Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 15, 2020

One of The Sights – Mr. Brain

 

                Salah satu genre film/drama jepang kesukaanku adalah science fiction. Berbeda dengan drama korea atau barat, sedikit sekali atau bahkan hampir tidak ada bumbu romantisme pada drama jepang khusus bertema medical, detective, law dan science yang pernah kutonton. Salah satu drama science unik yang membuatku ingin beralih bidang keilmuan yaitu drama yang ditayangkan tahun 2009 berjudul ‘Mr. Brain’. Drama ini menarik karena paduan plot cerita detektif-kepolisian dengan penyelesaian sains. Sehingga aku terinspirasi untuk menjadi kimiawan forensik dan menyelesaikan kasus di kepolisian. Akhirnya, aku mengambil mata kuliah kimia forensik dan biokimia genetik. Namun, ternyata aku tak jadi melakukan kerja praktik (tahun terakhir sarjana) di kantor polisi. Sampai saat ini pun, aku belum pernah sama sekali berpengalaman di bidang itu.

                The National Research Institute of Police Science (IPS).

Tsukumo sensei, seorang neurosaintis yang di setiap episodenya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kriminal. Tentu saja dibantu oleh saintis bidang lain yaitu image analyst, sound and voice analyst, ahli kimia, dan ahli biologi. Ia sangat menyukai pisang karena kandungan gizi yang dapat meningkatkan kerja otak. Karakternya yang unik eksentrik itu membuatnya tak disukai oleh para polisi dan saintis lain saat awal-awal pertemuan. Namun, seiring berjalan waktu mereka sangat mengandalkan Tsukumo sensei karena ia dapat memecahkan persoalan dengan baik, benar dan efektif. Selain itu, para saintis juga terpengaruh oleh kebiasaannya makan pisang di tempat kerja.

Sebenarnya, anggota IPS tidak boleh berinisiatif dan ikut melakukan penangkapan. Tapi, Tsukumo sensei selalu ingin berkomunikasi dan bertemu dengan (terduga) pelaku, korban dan saksi untuk mempelajari secara langsung (isi) otak mereka. Dengan demikian, ia akan tahu apakah orang itu berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Seringkali ia juga menggunakan alat bantu yaitu fMRI (merek APERTO Eterna-Hitachi)—yang sepertinya adalah iklan drama ini—untuk mengetahui kebenaran yang ditunjukkan oleh salah satu bagian otak yaitu hipokampus. Karena prinsipnya, mulut manusia bisa berbohong tapi tidak dengan otaknya.

Seperti plot cerita detektif pada umumnya, setiap episode drama ini mengandung satu kisah masalah sederhana dan potongan cerita dari satu masalah kompleks yang diceritakan berkesinambungan. Persoalan mengejutkan yang terjadi yaitu musuh besar kepolisian yang selama ini dicari ternyata adalah seorang polisi yang ada di dalam grup dan kantor yang sama. Keanehan ini sudah ditunjukkan sejak episode pertama, lalu dimunculkan pada episode-episode berikutnya hingga diselesaikan di episode terakhir.

sumber gambar: google


Tujuan Tsukumo menjadi seorang neurosaintis yang sebenarnya adalah untuk mempelajari otaknya sendiri. Keanehan yang terjadi di dalam otaknya itu muncul setelah ia mengalami kecelakaan lima tahun sebelum ia bergabung dengan tim saintis IPS. Ia yang dulu adalah seorang host sebuah klub malam, kini menjadi seorang yang lebih rasional, lebih cerdas, dan memiliki tujuan. Drama ini diakhiri dengan kepergiannya ke Amerika karena jurnalnya yang menarik.

