Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 12, 2023

Dorama denga Kondisi Ekstrem—yang Menyatukanmu

 

                Sudah kita ketahui bersama bahwa Jepang adalah negara yang paling banyak mengalami gempa bumi atau bencana alam. Oleh karena itu, mereka mengembangkan berbagai teknologi untuk mencegah atau mengantisipasi dan meminimalisir kerusakan/kerugian akibat bencana tersebut. Mulai dari bangunan tahan gempa, museum teknologi penanganan gempa, hingga ransum dan berbagai macam produk kemasan yang kreatif, mudah digunakan dan mudah dijumpai masyarakat di minimarket atau swalayan.

                Nah, berkaitan dengan bencana alam, ada dua drama Jepang bertema survival yang sangat menarik untuk ditonton. Drama pertama berjudul Cold Game (2021), yang mengisahkan tentang seorang wanita penipu cerdas dalam menghadapi kericuhan kondisi manusia yang bertahan hidup di bumi yang tiba-tiba berubah menjadi dunia es bersuhu -45°C. Drama kedua berjudul Pending Train (2023), yang mengisahkan sekelompok manusia yang terjebak di kereta yang putus dari rangkaian lalu bepindah ke masa depan (2050) melalui worm hole dan saat itu kondisi bumi sangat alami setelah mengalami bencana besar pada tahun 2026.

                Beberapa kesamaan yang ditunjukkan dalam kedua dorama tersebut adalah tahap penyatuan manusia/komunitas, bermacam karakter manusia yang ada saat survival adalah tipe pemimpin, pencari solusi, penyemangat, acuh tak acuh dll, serta tahap kebersamaan dan kekompakan untuk bertahan hidup. Sehingga banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari dorama ini terutama berkaitan dengan survival atau bertahan hidup saat terjadi bencana. Mungkin inilah yang ingin disampaikan oleh tim produksi khususnya kepada masyarakat Jepang, agar manusia selalu berhati-hati dan adaptif terhadap segala kondisi demi keberlangsungan generasi.

Demikian review kali ini, semoga teman-teman selalu dapat mengambil hikmah dari semua aktivitas yang dilakukan~ ja matta ne, arigatou minna-san~~

 


cold game (2021)

pending train (2023)


Senin, September 26, 2022

Irresistible Start-Up Business Dorama

 

    Aku nonton drama? sudah pasti, asalkan dari jepang. Genre yang juga menarik bagiku adalah tentang bisnis, tapi tidak semua dorama bisnis kusuka tentu saja. Satu yang sampai saat ini kuingat adalah dorama berjudul Rich Man Poor Woman, yang tayang pada tahun 2012. Dorama ini mengisahkan pemuda tampan nan kaya yang memulai bisnis start-up-nya sejak berada di bangku kuliah. NEXT Innovation, perusahaan IT yang ia kembangkan dengan seorang partner bisnis menjadi sukses besar di saat usianya 29 tahun. Saat melakukan promosi dan perekrutan karyawan, saat itulah kisah sebenarnya dan konflik besar pun dimulai.

     Hyuga Toru, bukan hanya seorang jenius tapi juga si perfeksionis. Namun, sisi gelapnya adalah tak dapat menerima pendapat orang lain dan mudah meremehkan. Hal itulah yang menjadi masalah besar dalam sistem kerja di kantornya. Perusahaan IT yang nyaman itu, sering terganggu karena keras kepalanya sang CEO. Teknologi yang seharusnya memudahkan malah menjadi sulit digunakan karena kejeniusannya dalam membuat program baru. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan wanita aneh yang melamar ke perusahaannya tersebut. Namun ternyata, wanita itulah yang berhasil mengubah hidupnya.

rich man poor woman (2012)

unicorn ni notte (2022)
        
       Dorama rekomendasiku berikutnya adalah unicorn ni notte dengan judul bahasa inggris yaitu riding a unicorn yang baru saja ditayangkan sejak bulan juli lalu. Drama ini juga mengisahkan tentang perjuangan, perubahan dan scale-up dari perusahaan IT start-up milik seorang gadis miskin lulusan SMA dan tak bisa melanjutkan kuliah karena tak ada biaya. Gadis miskin yang bercita-cita menjadi pebisnis itu asal masuk saja ke sebuah kampus dan mengikuti kelasnya. Hingga akhirnya, semangat yang membara itu semakin meletup-letup setelah mengikuti salah satu seminar bisnis yang pembicaranya adalah pebisnis favoritnya.

        Pada dua dorama ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa perubahan pada diri seseorang bukan hanya berdasarkan pada faktor lingkungan. Tetapi, teguhnya kemauan diri sendirilah yang mempunyai pengaruh terbesar dalam mencapai tujuan tersebut. Baik itu tujuan baru yang sangat berbeda dari tujuan semula, atau target yang lebih besar dan lebih tinggi dari sebelumnya. Halang rintangan yang melintang adalah hal biasa, jika tekad dalam diri sudah membabi-buta. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di tulisan selanjutnya~

Minggu, Juli 17, 2022

One of The Sights - Extraordinary Attorney Woo Young Woo

 

“Normal” People

                Halo semuanya~ Assalamu’alaikum. Udah setahun lebih sehari kita ga ketemu ya. Kangen banget rasanya ^^v. Entah hal apa yang membuatku mager nulis di blog, padahal list judul tulisan untuk lapak ini sudah berjejer rapi di salah satu halaman notebook ku. Tapi jangan khawatir, tulisan baru ini sangat menarik karena kita akan membahas drama korea terbaru bulan ini yang berjudul Extraordinary Attorney Woo Young Woo. Pastiii sudah tahu drama itu kan?

                Yap, seperti judulnya, drama ini mengisahkan seorang pengacara autis pertama di Korea—berkaitan dengan hal ini, aku belum cek faktanya, apakah benar-benar ada di negeri gingseng itu—yang merupakan anak dari seorang single father. Di episode 3, ia menghadapi satu kasus berkaitan dengan penderita autis lainnya. Si autis inilah yang merupakan terdakwa pada permasalahan tersebut. Keseruan perdebatan antara pengacara terdakwa dan jaksa pun terjadi di persidangan.

                Di persidangan, sang jaksa bertanya kepada saksi yang merupakan seorang dokter, “Berapa banyak penderita autis di ruangan ini?”, tapi dokter terdiam dan tidak berkenan menjawab. Sampai kemudian terjadi percakapan seperti tampak pada gambar di bawah ini.







Ya, sang jaksa hendak menyampaikan bahwa para pengacara tidak perlu meminta keringanan hukuman dengan alasan autisme terdakwa. Karena jika terdakwa dianggap cacat mental, maka pengacara woo juga seharusnya tidak bisa disamakan dan diberi wewenang sebagaimana pengacara ‘normal’ lainnya.

                Hmm pendapat yang menarik dari jaksa ya. Tapi sebenarnya, apa sih definisi dari orang normal itu? Menurut WHO, normal adalah kondisi dimana seseorang yang sempurna fisik, mental dan sosialnya, tidak mengidap penyakit dan kelemahan-kelemahan tertentu. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang dimaksud dengan sempurna fisik, mental dan sosial? Jika seorang anak terlahir dalam kondisi autis, siapa yang harus memaklumi, si anak atau para orang ‘normal’ di sekitarnya? Padahal bisa jadi kondisi anak tersebut adalah hal yang sempurna menurut Allah.

