan beragam terlebih dari para ulama-ulama muslim. Tetapi hal itu dikaburkan, diputarbalikkan, bahkan ditenggelamkan. Bagaimana mungkin negara bermayoritas masyarakat Islam tapi tak mau mengenal sejarah keislamannya. Padahal secara logis kita sadar bahwa agama Islam tidak mungkin tersebar luas ke seluruh pelosok negeri, terlebih sebagian besar bermadzhab syafi’i, jika tak bermula dari sekumpulan ulama yang mendakwahkannya di Nusantara ini. Kalau di berbagai negara dengan mayoritas penduduk beragama non islam saja ada jejak-jejak keislaman, apalagi di Indonesia yang sampai saat ini umat muslim masih terbanyak jumlahnya.

                Ya, tulisan kali ini membahas pembubaran ormas FPI yang dilakukan oleh pemerintah sebagai agenda penutup akhir tahun doi. Program ini adalah puncak dari peristiwa sebelumnya yaitu membuikan MRS (pimpinan FPI), menembaki para laskar (meski sampai saat ini belum ada titik terang penyelesaian kasus), hingga akhirnya menetapkan kelompoknya sebagai ormas terlarang. Sungguh hal yang tampak terstruktur dan tersistematis. Bukankah ini sebuah kejahatan besar yang bertopengkan kekuasaan?

                Selain itu, akhir tahun ini juga ditutup dengan korupsi paling memalukan dari para ‘tangan kanan’ sang penguasa. Bantuan sosial untuk masyarakat bawah dikorupsi? Terlebih pada kondisi pandemi saat ini? Sungguh sulit dimengerti dan sangat memuakkan bukan? Ini mah namanya bukan keadilan tapi kejahatan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Benar-benar menyedihkan, sedikit sekali pemimpin yang dapat dijadikan panutan. Sedikit sekali pemimpin yang berpihak pada kebaikan, terlebih pada masyarakat awam yang tak kenal dunia perpolitikan.

                Kasus korupsi yang tersangkanya jelas diketahui, hanya pelaku perseorangan yang diamankan dan organisasi alias partainya tak mendapatkan hukuman. Padahal mungkin saja kejahatan itu adalah hasil dari pengaderan. Di sisi lain, MRS yang kesalahannya dicari-cari agar beliau mudah dipenjarakan, tak berhenti di situ saja, bahkan ormasnya pun dihajar, dipotong, dan dihancurkan habis-habisan. Padahal mereka berbuat untuk kebaikan. Wallahu a’lam. Meskipun ekonomi Indonesia tahun ini anjlok dan tahun depan diprediksi jeblok, kita tak boleh berputus asa dan terus berharap semoga tahun 2021 merupakan masa yang menggembirakan bagi seluruh kehidupan. Sebagai penutup kuucapkan, selamat bermuhasabah akhir tahun, kawan.

follow me @qhimahatthoyyib

Senin, November 09, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 3

 

                Alhamdulillah, ini adalah tulisan bebas ke-101 (di luar tulisan bulan Romadhon ’36 dan ‘37 H serta tulisan tentang Keluarga Harmoni) setelah sepuluh tahun aku menulis di blog ini. Meskipun tidak rutin, tak pula banyak pembaca, aku bersyukur masih bisa dengan bebas menuliskan banyak hal dan memberikan manfaat untuk sahabat pembaca. Tentangku, tentang keluargaku, tentang ilmuku dan tentang semua yang ada di pikiranku. Ya.. mudah-mudahan gak akan kena UU ITE yang menjebak itu sih. Hmm, parah sih emang, belum lama dibuat aja udah menimbulkan banyak kegaduhan. Banyak pasal karet katanya. Saat itu, sudah jelas banyak masyarakat termasuk kaum terpelajar menolak RUU itu. Tapi yaa, tetap aja tuh disahkan oleh yang berwenang.