Pada dasarnya, neurosaintis mengetahui kinerja dari bagian-bagian otak manusia. Sebagian mereka juga mempelajari tingkah laku dan proses berpikir seseorang. Sehingga para ahli otak dapat dengan mudah memanipulasi pikiran dan psikologis orang lain. Meskipun demikian, sampai saat ini aku belum pernah berhubungan secara langsung dengan mereka. Selain itu, peralatan keren, canggih dan sangat menakjubkan yang ditunjukkan di dalam drama ini juga sampai saat ini belum kuketahui ada atau tidaknya kecuali fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging). Aku tahu keberadaannya karena aku pernah diperiksa dengan MRI (meski sedikit berbeda), tapi terkait kegunaan fMRI untuk memeriksa ingatan pada hipokampus (terduga) pelaku belum pernah kuketahui beritanya. Sejauh ini, hingga tahun 2019, jurnal terkait neuroscience menggunakan fMRI untuk pemeriksaan pasien medial Temporal Lobe Epilepsy (mTLE), penderita emotional disorder, penderita alzheimer dan penyakit otak/emosi lainnya. Namun, sepuluh tahun telah berlalu sejak tayangan drama itu, mungkin sebagian fasilitas canggih itu sudah ada di suatu tempat (di negara maju) yang belum kita tahu.

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Februari 26, 2019

COUPLE TIME: Persiapan Tiga-Mencari Pasangan



               Jika semua persiapan sebelumnya (komunikasi dan ilmu) sudah dilakukan, maka kini saatnya mencari pasangan. Ketiga hal tersebut dapat dilakukan bersamaan, namun lebih pas dilakukan berurutan. Seperti dua persiapan sebelumnya, perkara yang satu ini untuk sebagian orang juga bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Beberapa mungkin tak pede (red: percaya diri) dan merasa belum pantas, beberapa juga tak kunjung mendapatkan yang cocok setelah kenalan sana sini hingga akhirnya menyerah, dan beberapa mengalami gejolak dalam dirinya karena merasa belum butuh pasangan. Meski banyak alasan yang menghalangi, namun ada banyak pula alasan untuk melakukannya. Rosulullah SAW bahkan memperingatkan dan melarang umatnya untuk membujang. Selain itu, Rosulullah SAW bersabda ‘seseorang yang telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaknya dia bertaqwa kepada Allah SWT pada separuh sisanya.’
                Seperti sahabat semua ketahui, bahwa saat ini adalah era media sosial dimana semua informasi terbuka luas dari siapapun dan untuk siapapun. Salah satunya yaitu maraknya kemunculan selebgram dan vlogger. Minidrama, webdrama, kajian, dan informasi tentang ta’aruf, jodoh dan sebagainya semakin mudah didapatkan. Selain pasangan selebriti lokal atau pasangan lokal lainnya, banyak pula international couple (pasangan antar negara) yang memperlihatkan kehidupan mereka melalui sosial media. Berbagai tontonan tersebut bisa jadi ilmu yang bermanfaat jika kita dapat mengambil hikmah dan tidak hanya sekadar refreshing. Terutama jika kita melihat berbagai komentar dari netizen, yaitu ada complemet, bullying, agreement dan lain-lain maka pastikan semua hal itu dapat kita jadikan sebagai pelajaran.
                Banyak hal menarik yang disampaikan oleh para vlogger atau selebgram pasangan, sampai seringkali netizen dibuat baper atau ingin melakukan atau mendapatkan hal yang sama, mungkin asal negaranya, mungkin pekerjaannya, mungkin sifatnya, mungkin tempat atau negara yang ditinggalinya dan lain sebagainya. Hingga kemudian berbagai keinginan yang membingungkan itu berebut memenuhi kepala kita. Namun sebagai muslim/ah, Rosulullah SAW sudah memberikan saran bagaimana karakter pasangan yang sebaiknya dipilih pada haditsnya yaitu ‘dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Nabi SAW bersabda, wanita dinikahi karena empat perkara. Pertama hartanya, kedua kedudukannya, ketiga kecantikannya dan keempat agamanya. Maka carilah wanita yang beragama agar engkau beruntung.’ Hadits Nabi SAW tersebut menunjukkan bahwa hal terpenting pada seorang pasangan adalah agamanya, maksudnya pasangan tersebut taat beribadah dan baik dalam melaksanakan syari’at. Jadi hal-hal di luar itu adalah perkara tambahan yang disesuaikan dengan kondisi dan selera tiap orang.
                Beberapa tips untuk sahabat yang ingin proses pencarian pasangannya dilakukan dengan syar’i yaitu pertama minta dicarikan oleh kawan-kawan yang sudah menikah. Kedua minta dicarikan oleh orangtua. Tapi mungkin banyak sahabat yang malu melakukan hal ini. Ketiga minta dicarikan oleh guru ngajinya.  Keempat mendatangi biro jodoh islami, biasanya didahului dengan menghadiri kajian, seminar atau kelas pranikah. Kelima terus berusaha memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah. Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf bila ada salah dan kurang dalam penulisan. See you later~