Allah swt berfirman:

 

 (4) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

 

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

 

Kesempurnaan penciptaan di sini merupakan penggambaran anugerah Allah bahwa manusia tidak hanya dilengkapi dengan kesempurnaan fisik namun juga psikis yang menjadikannya berbeda atas makhluk lainnya. Manusia dianugerahi akal agar bisa membedakan antara baik dan buruk serta mampu menganalisis segalah hal yang berkaitan dengan alam semesta yang pada puncaknya menjadi pribadi paripurna sehingga bisa menjalani mandat sebagai khalifah di bumi (https://bincangsyariah.com/kolom/tafsir-surat-tin-1-8-manusia-sebagai-makhluk-tuhan-paling-sempurna-jika/).

Sebagai penutup, menanggapi pernyataan dan pertanyaan sang jaksa, bahwa setiap orang itu dianugerahi hal yang berbeda. Si autis satu dengan lainnya tentu saja berbeda, hal itu berlaku juga pada orang ‘normal’. Si normal satu dengan lainnya juga berbeda. Jadi, adakah hal yang dianggap adil itu menyamaratakan semuanya? Wallahu a’lam.

Sabtu, Juni 26, 2021

One of The Sights – Ichikei no Karasu

 

                “Sampai jumpa di pengadilan akhirat!”

                Kata-kata itu tidak pernah ada di salah satu drama Jepang bertema pengadilan berjudul Ichikei no Karasu (Ichikei’s Crow) yang tayang baru-baru ini. Karena si hakim satu ini adalah hakim yang sangat adil dan benar-benar mencari kebenaran atas suatu perkara. Bahkan, ia seringkali menggunakan otoritasnya untuk melakukan rekonstruksi kejadian guna menghindari kesalahan putusan. Sehingga, ia ditakuti oleh para pengacara dan jaksa. Selain itu, organisasi kehakiman tertinggi pun ingin menyingkirkannya karena ulah yang ia perbuat merugikan para atasan dan politisi.


                Tentu saja yang ditampilkan dalam drama ini hanyalah hal fiksi, tapi tidak menutup kemungkinan perkara tersebut terjadi di dunia nyata. Bahwa hakim yang baik dan benar akan dibenci dan perlahan-lahan disingkirkan oleh kekuasaan. Sehingga, para hakim tak punya pilihan lain selain menjalankan amanah sebagaimana pesanan atasan. Namun, drama ini menggambarkan bahwa kebenaran akan selalu menunjukkan wujudnya, dan sedalam apapun kesalahan disembunyikan, suatu saat hal itu akan muncul ke permukaan.

                Persoalan pengadilan ternyata sama saja di negeri ini dan negeri itu. Sedemokratis apapun kondisinya, yang namanya penguasa ya pasti merasa punya kuasa atas segalanya. Atas rakyatnya, atas sumber dayanya, bahkan atas segala yang terjadi pun harus sesuai kehendaknya. Siapa yang seharusnya bertahta, siapa yang semestinya dipenjara, mereka atur sedemikian rupa. Tak peduli yang terjadi pada rakyatnya, asalkan mereka bisa makan enak dan tidur nyenyak. Sungguh, hal itu bukanlah kepemimpinan yang digambarkan dalam Islam. Tapi bagaimanapun kondisinya, pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Oleh karena itu, teruslah jadi orang baik dan bertahanlah dalam kebaikan agar suatu saat muncul pemimpin terbaik di antara yang baik itu.

Minggu, Mei 02, 2021

Keracunan Tontonan


                Assalamu’alaikum semuanya~ Selamat berpuasa dan beribadah di bulan Romadhon 1442 H untuk semua yang menjalankan. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada tulisan rutin dariku selama bulan Romadhon ya, padahal list yang ingin kutuliskan sudah kurancang lagi sejak tahun lalu. Kesibukan? Oh tentu itu hanyalah satu dari sekian alasan yang dapat kita ucapkan bukan? Lain kali akan kuceritakan tentang pendapatku terhadap ‘alasan’. Saat ini, aku ingin mengisahkan hal lain terlebih dahulu.

Sejak dulu, aku merasa bukan termasuk pengikut tren. Genre lagu favorit, drama/film favorit, atau produk lain meski hanya sekedar warung makan yang menjadi favoritku cenderung berbeda dengan orang kebanyakan di masanya. Misalnya, aku bisa saja suka sesuatu yang disukai orang-orang tua dan tak disukai kalangan seusiaku. Terkadang aku juga sesuatu yang disukai anak-anak kecil atau yang lebih muda daripadaku. Bahkan sesuatu yang semua kalangan suka pun, kenyataannya, aku tak suka. Sejumlah teori kukaitkan, karena golongan darahku yang AB lah, atau kategoriku yang INFJ berdasarkan hasil tes MBTI lah, atau mungkin karena aku seorang melankolis plegmatis. Tetapi teori terkini berdasarkan fakta yang kudapati adalah karena aku belum bertemu dengan segerombolan manusia yang satu selera.

Sekarang, siapa sih yang tak bisa terhubung dengan manusia lain di ujung dunia yang berseberangan dengan kita? Semua media bisa digunakan, hanya bermodalkan sekotak telpon pintar dan kemauan saja. Kita bisa menjelajahi seluruh negeri. Dari itulah, aku mulai banyak menemukan orang-orang yang sama, yang satu selera, yang sepemikiran. Meskipun pada dasarnya, aku tetaplah sama, masih merasa asing terhadap sebuah julukan ‘pengikut tren’. Kenyataannya, banyak orang di luar sana yang pengikut media sosialnya jutaan, tapi aku bukan salah satu dari mereka. Banyak lagu, tontonan atau hal lain di luar sana yang digandrungi puluhan juta orang, tapi aku bukanlah di antaranya.

Hal yang kusukai memang cenderung berbeda dari orang kebanyakan. Tapi sama seperti semua orang, aku juga dapat terpengaruh dari hal-hal yang kulihat. Contohnya adalah dua gambar berikut ini.

 


Gegara tontonan, aku jadi ingin mempunyai barang-barang tersebut. Tentu saja, banyak hal yang bisa dijadikan alasan agar barang-barang itu bermanfaat. Karena sebagai seorang muslim, semua yang kita lakukan, semua yang kita miliki, semua yang kita ikuti, jangan sampai termasuk ke dalam hal yang sia-sia. Kata Rosululllah, di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya (HR. at-Tirmidzi). Dalam hadits lain, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

    Dua hal itulah yang selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Tetapi kenyataannya, menjadi bermanfaat adalah hal yang cukup mudah dilakukan, namun meninggalkan hal yang sia-sia, aku sendiri masih harus sangat berjuang. Akhir kata, yuk kita tingkatkan amalan di sepertiga malam terakhir bulan Romadhon ini, dan juga di hari yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional, yuk kita ingatkan diri kita untuk terus belajar dan terus tingkatkan keilmuan dunia yang dapat memperberat timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

#merdekabelajar #hardiknas2k21

Rabu, Maret 17, 2021

Kritik Sosial

 


                Kritik sosial adalah hal yang wajar, tapi kenyataan saat ini, pembicaraan itu kembali tabu di Indonesia. Bahkan orang sekelas pejabat negara yang seharusnya menampung aspirasi rakyat malah bilang, “Kalau pemerintah sudah bilang itu hoaks, ya hoaks”. Sungguh pernyataan yang menyakitkan bagi kita sebagai rakyat jelata, yang meskipun kedaulatan ada di tangan rakyat, tapi tak punya kuasa apa-apa. Meskipun demikian, kritik sosial masih harus dilakukan, sampai negara benar-benar mempunyai pemimpin yang sesuai dengan visi misi negara dalam pancasila dan undang-undang dasar yang Indonesia punya.

