Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 14, 2021

Miskin Boleh, Tapi Bodoh Jangan

 

                Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan sekaligus pencabutan yang dicabutnya dari para manusia, tetapi Allah mencabut ruhnya -wafatnya- para alim ulama, sehingga apabila tidak ditinggalkannya lagi seorang alim pun -di dunia ini-, maka orang-orang banyak akan mengangkat para pemimpin -atau kepala-kepala pemerintahan- yang bodoh-bodoh. Mereka -para pemimpin dan kepala pemerintahan- itu ditanya, lalu memberikan keterangan fatwa tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka akhirnya mereka itu semuanya sesat dan menyesatkan -orang lain-." (Muttafaq 'alaih)

                Hadits di atas memberi pengetahuan pada kita bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang istimewa dalam islam. Hingga hari ini, kesedihan akan kehilangan para tokoh dan cendekiawan ternyata masih berlanjut. Belum lagi, semakin banyak anak-anak yang tetiba menjadi yatim/piatu bahkan yatim piatu menjelang hari anak nasional. Tak dipungkiri, orang-orang pasti mengkhawatirkan nasib anak-anak tersebut. Terlebih berkaitan dengan pembiayaan hidup mereka. Namun, sebagai seorang muslim seharusnya kita yakin bahwa Allah telah menyiapkan rejeki-Nya untuk mereka.

                Bertambahnya jumlah anak yatim/piatu berarti bertambah pula ladang amal untuk orang-orang beriman. Banyak ayat di dalam Al Qur’an dan hadits Rosulullah yang menyatakan keutamaan berbuat baik dan memuliakan anak yatim dan fakir miskin. Di surat al Baqoroh ayat 177 misalnya, atau an Nisa ayat 36, atau al Insan ayat 8. Berikut beberapa hadits yang berkaitan:

  • ·         Dari Sahl bin Sa'ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu." (Riwayat Bukhari) Kafilul yatim ialah orang yang menanggung segala perkara yang diperlukan oleh anak yatim -baik makan, minum, kediaman, pakaian dan pendidikannya, juga lain-lainnya pula.
  • ·         Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pemelihara anak yatim, baik miliknya sendiri atau milik lainnya, saya -Nabi s.a.w.- dan ia adalah seperti kedua jari ini di dalam syurga." Yang merawikan hadits ini yakni Malik bin Anas mengisyaratkan dengan menggunakan jari telunjuk serta jari tengahnya. (Riwayat Muslim) Sabda Nabi s.a.w. Alyatim iahu au lighairihi, artinya ialah yang masih termasuk keluarganya atau yang termasuk orang lain. Yang masih keluarganya seperti anak yatim yang dipelihara oleh ibunya, neneknya, saudaranya atau lain-lainnya orang yang masih ada kekeluargaan dengannya. Wallahu a'lam.
  • ·         Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat. (HR. Ath-Thabrani)

Seperti yang teman-teman baca, di dalam ayat-ayat tersebut, Allah menyebutkan suatu kondisi yatim dan fakir miskin, yang artinya dapat kita telaah bahwa hal itu sunnatullah pasti terjadi. Bahwa anak yatim dan utamanya keberadaan kemiskinan (akan materi duniawi) adalah suatu kejadian yang tidak dapat kita hilangkan 100%. Oleh karena itu, dapat kita ambil pelajaran bahwa miskin (secara materi) bukanlah suatu kondisi yang memalukan. Namun, seperti disebutkan dalam hadits berikut, kemisikinan (hati dan jiwa) adalah sumber segala keburukan.

“Hampir saja kemiskinan (kemiskinan jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)”

Jadi, sesuatu yang seharusnya kita hindari adalah terus berada dalam kebodohan.



                Merasa bodoh dan terus haus akan ilmu adalah keharusan. Tapi terus berada dalam kebodohan (dalam definisi apapun) adalah awal mula kehancuran.