                Belum lama ini juga, lagi-lagi DPR (Dewan Perwakilan Rakyat ‘katanya’) dan pemerintah membuat keributan dengan masyarakat. Mereka telah mengesahkan Omnibus Law, kumpulan berbagai UU, termasuk di dalamnya adalah UU Cipta Kerja. UU itu mengkhawatirkan banyak pihak, mulai dari pekerja, pengusaha hingga investor. Namun, seperti kita ketahui, endingnya tetap saja RUU itu disahkan menjadi UU. Lucunya, jumlah halaman dan isi dari UU tersebut berubah-ubah setelah disahkan. Bukannya menyelesaikan masalah pandemi, pemerintah malah membuat masalah baru. Atau jangan-jangan memang sengaja untuk mengalihkan perhatian? Yaahh.. who knows~

                Pandemi, ternyata tidak banyak mengubah perilaku manusia, termasuk masyarakat Indonesia. Setelah satu semester menjalani kehidupan yang lumayan ketat dan membosankan, orang-orang kembali menjalani kehidupannya dengan bebas seolah masa pandemi telah berakhir. Banyak alasan yang memang tak dapat disalahkan. Kondisi keuangan misalnya, rindu berkumpul dengan keluarga, ingin jalan-jalan bersama dengan kesayangan, atau sekedar iri dengan negara yang telah berhasil menekan penyebaran si virus. Meskipun demikian, kita terus berdoa agar Allah selalu menjaga negeri ini dan meridhoi kebaikan yang kita niatkan dan kita perbuat.

                Allah selalu memberikan kemudahan di tengah kesulitan yang terjadi. Ia selalu menepai janji.

                Tiga setengah tahun adalah jangka waktu abnormal untuk menyelesaikan studi magister. Studi itu harusnya selesai dalam waktu singkat, hanya 1,5 atau 2 tahun saja. Namun, kondisi yang tak biasa terjadi padaku. Seperti kukisahkan pada lembar-lembar sebelumnya. Di tengah perjalanan, tentu saja ada sepercik rasa ingin menyerah. Penyakit yang muncul, penelitian yang tak kunjung selesai, biaya belajar yang tak murah adalah sebagian sebab munculnya perasaan itu. Namun tentu saja, lebih banyak sebab lain yang memicuku untuk melanjutkan dan menyelesaikan amanah ini hingga akhir. Perlukah kutuliskan? Mungkin enggak ya, karena terlalu emosional dan mungkin sebagian sahabat yang mengalami ujian serupa sudah mengetahui alasannya hhe~ Ya, semoga Allah selalu memberi kita kekuatan untuk menyelesaikan persoalan duniawi yang sangat kecil ini.

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Desember 15, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 2: Pembentukan Ikatan