                Salah satu kritik sosial yang mudah dilakukan adalah dengan film/sinetron atau media visual lainnya. Maka dari itu, segala tipe konspirasi, aspirasi hingga imajinasi banyak dipamerkan dan dijejalkan pada otak banyak orang melalui tontonan. Sehingga kritik tersebut dikenal oleh banyak orang sampai dipercaya hal itu benar-benar nyata terjadi. Banyak orang yang terlena, bahkan saling berkomentar tentang apa yang ditayangkan. Padahal sebagian besar merupakan hiperbola dari kenyataan.



                Seperti yang semua sahabat tahu, di antara semua tontonan yang ada, kalau soal drama atau film, aku paling update tontonan dari Jepang. Kalau variety show adalah dari Korea dan kalau dari Indonesia, saat ini aku lebih tertarik berita politik, sejarah, pendidikan dan kuliner yang itu pun bukan tayangan televisi, melainkan media daring. Sedangkan tontonan dari barat sudah lama aku tinggalkan, sejak tahun 2012-an sepertinya. Segala hal dari barat yang sebagian besar dari Amerika tidak lagi kutonton, meskipun itu adalah film ter-hits. Tapi, tontonan berbahasa inggris yang kutonton di media daring bukanlah film/drama, melainkan kuliner, teka-teki, seni/kreasi, dan eksperimen.

                Saking seringnya nonton drama/film jepang, salah satu pertanyaan yang ada di kepalaku adalah apakah tayangan tersebut diproduksi sebagai kritik sosial? Baik itu kepada masyarakat atau kepada pemerintah. Karena saat kuamati, setiap tahun ada tema-tema khusus yang diangkat. Pada tahun 2020 misalnya, selain banyak tontonan dengan tema utama pandemi, mengatasi pandemi, bertahan saat pandemi dan sebagainya, ada banyak juga tontonan bertema nikah muda yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tema ini sudah lama digaungkan, tapi sebagian besar adalah married by accident, bukan benar-benar dirancang sebagai anjuran pernikahan hingga promosi matching app untuk menemukan jodoh. Apakah ini metode yang digunakan untuk meningkatkan populasi mereka kembali? Aku sendiri juga tak tahu, selain karena tak tinggal di Jepang, aku juga tak mengikuti berita atau kejadian populer dari sana.

                Tema-tema yang selalu ada tiap tahun adalah berkaitan dengan aparat keamanan yaitu detektif dan kepolisian, ada juga tema yang berkaitan dengan pemerintahan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tayangan yang pernah kutonton dengan tema tersebut adalah CHANGE!, HERO, Legal High, Against False Charge, dan Legal V. Selain itu, ada juga tayangan bertema permainan tradisonal. Permainan Go, Shogi, Karuta, Kindama, dan Haiku adalah hal tradisional mereka yang kuketahui lewat dorama/movie Jepang. Ketiga tema tersebut membuatku bertanya-tanya apakah hal yang demikian ini merupakan kritik sosial, ataukah itu merupakan kenyataan yang terjadi di Negeri matahari terbit itu? Yaahh, seperti kita tahu, Jepang sangat bangga akan dirinnya, meskipun negaranya kecil tapi tekad mereka sangat luar biasa besar. Hingga mereka mampu menguasai Indonesia di tahun-tahun yang pahit itu. Mereka juga pernah berkelana menguasai Korea, dari salah satu kisah yang kutahu.

Selasa, Maret 02, 2021

Historical Dorama



                   Hai semuanya~ pandemi udah setahun nih, kalian semua sehat-sehat kan? semoga semuanya sehat yaa~ eh tapi pemerintah ini kayaknya yang lagi gak sehat ups.. Rasanya pengen banget time travel ke masa Rosulullah, atau setidaknya ke masa The Golden Age~

                Ngomong-ngomong soal masa lalu, salah satu genre drama/movie favoritku adalah sejarah. Drama sejarah yang menarik buatku adalah historical dorama Jepang, karena drama yang mereka produksi sangat kreatif, memadukan science fiction, sejarah dan romance. Nobunaga Concerto (2016) misalnya, atau Likes! Mr. Genji (2020), atau yang terbaru Edomoiselle (2021). Selain itu, drama jepang bertema sejarah yang merupakan biografi tokoh juga dibuat sangat seru dan menarik penonton, drama paling hits yang semua peminat jepang tahu yaitu Rurouni Kenshin (2012 dan 2014), atau Oshin yang dirilis di Indonesia pada tahun 90an yang digemari orang tua. Judul lain yang juga menarik adalah The Tale of Genji (2011) atau yang terbaru Youkai Sharehouse (2020). Dorama sejarah yang menceritakan peperangan/tragedi pun juga cukup menarik seperti Donten ni Warau (2018), The Great War of Archimedes (2019), Kingdom (2019), Fukushima 50 (2020), atau Taiyo no Ko (2020). Ada juga yang bertema cooking yaitu Tenno no Ryoriban (2015) yang pernah kutuliskan sebelumnya dan The Last Recipe (2017). Tapi, sejujurnya ada juga yang membosankan menurutku seperti Kurui Musashi (2020).

                Hal itu sangat berbeda dengan Indonesia yang sebagian besar dramanya bertema permasalahan keluarga dan percintaan remaja masa kini. Kalau ada drama/film bertema sejarah pun kurang menarik minat pemuda. Film sejarah yang diputar saat hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus pun itu-itu aja. Belum ada karya yang benar-benar menggugah semangat kebangsaan, atau berani berselisih dan mengoreksi pemerintah. Seperti dorama politik berjudul CHANGE! (2008) atau yang sangat fiksi seperti Ace Attorney (2012). Jadi, secara pribadi, semakin ke sini, aku tak banyak menonton karya drama/film bangsa Indonesia karena menurutku tak seru.

                Historical drama di Indonesia sebenarnya juga pernah ada, Tutur Tinular (1997-1999) dan Angling Darma (2000-2005) misalnya, atau Wiro Sableng yang bahkan remakenya ditayangkan pada tahun 2018 lalu. Ada juga drama sejarah bertema mistis yang dulu menemani masa kecilku dan sebagian episodenya pernah kutonton yaitu Misteri Gunung Merapi (1998-2005) dan Nyi Roro Kidul (2003), atau drama yang tidak pernah kutonton sama sekali yaitu Kisah Sembilan Wali (2012) dan Brama Kumbara (2013). Drama-drama tersebut memang cukup menarik, tapi apa yang tidak kusukai dari drama sejarah Indonesia adalah pakaian yang dikenakan. Berbeda dengan pakaian tradisional Jepang yang cukup tertutup, pakaian tradisional atau adat masyarakat Indonesia jaman dulu sangat terbuka, sehingga seperti itu juga lah yang ditayangkan di televisi. Hal itu menurunkan level ketertarikanku pada drama Indonesia. Kalau menurut kalian bagaimana?