follow me @qhimahatthoyyib

Senin, Desember 31, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 5: Kesetimbangan Reaksi



                Di dalam reaksi kimia, selain berlangsung searah menuju hasil reaksi, terdapat pula reaksi bolak-balik. Jika diibaratkan dalam kehidupan manusia, maka reaksi ini seperti reaksi imbal balik atau umpan balik (feed back). Reaksi yang setimbang berlangsung dengan kecepatan yang sama tanpa meperhatikan satuan waktu. Menurut asas Le Chatelier “jika terhadap suatu sistem kesetimbangan dilakukan suatu tindakan (aksi), maka sistem kesetimbangan tersebut akan cenderung mengurangi pengaruh aksi tersebut dengan melakukan pergeseran sampai terbentuk kesetimbangan baru. Akan tetapi, faktor-faktor yang mengubah kesetimbangan tiidak akan mempengaruhi harga tetapan kesetimbangan (Kc)”. Sedangkan tetapan kesetimbangan, Kc, hanya bergantung pada besarnya konsentrasi zat gas atau larutan pada reaski tersebut.

Berikut merupakan contoh reaksi kesetimbangan pada pembentukan gas karbononoksida.
2C (s) + O2  (g) ↔ 2CO (g)

Besar tetapan kesetimbangan reaksi tersebut adalah Kc = [CO]^2 / [O2]

Faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan reaksi:

  1.          Konsentrasi. Kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang konsentrasinya berkurang.
  2.          Suhu. Jika dinaikkan maka kesetimbangan bergeser ke arah reaksi endoterm (entalpi positif).
  3.     Tekanan. Jika dinaikkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang jumlah molekulnya paling sedikit.
  4.     Volume. Jika diturunkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang jumlah molekulnya paling sedikit.
Peristiwa kesetimbangan reaksi ini dapat kita aplikasikan pada kehidupan. Misalnya terdapat dua orang/organisasi/perusahaan dll menjalin hubungan, maka tetapan kesetimbangan reaksi/eratnya jalinan hubungan tersebut dipengaruhi oleh orang/organisasi/perusahaan yang masih berada dalam tahap gas atau larutan. Berarti dalam hal ini, orang/organisasi/perusahaan tahap gas atau larutan adalah bagian yang memiliki kekuasaan lebih rendah/lebih labil/berhati lembut dibandingkan partnernya yang bersifat solid/sudah memiliki kekuatan yang baik/keras kepala. Sehingga orang/organisasi/perusahaan tersebut harus lebih fleksibel mengubah dirinya. Karena jika tidak demikian maka reaksi yang setimbang tidak akan terjadi.
Pengubahan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan reaksi yang setimbang oleh orang/organisasi/perusahaan bersifat gas atau larutan tersebut dalam menghadapi partner yang bersifat solid/sudah memiliki kekuatan yang baik/keras kepala dapat berupa 4 faktor seperti yang telah disebutkan di atas yaitu konsentrasi, suhu, tekanan dan volume. Sekian tulisan di akhir tahun ini. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Selamat merancang target-target baru untuk tahun 2019 ke depan. Sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya. Wassalamu’alaikum~