                Fakta yang ada di Indonesia yaitu bahwa Islam adalah agama mayoritas. Sebanyak apapun orang membenci islam, entah terhadap orangnya, entah terhadap agamanya, entah memang parno dari sononya, atau sudah sakit telinga saat mendengarnya, kita tidak dapat menafikan kenyataan bahwa Islam telah menguasai Indonesia. Jika agama islam adalah agama penebar kebencian, maka tidak masuk akal jika 80% penduduk negeri ini adalah muslim. Padahal sebelum Islam datang, kita tahu bahwa Majapahit dengan latar belakang Hindu-Budha-Animisme telah menguasai Nusantara yang meliputi Indonesia  dan beberapa Negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Islam merupakan pilihan utama masyarakat.
                Kini, islamophobia, ungkapan untuk seseorang yang fobia dengan Islam, semakin berani menunjukkan dirinya. Mereka meyakini bahwa Islam harus ditumpas, apapun alasannya. Kejadian ini serupa dengan hal yang telah dialami oleh Rosulullah dan kholifah setelahnya. Bukankah tidak ada hal yang baru di dalam hidup kita? Semuanya pasti berulang, berputar seperti roda, meskipun jaman dan teknologi semakin berkembang tetapi sifat manusia pada dasarnya begitu-begitu saja. Jika kita baca sejarah perkembangan Islam di masa Rosulullah, kaum kafir Quraisy atau musuh islam lainnya ‘hanya’ merasa terancam dengan keberadaan Islam. Mereka akan melakukan segala cara agar Islam tak dapat mengalahkan ‘kepopuleran’ mereka. Orang-orang itu ‘hanya’ gengsi, tinggi hati dan ingin berkuasa atas segala.
                Kebencian ini berimbas pada seluruh aspek kehidupan. Kampus dan sekolah Islam dianggap ladang teroris, organisasi Islam dianggap mengancam kesatuan Negara, hingga parta Islam pun tak luput dari berbagai tudingan. Oleh karena itu, untuk menghadapi kebencian ini diperlukan sikap politik (taktik, rencana, siasat, strategi) agar umat Islam tidak terbakar, terpengaruh atau termakan ucapan tersebut. Bagaimanapun umat islam harus bersatu, memperkuat ikatan ukhuwah islamiyah, agar tidak mudah terpecah-belah.
                Kekuatan akan terbentuk jika masing-masing diri kita saling berikatan. Peristiwa ini bahkan terjadi pada partikel terkecil pembentuk materi yaitu atom. Tidak ada satu atom pun di muka bumi ini yang tidak berikatan. Karena ikatan ini diperlukan agar atom-atom tersebut menjadi lebih stabil. Kestabilan pada atom terjadi apabila elektronnya telah memenuhi kaidah duplet (dua elektron) atau oktet (delapan elektron). Kaidah tersebut hanya terjadi apabila suatu atom berikatan dengan atom lain. Sehingga tak ada cara lain untuk mencapai tingkat kestabilan yang lebih tinggi selain saling berikatan.
                Berbagai ikatan yang terjadi di dalam senyawa adalah ikatan ion (umumnya antara atom logam dan nonlogam), ikatan kovalen (umumnya antara atom nonlogam dan nonlogam), ikatan kovalen koordinasi dan ikatan logam. Jenis-jenis ikatan tersebut ada karena masing-masing sifat atom berbeda. Di antaranya ada atom yang mempunyai pasangan elektron bebas, ada yang mudah melepaskan elektron, ada yang senang mengambil elektron, dan ada juga yang senang dengan sesama kelompoknya sendiri. Selain terjadi antara dua atom, ikatan juga dapat terbentuk antara sekelompok atom. Oleh karena itu, beberapa istilah yang dikenal pada atom-atom yang saling berikatan yaitu molekul, unsur dan senyawa.
                Jadi, begitupun halnya yang terjadi pada manusia. Pembentukan ikatan, perkuat ukhuwah, juga merupakan salah satu cara untuk mencapai kestabilan. Namun, apakah kestabilan tersebut bersifat kekal? insyaAllah akan kita bahas pada tulisan selanjutnya. Wassalamu’alaikm dan selamat berjuang~

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Desember 14, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 1: Ionisasi