Minggu, November 15, 2020

One of The Sights – Mr. Brain

 

                Salah satu genre film/drama jepang kesukaanku adalah science fiction. Berbeda dengan drama korea atau barat, sedikit sekali atau bahkan hampir tidak ada bumbu romantisme pada drama jepang khusus bertema medical, detective, law dan science yang pernah kutonton. Salah satu drama science unik yang membuatku ingin beralih bidang keilmuan yaitu drama yang ditayangkan tahun 2009 berjudul ‘Mr. Brain’. Drama ini menarik karena paduan plot cerita detektif-kepolisian dengan penyelesaian sains. Sehingga aku terinspirasi untuk menjadi kimiawan forensik dan menyelesaikan kasus di kepolisian. Akhirnya, aku mengambil mata kuliah kimia forensik dan biokimia genetik. Namun, ternyata aku tak jadi melakukan kerja praktik (tahun terakhir sarjana) di kantor polisi. Sampai saat ini pun, aku belum pernah sama sekali berpengalaman di bidang itu.

                The National Research Institute of Police Science (IPS).

Tsukumo sensei, seorang neurosaintis yang di setiap episodenya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kriminal. Tentu saja dibantu oleh saintis bidang lain yaitu image analyst, sound and voice analyst, ahli kimia, dan ahli biologi. Ia sangat menyukai pisang karena kandungan gizi yang dapat meningkatkan kerja otak. Karakternya yang unik eksentrik itu membuatnya tak disukai oleh para polisi dan saintis lain saat awal-awal pertemuan. Namun, seiring berjalan waktu mereka sangat mengandalkan Tsukumo sensei karena ia dapat memecahkan persoalan dengan baik, benar dan efektif. Selain itu, para saintis juga terpengaruh oleh kebiasaannya makan pisang di tempat kerja.

Sebenarnya, anggota IPS tidak boleh berinisiatif dan ikut melakukan penangkapan. Tapi, Tsukumo sensei selalu ingin berkomunikasi dan bertemu dengan (terduga) pelaku, korban dan saksi untuk mempelajari secara langsung (isi) otak mereka. Dengan demikian, ia akan tahu apakah orang itu berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Seringkali ia juga menggunakan alat bantu yaitu fMRI (merek APERTO Eterna-Hitachi)—yang sepertinya adalah iklan drama ini—untuk mengetahui kebenaran yang ditunjukkan oleh salah satu bagian otak yaitu hipokampus. Karena prinsipnya, mulut manusia bisa berbohong tapi tidak dengan otaknya.

Seperti plot cerita detektif pada umumnya, setiap episode drama ini mengandung satu kisah masalah sederhana dan potongan cerita dari satu masalah kompleks yang diceritakan berkesinambungan. Persoalan mengejutkan yang terjadi yaitu musuh besar kepolisian yang selama ini dicari ternyata adalah seorang polisi yang ada di dalam grup dan kantor yang sama. Keanehan ini sudah ditunjukkan sejak episode pertama, lalu dimunculkan pada episode-episode berikutnya hingga diselesaikan di episode terakhir.

sumber gambar: google


Tujuan Tsukumo menjadi seorang neurosaintis yang sebenarnya adalah untuk mempelajari otaknya sendiri. Keanehan yang terjadi di dalam otaknya itu muncul setelah ia mengalami kecelakaan lima tahun sebelum ia bergabung dengan tim saintis IPS. Ia yang dulu adalah seorang host sebuah klub malam, kini menjadi seorang yang lebih rasional, lebih cerdas, dan memiliki tujuan. Drama ini diakhiri dengan kepergiannya ke Amerika karena jurnalnya yang menarik.

Pada dasarnya, neurosaintis mengetahui kinerja dari bagian-bagian otak manusia. Sebagian mereka juga mempelajari tingkah laku dan proses berpikir seseorang. Sehingga para ahli otak dapat dengan mudah memanipulasi pikiran dan psikologis orang lain. Meskipun demikian, sampai saat ini aku belum pernah berhubungan secara langsung dengan mereka. Selain itu, peralatan keren, canggih dan sangat menakjubkan yang ditunjukkan di dalam drama ini juga sampai saat ini belum kuketahui ada atau tidaknya kecuali fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging). Aku tahu keberadaannya karena aku pernah diperiksa dengan MRI (meski sedikit berbeda), tapi terkait kegunaan fMRI untuk memeriksa ingatan pada hipokampus (terduga) pelaku belum pernah kuketahui beritanya. Sejauh ini, hingga tahun 2019, jurnal terkait neuroscience menggunakan fMRI untuk pemeriksaan pasien medial Temporal Lobe Epilepsy (mTLE), penderita emotional disorder, penderita alzheimer dan penyakit otak/emosi lainnya. Namun, sepuluh tahun telah berlalu sejak tayangan drama itu, mungkin sebagian fasilitas canggih itu sudah ada di suatu tempat (di negara maju) yang belum kita tahu.

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, November 11, 2020

One of The Sights – Kimi ni Todoke

 

                Sahabat, masih ingat tulisanku berjudul ‘Segar dan Menyegarkan’ dan ‘Sesegar Marjan’? Untuk sahabat yang belum baca, boleh lah klik kedua link itu dulu. Sejujurnya, tulisan itu terinspirasi dari salah satu film jepang yang akan kita bahas kali ini. Yap, seperti yang sudah sahabat baca di judul tulisan ini, yaitu film berjudul ‘Kimi ni Todoke’. Film ini diadaptasi dari komik dengan judul yang sama dan ditayangkan tahun 2010. Dari film itulah pertama kali kudengar kata ‘sawayaka’, yang artinya segar, menyegarkan, clear, fresh and eloquent. Kata tersebut sangat menarik buatku, karena aku baru pertama kali mendengar kata yang unik untuk mendifinisikan karakter seseorang. Selama ini mungkin di Indonesia kita sering dengar kata pintar, cerdas, kaya, pandai, elok, cantik, tampan, berkarisma, kuat, tegas, murah senyum, dan sejenisnya untuk mendefinisikan seseorang. Namun sangat jarang, barangkali juga tak pernah, sahabat mendengar kata segar dan menyegarkan untuk mendifinisikan karakter orang. Kalau definisi isi pembicaraan mungkin pernah, misalnya ‘tausiyahnya nyegerin banget’ atau ‘orang itu nyegerin kalau ngomong’.

Pada tulisan lama, kucari langsung referensi dari Qur’an. Namun kali ini, kita akan review filmnya.

Sawako (yang dipanggil Sadako oleh teman-temannya), seorang cewek pendiam berusia 16 tahun. Baginya, mengungkapkan pikiran adalah hal yang tak mudah. Sehingga hal itu membuatnya sering disalahpahami oleh teman-temannya. Ia juga ditakuti karena rambut panjang yang membuatnya mirip dengan sosok hantu sadako. Suatu hari, dalam perjalanan ke sekolah SMA untuk pertama kalinya, ia melihat seorang yang tampak kebingungan mencari jalan. Sawako membantunya karena menurutnya sosok itu dari sekolah yang sama (terlihat dari seragamnya).

