Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 15, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 6

             Hari ini, 15 Desember 2020, adalah hari keduapuluh adik kecilku meninggal.

Tepat 25 November lalu, adikku yang ketiga, anak keempat, anak lelaki satu-satunya di keluarga kami dipanggil kembali oleh Allah. Takdir ini bukanlah kejutan yang menyenangkan bagi kami, tetapi mau tidak mau kami harus berlapang diri. Ya, di tahun ini, Allah benar-benar memberi keluarga kami banyak kejutan, dari yang menggembirakan hingga menyedihkan. Sampai-sampai membuatku sangat ingin mengenang semua itu dalam tulisan. Hingga terwujudlah bab sketsa pandemi yang telah kuuraikan.

Sejujurnya, tulisan sketsa pandemi sudah kuakhiri di bagian kelima lalu. Namun ternyata, takdir berkata lain, kisah ini menambah jumlah lembaran pada bab yang ingin segera kutamatkan. Sampai saat ini, pandemi di Indonesia belum berhasil diatasi dan Kota Surabaya masih dinyatakan sebagai zona oranye. Sehingga kisah-kisah istimewa yang akan terjadi di sisa akhir tahun pun menjadi bagian dari bab sketsa pandemi yang mudah-mudahan tak berkelanjutan di tahun mendatang. Semoga Allah segera mengangkat makhluk kecil ini dan menggantinya dengan limpahan kebaikan. Meskipun bagi sebagian makhluk-Nya, pandemi ini telah memberi mereka kenikmatan. 

Kisah ini sangat ingin kutuliskan. Tetapi setelah mengetikkan dua paragraf pembuka, aku sadar tak ada lagi kata-kata tersisa selain meminta doa dari sahabat sekalian. Semoga adik kecil kami diberi segala kebaikan, ditempatkan di tempat terbaik yang Allah sediakan. Kehadirannya selama 14 tahun ini cukup banyak memberiku pelajaran, yang sebagian telah kutuliskan di beberapa lembar tahun-tahun sebelumnya, tahun-tahun yang telah bersama kita lewatkan. Ya, meskipun kita berbarengan hanya pada sebagian dari 177 purnama yang telah Allah berikan.

Sidoarjo, 25 Februari 2006 - Surabaya, 25 November 2020.

follow me @qhimahatthoyyib



Sabtu, November 21, 2020

Menapaki Kelucuan Takdir


                Salah satu hal yang selalu membuat manusia penasaran adalah Takdir. Dengan siapa kita dipertemukan? Dengan siapa kita dinikahkan? Di mana kita disekolahkan? Di mana kita dipekerjakan? Dan segala hal tentang rejeki apa yang akan Dia berikan? Hingga suatu saat kita tahu jawabannya, kita tahu maksudnya mengapa dulu hal ini tidak dan itu dikabulkan, atau sebaliknya hal itu tidak dan ini diiyakan. Meskipun kita berhak memilih jalan kita sendiri, tetapi hanya Dia yang memberi restu dan persetujuan.

                Satu kisah lucu ini terjadi lima belas tahun lalu.

                Setelah dua setengah tahun bersekolah di salah satu madrasah dasar di Tanggulangin, Sidoarjo, akhirnya aku diijinkan mengikuti ujian nasional (UN) yang hasilnya akan menentukan kelulusanku. Selain UN, hal lain yang menjadi persoalan bagi siswa-siswi kelas 6 MI adalah kelanjutan sekolah ke tingkat menengah. Tak terkecuali aku. Namun sebenarnya, orangtua telah memberiku penjelasan bahwa aku akan melanjutkan sekolah di pondok pesantren. Jadi aku tak perlu khawatir tentang hal itu.

                Sejak dulu, aku tak pernah komplain tentang sekolah. Dipondokkan oke, tidak pun juga tak masalah. Tetapi, satu hal yang tak pernah kualami sejak tingkat SD hingga SMA adalah bersekolah di sekolah umum negeri. Selama sembilan tahun, aku tak pernah punya kawan selain beragama Islam. Karena sejak awal, aku merasa nyaman dengan hal itu. Saat pindah dari Surabaya ke Sidoarjo pun demikian, aku minta disekolahkan di MI daripada SDN. Beruntung, orangtuaku menemukan satu-satunya MI di desa sebelah, tetangga terdekat dari perumahan tempat tinggalku. Tak kusangka, di madrasah itu, aku bertemu seorang kawan sekelas dari perumahan yang sama denganku (meski beda blok). Saat pertama kali aku masuk, yaitu kelas 4 semester dua, hanya ada kami bertiga (aku, adekku, dan seorang kawan itu) yang berasal dari perumahan di antara seluruh siswa-siswi satu madrasah. Namun tahun berikutnya, saat aku kelas 5 dan 6, akhirnya ada tiga kawan baru (yang kebetulan adalah teman sekelasku) dari perumahan itu.

                Tetiba suatu hari, orangtua memintaku untuk mengikuti tes masuk salah satu SMPN kecamatan sebelah, yang perjalanannya masih dapat kutempuh dengan sepeda ontel. Untuk uji coba katanya, untuk mengukur kemampuanku. Walhasil, Qodarullah, aku tak lolos, namaku tak ada di papan pengumuman penerimaan. Entah apakah aku benar akan disekolahkan di sana dan tak jadi dipondokkan jika diterima di SMPN itu, atau itu benar hanya untuk uji coba. Selang beberapa waktu setelah tes, masa lulus MI pun tiba. Akhirnya, aku dipondokkan di salah satu ponpes di Surabaya. Selulus dari ponpes itu, Alhamdulillah, aku adalah satu dari empat teman seangkatan yang diterima dan diberi beasiswa oleh MAN Insan Cendekia Serpong.

                Ya, itu adalah salah satu takdir lucu yang terjadi padaku. Tak diterima di sekolah yang menurut kita terbaik bukan berarti kita tak pantas mendapatkan hal yang baik. Allah akan memberikannya tepat waktu, bahkan menggantinya dengan suatu hal yang lebih baik. It’s surprise, dan kita tak pernah tahu kapan hal itu terjadi. Tetapi kita harus mengusahakan yang terbaik untuk meminta Allah memberi kita takdir yang baik. Wallahu a’lam.