                Semakin dekat dengan tahun 2019, semua kegiatan yang ada tidak pernah lepas dari dugaan “ini pasti ada apa-apa”, ”pasti ingin menaikkan elektabilitas”, “wah, ini pasti jadi ajang kampanye”, dan pernyataan lain yang lebih heboh. Maklum, 2019 mendatang adalah tahun pergantian pemerintahan semua elemen, dari legislatif sampai eksekutif. Ingat! April 2019 nanti jangan golput yaa~ meskipun banyak sekali anggapan ‘halah, siapapun pemerintahnya toh gak akan ngaruh buat kehidupan kita’. Perlu diketahui oleh buibu dan pakbapak sekalian bahwa pemerintah punya kekuasaan untuk mengatur pajak, mengeluarkan perundang-undangan, mengatur semua elemen dari pendidikan sampai kesehatan. Hanya ada dua kemungkinan hasil dari semua aturan tersebut yaitu mensejahterakan dan membahagiakan rakyat, atau mencekik dan menyakiti rakyat. Berhubung Indonesia masih menggunakan sistem kedaulatan rakyat, maka mari kita gunakan dengan baik hak tersebut. Karena nasib bangsa ini, nasib rakyat, nasib kita, dan keturunan kita ada di tangan kita.
                Pada tema tulisan ‘Politisasi Kehidupan’ berikut, saya tidak akan membahas hal di luar bidang saya atau di luar kemampuan saya. Singkat kata, saya akan mencoba membahas dari sisi keilmuan Kimia. Fokusan ilmu kimia adalah sifat, bentuk dan perubahan. Intinya adalah jika terjadi perubahan dalam suatu reaksi, maka perubahan reaksi tersebut berasal dari perubahan bentuk senyawa di dalamnya. Sehingga sifatnya pun mengalami perubahan dan terjadilah reaksi. Oleh karena itu, mendalami ilmu kimia setara dengan mempelajari kehidupan. Karena kehidupan terkecil di muka bumi berasal dari partikel terkecil yang disebut atom.
                Sangat sempit pemikiran seseorang apabila menganggap sikap politik hanya digunakan dalam politik praktis, atau selalu mengaitkan kata politik dengan partai politik, dan hal-hal lain yang serupa. Padahal sikap politik sudah terjadi dari kehidupan terkecil hingga kehidupan terbesar. Jika dipelajari lebih rinci, sikap politik terjadi pada atom, tubuh makhluk hidup, kehidupan makhluk hidup serta alam semesta. Berdasarkan KBBI, kata politik (n) mempunyai beberapa arti yaitu 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain; 3 cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah), kebijaksanaan. Jadi, kata ‘politik’ dapat digunakan dalam berbagai hal mengenai pengambilan tindakan atau siasat. Sehingga tidak ada satu hal pun yang terhindar dari politik.
                Atom merupakan partikel terkecil penyusun materi yang di dalamnya terdapat elektron (partikel negatif), proton (inti atom postif), dan neutron (inti atom tidak bermuatan). Di dalam sistem periodik, atom dikelompokkan berdasarkan sifatnya, nomor massanya, jumlah kulit atau tingkat energinya, banyaknya elektron valensi/terluar dan sebagainya. Atom-atom logam yang tergolong pada 1A dan 2A mudah mengalami ionisasi dengan melepaskan elektron terluarnya, sebaliknya atom-atom golongan 6A dan 7A dapat mengalami ionisasi dengan menangkap/mengambil elektron dari atom sekitarnya. Ionisasi/pembentukan atom bermuatan merupakan salah satu sikap politik yang terjadi pada atom. Atom selalu mencari cara termudah dan tercepat untuk mencapai kondisi stabil.
Seperti atom, manusia pun mencari cara tercepat dan termudah untuk mencapai kestabilan. Berbagai kondisi stabil yang diharapkan oleh manusia seperti badan yang sehat sehingga apapun bisa dilakukan atau harta yang melimpah agar semua keinginan terkabulkan serta hal-hal lain yang berkaitan. Setelah mencapai kondisi stabil, mengapa setiap manusia masih memerlukan manusia lainnya? InsyaAllah akan kita lanjutkan di bagian dua. Terimakasih, selamat beraktifitas~