  • ·         "Berilah pengampunan, perintahlah kebaikan dan janganlah engkau menghiraukan kepada tindakan orang-orang yang bodoh." (al-A'raf: 199)
  • ·         Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  • ·         Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)
  • ·         Sesungguhnya Allah membenci orang yang berhati kasar (kejam dan keras), sombong, angkuh, bersuara keras di pasar-pasar (tempat umum) pada malam hari serupa bangkai dan pada siang hari serupa keledai, mengetahui urusan-urusan dunia tetapi jahil (bodoh dan tidak mengetahui) urusan akhirat. (HR. Ahmad)
  • ·         Dari Ummul Mu'minin Ummu Salamah dan namanya sendiri adalah Hindun binti Abu Umayyah yaitu Hudzaifah al-Makhzumiyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu apabila keluar dari rumahnya, bersabda -yang artinya: "Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu kalau-kalau saya sampai tersesat atau disesatkan, tergelincir -dari kebenaran- atau digelincirkan, menganiaya atau dianiaya, menjadi bodoh -tidak mengerti sesuatu- ataupun dianggap bodoh oleh orang lain atas diriku." Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan lain-lainnya dengan sanad-sanad yang shahih. Tirmidzi berkata bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Hadits di atas adalah menurut lafaznya Imam Abu Dawud.

Minggu, Maret 07, 2021

Atas Nama Leluhur dan Nenek Moyang

 


                Berkaitan dengan judul ini, dua tulisanku sebelumnya berjudul Salah Taat Kepada Orang Tua dan (Day6) Menasihati Nenek Moyang membahas tema yang sama. Lagi-lagi ada yang perlu kita bahas berkaitan dengan hal ini. Kejadian cukup luar biasa terjadi dalam dua pekan ini, yaitu adanya peraturan presiden yang dikeluarkan berkaitan dengan investasi pada minuman beralkohol. Karena banyaknya penolakan dari berbagai kalangan (yang sebagian besar adalah organisasi Islam), alhasil lampiran ketiga perpres tersebut dibatalkan (kata berita sih begitu).



Selain penolakan, sebenarnya banyak juga netizen yang mendukung peraturan tersebut, berikut alasan-alasan yang populer dari mereka, yang saya lansir dari berbagai sumber:

1.          Ada cukup banyak minuman beralkohol (minol) produk lokal yang merupakan warisan leluhur.

2.  Minol, selain untuk menghangatkan diri juga dipakai dalam peribadatan umat tertentu, untuk mendekatkan diri pada sang Kuasa.

3.     Minol adalah produk kekreatifan akal manusia untuk menikmati dan menghargai sumber daya alam.

4.     Minol juga alat untuk mengakrabkan diri dengan orang lain.

5.   Minol produksi Indonesia perlu dikenal seluruh dunia. Bukankah akan menghasilkan banyak pemasukan jika banyak ekspor minol berkualitas?

6.      Minol punya banyak manfaat, tapi mengapa hanya efek ‘kekerasan’ saja yang ditekankan? Seolah-olah begitu minum, sudah pasti terjadi kekerasan.

7.       Orang yang gak boleh minum, ya gak usah minum lah. Gitu aja kok repot.

Semua alasan tersebut sepertinya cukup masuk akal. Dalam Al Qur’an surat al Baqoroh ayat 219 pun juga disampaikan bahwa khamr (minol) punya manfaat, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Sebagai muslim tentu saja kita hanya bisa taat pada sang pencipta. Selain itu juga perlu kita sampaikan (dakwahkan) ayat ini ke seluruh penjuru dunia. Tapi bukan itu fokus kita pada tulisan ini.