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, November 17, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 5

 

                Riset bulan April 2020 menyebutkan bahwa prediksi berakhirnya pandemi covid-19 di Indonesia terjadi pada awal bulan Oktober 2020. Sebulan telah berlalu, namun ternyata pandemi itu belum berakhir. Sayangnya, sebagian masyarakat sudah tak peduli. Tak melakukan protokol kesehatan dengan semestinya hingga beraktivitas semaunya. Ya, namanya juga manusia, sifatnya pasti beda-beda. Dengan demikian, penelitian terbaru terbitan Oktober 2020 menyebutkan prediksi mundurnya akhir pandemi hingga pertengahan tahun 2021 dan sangat mungkin terjadi pandemi gelombang kedua jika kita abai dan tidak menangani permasalahan ini dengan serius.

                Tentu saja masih banyak orang yang peduli dengan protokol kesehatan yang telah disepakati. Mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, mengurangi aktivitas di luar rumah, mengurangi aktivitas berkerumun dengan banyak orang, hingga mengurangi silaturrahim fisik. Akibatnya, banyak orang saling merindu karena sudah hampir setahun tak bertemu. Termasuk aku. Kerinduan itu membuncah, terlebih karena tahun ini adalah tahun kelima angkatanku C-29 CHEM11TS (saat kuliah sarjana) berpisah pasca wisuda, juga tahun kelima pasca lengsernya Keluarga Harmoni (kabinetku di LDK JMMI ITS). Selain itu, adalah tahun kesembilan angakatan ke-14 AXIVIC MAN IC Serpong berpisah pasca lulus. Sedangkan tahun depan, saat tahun kesepuluh, kami sudah berencana (sejak sepuluh tahun lalu) untuk reuni di sekolah. Mudah-mudahan kondisi sudah membaik sehingga rencana itu bisa terlaksana. Oleh karena iitu, kami memutuskan untuk temu virtual lebih dahulu via portal zoom.

                Mei 2020, temu virtual (all member) pertama AXIVIC. Pembahasan ringan mulai dari update kabar per orang, update kabar dan kondisi sekolah, tausiyah dari salah satu guru dan QnA. Berlanjut Juni, kami membahas permasalahan krusial yang terjadi pada masyarakat khususnya untuk seusia kami. Ya, finansial terutama terkait investasi pada temu kedua, kesehatan mental (pribadi dan keluarga) pada temu ketiga. Lalu Agustus ada temu menyambut Tahun Baru Islam, hingga September ada temu membahas persiapan mengahadapi resesi ekonomi. Pembahasan yang beragam karena angkatan kami berlatar pendidikan tinggi yang beragam, ada yang sudah jadi penulis, ada yang otw jadi hakim, ada yang lawyer, ada yang dokter dsb dsb yang sungguh keren dan mulia pekerjaannya. Saat ramai UU Cipta Kerja, grup virtual kami juga membahas itu, tapi temu virtual tak diadakan sebab organisasi alumni IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia Serpong) telah mengadakan kajian dengan pembicara (dari alumni) yang sangat kompeten di bidang terkait.

                Nopember 2020, tetiba ketua angkatan CHEM11TS meminta temu virtual. Seperti ada hal urgent yang harus dibahas segera. Lebih dari seratus orang, mungkin 144, (aku sendiri lupa berapa angka pastinya, karena di tengah perjalanan studi ada beberapa member yang keluar) dikirimi pesan pribadi untuk menentukan jadwal. Ternyata benar, pertemuan pertama kami, tanpa basa-basi update kabar dll, materi financial planning dan investasi langsung disodorkan. Sharing pengalaman dan diskusi terkait investasi, bisnis dan sejenisnya, kami lakukan. Juga ada games yang dilombakan, hadiah yang diperebutkan dan video nostalgia yang diputarkan. Setelah itu, mungkin akan ada temu kedua dan seterusnya, tapi entah kapan. Mudah-mudahan silaturrahim ini dapat terus berjalan.

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Agustus 25, 2018

SELINGAN 1 : Gelora Gempita 18th ASIAN GAMES 2018



Melihat euforia masyarakat dan atlet Indonesia terhadap ASIAN GAMES khususnya yang berada di Jakarta, Palembang, Bekasi, Bogor, Subang serta tempat-tempat lain yang menjadi tempat terselenggaranya pesta olahraga se-Asia ini membuatku flash back, mengingat memori masa-masa lampau saat aku masih berkecimpung di dunia bulutangkis. Memang tidak bisa disebut sebagai atlet, tetapi setidaknya aku pernah benar-benar menekuni cabang olahraga tersebut. Seingatku di beberapa tulisan sebelumnya pernah kusebutkan. Tetapi akan kukisahkan ulang jika tulisan itu sulit ditemukan.
Sangat teringat di dalam memoriku masa-masa di mana arena lapangan badminton menjadi teman baikku setiap satu pekan sekali pada hari jumat. Kurang lebih tiga tahun aku berada di sana saat usiaku masih sekitar 8 tahun. Aku tak yakin apakah aku merupakan anggota klub karena aku tidak hafal atlet lainnya kecuali seorang senior lelaki yang kerap kali memakai kaos bertuliskan CAMEL di punggungnya, itupun juga aku tak tahu namanya. Karena bagiku, keberadaan seorang pelatih sudah cukup untuk membakar semangatku.
Berlari mengelilingi lapangan adalah rutinitas kami sebelum berlatih. Meski rentang usia kami cukup jauh, kurasa sekitar 10 tahun, banyaknya putaran yang harus kulakukan saat itu sama dengan senior lainnya. Melelahkan, bahkan aku seringkali menangis setelahnya. Baik setelah berlari, maupun setelah berlatih. Karena tak banyak anak seusiaku pada jam-jam tersebut, aku seringkali bermain privat dengan pelatih, terkadang sesekali juga bermain melawan senior. Maka dari itu aku tak yakin apakah aku masuk ke dalam klub, atau les privat badminton. Tetapi aku bersyukur pernah serius bermain badminton dan pernah punya pelatih yang tidak jemu untuk membuat kemampuan bermainku menjadi semakin lebih baik.
Tujuh tahun kemudian, aku sempat mengikuti pertandingan antar sekolah SMA se-Tangerang. Menjadi salah satu wakil dari sekolah merupakan kebanggaan tersendiri. Sayangnya, aku tak sebaik pemain lainnya yang berasal dari klub ataupun telah berlatih rutin. Karena saat itu, aku dan kawanku yang berasal dari sekolah kami tidak benar-benar menekuni olahraga ini. Tak ada pelatih, tak ada latihan rutin, serta tak juga mengikuti klub. Wajar saja kami tak mampu untuk lanjut ke tahap selanjutnya. Itulah akhir dari karir permainanku dalam badminton. Meskipun sempat pada tahun pertama kuliah aku masuk ke dalam UKM badminton tetapi mataku sudah tak mampu lagi mengamati pergerakan shuttlecock yang terkena lighting GOR. Maka dari itu, saat ini badminton hanya kujadikan sebagai hobi, yang kulakukan jika ada waktu senggang.
Setelah mengalami sendiri, ditambah lagi dengan mengamati pertandingan dari beberapa jenis cabang olahraga, membuatku sadar bahwa ada dua macam pertandingan yaitu pertandingan melawan diri sendiri dan kedua pertandingan melawan orang lain. Olahraga yang termasuk dalam kategori melawan diri sendiri adalah cabang atletik seperti lari, lompat, atau cabang lain seperti balap sepeda, paralayang, panjat tebing, renang, panahan, bowling, dayung, angkat besi dan permainan lain yang sudah bisa dilakukan sendiri. Sedangkan olahraga yang termasuk kategori melawan orang lain adalah badminton, voli, tennis, tennis meja, sepak takraw, dan permainan lain yang hanya bisa dilakukan jika ada dua pemain/tim.
Kedua macam pertandingan tersebut selain terjadi dalam olahraga, pada umumnya juga terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Adakalanya kita harus melawan diri sendiri dengan kondisi lingkungan yang ada, kadang juga kita harus menghadapi kondisi untuk melawan orang lain. Tetapi seperti yang kusebutkan pada cerita awal bahwa keberadaan pelatih sangatlah penting. Begitu juga dalam menjalani kehidupan, keberadaan pelatih alias orang-orang yang dapat memberikan nasihat, menyalurkan semangat, dan menawarkan solusi sangat kita butuhkan. Terlebih dari orang-orang yang telah melalui kondisi yang sama dan mempunyai pengalaman yang sama.
Demikian tulisan selingan kali ini, sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Akhir kata, saya tutup dengan kutipan lagu ASIAN GAMES 2018 yaitu “and Give Your Best, Let God Do The Rest”. Fighting Indonesia!!


follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Maret 02, 2018

Memahami Kasih Sayang Allah


                Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh. Sahabat, bagaimana kabarnya? Alhamdulillah kita semua masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati hari yang berbahagia ini. Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi satu hal yang menurut saya harus saya ceritakan kepada sahabat sekalian. Kisah ini sudah saya pendam selama kurang lebih satu bulan, karena kebimbangan atas pertanyaan apakah hal ini baik untuk diceritakan, apakah orang lain juga perlu mengetahui hikmah/ibroh yang saya ambil dari kisah berikut dan berbagai pertanyaan lainnya. Namun kemudian hari ini, pada akhirnya saya putuskan untuk membagikan kisah tersebut.
Pekan lalu, tanggal 24 februari 2018 masehi saya mengikuti suatu halaqoh Qur’an dengan materi tadabbur al-Qur’an. Serangkaian surat yang kami bahas dan tadabburi adalah QS. al-Fatihah, an-Nas, al-Falaq, al-Ikhlas, al-Lahab, dan an-Nasr. Ketika sampai pada ayat kedua dari surat al-Fatihah yang berbunyi:
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
sang ustadz memberikan penjelasan terhadap makna kata ‘Rohmaan’ dan ‘Rohiim’. Beliau menyebutkan bahwa ‘Rohmaan’ merupakan bentuk kasih sayang Allah di dunia sedangkan ‘Rohiim’ adalah bentuk kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Meskipun ada pendapat lain terkait makna dari dua kata tersebut, namun ustadz lebih condong dan cocok terhadap makna yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Beberapa hasil tadabbur yang kami dapatkan terkait ayat tersebut yaitu pertama,  bahwa sesungguhnya kasih sayang Allah itu tiada batas. Kedua, tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi pemberian kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya. Ketiga, Allah akan memberikan kasih sayang-Nya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Serta keempat, apapun yang terjadi pada kehidupan kita merupakan pemberian dan bukti kasih sayang Allah. Allah tidak membeda-bedakan makhluk-Nya, karena semua yang ada di muka bumi, di dunia, dan di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya. Karunia dan kasih sayang yang Ia berikan kepada makhluk-Nya sangatlah luas, bukan hanya harta, makanan, keluarga, kerabat atau hal materialis lainnya tetapi juga mencakup kesehatan, ketentraman hati, ketenangan jiwa termasuk pula keimanan.
Pada penjelasan berikutnya, ustadz menyebutkan bahwa salah satu kasih sayang Allah adalah bahwa Ia sudah memberikan semua yang terbaik untuk makhluk-Nya, seperti bentuk tubuh yang baik, sempurna dan lengkap. Meskipun suatu musibah terjadi pada diri kita misalnya sakit pada salah satu telinga, tidak akan menandingi bukti kasih sayang dari Allah yaitu bahwa masih ada satu telinga lainnya, masih ada bibir dan mulut yang sehat, masih ada anggota tubuh lain yang sehat. Penjelasan tersebut bagi sebagian orang mungkin terdengar biasa, apalagi penekanan pada kata ‘salah satu telinga’. Namun, tadzkiroh dari ustadz berhasil membuat mata saya berair dan hampir meneteskan air mata. Bagaimana tidak, gendang telinga kiri saya sudah tidak bisa diperbaiki. Akibatnya, aktifitas mendengar hanya mengandalkan telinga kanan. Fungsi pendengaran yang berkurang menyebabkan saya harus fokus dan memanfaatkan indera mata untuk melihat gerak bibir lawan bicara. Namun, mata saya sudah mengalami rabun jauh sejak kelas 5 SD dan fungsi penglihatan semakin menurun sampai saat ini. Sehingga, kacamata sangat saya perlukan untuk mencerna ucapan dan berkomunikasi dengan seseorang.
Kisah ini berawal pada akhir tahun 2016, terjadi hal yang tidak lazim pada salah satu bagian tubuh saya yaitu adanya rasa gatal dan terdapat cairan yang menetes dari telinga kiri. Penyebabnya, infeksi, kata dokter. Setelah pengobatan pertama, karena rasa sakit menghilang akhirnya pemeriksaan tidak saya lanjutkan. Namun, januari 2017 penyakit tersebut kambuh kembali. Setelah pengobatan tersebut, karena rasa sakit menghilang akhirnya pemeriksaan saya hentikan kembali. Selanjutnya, penyakit tersebut muncul kembali sekitar juni 2017. Setelah itu, saya bertekad untuk merutinkan pengobatan sampai akhirnya diputuskan untuk operasi pada awal februari 2018 lalu oleh dokter. Alhamdulillah, meskipun gendang telinga sudah tidak dapat ditambal dan diselamatkan, dokter sudah mengangkat dan mebersihkan granula liar yang tumbuh di dalam telinga. Sehingga granula tersebut tidak mengganggu dan merusak otak.
Alhamdulillah ‘ala kulli haal, Allah masih memberikan kasih sayang-Nya kepada saya. Tidak ada satu kejadian pun terjadi pada saya kecuali memiliki hikmah dibaliknya. Huwarrohmaanurrohiim, Dia-lah Allah Maha Pengasih Maha Penyayang, kepada semua hamba-Nya, makhluk-Nya tanpa terkecuali. Demikian kisah hikmah pada tulisan kali ini. Semoga sahabat semua dapat merasakan dan mensyukuri besarnya kasih sayang Allah kepada kita. Semoga para sahabat dapat mengemban amanah atas karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Semoga Allah limpahkan selalu rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, amiiin.