Kazehaya, seorang cowok ‘sawayaka’ ini pertama kali bertemu dengan Sawako di pertigaan jalan, di bawah merah jambunya helai bunga sakura yang berterbangan. Cewek mungil itu membantunya menemukan jalan ke sekolah saat hari pertama penerimaan. (Sepertinya) Sejak saat itu, ia tertarik dan terus mengamati cewek yang unik (penampilan dan sikapnya) itu. Meskipun mereka berdua sekelas, ternyata ia tak bisa sekalipun berbicara dengan Sawako. Sampai suatu hari, ia berkesempatan untuk bicara dengan Sawako dan mereka berdua pun mulai dekat. Namun, isu buruk yang beredar membuat Sawako menjauhinya. Sawako juga menjauhi kedua (cewek) teman dekatnya. Hoaks itu dibuat oleh seorang cewek yang iri dengan kedekatan Kazehaya-Sawako.

sumber gambar: google


Sawayaka, adalah julukan yang diberikan oleh Sawako kepada Kazehaya saat ia ditanya oleh gurunya, “Bagaimana pendapatmu tentang Kazehaya?”. Sepertinya tak ada satu pun yang tahu julukan itu melainkan hanya Sawako dan gurunya. Di bagian akhir filmnya, Kazehaya akhirnya mengetahui (entah dengar atau tidak) julukan itu setelah diberitahu oleh gurunya. Saat itu sang guru memintanya untuk mengembalikan buku siswa milik Sawako yang sudah beberapa pekan hilang ‘ketlisut’ di meja guru itu. Kazehaya segera mengembalikan buku siswa itu. Ia menemui Sawako, di malam tahun baru, tepat di hari ulang tahunnya, di bawah pohon sakura tempat pertama kali mereka bertemu. Film itu pun berakhir gembira.

Karakter Kazehaya yang supel, pandai bergaul, selalu menyenangkan orang lain, wajahnya yang periang membuat Sawako kagum dengannya. Karakter yang tak bisa digambarkan hanya dengan satu kata. Karakter yang layak ditirukan oleh siapapun. Jika Sawako saja ingin menirunya, maka aku pun demikian. Sisi negatif yang ada padanya? tentu saja tak layak kita tirukan.

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, November 07, 2020

One of The Sights - Tenno no Ryoriban

 

                Sahabat sekalian yang mungkin sudah mengenaliku dari tulisan-tulisan yang kubuat, pasti tahu kalau aku hobi belajar bahasa asing, seperti bahasa jepang, korea, dan china. Tentu saja, pengaruh paling banyak berasal dari entertainment, film kah, drama kah, variety show kah dan tayangan semisalnya. Saat ini, belajar jadi lebih mudah dengan adanya platform youtube. Semua bisa ditemukan di sana. Kita pun bebas memilih guru yang cocok dengan keinginan dan gaya belajar kita. Selain bahasa, tontonan juga memberi kita pengetahuan tentang budaya, habit, hingga sejarah latar negara yang ditampilkan. Oleh karena itu, bertemakan ‘One of The Sights’, aku menuliskan insight yang kudapatkan dari hasil nonton. Agar kejahilan yang dulu kulakukan itu setidaknya bermanfaat.

                Tayangan pertama yang kita review adalah drama berjudul ‘Tenno no Ryoriban’. Seperti bisa ditebak dari judulnya, drama jepang yang tayang tahun 2015 ini menceritakan seorang chef di istana kaisar. Drama ini sangat menarik untukku karena ternyata produksinya terinspirasi dari kisah nyata. Terlebih untuk sahabat yang punya hobi nonton drama jepang, mungkin tidak akan melewatkan tayangan unik ini. Drama ini membuatku tertarik untuk mencari dan membaca kisah lengkap si tokoh utama, yang ternyata dapat dengan mudah kita cari dengan bahasa inggris.

                Tokuzo, si tokoh utama, dikisahkan sebagai seorang yang sangat inspiratif. Lahir di keluarga yang cukup berada, ia adalah anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya adalah lelaki. Karakter Tokuzo sangat unik, berbeda dengan kakaknya yang bertanggungjawab, pun berbeda dengan adeknya yang cukup dewasa, ia adalah seorang anak yang usil, tak sabaran, dan (mungkin) pengacau. Di usianya yang ke-16, ia sudah beberapa kali kabur dari pekerjaan (kegiatan) yang ia pilih sendiri. Ia tak sabar belajar, tak sabar menghadapi ujian dan selalu kabur setelah 3 bulan bekerja.

Sifatnya yang demikian membuat orangtua terutama sang ayah geram. Berkali-kali dinasehati tapi tak dihiraukan. Akhirnya, ia dinikahkan dengan seorang wanita dari keluarga kaya yang berasal dari desa sebelah. Karakter si istri yang sabar sangat cocok dengan Tokuzo yang pecicilan. Tapi, hal itu tentu saja menyakitkan, karena akhirnya si istri lebih banyak mengalah. Orangtua si istri tentu saja tidak diam melihat anaknya diacuhkan. Sang ayah akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah orangtua Tokuzo untuk memintakan cerai karena selain mengacuhkan istrinya, ia juga tidak serius menjadi kurir dan marketer usaha keluarga. Terlebih saat diketahui, ternyata ia diam-diam belajar memasak di kamp militer (salah satu pelanggan tetap) selama berbulan-bulan dengan dalih melakukan penawaran dagangan keliling.

sumber gambar: google


                Keinginannya menjadi juru masak ternyata sangat membuncah sehingga membuatnya ingin pergi ke Tokyo untuk belajar dari guru utama.  Tapi tentu saja, sang ayah tidak menghiraukan keinginan tersebut, karena mungkin itu adalah ambisi sementara seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Singkat cerita, Tokuzo akhirnya belajar di suatu restoran terkenal di Tokyo dan mengalami beberapa persoalan. Meskipun demikian, ternyata ia tak mudah menyerah, karakternya cukup mengalami perubahan. Ketekunannya belajar dari dua tempat yang berbeda, ternyata malah memberi masalah besar untuknya.

                Hingga suatu hari, setelah semua permasalahan di Tokyo selesai, ia nekat belajar ke tempat yang lebih jauh. Paris, pusat resep ternikmat dari juru masak terbaik. Akhirnya, dengan segala keteguhannya untuk belajar dan segala kesabarannya menghadapi masalah, ia berhasil menjadi koki ‘Escoffier’ dari Jepang. Kemudian ia kembali ke jepang dan diminta menjadi kepala chef di dapur istana kaisar. Tokuzo, tentu saja menerima tawaran itu. Ia akhirnya menjadi seseorang yang ia impikan, yaitu juru masak nomer satu di Jepang. Ia berhasil menaklukkan ego dan habit buruknya, hingga ia mendapatkan kepercayaan di usianya yang ke-25 sampai ke-83, sejak tahun 1913 (masa kekaisaran Taisho) sampai 1972 (masa pertengahan kekaisaran Showa).