Alasan paling kuat yang cocok untuk tabiat masyarakat Indonesia adalah minol dilestarikan atas nama leluhur dan nenek moyang. Mereka beritikad baik untuk melestarikan budaya yang telah diwariskan turun temurun. Sayangnya, hal ini juga  tertolak di dalam Islam. Memang kita dianjurkan berbuat baik pada orang tua, meskipun mereka bukan seorang muslim. Tapi, Al Qur’an diturunkan untuk memberi peringatan kepada kaum yang nenek moyangnya (atau bapak-bapaknya) belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Ini disebutkan dalam surat Yasin ayat 6. Jadi, tradisi leluhur dan nenek moyang yang tidak sesuai dengan syariat sudah jelas harus dihentikan. Selain itu, manusia memang diciptakan dengan akal yang dapat digunakan untuk berpikir dan berkreasi sekreatif mungkin, namun tentu saja ada batasan yang harus dijaga karena bagaimanapun ia diciptakan oleh zat yang Maha Sempurna. Wallahu A’lam.

Jumat, November 13, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 4

 

                Di tengah kebahagiaan kaum muslim menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW., menyiapkan perayaan dan acara-acara kemaulidan Rosulullah, saat itu terjadilah suatu hal yang tak diinginkan. Hal itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, hal yang memunculkan kemarahan di hati muslimin muslimat sekalian. Ya, di sebuah negara yang berada jauh di ujung eropa, negara yang dijuluki dengan negeri mode dan fashion, negara yang ‘katanya’ menganut asas kebebasan, terjadi (untuk ke-sekian kalinya) suatu hal yang sangat mengecewakan.

                Beramai-ramai umat Islam di seluruh dunia (kembali) bersatu. Melawan balik dengan mengecam perbuatan buruk itu, memboikot produk negara itu, dan menjadikan kasus itu sebagai bahan pelajaran pada kajian maulid Nabi, serta meningkatkan kecintaan muslimin muslimat pada Rosul SAW. Hingga hari ini, kasus itu masih diperbincangkan sebagian kalangan. Sebagian yang lain, sudah disibukkan dengan persiapan dan perayaan pilkada (pemilihan kepala daerah) serentak.

                Hikmah selalu ada pada setiap kejadian. Baik atau buruk pun demikian.

                Tanggal 25 Oktober 2020. Alhamdulillah, akhirnya aku menyandang gelar master setelah sekian puluh purnama kulewati. Berharap ilmu ini bermanfaat untuk diriku sendiri, untuk umat islam  dan untuk bangsa ini. Berharap ilmu ini menjadi berkah untuk siapapun. Berharap hal ini memberi kebahagiaan pada siapapun, terutama para dosen dan orangtuaku yang tak henti-hentinya mendoakan dan membersamai perjuanganku selama ini.

                Lulus sarjana dan lulus master, pun nanti jika lulus doktor, tak berarti perjuangan telah berakhir. Justru saat itulah, kisah petualangan yang baru akan dimulai. Roda kembali berputar, sukses dan gagal kembali dipergulirkan, langkah-langkah pun harus terus dipertimbangkan dan belajar dari masa lalu sudah pasti adalah hal yang harus dilakukan. Selamat dan sukses sahabat seperjuangan. Siapapun kalian yang tengah berjuang, bangkitlah dan jangan mengalah dengan keadaan. Karena keterpurukan hanyalah buah dari prasangka dan pikiran, begitupun dengan kegemilangan.