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 29, 2016

Roti Bakar Penyemangat




Menurut berita perkiraan cuaca yang gua lihat di TV Nasional semalam seharusnya hari ini tidak turun hujan. Jadi, gua putuskan saja untuk tidak membawa payung ataupun jas hujan hari ini.
“Sip, semuanya udah lengkap.”
“Ma, berangkat dulu ya..” Jam 06.00 gua udah harus berangkat, daripada telat dan gak ngerti apa yang bakalan diomongin sama dosen, lagian telat itu juga bukan kebiasaan gua.
“Kamu gak makan dulu? Kalo gitu ini bawa bekalnya..”
“Oke, makasih ma..” gua ucapin sambil mencium tangan mama.
Seperti biasa mama selalu bawain gua bekal meskipun gua udah sarapan, tapi hari ini gua telat bangun jadi gak sempet sarapan dulu. Dan seperti biasa juga setelah gua pergi, rumah pasti langsung sepi karena.. ah! Ntar dulu masa pagi-pagi gini gua langsung cerita kesitu.
Setelah pamitan sama mama, langsung gua ambil sepeda butut kesayangan gua dan ngibrit mengejar waktu karena sekarang udah jam enam lebih sepuluh. Kalian tahu kenapa gua harus berangkat jam enam? Karena perjalanan dari rumah gua ke kampus memakan waktu minimal 30 menit, itu pun kalo gua ngebut di jalan dan kalo santai banget bisa satu jam.
000
Jam tujuh kurang 15 menit, akhirnyaaa! Gua sampai juga dan tidak terlambat. Setelah memarkir sepeda, gua langsung menuju kelas pertama gua hari ini. Kelas itu cukup jauh jaraknya dari tempat parkir gua sekarang, tapi, gua gak mungkin parkir di deket kelas karena gua harus muterin kampus dulu kalo mau kesana jadi gua putuskan untuk berjalan saja kesana.
“Hai tsa..”
“Hai juga..”
Mata kuliah yang akan gua hadapi adalah Kewarganegaraan. Sejujurnya gua agak gak suka dengan mata kuliah ini tapi terkadang juga gua sangat suka. Sayangnya, semester ini gua gak dapet mata kuliah Bahasa Indonesia jadi ya.. gua berharap tetap bisa refreshing meskipun gak ada Bahasa Indonesia.
Jam tujuh lebih sepuluh menit dan dosennya belum juga datang. Bosan menunggu, gua baca aja novel yang gua bawa judulnya Rumah Kaca dan penulisnya.. yaa kalian pasti tahu! Sastrawan yang pernah dipenjara di pulau Buru dan karyanya dibakar, mengerikan! Gua gak bisa ngebayangin seberapa sabar penulis itu sampai-sampai tidak melakukan perlawanan saat karya-karyanya dibakar dan betapa jahatnya jajaran pemerintah yang memutuskan untuk melakukan pembakaran. Yap! Siapa lagi kalau bukan Pramodya Ananta Toer.
“Assalamu’alaikum..” suaranya sangat pelan dan seisi kelas tidak mendengar tapi.. kenapa gua dengar ya? Entahlah terkadang hal yang sederhana tidak sesederhana yang kita pikirkan dan tidak mudah untuk dilakukan. “Wa’alaikumussalam” gua bergumam.
Gua alihkan pandangan sebentar ke arah sumber suara, gua pikir suara pak dosen tapi ternyata bukan. Suara seorang pria, sepertinya salah satu mahasiswa di kelas ini karena dia langsung mengambil tempat di kursi yang ada di barisan ketiga sebelah barat belakang gua. Gua emang suka banget memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar gua sampai-sampai gua tahu seperti apa mereka dari cara mereka berjalan dan berbicara. Sepertinya gua cocok jadi psikolog tapi gua gak mau berurusan terlalu dalam dengan makhluk yang bernama manusia khususnya para pria, gua lebih suka berurusan dengan tumbuhan.