                Sahabat, suksesnya seorang pemuda di usia 20-an ternyata bukan hal yang mengejutkan. Jauh sebelum kisah ini terjadi, pada zaman Rosulullah pun demikian. Meskipun Rosulullah diangkat menjadi Nabi pada usianya ke-40, tetapi kegemilangan beliau saat muda dan para sahabat muda lainnya juga banyak dikisahkan. Azzam yang kuat, niat yang baik dan usaha yang keras tentu saja menjadi beberapa faktor penentu keberhasilan. Sahabat, selamat berjuang dan sampai jumpa di kisah-kisah selanjutnya~

follow me @qhimahatthoyyib

Senin, September 24, 2018

SELINGAN 4 : Tokoh Utama Tak Selalu Sempurna Kemenangannya



                Selain korean variety show atau japanese dorama, genre tontonan favoritku adalah action-science fiction movie terutama dari mancanegara seperti mission impossible dan kawan-kawan yang berasal dari Barat, maupun oolong courtyard dan leluhurnya yang berasal dari China, hingga jelmaan (adaptasi) anime seperti Tokyo ghoul, Jojo’s bizarre adventure dan sejenisnya yang berasal dari Jepang.
                Movie yang baru saja kutonton akhir-akhir ini tak kalah menarik dari movie lainnya. Selain adegan, grafis, dan aktor-aktris yang bagus, movie ini memiliki alur cerita dan pelajaran tersendiri bagiku. Judulnya adalah Bleach, salah satu movie jelmaan anime dengan judul yang sama. Meski tak menggemari animenya, movie ini memberi kesan tersendiri bagiku. Selain itu, movie berjudul Reborn (2018) juga memiliki benang merah yang sama. Kedua film tersebut sangat kurekomendasikan bagi sahabat yang juga mempunyai genre film favorit yang sama dengaku.
                Aku menonton dua movie tersebut di RS (rumah sakit), sehari sebelum dan setelah menjalani operasi telinga revisi CWD(s) pada 21 september lalu. Akan kujelaskan satu per satu mengapa aku menganggap dua film tersebut memberi pelajaran yang sama menurutku. Pertama, Reborn mengisahkan para hacker yang pada akhir cerita diketahui adalah agen rahasia suatu negara berhasil menggagalkan rencana pengacakan aplikasi terbaru oleh seorang pengusaha IT terkenal di Asia yang juga mantan hacker. Kedua, Bleach berkisah tentang seorang manusia yang berubah menjadi soul reaper (shinigami) setelah bertemu shinigami wanita yang berusaha menyelamatkannya dari Hollow pemakan nyawa.
Setelah membandingkan inti kedua kisah tersebut, seolah memang tak berkaitan satu dengan lainnya. Tetapi pada akhir kisah, film Reborn menceritakan bahwa meskipun berhasil menggagalkan misi jahat sang pengusaha, namun si hacker tokoh utama kehilangan rekan kerja wanita yang juga adalah soulmatenya. Selanjutnya pada film Bleach, manusia tokoh utama tersebut telah kehilangan ibu di masa kecilnya, selain itu sebagai seorang anak lelaki tertua dia tidak berhasil melindungi siapapun. Menurutnya, hanya dirinya yang selalu mendapatkan perlindungan.
Dari akhir kedua kisah tersebut, meskipun si tokoh utama berhasil mengalahkan lawannya, namun ia harus rela kehilangan orang yang dicintainya. Apakah itu orang tua, saudara, pasangan, selalu ada hal yang dikorbankan oleh tokoh utama untuk mencapai keberhasilannya. Sampai-sampai mereka menganggap keberhasilan itu didedikasikan untuk yang telah tiada atau menganggap keberhasilan itu adalah keberuntungan semata.
Sesungguhnya pelajaran hidup seperti ini dapat diperoleh dari mana saja, dari film apapun, dari kisah siapapun. Tetapi jika kita tidak cermat mengambil pelajaran dari suatu kisah dan melewatkannya begitu saja, lalu untuk apakah akal pikiran kita gunakan. Sahabat, tokoh utama bukanlah seorang yang sempurna kebahagiannya. Tokoh utama bukan pula orang yang selalu menang dalam hidupnya. Tokoh utama juga tak selalu happy ending kisahnya. Sahabat, kitalah tokoh utama dari kisah hidup kita masing-masing, dengan Allah sebagai sutradara dan malaikat sebagai kru-kru lainnya. Oleh karena itu, jalani saja hidup ini semaumu, semampumu, seolah kau hidup selamanya. Namun jangan lupakan ibadahmu seolah esok kau tiada.
Sahabat, aku menulis ini beberapa jam pulang ke rumah setelah opname pasca operasi. Aku masih tak percaya aku bisa membuka mataku kembali setelah beberapa jam terbius tiga hari lalu. Aku bersyukur ternyata Allah masih memberikan kepercayaan padaku untuk melanjutkan jalan hidup. Kisah-kisahku tentang rumah sakit akan kutuliskan pada lembar berikutnya. Nantikan ya~

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Desember 20, 2017

Allah Berpuisi melalui Al Qur'an

Pada bulan penghujung tahun 2017 ini, saya menonton dua film Jepang bertema permainan karuta. Pertama, Detective Conan the Movie 21th berjudul Crimson Love Letter, kedua yaitu film berjudul Chihayafuru Kami no Ku yang mempunyai dua part film, dan akan ada part ketiga. Karuta, adalah permainan kartu berisi puisi yang telah ditulis oleh sastrawan Jepang sejak ratusan tahun lalu. Keterangan lebih lengkap tentang karuta bisa sahabat cek di berbagai website berbahasa Inggris atau Jepang. Dua film tersebut berhasil mengembalikan sense seni pada diriku yang telah beberapa bulan (atau tahun) padam. Buktinya bisa sahabat lihat, akhirnya aku mulai menulis dan menggambar lagi :)

model bulan ini, sori ukuran anggota badan pada gambar tidak proporsional. maklum baru mulai gambar lagi :D