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Februari 22, 2019

COUPLE TIME: Persiapan Satu-Komunikasi



                Saat perjalanan pulang kami (DIY-Sby) dari family trip YP SDM IPTEK beberapa pekan lalu, tiba-tiba kami berada dalam suatu pembahasan pernikahan. Padahal saat itu bukan hari sabtu malam yang katanya hari galau, melainkan hari ahad malam. Kurang lebih dua jam yaitu 21.30 sampai 23.30 WIB, kami membahas seputar pernikahan. Lebih tepatnya, kajian pranikah dari senior kami saat itu yang sudah menikah. Beliau bersama suami dan anaknya semobil dengan kami malam itu. Aku hanya mendengarkan dari jok paling belakang dan sesekali menyahut jika dipanggil, karena sebetulnya kajian itu ditujukan pada dua pria di jok depan dan si supir yang sedang mengalami masa-masa tergalaunya. Dari sekian banyak kajian dan seminar pranikah termasuk pembahasan malam itu, persiapan utama yang harus dilakukan (menurutku) adalah komunikasi dengan orang tua.
                Komunikasi dengan orang tua sangat-sangat perlu dilakukan dari awal sejak kita merasa butuh dengan adanya pendamping. Pun sebaliknya, jika orang tua yang sudah mendesak kita agar segera memiliki pasangan sedangkan kita belum merasa butuh, maka komunikasi sangat penting dilakukan. Kita juga perlu tahu keinginan orangtua. Kriteria pasangan seperti pekerjaan pasangan, asal daerah pasangan, level pendidikan, pengetahuan agama, dan level sosial pasangan adalah hal biasa yang orangtua inginkan. Hal-hal demikian akan membuat kita jelas dan mudah untuk menyampaikan alasan jika pilihan kita berbeda dengan keinginan orang tua. Dalam beberapa kasus, orangtua menolak calon pasangan si anak karena tiba-tiba datang tanpa obrolan terlebih dahulu. Hal inilah yang perlu kita hindari.
                Persiapan demikian pasti sudah banyak kawan-kawan baca dan dengarkan dari berbagai kajian pranikah. Namun bagi sebagian orang, hal itulah yang paling sulit dilakukan karena berbagai alasan. Faktor kedekatan adalah salah satu alasan utama komunikasi antar dua orang sulit dilakukan. Atau bisa jadi sama sekali tidak ada yang mengawali pembahasan seputar pernikahan antara kita dan orang tua. Orang tuanya santai, kitapun santai. Tapi isi hati orang siapa yang tahu, bisa jadi sikap santai orang tua itu karena melihat kita enjoy-enjoy saja dalam bekerja, atau masih senang-senang saja menjalani hidup sendiri saat ini. Padahal usia si anak sudah matang secara fisik, secara mental pun juga materi.