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Juni 25, 2016

Setapak Cahaya: KARENA KITA BERSAUDARA



Assalamu’alaikum sahabat, rencananya ini menjadi tulisan terakhir bulan Romadhon 1437 H ini. Tapi semoga saja saya tetap bisa membagikan apa yang saya tahu dan menurut saya layak untuk dibagikan. Tidak ada kebaikan sedikit pun yang tidak dapat dibagikan bukan? Apa pun yang sahabat juga ingin bagikan, silahkan saja. Asalkan itu sesuatu yang benar dan diridhoi oleh Allah tidak akan menjadi masalah. Hari ini juga mungkin tulisan tidak terlalu panjang. Intinya, umat muslim saat ini haus akan persatuan. Mungkin kalimat itu yang bisa menjelaskan tema beberapa tulisan yang saya bawakan. Beberapa kali juga hal ini mungkin sempat saya singgung di tulisan-tulisan sebelumnya. Pada dasarnya, persudaraan umat muslim secara teori mungkin mudah diucapkan tetapi pada kenyataannya kita masih harus banyak belajar.
Berikut adalah kisah yang mengharukan, beberapa kali sempat mendapat kisah yang sama dan kali ini saya akan menuliskannya di sini:
Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata:
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"
"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata: "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata:
"Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya:
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. "Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab. Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang: "Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin". Ternyata Salman al-Farisi yang berkata. "Salman?" hardik Umar marah. "Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang. Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh. Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama. Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan. Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”. Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya: “Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?" Kemudian Salman menjawab: "Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu. ”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak. “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”. Semua orang tersentak kaget.
“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana: ”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah.. saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahuakbar!!!
Bagaimana? Kisah yang mengharukan bukan? InsyaAllah semoga kita bisa menjadi bagian dari umat muslim yang bisa mempercayai saudaranya. Tak perlulah kita mencari-cari siapa orang yang bisa menjadi panutan dalam berbuat baik. Cukup jadikanlah diri kita sendiri pionir untuk melakukan kebaikan meski kita melakukannya sendirian. Tapi, surga terlalu luas untuk ditinggali seorang jomblo bukan? Hehehe. Mari kita ajak saudara-saudara kita sesama muslim untuk terus menebarkan kebaikan-kebaikan agama ini. Sampai jumpa lagi~ :)
Oh ya, untuk mengakhiri tulisan ini mari kita lihat terjemah surat Al-Hujurot ayat 9-10 berikut: 9. dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. 10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Juni 11, 2016