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 29, 2016

Saksi Sunyi Tak Tersembunyi



“Mamaaaa,,, sepatuku mana yaa?” teriak Ira dari balkon kamarnya yang berada di lantai dua.
“Apa sih ra, kamu ini semua nanya mama! Yang punya sepatu siapa, yang nyimpen siapa, nanyanya ke siapa.. makanya kamu ini jadi anak perempuan belajar mandiri lah, apa perlu mama pesantrenin?” balas mama dengan teriakan lebih kencang dari dapur.
“Mama, aku kan cuma nanya sepatu malah diceramahin panjang lebar. Tiap hari mama udah bilang kan..” Jawab Ira sembari mencari sepatunya di gudang sepatu.
“Mama bukannya ceramah Ira, tapi kamu emang sudah waktunya diberitahu kalau tidak segera diberitahu nanti lama-lama kamu bisa ngelonjak..” jelas mama dengan semangat sambil menyiapkan makanan dari dapur ke ruang makan.
“Maksud mama ngelonjak gimana, harusnya tuh ya mama itu udah ngajarin Ira sejak kecil dulu, bukannya baru ngeribetin sikap Ira sekarang.. emangnya selama ini mama kemana aja? Ira selalu main sama bi inah, tapi gak pernah sama mama!” tegas Ira dengan suara lebih lantang.
                Pagi yang cerah, bukannya suasana nyaman yang berkeliaran tapi malah keadaan super ribet. Beginilah yang terjadi sehari-hari di rumah mewah bak istana yang kami tempati. Omelan pagi khas ibu dan anak, maklum papa Ira sedang pergi ke luar negeri, katanya sih ada urusan kerja tapi entahlah. Mungkin Ira begitu kesepian karena hanya ditemani tembok dan tanaman di rumah mewah yang berdiri diatas tanah seluas 1 hektar ini. Sudah sebulan sejak kepergian bi inah dan suaminya, rumah ini jadi semakin ricuh. Belum lagi tanaman dan kebersihan rumah yang tidak terawat. Wah, kacau balau deh pokoknya, termasuk juga kondisi kami saat ini.
======------======
                “Papa gimana sih? Katanya balik hari ini.. jam berapa jadinya?” suara mama di telepon membangunkan tidur siang kami hari ini.
                “Maaf ma, masih belum selesai ternyata. Jadi mungkin papa baru bisa pulang dua atau tiga hari ke depan.. Kabar Ira gimana ma?”
                “Ah kelamaan, papa ijin aja gih. Kasian Ira dia marah-marah terus di rumah jadinya sering main ke luar sama tman-temannya. Mama jadi gak tega pa, nanti jadi gimana itu anak sering main ke luar?”
                “Mama cari pembantu lagi aja atau mama cuti dulu dari kerjaan mama biar papa yang urus semuanya.”
                “Urus gimana maksudnya! Ah terserah papa aja deh, ribet ngomong sama papa!” klik, kemudian telepon ditutup.
                Entah keributan apalagi yang dibuat siang ini oleh mama dan papa, yang jelas suara mama sudah mengganggu kami pun kami tidak bisa mendengar jawaban dan balasan papa dari seberang telepon. Akhir-akhir ini memang mama terlihat resah, Sepertinya beliau belum bisa menemukan orang yang cocok untuk mengganti posisi bi inah pasalnya memang bi inah bekerja dengan sangat profesional dan merawat kami dengan baik. Tak hanya kami, tanaman dan mobil-mobil mama juga dIrawat dengan baik oleh suami bi inah. Sampai akhirnya kami harus rela ditinggal bi inah dan menjadi lusuh seperti ini. kondisi kami buruk kawan, kalau saja kalian tahu kondisi kami. Namun, kami pun tak bisa berteriak dan mengungkapkan hal ini kepada mama. Sayangnya bi inah memang harus pergi, dan mama sudah tak peduli lagi pada kami. Apalagi si Ira anak mama satu-satunya itu, tak sekalipun ia mau mengurusi kami, mengurus isi kamarnya sendiri pun rasanya ia sudah enggan.
Kami hanya bisa berteriak dalam sunyi kawan, membangun pikIran kami sendiri, membicarakan hal-hal yang kami senangi dengan siapa dan apa saja yang peduli pada kami. Kami tak peduli apakah ada yang peduli pada kami. Manusia? ah apalagi mereka, mereka adalah makhluk paling tak peduli yang kami temui, kecuali bi inah. Ya! sangat sedikit makhluk-makhluk bumi ini yang seperti bi inah, perlu kIranya bi inah dilestarikan. Tak tahukah mereka bahwa kami tersakiti? Di tempat setinggi ini dan kami tak dipedulikan meski sekali? Terpanggang mentari, terganggu dinginnya malam. Sampai saat ini, kami tetap menunggu kehadIran bi inah di rumah ini, rumah mewah yang tak berpenghuni.
======------======
                Pagi hari tanggal 22 januari 2013,              
“Bapak sampun siap?” Tanya bi inah pada suaminya.
                “Sabentar bu, bapak selesaikan tugas terakhir dulu ya.. biasa, merapikan dan menyIram tanaman di kebun.”
“Oh iya pak, monggo.. saya juga mau pamitan sama perkakas-perkakas nyonya dulu..” Tak lama kemudian, pak suryo suami bi inah telah berada di kebun untuk menunaikan tugas terakhirnya. Begitu pula bi inah, beliau langsung membersihkan perkakas-perkakas yang belum terjamah dalam sehari ini, lantai, jendela, perkakas ruang tamu dan tak lupa juga kami.
“Baik-baik ya, semoga nyonya segera menemukan pengganti saya supaya kalian selalu dIrawat dan diperhatikan.. supaya rumah ini selalu terlihat nyaman dan berpenghuni.” ucap bi inah pada semua perkakas, begitu pula pak suryo mengucapkan hal yang sama pada tanaman-tanaman “peliharaan beliau”.
“Ya, Semoga..” bisik kami serentak meski kami tak bisa berharap banyak pada mama, papa apalagi Ira.
Kami akan selalu ingat kejadian itu, kejadian satu bulan yang lalu sebelum bi inah pergi meninggalkan kami, meninggalkan keluarga ini, meninggalkan rumah mewah yang memang tak nyaman untuk dihuni. Ingin rasanya ikut dengan bi inah untuk jua pergi meninggalkan istana yang kami tinggali namun apalah daya, kami hanyalah saksi sunyi, atap dan langit-langit, yang tak perlu bersembunyi untuk mendengar kisah dan rahasia rumah mewah ini.