Sudah duapuluh menit berlalu dari jam tujuh tapi dosen kami belum juga datang, jadilah kelas ini sangat ramai oleh suara teman-teman yang belum gua kenal kecuali teman yang sejurusan ama gua karena mereka emang benar-benar udah gua kenal. Gua tutup novel gua dan mengedarkan pandangan gua ke seisi kelas, aneh! rasanya ada yang berbeda tapi apa ya?
000
Sepanjang pertemuan pertama ini, dosen gua nerangin Rancangan Pembelajaran selama satu semester ke depan dan bercerita tentang apa itu kewarganegaraan dan sejarahnya. Menarik! Apalagi akhirnya gua menyadari ternyata yang aneh adalah perasaan gua yang tiba-tiba senang melihat wajah adem pria yang tadi gua jawab salamnya dan sekarang baik banget mau ngebantuin dosen itu. Gua tahu itu gak boleh, tapi..
Kata bu Rin, dosen Kewarganegaraan gua, sebelum berubah nama menjadi Kewarganegaraan dulu namanya adalah Kewiraan yang diajarkan pada orang-orang dari kalangan tertentu dan lama pembelajarannya adalah 3 bulan dan hanya sekali seumur hidup jadi seperti sebuah seminar yang berkelanjutan selama tiga bulan. Seminar yang menuntut manusia-manusia yang ada di Indonesia ini menjadi rakyat yang taat aturan, hukum dan taat dengan pemerintah. Pelajaran macam apa itu? Hanya selama tiga bulan namun menuntut seumur hidup? Apalagi setiap sekali seminar hanya 40 orang dewasa, sungguh! Sangat tidak efisien. Kemudian, banyak yang protes karena tidak mendapat pelajaran itu jadilah Kewiraan menjadi mata kuliah wajib mahasiswa. Selanjutnya gua sedikit lupa, sepertinya pada tahun 2001 atau sebelum itu ya? nama Kewiraan berubah menjadi Kewarganegaraan karena dua nama itu adalah dua hal yang mempelajari bagian-bagian yang berbeda. Gua juga lupa tentang apa karena gak gua catat sejarah yang diterangin bu Rin.
Hal lain yang dapat gua ambil dari semua yang diterangkan oleh bu Rin adalah, mahasiswa tidak pernah belajar dari apa yang mereka pelajari. Saat menjadi sukses nanti kebanyakan dari mereka akan melupakan apa itu hak, apa itu kewajiban, apa itu tenggang rasa, tolong menolong,  membela dan membangun negara, persatuan, kesatuan, arti dan filosofi pancasila, apalagi peran dan fungsinya. Tapi tetap saja dimanapun, seorang guru atau dosen akan mendoakan kesuksesan untuk mahasiswa mereka.
Sebelum mengakhiri kelas, bu Rin mengabsen nama-nama kami dan gua menunggu kapan pria itu mengangkat tangannya.
“Ilham Fauzi Hassan..” ya! Itu namanya, lihat! Dia mengangkat tangannya.
Setelah semua selesai diabsen, bu Rin meninggalkan kami, kelas pun bubar dan gua menunggu datangnya pekan depan di kelas ini.
“Tsabii..” sahabat gua, Rara, dateng ke gua dengan nafas terengah-engah sepertinya dia habis berlari.
“Ada apa ra, tenang dulu.. baru ngomong.”
“Kita kesana yuk, ngobrol.”
“Oke!”
000
Sambil makan roti bakar yang udah di bawain sama mama, gua dan Rara ngobrol apa saja, berdiskusi apa saja, dan berkomitmen serta berjanji.