                Dalam hal ini, si anak lah yang dapat mengawali pembicaraan. Perlu keberanian lebih untuk membahas hal ini karena bisa jadi orang tua benar-benar santai dan merasa belum siap jika anaknya saat itu harus menikah. Para orang tua yang dulu menikah muda, belum tentu saat ini setuju dengan pernikahan pasangan muda, begitu pun sebaliknya. Maka dari itu, keberanian untuk berkomunikasi tentang hal pernikahan dan pasangan sangat perlu dilakukan. Kawan-kawan yang kurang confident atau belum courage membahas hal ini dengan orang tua, ada beberapa tips yang ingin saya sampaikan.
                Pertama, sering-sering bertanya kisah masa lalu pernikahan orang tua. Hal ini cukup efektif hasilnya karena orang tua akan mulai membuka memorinya dan mulai membuka dirinya membahas pernikahan. Kedua, bertanya tentang target pendidikan atau keinginan pada kita (anak-anaknya), mengapa aku harus begini dan mengapa aku dibesarkan begitu, membahas tentang masa kecil dan masa depan. Hal ini juga akan membuat  orang tua mulai berfikir hal-hal yang harus dilakukan kita (anak-anaknya) di usia tersebut. Karena bisa jadi, orang tua lupa tentang target-target yang diinginkan pada putra-putrinya.  Ketiga, jika kawan-kawan sudah mulai dekat dengan orang tua, kawan-kawan bisa ikut dalam pembahasan yang lebih dalam seperti permasalahan keluarga, konflik yang terjadi di keluarga besar, atau meminta tips-tips agar tetap harmonis di keluarga besar. Hal ini sangat efektif untuk mengingatkan orang tua bahwa suatu saat kita juga akan berada di posisi yang sama dengan mereka. Keempat, tahapan yang perlu dilakukan saat kawan-kawan sudah sangat dekat dengan orang tua, sudah percaya diri menjalin komunikasi tentang hal ini dengan mereka, adalah mengungkapkan keinginan dan target-target kita seperti usia berapa kita ingin menikah, apakah orang tua setuju dan sebagainya. Serta hal-hal lain yang lebih membahas tentang diri kita pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kita sudah siap dengan semua resiko, ujian, konflik, dan hal-hal lain yang sudah diceritkan dan dibahas pada komunikasi sebelumnya. Kelima, hal terakhir yang dapat dilakukan oleh kawan-kawan adalah pembuktian. Mulai dari manajemen diri yang baik, manajemen sosial yang baik, dan hal-hal lain yang perlu dibuktikan pada orang tua. Tunjukkan dengan sikap dan kata-kata kepada orang tua. Pada tahap ini, kawan-kawan juga sudah dapat membicarakan tata cara memilih pasangan sesuai syari’at, adat pernikahan yang syar’i, dan lain sebagainya yang perlu kita bahas dalam mempersiapkan pernikahan.
                Demikian semoga bermanfaat bagi kta semua karena saya juga sedang belajar. Semoga Allah meridhoi dunia akhirat untuk siapapun yang menjadi pendamping kita nantinya. Bye~ selamat memperjuangkan.