Selesai ditulis 23 Januari 2014
follow me @qhimahatthoyyib

For Desember



Louvember, 20th 2021
Desember aku senang sekali hari ini, kau tahu kenapa? Entahlah! Sebenarnya aku juga tak begitu mengerti mengapa diriku dan perasaanku terasa sangat bahagia, tanpa beban, dan sangat ringan. Aku ingin sekali bercerita sesuatu kepadamu tentang negeriku saat ini. Aku sangat senang, sekarang negeriku menjadi nyaman, tenteram dan menyenangkan. Semua warga negara sejahtera dan sentosa, tidak ada kerusuhan dimana-mana, sungguh menyenangkan sekali tinggal di negeri yang semacam ini.
Sekarang aku tinggal di sebuah rumah dengan ayahku, ibuku, adik-adikku sayangnya aku tidak punya kakak, maukah kau menjadi kakakku Desember? Tidak perlu sih sebenarnya, aku cukup senang kau menjadi sahabat terbaikku yang selalu mau menemaniku selama ini. Desember, aku sangat senang meskipun di rumahku tidak ada barang-barang yang kata orang sudah menjadi kebutuhan pokok mereka, seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci juga barang-barang yang lainnya. Aku sudah cukup senang meski tak ada semua barang itu di rumah, aku senang punya keluarga yang sangat istimewa, selalu tertawa, selalu bahagia, aku pun senang jika semua tetanggaku sudah sejahtera, aku sangat senang.
Desember, lihatlah di sekelilingku, semua bahagia, tertawa, semua sejahtera, aku pun akan bahagia jika semua bahagia. Orangtuaku pun selalu bahagia, kami sekeluarga selalu bahagia. Satu tetanggaku yang sangat kukagumi, ia selalu bahagia meskipun setiap hari harus mencari sampah demi memenuhi kebutuhan hidupnya, ia selalu tersenyum meskipun tak seberapa banyak hasil jerih payah yang ia dapatkan setelah seharian penuh mencari sampah, ia selalu berbagi kepada keluargaku, berbagi tentang cerita hidupnya, berbagi rezeki yang telah ia dapatkan, berbagi apapun kepada kami. Sungguh hidup kami sudah sejahtera.
Desember, lihatlah langit itu! Senja itu begitu mempesona, selalu merona berwarna merah dan jingga, selalu membuatku bahagia dan merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Desember, sungguh aku sangat senang berada di negeri ini, negeri yang hijau, negeri yang biru, negeri yang penuh dengan warna, warna yang selalu membuat negeri ini mempesona dan membuat siapapun terpesona padanya. Desember, harusnya kau kuajak kesini untuk melihat betapa indahnya negeri yang kutempati ini.
Desember, pagi ini aku harus berangkat bekerja. Aku harus pergi mencari rezekiku yang telah ditetapkan Tuhan dan akan diberikan oleh-Nya padaku. Aku bekerja di tempat yang tak disukai banyak orang tetapi desember, aku sangat bahagia, jika tempat itu tak disukai banyak orang maka tidak banyak orang mencari nafkah disana namun ternyata aku salah, banyak sekali orang bernasib sama seperti aku. Jadi aku punya banyak sekali kenalan dari tempat kerja itu. Kata orang sih jarak dari rumah ke tempat kerjaku kurang lebih 2,5 km karena aku tidak tahu pasti ukurannya berapa, kau tahu kenapa? Karena aku tidak pernah lulus SMA dan pendidikan terakhirku adalah sekolah dasar.
Desember, tempat kerjaku tak berbeda jauh dengan tempat kerja tetanggaku yang kuceritakan tadi, tetapi tempat kerjaku jauh lebih nyaman dari tempatnya. Di tempatku lebih banyak sampah yang dapat kuambil, sedangkan di tempatnya sedikit. Di tempatku lebih banyak kawan yang bisa kuajak berkenalan sedangkan di tempatnya sangat sepi. Di tempatku banyak orang baik yang dengan senang hati memberikan sampahnya pada kami, sedangkan di tempatnya tak ada orang yang peduli. Tempat kerjaku juga sangat luas daripada tempatnya.
Desember, sekarang aku bingung bagaimana harus membahagiakan kedua orangtuaku, meskipun mereka selalu terlihat bahagia di depanku padahal aku sangat tahu bagaimana perasaan mereka terhadap keadaan kami. Kami sungguh sudah sejahtera, negeri ini pun sudah sejahtera, kami sangat diurus dengan sangat baik oleh pemerintah negeri ini. Warga di sekitar kami, semuanya sejahtera. Kami dapat bekerja dengan aman dan nyaman tanpa ada yang mengganggu kami.
Desember sudah dulu ya, kita berbincang-bincang lagi besok. Sekarang senja sudah mulai tenggelam dan kau juga harus istirahat, jaga kesehatanmu, bekerjalah dengan baik jangan lupa tersenyum karena dunia ini akan takluk pada senyum kita. Semangat!! Sampai jumpa..
000
Senja turun dengan indahnya semakin merah dan jingga saat ia mengakhiri tulisannya yang akan ia berikan pada Desember. Ah entahlah! jika kalian bertanya kepadaku tentang siapa itu Desember yang dia maksud sungguh, aku juga tidak tahu siapa Desember yang ia maksud sebenarnya jadi sebaiknya tanya saja sendiri kepadanya.
Namanya Shofiy, pria yang lembut—sama seperti namanya yang berasal dari bahasa arab yang artinya lembut—tipikal orang yang ramah dan sopan dengan rambut hitam legam namun telah menjadi kemerahan karena teriknya sinar matahari selalu mengenai rambutnya saat ia bekerja. Usianya kira-kira 28 tahun, terlihat dari parasnya yang tampan namun telah pudar karena tak pernah dirawatnya dan badannya yang gagah namun sedikit kurus karena nutrisi tubuh yang tak pernah dipenuhi.
Aku tak begitu tahu dimana ia tinggal, dimana ia bekerja, namun kami bertemu disini, di tempat ini ia ceritakan semua padaku, tentang Desember—meski sampai saat ini aku tak tahu Desember itu siapa—tentang keluarganya, tentang tempat kerjanya, tentang semua aktifitas yang ia lakukan. Di tempat ini, kami sering bertemu, saat aku menjajakan daganganku dan saat itu ia beristirahat dari pekerjaannya. Di tempat ini pula kami mengatakan janji itu.  
000
Louvember, 20th 2012
Desember, hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sangat istimewa menurutku. Ia seorang pria namanya Rizqi, seorang pedagang keliling yang ramah dan murah senyum.
Ceritanya begini, saat aku tiba-tiba saja merasa penat dan sangat lelah, aku berjalan menyusuri waktu, maju perlahan-lahan menghindari tempat kerjaku dan tanpa terasa aku telah berjalan sejauh 1 km dari tempat kerjaku. Di tempat itulah tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang yang tersenyum padaku, menawarkan dagangannya padaku. “Dia pikir, siapa dia? Senyum-senyum gak jelas! gak tahu orang lagi pusing apa?” aku berceloteh dengan diriku sendiri saat melihatnya tersenyum padaku.