“Ra, aku jadi mikir kenapa aku bisa seneng ya ngeliat wajah anak itu, emang sih wajahnya menenangkan. Aku juga mikir tentang apa yang diomongin sama bu Rin banyak benarnya. Coba deh, pikirin aja ya, mahasiswa di Indonesia kan banyak meskipun tidak sampai sepertiga dari penduduk Indonesia, di kampus kita aja contohnya meskipun sudah seringkali digembor-gemborkan Peran dan Fungsi Mahasiswa alias PFM yang berjumlah empat itu buktinya Indonesia tidak berubah, padahal kan lulusan kampus kita katanya sudah menyebar dimana-mana entah sukses, entah tidak. Malahan sekarang mahasiswa banyak yang tidak peduli apa yang terjadi di luar sana karena sistem pendidikan saat ini membuat mahasiswa disibukkan dengan tugas dan tugas tanpa boleh melihat dunia luar. Aku jadi takut kalo aku juga cuma bisa ngomong doang tanpa berbuat, tapi beneran aku pengen banget bermanfaat dan mengubah Indonesia dengan memelihara yatim-piatu dan pertanian Indonesia.”
“Setuju! Ah iya! Aku juga inget sama kata-kata yang ada di novel roman yang kamu baca. Sejak dulu, sebenarnya aturan dan hukum itu dibuat bukan untuk melindungi tapi untuk seenaknya hati dipakai kapan. Jadi sejak dulu sampai sekarang kita masih dijajah, buktinya prinsip itu dateng dari kolonial tapi masih dipakai turun-menurun sampai sekarang. Iya ya, kapan kita bisa merubah Indonesia kalo pemudanya aja kayak gini.” Rara meyakinkan kata-katanya dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.
“Eh ra, kamu liat deh anak itu..” lo liat yang baik ra, kayaknya gua kagum ama dia tapi kan kita gak boleh kayak gini, bagaimana mengubah Indonesia apabila kita mudah terpesona pada dunia? Tidak bisa!
“Ada apa? Tsa, kok kamu diem aja..”
“Enggak, bukan apa-apa, gak jadi.”
“Oke deh kalo gitu, kalo ada apa-apa bilang ya tsa.. Pokoknya kita harus janji gak boleh bertingkah sembarangan demi Indonesia. Oh ya, sahabatku Tsabita Rahmania kamu yakin gak perlu aku antar jemput.. aku takut kamu kecapean aja kalo harus ngontel tiap hari jam enam pagi pula!”
“Enggak apa-apa Rastika Fitriatna, aku sudah harus bersyukur punya sepeda itu daripada harus jalan kaki. Benar kan?”
“Hmm begitu ya, kalo gitu hati-hati ya.. Semoga Allah membalas usahamu.”
“Amiin, makasih. Aku pulang duluan ya.. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam.”
Hah, senang rasanya.. ternyata perkiraan cuaca semalam benar dan hari ini gua tidak basah kuyup di tengah jalan. Mulai detik ini ada semangat baru yang menggebu dalam hati gua. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari semua sejarah yang pernah terjadi dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk negara dan bukan berpikir apa yang akan kita dapatkan dari negara.
000
“Tsabita Rahmania ya? Aku Ilham Fauzi, kita kelompok lima bareng ama Ristia Farasya temen sejurusanku dan dia juga dia..” tunjuknya pada anak yang masih menyiapkan barangnya dan menuju kami.
Apa? Gua sekelompok sama Ilham? Kok bisa? Dan darimana dia tahu kalo nama gua Tsabita? Walah-walah, gua gak boleh tergoda dengan apapun! “Oh, iya aku ngerti.. namanya Saiful Ramadhani dan satu lagi aku gak tau.”
Ya Tuhan.. sepertinya Kau mulai mengujiku dengan ini.. sekarang harus bagaimana???