Setapak Cahaya: MENJADI BINTANG



Assalamu’alaikum sahabat, baru-baru ini Alhamdulillah beberapa teman saya mengatakan “one step closer to their dreams”. Yes, they are slowly grows up and gets the top. MasyaAllah, semoga muslim-muslimah yang sukses akan berdampak baik untuk agama dan negara. Beberapa di antaranya telah menerbitkan buku, beberapa lainnya mendapatkan beasiswa ke luar negeri, beberapa lagi menjadi pengusaha sukses bidang IT, beberapa lagi menjadi dokter juga ilmuwan di bidangnya masing-masing. Subhanallah.. Senang sekali rasanya mendengar berita-berita baik yang demikian.
Yap, sukses dan menjadi number one di bidangnya masing-masing adalah impian semua orang. Menjadi rujukan bagi semua orang di bidang tersebut, menjadi panutan bagi masyarakat, menjadi tokoh utama dalam kisah-kisah karirnya adalah sebagian tujuan dari pada kerja keras seorang manusia. Posisi ini sangat menguntungkan bagi siapa saja yang berada di sana. Orang tidak lagi memandang latar belakang maupun kisah kusut jatuh bangunnya dalam perjalanan. Semua mata tertuju padanya, penampilan mulai diperhatikan, sampai kegiatan sekecil apapun yang dilakukan akan menjadi sorotan.
Kurasa menjadi seorang bintang bukanlah hal yang mudah. Salah benar yang dilakukan selalu menuai perseteruan. Jika yang ia kerjakan hanya sebatas memuaskan mata manusia. Namun, berbeda halnya apabila seorang muslim atau muslimah yang melakukannya. Ya, layaknya tugas seorang muslim pada umumnya, sang bintang mempunyai tugas utama untuk beribadah kepada-Nya. Menjadi bintang di dunia juga bukan salah satu tujuan hidupnya melainkan bonus dan hadiah dari Tuhannya. Karena bagaimanapun ia terus berusaha untuk hidup bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya, mengajak mereka kepada islam yang sebenar-benarnya, dan menjadi sebaik-baiknya hamba di mata Allah.
Ya, menjadi bintang di langit. Bintang yang bersinar di antara penduduk langit. Manusia yang paling disanjung dan disayangi oleh penghuni langit. Hamba yang paling dekat tempatnya dengan Allah, para Malaikat-Nya dan Rosul-Nya. Sama halnya ketika kita tidak terkenal di antara manusia, Allah juga tidak akan menganggap kita istimewa bila kita tidak mempunyai karya. Caranya mudah saja, tidak seperti yang kita lakukan bila ingin menjadi bintang di dunia. Cukup dengan menghamba dan menaati-Nya, Allah akan melihat kita. Ya, menjadi jiwa yang beriman itulah syaratnya. Telah menjadi janji Allah di dalam surat Al-Fajr ayat 28-30 berikut arti dan Tafsir Jalalain-nya:
27. Hai jiwa yang tenang. (atau yang aman, maksudnya adalah jiwa yang beriman)
28. Kembalilah kepada Tuhanmu (perkataan ini diucapkan sewaktu ia menjelang mati, yakni kembali kepada perintah dan kehendak-Nya) dengan hati yang puas (akan pahala yang kamu terima) lagi diridhai-Nya (Jiwa yang beriman merasa puas akan ridha Allah).
29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku (yang sholeh),
30. masuklah ke dalam syurga-Ku (bersama dengan hamba-hamba-Ku yang sholeh).

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 08, 2016

Setapak Cahaya: TIDAK ADA KEKHAWATIRAN



Assalamu’alaikum sahabat? Bagaimana puasanya? Semoga lancar dan tetap semangat ya.. Bukankah ini bulan yang kedatangannya kita nantikan bersama? Bulan yang penuh berkah, penuh rahmat dan penuh ampunan dari Allah SWT. Allah telah menjanjikannya dan sudah pasti kita harus percaya dengan sepenuh-penuhnya percaya. Hal ini telah kita bahas sebelumnya di Setapak Cahaya: Dua Kebaikan bahwa orang-orang beriman akan mengatakan cukuplah Allah dan Muhammad Rosul-Nya bagi kami. Tetapi pengakuan keimanan oleh mulut dan hati kita akan selalu diuji oleh Allah. Bukankah Allah sudah menyebutkan demikian di dalam Al-Qur’an?
Semakin banyak ujian yang diberikan oleh Allah kepada kita tandanya Allah semakin sayang kepada kita. Semakin besar ujian juga bukti bahwa semakin tinggi dan semakin kuat iman kita. Mari bersama kita lihat pohon kelapa yang besar dan tinggi menjulang. Semakin tinggi maka akan semakin besar angin yang menerpanya. Namun, kita bisa selalu bersikap dengan tenang dan sabar dalam menjalani ujian. Hal ini dikarenakan semua jawaban atas pertanyaan dalam kehidupan kita ada di dalam AlQur’an. AlQur’an adalah petunjuk, penjelas, serta obat yang dapat menyembuhkan penyakit dalam hati kita.
Termaktub dalam surat Yunus ayat 57-58 yang artinya:
57. Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
58. Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".
Tafsir Jalalain menyebutkan pelajaran dan penyembuh tersebut adalah Al-Qur’an (Kitab yang di dalamnya dijelaskan hal-hal yang bermanfaat dan hal-hal yang mudharat bagi manusia). Kemudian penyakit dalam dada adalah penyakit aqidah yang rusak dan penuh keraguan. Selanjutnya karunia Allah yang dimaksud adalah agama Islam dengan Al-Qur’an sebagai rahmat yang lebih baik dari duniawi yang dikumpulkan manusia.
Dengan demikian tidak ada yang perlu kita khawatirkan dalam menjalani kehidupan ini. Sesuai dengan ayat 62-63 di surat yang sama, artinya: 62. Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 63. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Selanjutnya diakhiri oleh pernyataan Allah di ayat berikutnya, yang artinya: 64. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
Yak, kehidupan dunia tidak perlu kita khawatirkan apabila kita fokus terhadap pencapaian keimanan untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena Allah adalah Dzat yang tidak akan mengingkari janji-Nya. InsyaAllah begitu saja untuk hari ini, semoga puasa tidak hanya membuat kita menahan lapar dan haus namun juga dapat memperbaiki diri dan menahan nafsu-nafsu lainnnya. Amiin~


follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Juni 04, 2016

Setapak Cahaya: TEMAN DEKAT ORANG MUKMIN



Assalamu’alaikum sahabat.. Melihat ada orang yang membenci kita itu adalah hal biasa, melihat ada orang yang begitu tersanjung dengan kita itu juga hal biasa. Ya, setiap orang tidak terkecuali Rosulullah SAW pasti memiliki dua kubu yang berada di dekatnya. Kubu pertama yaitu orang-orang yang mencintai, menghormati, dan menyanjung beliau sedangkan kubu kedua yaitu orang-orang yang membenci, mengkhianati, memusuhi dan lain sebagainya.
Satu kisah menarik pada zaman Rosulullah SAW mengenai hal tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab, Abu Bakr bin ‘Abdirrahman dan ‘Urwah bin Zubair yaitu ketika Rosulullah mengutus ‘Amr bin Umayyah adl-Dlamari untuk menyampaikan surat kepada Raja Najasyi. Sesampainya di hadapan Raja Najasyi, surat itu pun dibacanya. Kemudian Raja memangil Ja’far bin Abi Thalib dan orang-orang yang hijrah ke Habasyah serta para rahib dan paderi. Raja  menyuruh Ja’far membaca AlQur’an dan beliau pun membacakan surat Maryam. Semua yang hadir beriman kepada isi AlQur’an dan berlinang-linang air matanya.
Kisah lainnya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa Raja Najasyi mengutus tiga puluh sahabat terbaiknya kepada Rosulullah SAW. Sesampai di sana, Rosulullah SAW membacakan surat Yasin kepada mereka, sehingga mereka menangis. Mereka adalah kaum rahib dan pendeta Nasrani yang tidak sombong dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Rosulullah SAW.
Dua kisah tersebut merupakan sebab-sebab turunnya surat Al-Maidah ayat 82-83 yang artinya:
82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.
83. dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).
Ayat tersebut menyebutkan bahwa ada orang-orang yang memusuhi mukminin dan ada orang-orang yang dapat berteman baik dengan mukminin. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang, siapapun itu, pasti mempunyai teman baik dan orang yang memusuhi atau membencinya. Bahkan ketika yang kita lakukan adalah hal-hal baik tidak akan lepas dari yang namanya haters. Pun ketika ada orang yang melakukan hal-hal buruk tetap saja ia mempunyai teman baik.
Terkait masalah pertemanan ini, seperti pembahasan kemarin Setapak Cahaya: Pemimpin Orang Mukmin, dikuatkan lagi pada surat Al-Maidah ayat 80-81 yang artinya:
80. kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya Amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, Yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.
81. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.
Tafsir Jalalain menyebutkan tolong-menolong dengan orang kafir berarti termasuk ke dalam golongan pembenci Rosulullah dan perbuatan buruk itu merupakan bekal mereka di akhirat untuk mendapatkan siksaan dari Allah. Di ayat berikutnya orang-orang yang berteman baik dengan orang kafir adalah orang-orang fasik yaitu orang yang telah menyimpang dari keimanan. Yak, insyaAllah demikian untuk hari ini. Tetap semangat dalam belajar dan semoga Allah memberi kita keistiqomahan dalam berislam serta menghindarkan kita dari perbuatan fasik. Sampai jumpa~

follow me @qhimahatthoyyib