“Minum mas?” ia tersenyum padaku.
“Gak butuh!” kujawab dengan muka masamku.
“Sepertinya mas-nya ada masalah ya? Ada apa?” masih dengan senyumnya.
“Dasar orang aneh, dibentak malah gak pergi” omelku dalam hati.
“Kenapa mas? Ada apa? Mau minum? Gak papa ini saya beri, gratis kok..”
“Benarkah! Gratis?” tetap bertanya dalam hati.
“Tetapi sebagai gantinya, mas bisa cerita pada saya ada apa sebenarnya..” lanjutnya.
“Hmm, orang aneh! Dagangan kok dikasih ke orang asing gak dikenalnya..”
“Mas, siapa namanya?” tanyanya padaku tetap dengan senyumnya ditambah uluran tangannya.
Tidak tega membiarkannya, kujawab saja seenakku. “Indra” tanpa menjabat uluran tangannya.
“Oh mas Indra, saya Rizqi pake q lho mas jangan pake k..” ia perkenalkan dirinya tetap dengan ulasan senyum di wajahnya. “Mari mas duduk sini kita minum sebentar.” Lanjutnya dengan memberikan sebotol teh padaku.
Dengan sedikit terpaksa dan sangat ingin, kuambil saja botol itu dari tangannya dan anehnya ia malah tersenyum senang melihatku mengambil botol itu dari genggamannya. “Nah begitu dong.. tawaran saya diambil, mari minum sambil duduk mas Indra.” Ucapnya setelah aku mengambil botolnya dan kami duduk berdampingan, aku ada di sebelah kanannya, dan ia ada disebelah kanan gerobaknya.
“Mas Indra, sungguh sebenarnya tidak ada hidup seorang manusia itu mudah, kaya miskin, tua muda, pria wanita, semuanya sulit, saat kaya sulit memberi, saat miskin sulit menerima, saat tua sulit berkarya, saat muda sulit bekerja, pada pria sulit merasa, pada wanita sulit memaksa. Semuanya serba sulit namun dengan kesulitan, kita bisa mengerti dan merasakan adanya kemudahan. Ketika kesulitan melanda, kita harus memaksa, memaksa diri kita untuk menerima, memaksa diri kita untuk memberi, memaksa diri kita untuk berkarya, memaksa diri kita untuk bekerja,memaksa diri kita untuk merasa, memaksa diri kita untuk  memaksa.
Mas Indra, hidup ini adalah seni mengelola keterpaksaan, jika kaya harus terpaksa memberi, jika miskin harus terpaksa menerima, jika tidak sejahtera terpaksa harus bersikap sejahtera.”
000
Pertama yang aku tahu, namanya Indra orang yang sangat cuek dan tidak punya harapan, entah mungkin karena hari itu ia benar-benar suntuk atau memang tabiatnya seperti itu, aku tidak tahu. Lalu saat hari itu berlalu, ia kembali ke tempat itu kedua kalinya, membawa temannya dengan wajah gembira entah karena apa, aku belum tiba di tempat itu saat ia datang kemudian duduk dan menantiku. Ia yang kemudian aku tahu dipanggil shofiy oleh temannya, pria ramah luar biasa sesaat sebelum aku tiba disana.
“Kenapa baru datang!” tiba-tiba ia membentakku.
“Kita tidak janjian di sini kan? Siapa suruh kamu kesini?” tetap dengan senyumku. “Mau minum?” lalu kutawarkan minuman pada temannya.
“Kenapa harus berbohong padaku tentang namamu Shof? Itukan nama yang bagus.. nama pemberian orangtuamu, kau tahu kan apa artinya? Mereka sangat berharap kau akan menjadi pria yang lembut. Dalam hidup ini, kau harus yakin bahwa apapun yang kau jalani dan semua yang kau tekuni akan membuahkan hasil.”
Ah! Semua kenangan itu membuatku rindu padanya, sahabat terbaik yang pernah kumiliki seumur hidupku, bersama merasa sejahtera meski tak sejahtera, bersama merasa gembira meski tak sepenuhnya gembira, bersama merasa bahagia meski tak pernah bahagia, bukankah saat kesedihan dibagi maka kesedihan itu berkurang setengahnya dan saat kebahagiaan itu dibagi maka akan bertambah dua kali lipat? Tapi mengapa banyak orang tak sadar, Tak pernah mau berbagi saat ia bahagia tapi selalu berbagi saat ia berduka, padahal saat ia tiada siapa yang mau berduka untuknya?
Hari ini pun aku masih berduka, hari kesepuluh setelah pemakamannya, ia yang selalu gembira, ia yang selalu membuatku bahagia, ia sahabat terbaik yang pernah ada, semangatnya, jasanya, meski tak banyak orang tahu karena tak banyak orang mau tahu. Entah seberapa miskinnya, ia selalu menganggap dirinya sejahtera, menganggapku, menganggap keluarganya, menganggap tetangganya, menganggap negeri ini sejahtera.
Negeri yang kaya, negeri yang hijau, negeri yang biru, negeri yang berwarna katanya. “Tak ada negeri yang seperti ini kawan, negeri yang memberimu banyak pelajaran, negeri yang memberimu kesempatan untuk menunjukkan kekreatifanmu dalam menjalani hidup, negeri yang sungguh mempesona. Mari bersama-sama berjuang memperbaiki hidup ini dan memperbaiki negeri ini. Sungguh! Dengar janjiku, kau juga harus berjanji ya.. kita BERSAMA bermimpi dan MEWUJUDKANNYA.”
Itulah kat-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya, semangat yang menggebu-gebu untuk memperbaiki negeriku, negeri kami, tempat tinggal kami. 
000
For Desember
Desember, kumohon pertemukan kembali aku dengannya, sungguh bahagia sekali bertemu dengannya hari ini, ia memberiku banyak hal, tak hanya minuman, tapi juga pelajaran untuk menjalani hidup di negeri yang sejahtera ini. Ia mengajariku berseni dalam hidup, ia membuatku bermakna, meski sebenarnya tak ada orang yang menganggapku bermakna, selain ia, orangtuaku, dan adik-adikku.
Desember, kumohon, aku rindu sekali pada mereka meski negeri ini tak sama sejahteranya dengan tempat ini, meski negeri ini tak sehijau tempatku saat ini, meski negeri ini tak sebiru tempat ini, meski negeri ini sungguh tak sebaik tempat ini.
Desember, Senja ini, aku sangat rindu padanya, aku rindu pada hidupku, tapi aku senang sudah merasakan kesejahteraan ini lebih dahulu daripada mereka. Ingin sekali aku mengajak mereka ke tempat ini, merasakan kenyamanan ini, merasakan kesejahteraan ini. Sungguh benar katanya, hidup ini adalah seni melawan dan memanfaatkan keterpaksaan. Senja ini aku terpaksa meninggal, meninggalkan dunia, meninggalkan keluarga dan temanku di sana. Senja ini aku terpaksa meninggalkanmu Desember, sampai jumpa, semoga kau selalu ceria, hiduplah dengan semua keterpaksaan yang ada dan rasakan manfaatnya.