Selesai ditulis 2 Juni 2012
follow me @qhimahatthoyyib

Kamis, Juni 18, 2015

(Day 2) AGAR ANAK TETAP TENANG DI DALAM MASJID



Sahabat, Assalamu’alaikum.. tulisan kali ini berkaitan dengan tulisan saya Romadhon 1434 Hijriah dua tahun lalu yang berjudul Anak Ribut di Masjid Saat Tarawih, jadi Masalah? Nah, dengan judul yang berbeda saya mencoba mengulas hal yang sama yaitu anak-anak dan Masjid. Kisah ini bermula dari pengamatan kami mengenai fenomena Tarawih yang dilakukan rutin setiap tahun pada bulan Romadhon. Yap, berkah dari adanya sholat inilah terdapat kenaikan pesat jumlah jamaah Masjid di kampus kami (Masjid Manarul Ilmi) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Bukan hanya mahasiswa kampus ITS, namun juga pegawai kampus, para dosen, keluarga dosen hingga masyarakat kampung dan mahasiswa kampus lain yang menjadi jamaah kali ini.
Oleh karena itu, dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah Masjid maka bertambah pula fasilitas masjid yang diperlukan. Mulai dari jumlah takjil dan nasi untuk berbuka. Jumlah pengeras suara agar jamaah putri dapat secara jelas mendengar apa yang disampaikan oleh khotib atau penceramah. Jumlah air wudhu dan kenyamanan serta kebersihan Masjid dan lain sebagainya. Demikian pula jumlah akhwat-akhwat yang diperlukan untuk menjaga bayi-bayi dan anak-anak keluarga dosen maupun masyarakat yang sedang sholat berjamaah.
Dalam ceramahnya pada malam kedua Romadhon 1436 Hijriah kali ini, pak Darmaji (Ketua TPKI ITS) menyampaikan bahwasannya keributan anak-anak yang berada di Masjid menjadi maslaah tahunan yang belum terselesaikan dengan baik. Hal ini memang tidak mengganggu bagi sebagian orang tapi bisa mengganggu bagi sebagian besar jamaah lainnya. Sesungguhnya sangat baik mengajak anak-anak datang ke Masjid namun akan lebih baik apabila mereka dapat duduk tenang di samping orang tuanya untuk mengikuti jalannya sholat jamaah.
Dari pernyataan beliau tersebut, aku jadi berpikir mengapa anak-anak itu selalu membuat keributan di dalam masjid. Apakah mereka tidak tahu tempat seperti apakah masjid? Mungkinkah mereka belum paham mengenai sopan santun dalam menggunakan masjid? Atau hal-hal lain sebagainya? Sejujurnya aku tidak pernah merasakan masa kecil yang demikian. Bahwa aku selalu dapat duduk tenang di samping orang tua (ibuku terutama) untuk mengikuti jalannya jamaah entah hanya duduk-duduk, membaca buku, tiduran, makan camilan, atau mengikuti sholat sesekali. Apakah hal ini dikarenakan bahwa aku seorang perempuan? Begitu pula dengan kedua adik perempuanku, mereka bisa sangat tenang di dalam Masjid. Namun sangat berbeda dengan adik ketigaku (seorang lelaki yang kini berusia 9 tahun) yang tidak bisa tenang, seingatku ia selalu berlari menemui umi (ibu) kemudian kembali berlari menemui abi (ayah) dan demikian seterusnya.
Mengatasi masalah ini, hal yang diperlukan dari kedua orang tua adalah pertama memberi contoh atau teladan kepada putra-putrinya. Bukankah Rosulullah Muhammad SAW di utus kepada ummatnya untuk menyempurnakan akhlaq? Kedua adanya ketegasan dari orang tua, termasuk peringatan dan pembelajaran mengenai pentingnya menghargai jamaah, menghargai imam sholat, menghargai orang lain, adab dan tata karma dalam Masjid dan lain sebagainya. Mengenai hal ini, aku jadi teringat sebuah kajian kitab Ta’lim Muta’allim yang mempelajari tentang betapa pentingnya kita mengetahui adab, mengutamakan akhlaq dan mengedepankan budi pekerti luhur. Karena hal inilah yang akan menjadi modal awal dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan tiadanya akhlaq dan adab maka dapat kita lihat seperti sekarang Negara kita tercinta Indonesia bagaimana akibatnya. Ketiga barangkali diperlukan ruang khusus di lingkungan Masjid untuk mengasuh dan menitipkan anak atau taman baca anak-anak dengan ruangan yang persis seperti kelas kelompok bermain di sekolah mereka.
Akhirul kalam, saya menyarankan kepada para muslimah untuk mencari ikhwan (lelaki muslim) berkepribadian baik. Karena konon katanya (dosen Biologi kala itu menerangkan bahwa) 90% pekerti dan perilaku kebiasaan seorang anak berasal dari ayahnya. Sedangkan 90% kecerdasan dan paras pada anak diturunkan oleh ibunya. Semoga infonya berkah dan dapat diambil pelajaran :3.

follow me @qhimahatthoyyib