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Februari 20, 2019

COUPLE TIME: Being Single Ga Perlu Baper



                Setiap orang pasti punya impian. Level impian pun berbeda-beda bergantung pada latar belakang, mungkin juga kebutuhan, atau bisa saja obsesi yang berlebihan. Rencana demi rencana, langkah demi langkah disusun sedemikian rupa agar semua target terwujudkan. Gagal merencanakan berarti sudah merencanakan kegagalan, itu kata sang motivator pengejar impian. Setelah selesai satu target, segera selesaikan target lainnya. Sadar atau tidak, sejak usia dini impian adalah mantra ajaib yang sering kita ucapkan. Salah satunya yaitu, saat guru, orangtua atau kawan-kawan seringkali bertanya “cita-citamu apa?” sejak itulah kita mecoba merancang masa depan. Impian untuk sekolah di tempat favorit, kuliah di kampus ternama, punya kerjaan keren, target minimal gaji per bulan, berhaji kapan, hingga urusan pernikahan dan keluarga impian. Sayangnya kita selalu lupa tidak mencantumkan apa yang harus kita persiapkan jika sewaktu-waktu ajal menjemput terlebih dulu daripada daftar impian yang telah kita rancang.
                Saat beberapa impian itu tak terwujud dan takdir Tuhan berbeda dengan apa yang kita inginkan, maka setiap orang punya cara masing-masing untuk menyelesaikan keresahan. Beberapa terus berusaha, beberapa langsung terima seadanya, beberapa mungkin putus asa. Tapi kawan, yakinlah bahwa Tuhan pasti memberikan sesuatu yang kita butuhkan dan tidak keluar dari batas kemampuan. Oleh karena itu, pada tema Couple Time ini, kita akan membahas khusus tentang kaula muda yang beranjak tua di masa-masa menunggu dan menjemput separuh jiwanya yang tak kunjung datang. Ya, termasuk saya hehe.
                Kawan-kawan, bulan ini sudah berapa banyak terima undangan pernikahan? Apa, ratusan? Ah bercanda~ Biasanya bulan-bulan ramai pernikahan adalah Rojab, Sya’ban, Syawwal dan Dhulhijjah tapi bulan ini pun (Jumadil tsani) tidak menutup kemungkinan ada undangan yang datang hehe. Untuk kawan-kawan yang baru saja berada pada masa-masa ini, mungkin pada awalnya akan kaget karena tiba-tiba begitu saja segerombolan undangan menghampiri dan kawan-kawan kita itu telah mencapai fase baru dalam hidupnya. Tetapi hal itu juga akan menyenangkan, karena siapapun kawan yang menyebar undangan, kita akan ramai-ramai berdatangan. Terlebih jika kawan yang menikah adalah pasangan seangkatan, seorganisasi, atau sealumni akan lebih menggembirakan. Namun untuk kawan-kawan yang sudah melewati tahapan ini cukup lama, dua tahun bahkan lebih misalnya, pasti sudah terbiasa dengan tumpukan undangan yang tersedia.
                Kejadian itu menunjukkan bahwa setiap fase yang kita jalani dalam hidup adalah fase biasa. Perpindahan, perubahan, dan ketidakstabilan adalah hal biasa. Setiap kejadian pasti akan berulang dan mengalami perputaran. Jadi, tidak perlu merasa lebih sedih dari orang lain, lebih kaya dari orang lain, lebih sengsara dari orang lain, lebihh pandai dari orang lain, atau perasaan-perasaan lainnya. Karena suatu kisah pasti akan berulang. Bisa jadi kitalah aktor selanjutnya. Oleh sebab itu, untuk kawan-kawan para jomblowan-jomblowati fii sabilillah—yang sedang menunggu dan menjemput sang belahan jiwa yang tak kunjung datang—tak perlu baper berlebihan. Tetap bersabar dan selalu perbaiki diri karena kelak ‘katanya’ pasangan kita adalah cerminan diri kita. Jika kita punya waktu untuk baper pada hal-hal menggalaukan semacam demikian, mengapa kita tak terbiasa baper saat menghadiri pemakaman? Atau mungkin kita lupa bahwa kematian, tanpa disangka, sewaktu-waktu datang.
                Setiap jiwa pasti akan menemui kematian. Demikian, semoga kita dapat dipertemukan kembali pada tulisan selanjutnya. InsyaAllah kita masih membahas tema tulisan yang sama yaitu Couple Time. Selamat beraktifitas~ Barokallahufiikum.