Selesai ditulis pada 16 September 2014
follow me @qhimahatthoyyib

Roti Bakar Penyemangat




Menurut berita perkiraan cuaca yang gua lihat di TV Nasional semalam seharusnya hari ini tidak turun hujan. Jadi, gua putuskan saja untuk tidak membawa payung ataupun jas hujan hari ini.
“Sip, semuanya udah lengkap.”
“Ma, berangkat dulu ya..” Jam 06.00 gua udah harus berangkat, daripada telat dan gak ngerti apa yang bakalan diomongin sama dosen, lagian telat itu juga bukan kebiasaan gua.
“Kamu gak makan dulu? Kalo gitu ini bawa bekalnya..”
“Oke, makasih ma..” gua ucapin sambil mencium tangan mama.
Seperti biasa mama selalu bawain gua bekal meskipun gua udah sarapan, tapi hari ini gua telat bangun jadi gak sempet sarapan dulu. Dan seperti biasa juga setelah gua pergi, rumah pasti langsung sepi karena.. ah! Ntar dulu masa pagi-pagi gini gua langsung cerita kesitu.
Setelah pamitan sama mama, langsung gua ambil sepeda butut kesayangan gua dan ngibrit mengejar waktu karena sekarang udah jam enam lebih sepuluh. Kalian tahu kenapa gua harus berangkat jam enam? Karena perjalanan dari rumah gua ke kampus memakan waktu minimal 30 menit, itu pun kalo gua ngebut di jalan dan kalo santai banget bisa satu jam.
000
Jam tujuh kurang 15 menit, akhirnyaaa! Gua sampai juga dan tidak terlambat. Setelah memarkir sepeda, gua langsung menuju kelas pertama gua hari ini. Kelas itu cukup jauh jaraknya dari tempat parkir gua sekarang, tapi, gua gak mungkin parkir di deket kelas karena gua harus muterin kampus dulu kalo mau kesana jadi gua putuskan untuk berjalan saja kesana.
“Hai tsa..”
“Hai juga..”
Mata kuliah yang akan gua hadapi adalah Kewarganegaraan. Sejujurnya gua agak gak suka dengan mata kuliah ini tapi terkadang juga gua sangat suka. Sayangnya, semester ini gua gak dapet mata kuliah Bahasa Indonesia jadi ya.. gua berharap tetap bisa refreshing meskipun gak ada Bahasa Indonesia.
Jam tujuh lebih sepuluh menit dan dosennya belum juga datang. Bosan menunggu, gua baca aja novel yang gua bawa judulnya Rumah Kaca dan penulisnya.. yaa kalian pasti tahu! Sastrawan yang pernah dipenjara di pulau Buru dan karyanya dibakar, mengerikan! Gua gak bisa ngebayangin seberapa sabar penulis itu sampai-sampai tidak melakukan perlawanan saat karya-karyanya dibakar dan betapa jahatnya jajaran pemerintah yang memutuskan untuk melakukan pembakaran. Yap! Siapa lagi kalau bukan Pramodya Ananta Toer.
“Assalamu’alaikum..” suaranya sangat pelan dan seisi kelas tidak mendengar tapi.. kenapa gua dengar ya? Entahlah terkadang hal yang sederhana tidak sesederhana yang kita pikirkan dan tidak mudah untuk dilakukan. “Wa’alaikumussalam” gua bergumam.
Gua alihkan pandangan sebentar ke arah sumber suara, gua pikir suara pak dosen tapi ternyata bukan. Suara seorang pria, sepertinya salah satu mahasiswa di kelas ini karena dia langsung mengambil tempat di kursi yang ada di barisan ketiga sebelah barat belakang gua. Gua emang suka banget memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar gua sampai-sampai gua tahu seperti apa mereka dari cara mereka berjalan dan berbicara. Sepertinya gua cocok jadi psikolog tapi gua gak mau berurusan terlalu dalam dengan makhluk yang bernama manusia khususnya para pria, gua lebih suka berurusan dengan tumbuhan.
Sudah duapuluh menit berlalu dari jam tujuh tapi dosen kami belum juga datang, jadilah kelas ini sangat ramai oleh suara teman-teman yang belum gua kenal kecuali teman yang sejurusan ama gua karena mereka emang benar-benar udah gua kenal. Gua tutup novel gua dan mengedarkan pandangan gua ke seisi kelas, aneh! rasanya ada yang berbeda tapi apa ya?
000
Sepanjang pertemuan pertama ini, dosen gua nerangin Rancangan Pembelajaran selama satu semester ke depan dan bercerita tentang apa itu kewarganegaraan dan sejarahnya. Menarik! Apalagi akhirnya gua menyadari ternyata yang aneh adalah perasaan gua yang tiba-tiba senang melihat wajah adem pria yang tadi gua jawab salamnya dan sekarang baik banget mau ngebantuin dosen itu. Gua tahu itu gak boleh, tapi..
Kata bu Rin, dosen Kewarganegaraan gua, sebelum berubah nama menjadi Kewarganegaraan dulu namanya adalah Kewiraan yang diajarkan pada orang-orang dari kalangan tertentu dan lama pembelajarannya adalah 3 bulan dan hanya sekali seumur hidup jadi seperti sebuah seminar yang berkelanjutan selama tiga bulan. Seminar yang menuntut manusia-manusia yang ada di Indonesia ini menjadi rakyat yang taat aturan, hukum dan taat dengan pemerintah. Pelajaran macam apa itu? Hanya selama tiga bulan namun menuntut seumur hidup? Apalagi setiap sekali seminar hanya 40 orang dewasa, sungguh! Sangat tidak efisien. Kemudian, banyak yang protes karena tidak mendapat pelajaran itu jadilah Kewiraan menjadi mata kuliah wajib mahasiswa. Selanjutnya gua sedikit lupa, sepertinya pada tahun 2001 atau sebelum itu ya? nama Kewiraan berubah menjadi Kewarganegaraan karena dua nama itu adalah dua hal yang mempelajari bagian-bagian yang berbeda. Gua juga lupa tentang apa karena gak gua catat sejarah yang diterangin bu Rin.