Selain menulis dan menggambar, ada satu hal lagi yang baru saja kulakukan yaitu mempelajari puisi-puisi dalam 100 kartu karuta. Meski belum serius mempelajari bahasa Jepang dan bahasa asing lainnya selain bahasa Inggris dan Arab, karuta yang kupelajari pada akhirnya melalui terjemah bahasa Inggrisnya. Tetapi aku yakin bahwa keindahan kata-kata terjemahan tersebut tidak seindah bila dibandingkan dengan bahasa asalnya yaitu nihongo/bahasa Jepang. Hal tersebut karena susunan kata pada puisi dalam bahasa asalnya memiliki makna yang tidak dapat dipahami oleh orang asing seperti aku atau sahabat (asal Indonesia). Sama halnya dengan puisi asal Indonesia dari sastrawan terkemuka, keindahan kata-kata pada puisi tersebut, mulai dari susunan, perumpamaan, dan sajaknya tidak akan mudah dipahami oleh orang asing.
Sejak berada di tingkat SDI (Sekolah Dasar Islam), aku telah terpesona pada puisi dan berbagai seni lainnya. Hal itu mungkin saja karena sejak kecil orang tua sudah membuatku berada di lingkungan tersebut, mulai dari tersedianya koleksi berbagai buku puisi oleh sastrawan Indonesia di rumah, diiikutsertakan belajar khusus menggambar dan melukis, serta belajar seni membaca al-Qur’an yang berimbas pada seni suara, bahkan juga diikutsertakan belajar seni bela diri khususnya pencak silat perguruan pagar nusa. Sehingga sampai saat ini pun, kegembiraan yang kurasakan ketika bertatap muka dengan kesenian masih saja membuncah dan meletup-letup. Meskipun saat ini duniaku bukan lagi dunia seni murni, tetapi Alhamdulillah berbagai ilmu seni yang telah kupelajari dapat membuatku berkembang pada disiplin ilmuku sekarang. Memang benar perkataan Allah pada al-Qur’an surat Fatir ayat 2 yang artinya:
"Whatever Allah grants to people of mercy - none can withhold it; and whatever He withholds - none can release it thereafter. And He is the Exalted in Might, the Wise".
Mudah-mudahan kita semua termasuk golongan yang diberi Rahmat oleh Allah dan senantiasa berada dalam petunjuk Allah.
Berbicara tentang seni, salah satu pelajaran seni yang telah kusebutkan adalah seni membaca al-Qur’an. Seni tersebut membuatku semakin jatuh cinta pada puisi dan al-Qur’an. Mungkin sahabat bertanya "Bagaimana bisa puisi dan al-Qur’an memiliki keterkaitan?", tetapi kenyataannya memang demikian. Seperti sahabat semua ketahui bahwa al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang kekal sepanjang zaman. Selain itu, al-Qur’an menjadi keren karena memiliki gaya bahasa yang indah. Bahkan para sastrawan arab saat itu (hingga kini) mengakui ketinggian tingkat gaya bahasa pada al-Qur’an. Sehingga al-Qur’an tidak akan tertandingi keindahannya sampai kapanpun, jaman apapun dan oleh siapapun. Demikian itu hanyalah Allah yang dapat membuatnya. Allah telah berpuisi melalui al-Qur’an yang diturunkannya kepada Muhammad SAW (sehingga sampai pada kita). Hal ini menjadi bukti bahwa Allah mencintai seni yang tidak lain juga mencintai keindahan. Selain itu juga merupakan bukti bahwa kesenian adalah bagian dari agama Islam. Maka dari itu, seni yang kita pelajari atau kita lakukan harus berkoridorkan syari’at Islam. Apakah bukti yang demikian itu tidak menggoyahkan hati kita semua untuk mencintai puisi-puisi, surat cinta, dan cerita dari Allah dalam al-Qur’an?
Sahabat, apabila tidak atau belum timbul perasaan cinta kita terhadap al-Qur’an mungkin karena kita tidak dapat memahami di mana letak keindahan gaya bahasa tersebut karena bahasa arab adalah bahasa asing bagi kita (Indonesian). Seperti saya sebutkan pada paragraf sebelumnya bahwa terkadang orang asing tidak paham keindahan puisi yang berasal dari negara berbeda dengannya. Namun, salah satu hal yang mendasari kecintaan kita kepada puisi adalah rasa percaya terhadap sejarah panjang di balik munculnya puisi tersebut. Begitu pula dengan al-Qur’an, bahwasannya kecintaan kita timbul bukan hanya karena segi bahasa melainkan adalah keimanan yang kita miliki di dalam hati. Kepercayaan kita terhadap nasehat, cerita, dan penjelasan dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang terdapat di dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, menyempatkan diri untuk membaca al-Qur’an terus menerus (setiap hari, setiap waktu) terlebih dengan suara lembut dan nada yang indah, membiasakan diri berinteraksi dengan al-Qur’an juga dengan orang-orang yang mencintai al-Qur’an merupakan beberapa cara yang dapat kita gunakan untuk menimbulkan rasa cinta dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah dan al-Qur’an.
Wallahu a’lam, semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu dekat dengan al-Qur’an. Tidak hanya ketika kita mendapat ujian dan kesedihan tetapi juga ketika kita mendapat kesenangan dan karunia. Sesungguhnya apa yang terjadi pada diri kita, selain takdir dari Allah, juga merupakan hasil dari perbuatan kita. Amin ya robbal ‘alamin.

follow me @qhimahatthoyyib

Kamis, Februari 23, 2017

Everything Happened by Reasons



                Kawan-kawan yang berkecimpung dalam bidang kimia atau seorang kimiawan, sudah pasti bisa memaknai kalimat yang kutulis menjadi judul tersebut. Yes, Everything happened by reasons. Semua reaksi kimia yang dapat berlangsung secara spontan pasti ada sebab mengapa hal tersebut bisa terjadi. Entah itu dari struktur senyawa maupun kondisi lingkungan. Begitu pula apa yang terjadi pada jalur kehidupan kita. Ibarat proses yang terjadi dalam reaksi suatu senyawa organik pada tumbuhan, setiap manusia juga memiliki jalur biosynthesis kehidupannya masing-masing. Hal inilah yang kemudian disebut takdir, bila semua hal tersebut sudah terjadi. Jika belum terjadi? Tentu saja kita bisa merencanakan apa yang kita inginkan. Namun hasilnya? Serahkan saja pada Yang Mempunyai Kekuasaan.
                Oke, kembali kepada apa yang ingin saya ceritakan di sini. Siang ini I’ve planned to go to campus sekitar pukul 11.00. So, after I had a little meeting dengan atasan di tempat (yang bisa dibilang) kerja then I am going to look for lunch. Entah mengapa tiba-tiba aku tidak tahu apa yang ingin kumakan. Semua warung, café, resto, terasa sama, terasa membosankan. Padahal kemarin ketika berpuasa aku menginginkan segala hal masuk ke dalam mulutku. Jadilah aku mengendarai motorku carefully and slowly, barangkali tetiba ada warung yang menarik hati. Tanpa kusangka, di persimpangan 5 jalan tiba-tiba terpikirkan untuk menuju ke salah satu arah dan menentukan warung makan mana yang akan kutuju. Sebuah tempat makan yang sudah agak lama belum kudatangi.  Yeah, finally I ended up there and had lunch happily.
                Minutes later, I’ve to go to campus but happened saw a little woman with her bicycle stopped few meters in front of me like she had a problem with it. She is look so sad and I don’t know why I want to help her. Because I feel that few months ago I can’t really help someone like I done before. Ternyata rantai sepedanya lepas, dan karena kulihat ia masih muda serta tidak berpengalaman, so I finally ended up help her. And yeah, it works. Everything went smoothly with my helping. Alhamdulillah, she could continue her steps to her campus. Kampusnya berbeda denganku, aku juga sudah mengira sebelumnya but wow, finally I know someone who’s studying there. We talked a bit, then she leave me and me too continuing my driving after that. But wait, I don’t even ask her name or her number, lol :v
                Jadi, dari pengalaman tersebut kita bisa simpulkan bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semuanya terencana seperti ada sesuatu yang menjalankan kita seperti boneka kayu dengan benang. Sehingga ketika ada salah satu bagian yang rusak pada diri, barang atau hal-hal di sekitar kita, maka pun juga ada penyebabnya. Semoga dengan tulisan ini, kita bisa teringat kembali pada hal-hal baik maupun buruk yang terjadi pada diri kita dan kita menyadari serta bisa mengetahui penyebabnya agar kita bisa memperbaikinya untuk masa yang akan datang. InsyaAllah di dalam Al-Qur'an juga ada yang disebutkan, namun saya belum sempat mencarinya. Sorry~

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Juni 19, 2015

(Day 3) SESEGAR MARJAN


Assalamu’alaikum, sahabat J kabar baik kah iman kita hari ini? Semoga kita menjadi manusia yang semakin hari semakin menjadi baik dan selalu dalam lindungan Allah serta berada di jalan-Nya amiinn. Sahabat senja, tulisan saya kali ini berhubungan dengan tulisan dua tahun lalu yang berjudul Segar dan Menyegarkan. Yap, dengan isi yang tidak jauh berbeda saya membicarakan hal paling dasar dalam adab pergaulan yaitu ‘senyum’ yang merupakan wujud dari raut muka alias mimik wajah.
Penting bagi saya untuk mempelajari hal ini sebagai wujud dari rasa syukur terhadap nama yang telah diberikan oleh orang tua kepada saya. Sebuah nama indah yang memiliki arti PENYEJUK MATA. Bahkan nama ini disebutkan dua kali di dalam Al-Qur’an serta menjadi doa terbaik yang diucapkan para Rosul. Selain berarti demikian, nama QURROTA A’YUN juga merupakan nama dari salah satu Bidadari di Surga. Cukup menarik dan menakjubkan untuk di bahas bukan? :D
Tulisan ini akan saya awali dengan kisah salah seorang “menyegarkan” kedua yang akhirnya kali ini dapat kutemukan setelah dua tahun lalu “si segar” pertama telah pergi. Definisi ‘menyegarkan’ untukku adalah dia selalu ceria, terlihat seperti tidak punya beban dan selalu tersenyum kepada siapapun dan dimanapun berada. Bukan berarti ia senyam-senyum sendiri di tengah jalan, tapi ia adalah sesorang yang selalu ceria ketika kau temui. Begitulah~
Aku paham bahwasannya setiap orang tidak mungkin tidak mempunyai beban hidup. Aku yakin bahwasannya Allah pasti menguji setiap hamba-Nya yang mengaku beriman. Allah tahu berapa kapasitas dan kemampuan sesorang menerima beban hingga akhirnya Allah pulalah yang berhak menentukan berapa beban yang harus ditanggung oleh kedua pundak seseorang tersebut. Tapi setiap manusia berhak dan mempunyai caranya sendiri untuk  bertahan hidup. Setiap muslim hendaknya tahu bagaimana cara memperlakukan hidup karena telah mempunyai tujuan hidup yang pasti. Tujuan yang dituliskan dalam Kitabullah yaitu ‘mengabdi’ kepada Allah.
Sekilas kisah tersebut, mengingatkanku pada salah satu hadits Rosulullah yang artinya “Senyum terhadap wajah saudaramu adalah Shodaqoh”. Lalu apa hubungan antara kisah yang kutuliskan dengan hadits tersebut serta tulisan yang berjudul Marjan? Apakah Sahabat senja memahami arti dari kata Marjan yang kutuliskan pada judul ini? Sahabat jangan sampai salah mengira mengenai Marjan (salah satu nama sirup terkemuka di Indonesia). Sesungguhnya Marjan yang ingin saya tuliskan adalah salah satu perkataan Allah yang telah dituliskan dalam Kitab Suci-Nya pada surat Ar-Rahman ayat ke-58. Di dalam ayat tersebut kalimat Marjan adalah nama sebuah permata yang amat sangat bening.
Sebelum menelaah ayat ke-58 saya menyarankan kepada sahabat semua untuk melihat ayat-ayat sebelumnya. Di dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwasannya inti daripada sebab musabbab diturunkannya surat Ar-Rahman adalah akibat ketakutan Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. terhadap hari perhitungan amal. Kemudian Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang takut dengan adanya dua surga yang diceritakan pada surat tersebut. Sebagaimana telah saya singgung sebelumnya bahwa tersenyum kepada saudara seiman sesama muslim adalah anjuran dari Rosulullah. Maka demikian, dengan tulisan ini saya mengingatkan kepada diri sendiri terlebih untuk selalu tersenyum dan hidup seperti permata yang bening. Yap, hidup tersenyum sesegar permata Marjan dan menjadi penyejuk mata yang sebenarnya. Ganbarimasu~

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Januari 15, 2013

POKER FACE


Assalamu’alaikum..
Sahabat senja, ada yang tau permainan poker? Atau malah sahabat sekalian pernah memainkannya? Kalau saya tahu permainan poker tapi jujur saja tak pernah memainkannya. Pengertian yang saya dapatkan dari Wikipedia seperti berikut, Poker adalah permainan kartu keluarga yang berbagi taruhan. Permainan Poker berbeda dalam hal bagaimana kartu dibagikan, bagaimana tangan dapat terbentuk, apakah tangan tinggi atau rendah memenangkan taruhan (Dalam beberapa permainan, taruhan dibagi antara tangan tinggi dan rendah), batas taruhan dan bagaimana banyak putaran pertaruhan diperbolehkan.
Pada permainan poker yang paling modern, putaran pertama pertaruhan dimulai dengan beberapa bentuk kontrak paksa. Aksi kemudian hasil ke kiri. Setiap pemain pada gilirannya harus sesuai dengan taruhan sebelumnya (maksimum atau lipat), kehilangan jumlah taruhan sejauh ini dan semua bunga lebih lanjut di tangan. Seorang pemain yang cocok dengan taruhan juga dapat meningkatkan, meningkatkan taruhan. Babak taruhan berakhir ketika semua pemain telah cocok dengan taruhan terakhir atau lipat. Jika semua, kecuali satu pemain kali lipat pada setiap putaran, pemain yang tersisa mengumpulkan taruhannya dan dapat memilih untuk menampilkan atau menyembunyikan tangan mereka. Jika lebih dari satu pemain tetap di pertarungan setelah ronde pertaruhan final, tangan akan ditampilkan dan tangan memenangkan mengambil taruhannya.

Hmm ternyata ribet juga, entahlah pokoknya intinya tentang permainan kartu dan saling mempertaruhkan sesuatu. Permainan ini salah satunya dipraktekkan secuplik saja dalam anime Kaito Kid episode 1. Dari cuplikan tersebut ada satu kalimat dari Kuroba Touichi (ayah Kuroba Kaito) pemeran Kaitou Kid yang cukup mengena juga untuk saya, kalimat itu adalah POKER FACE. Menurut Kuroba Touichi Poker Face berarti mimik wajah yang harus ditunjukkan saat bermain poker, maksudnya para pemain poker yang handal tidak boleh menunjukkan mimik wajah sebenarnya sesuai suasana hati atau kartu yang telah didapatkannya. Jadi dalam bermain poker kita tidak boleh senang saat mendapat kartu bagus dan tidak boleh terlihat sedih saat mendapat kartu yang jelek agar kartu dan permainan kita tidak terlihat oleh lawan kita. Hal ini juga berlaku untuk para pemain sulap, meski trik-nya dikalkulasi tidak akan berhasil namun pesulap tidak boleh menunjukkan mimik sedihnya agar penonton tidak kecewa dengan pertunjukkannya. Ringkasnya, POKER FACE adalah wajah datar (tidak senang dan tidak sedih).
Nah, begitulah sekilas tentang poker face. Sahabat, menurut saya sangat baik jika pada saat-saat tertentu kita menggunakan trik POKER FACE ini tentunya pada saat yang benar-benar diperlukan. Menurut saya tidak baik jika POKER FACE ini diaplikasikan pada keseharian kita karena kita adalah manusia yang notabene senang sekali mengekspresikan diri. Sarana ekspresi diri ini salah satunya adalah ekspresi mimik wajah. Dengan mengekspresikan diri, hati kita akan menjadi lega dan rasanya sangat plong. Namun ada saat-saat tertentu ekspresi itu tidak boleh dikeluarkan, antara lain saat kita marah karena ekspresi marah akan berdampak buruk pada diri sendiri dan juga orang lain. Selain ekspresi marah, kalau menurut saya sah-sah saja diekspresikan misalkan ekspresi senang (tertawa), sedih (menangis) namun tidak dalam jumlah berlebih-lebihan atau sekarang disebut 4L4Y (baca: alay). Jadi yang terpenting dalam mengekspresikan diri adalah tidak boleh mengganggu hak orang lain, tidak boleh merugikan diri sendiri terutama orang lain. Maka EKSPRESIKAN DIRIMU PADA HAL-HAL POSITIF DAN BERMANFAAT UNTUK AKU, KITA DAN SEMUANYA ^_^


follow me @qhimahatthoyyib