Hal lain yang dapat gua ambil dari semua yang diterangkan oleh bu Rin adalah, mahasiswa tidak pernah belajar dari apa yang mereka pelajari. Saat menjadi sukses nanti kebanyakan dari mereka akan melupakan apa itu hak, apa itu kewajiban, apa itu tenggang rasa, tolong menolong,  membela dan membangun negara, persatuan, kesatuan, arti dan filosofi pancasila, apalagi peran dan fungsinya. Tapi tetap saja dimanapun, seorang guru atau dosen akan mendoakan kesuksesan untuk mahasiswa mereka.
Sebelum mengakhiri kelas, bu Rin mengabsen nama-nama kami dan gua menunggu kapan pria itu mengangkat tangannya.
“Ilham Fauzi Hassan..” ya! Itu namanya, lihat! Dia mengangkat tangannya.
Setelah semua selesai diabsen, bu Rin meninggalkan kami, kelas pun bubar dan gua menunggu datangnya pekan depan di kelas ini.
“Tsabii..” sahabat gua, Rara, dateng ke gua dengan nafas terengah-engah sepertinya dia habis berlari.
“Ada apa ra, tenang dulu.. baru ngomong.”
“Kita kesana yuk, ngobrol.”
“Oke!”
000
Sambil makan roti bakar yang udah di bawain sama mama, gua dan Rara ngobrol apa saja, berdiskusi apa saja, dan berkomitmen serta berjanji.
“Ra, aku jadi mikir kenapa aku bisa seneng ya ngeliat wajah anak itu, emang sih wajahnya menenangkan. Aku juga mikir tentang apa yang diomongin sama bu Rin banyak benarnya. Coba deh, pikirin aja ya, mahasiswa di Indonesia kan banyak meskipun tidak sampai sepertiga dari penduduk Indonesia, di kampus kita aja contohnya meskipun sudah seringkali digembor-gemborkan Peran dan Fungsi Mahasiswa alias PFM yang berjumlah empat itu buktinya Indonesia tidak berubah, padahal kan lulusan kampus kita katanya sudah menyebar dimana-mana entah sukses, entah tidak. Malahan sekarang mahasiswa banyak yang tidak peduli apa yang terjadi di luar sana karena sistem pendidikan saat ini membuat mahasiswa disibukkan dengan tugas dan tugas tanpa boleh melihat dunia luar. Aku jadi takut kalo aku juga cuma bisa ngomong doang tanpa berbuat, tapi beneran aku pengen banget bermanfaat dan mengubah Indonesia dengan memelihara yatim-piatu dan pertanian Indonesia.”
“Setuju! Ah iya! Aku juga inget sama kata-kata yang ada di novel roman yang kamu baca. Sejak dulu, sebenarnya aturan dan hukum itu dibuat bukan untuk melindungi tapi untuk seenaknya hati dipakai kapan. Jadi sejak dulu sampai sekarang kita masih dijajah, buktinya prinsip itu dateng dari kolonial tapi masih dipakai turun-menurun sampai sekarang. Iya ya, kapan kita bisa merubah Indonesia kalo pemudanya aja kayak gini.” Rara meyakinkan kata-katanya dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.
“Eh ra, kamu liat deh anak itu..” lo liat yang baik ra, kayaknya gua kagum ama dia tapi kan kita gak boleh kayak gini, bagaimana mengubah Indonesia apabila kita mudah terpesona pada dunia? Tidak bisa!
“Ada apa? Tsa, kok kamu diem aja..”
“Enggak, bukan apa-apa, gak jadi.”
“Oke deh kalo gitu, kalo ada apa-apa bilang ya tsa.. Pokoknya kita harus janji gak boleh bertingkah sembarangan demi Indonesia. Oh ya, sahabatku Tsabita Rahmania kamu yakin gak perlu aku antar jemput.. aku takut kamu kecapean aja kalo harus ngontel tiap hari jam enam pagi pula!”
“Enggak apa-apa Rastika Fitriatna, aku sudah harus bersyukur punya sepeda itu daripada harus jalan kaki. Benar kan?”
“Hmm begitu ya, kalo gitu hati-hati ya.. Semoga Allah membalas usahamu.”
“Amiin, makasih. Aku pulang duluan ya.. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam.”
Hah, senang rasanya.. ternyata perkiraan cuaca semalam benar dan hari ini gua tidak basah kuyup di tengah jalan. Mulai detik ini ada semangat baru yang menggebu dalam hati gua. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari semua sejarah yang pernah terjadi dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk negara dan bukan berpikir apa yang akan kita dapatkan dari negara.
000
“Tsabita Rahmania ya? Aku Ilham Fauzi, kita kelompok lima bareng ama Ristia Farasya temen sejurusanku dan dia juga dia..” tunjuknya pada anak yang masih menyiapkan barangnya dan menuju kami.
Apa? Gua sekelompok sama Ilham? Kok bisa? Dan darimana dia tahu kalo nama gua Tsabita? Walah-walah, gua gak boleh tergoda dengan apapun! “Oh, iya aku ngerti.. namanya Saiful Ramadhani dan satu lagi aku gak tau.”
Ya Tuhan.. sepertinya Kau mulai mengujiku dengan ini.. sekarang harus bagaimana???

Selesai ditulis 2 Juni 2012
follow me @qhimahatthoyyib