follow me @qhimahatthoyyib

Kamis, Desember 28, 2017

Yang Allah Cinta, Tidak Cinta dan Benci

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, sahabat, beberapa waktu lalu setelah saya menuliskan Allah Berpuisi melalui Al Qur’an, ada sepercik rasa penasaran terkait Kecintaan Allah lainnya. Salah satunya yaitu terkait orang-orang yang dicintai oleh Allah dan tidak dicintai oleh-Nya. Penasaran itu akhirnya terungkap dan terselesaikan dengan Al Qur’an. Cinta, dengan kata kerja ‘mencintai’ dalam bahasa arab disebut يحبّ (untuk subjek ‘dia’) sedangkan kata ‘benci’ dalam bahasa arab disebut كره. Hasil pencarian dua kata tersebut di dalam Al Qur’an menunjukkan bahwa ada tiga kelompok manusia yaitu kelompok orang yang dicintai oleh Allah, orang yang tidak dicintai oleh Allah dan orang yang dibenci oleh Allah.
Pertama, hasil rangkuman dari 16 tempat di dalam Al Qur’an menyebutkan bahwa terdapat tujuh macam orang yang dicintai oleh Allah. Tempat-tempat tersebut adalah QS As-Shaff: 4, Al-Mumtahanah: 8, Al-Hujurot: 9, At-Taubah: 108, 7, 4, Al-Maidah: 93, 42, 13, Ali Imron: 159, 148, 146, 134, 76, dan Al-Baqoroh: 222, 195. Orang-orang tersebut adalah محسنين، متطهّرين، متّقين، متوكّلين، مقسطين، توّابين، صابرين yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi orang-orang yang adil, orang-orang yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah, orang-orang yang bertaqwa (takut kepada Allah), orang-orang yang menyucikan diri, orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang sabar, dan orang-orang yang bertaubat (kembali ke jalan Allah).
Kedua, hasil rangkuman dari 23 tempat di dalam Al Qur’an menyebutkan bahwa terdapat sembilan macam orang yang tidak dicintai oleh Allah. Tempat-tempat tersebut adalah QS Al-Hadiid: 23, As-Syuro: 40, Luqman: 18, Ar-Rum:15, Al-Qosos: 77, 76, Al-Hajj: 38, An-Nahl: 23, Al-Anfal: 58, Al-A’rof: 55, 31, Al-An’am: 141, Al-Maidah: 87, 64, An-Nisaa’: 148, 107, 36, Ali Imron: 140, 57, 32, dan Al-Baqoroh: 276, 205, 190. Orang-orang tersebut adalah معتدين، مفسدين، مسرفين، مستكبرين، فرحين، كلّ كفّار اثيم ظالمين، خائنين، مختالا فخورا yang artinya orang-orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa, orang-orang yang membanggakan diri, orang-orang yang sombong, orang-orang yang berlebihan, orang-orang yang berbuat kerusakan, orang-orang yang melampaui batas, orang-orang yang sombong dan membanggakan diri, orang-orang yang berkhianat, dan orang-orang yang dzolim (suka menganiaya).
Ketiga, ada dua macam orang yang dibenci oleh Allah berdasarkan hasil rangkuman lima tempat di dalam Al Qur’an yaitu كافرين (orang-orang kafir, artinya bukan muslim) pada surat At-Taubah ayat 32, Ghofir ayat 14 dan As-Shaaf ayat 8, dan مشركون (orang-orang musyrik, artinya menyekutukan Allah dengan sesembahan lain) pada surat At-Taubah ayat 33 dan As-Shaaf ayat 9. Selain itu, terdapat pernyataan kebencian tidak langsung dari Allah seperti pada surat Al-Hujurot ayat 7 terhadap فسوق و عصيان kedurhakaan dan kefasikan.
Berdasarkan hasil rangkuman tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat menjadi seorang muslim yang dicintai oleh Allah lebih mudah dibandingakan dengan menjadi manusia yang tidak dicintai-Nya karena Allah memberi kita banyak jalan dan kesempatan menjadi hamba kecintaan-Nya. Pemilihan salah satu dari tujuh macam sikap dan perbuatan tersebut untuk menjadikannya sebagai tingkah laku dan kebiasaan kita, maka kita sudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu hamba yang dicintai oleh Allah. Namun, kecintaan Allah kepada kita akan terhalang oleh sembilan macam sikap yang tidak dicintai oleh-Nya. Sikap tersebut sangat erat kaitannya dengan hubungan antar manusia atau yang juga disebut hablumminannaas sekaligus bab muammalah.
Demikian pula jika kita ingin menghindari kebencian Allah kepada kita. Hasil rangkuman tersebut menunjukkan bahwa caranya sangatlah mudah karena hanya dua sikap saja yang dibenci oleh Allah. Penghindaran terhadap kedua sikap itu telah menjauhkan kita dari rasa kebencian Allah kepada kita. Sehingga menjadi pribadi yang dicintai oleh Allah bukan tidak mungkin bagi semua manusia. Perlakuan yang harus kita jaga sebagai sikap keseharian yaitu menjaga hubungan baik dengan Tuhan dan menjaga hubungan baik dengan manusia. Satu hal lain yang utama dan penting yaitu menjadi seorang muslim, yaitu menghamba kepada Allah dengan sepenuh hati dan mengakui bahwa Rosul Muhammad adalah utusan Allah.
Wallahu a’lam bisshowwab. Semoga dengan adanya tulisan terakhir di penghujung tahun 2017 ini dapat membuat kita tetap bersemangat dan berlomba-lomba menjadi yang terbaik serta Menjadi Bintang di hadapan Allah. Amiin.


follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Desember 20, 2017

Allah Berpuisi melalui Al Qur'an

Pada bulan penghujung tahun 2017 ini, saya menonton dua film Jepang bertema permainan karuta. Pertama, Detective Conan the Movie 21th berjudul Crimson Love Letter, kedua yaitu film berjudul Chihayafuru Kami no Ku yang mempunyai dua part film, dan akan ada part ketiga. Karuta, adalah permainan kartu berisi puisi yang telah ditulis oleh sastrawan Jepang sejak ratusan tahun lalu. Keterangan lebih lengkap tentang karuta bisa sahabat cek di berbagai website berbahasa Inggris atau Jepang. Dua film tersebut berhasil mengembalikan sense seni pada diriku yang telah beberapa bulan (atau tahun) padam. Buktinya bisa sahabat lihat, akhirnya aku mulai menulis dan menggambar lagi :)

model bulan ini, sori ukuran anggota badan pada gambar tidak proporsional. maklum baru mulai gambar lagi :D

Selain menulis dan menggambar, ada satu hal lagi yang baru saja kulakukan yaitu mempelajari puisi-puisi dalam 100 kartu karuta. Meski belum serius mempelajari bahasa Jepang dan bahasa asing lainnya selain bahasa Inggris dan Arab, karuta yang kupelajari pada akhirnya melalui terjemah bahasa Inggrisnya. Tetapi aku yakin bahwa keindahan kata-kata terjemahan tersebut tidak seindah bila dibandingkan dengan bahasa asalnya yaitu nihongo/bahasa Jepang. Hal tersebut karena susunan kata pada puisi dalam bahasa asalnya memiliki makna yang tidak dapat dipahami oleh orang asing seperti aku atau sahabat (asal Indonesia). Sama halnya dengan puisi asal Indonesia dari sastrawan terkemuka, keindahan kata-kata pada puisi tersebut, mulai dari susunan, perumpamaan, dan sajaknya tidak akan mudah dipahami oleh orang asing.
Sejak berada di tingkat SDI (Sekolah Dasar Islam), aku telah terpesona pada puisi dan berbagai seni lainnya. Hal itu mungkin saja karena sejak kecil orang tua sudah membuatku berada di lingkungan tersebut, mulai dari tersedianya koleksi berbagai buku puisi oleh sastrawan Indonesia di rumah, diiikutsertakan belajar khusus menggambar dan melukis, serta belajar seni membaca al-Qur’an yang berimbas pada seni suara, bahkan juga diikutsertakan belajar seni bela diri khususnya pencak silat perguruan pagar nusa. Sehingga sampai saat ini pun, kegembiraan yang kurasakan ketika bertatap muka dengan kesenian masih saja membuncah dan meletup-letup. Meskipun saat ini duniaku bukan lagi dunia seni murni, tetapi Alhamdulillah berbagai ilmu seni yang telah kupelajari dapat membuatku berkembang pada disiplin ilmuku sekarang. Memang benar perkataan Allah pada al-Qur’an surat Fatir ayat 2 yang artinya:
"Whatever Allah grants to people of mercy - none can withhold it; and whatever He withholds - none can release it thereafter. And He is the Exalted in Might, the Wise".
Mudah-mudahan kita semua termasuk golongan yang diberi Rahmat oleh Allah dan senantiasa berada dalam petunjuk Allah.
Berbicara tentang seni, salah satu pelajaran seni yang telah kusebutkan adalah seni membaca al-Qur’an. Seni tersebut membuatku semakin jatuh cinta pada puisi dan al-Qur’an. Mungkin sahabat bertanya "Bagaimana bisa puisi dan al-Qur’an memiliki keterkaitan?", tetapi kenyataannya memang demikian. Seperti sahabat semua ketahui bahwa al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang kekal sepanjang zaman. Selain itu, al-Qur’an menjadi keren karena memiliki gaya bahasa yang indah. Bahkan para sastrawan arab saat itu (hingga kini) mengakui ketinggian tingkat gaya bahasa pada al-Qur’an. Sehingga al-Qur’an tidak akan tertandingi keindahannya sampai kapanpun, jaman apapun dan oleh siapapun. Demikian itu hanyalah Allah yang dapat membuatnya. Allah telah berpuisi melalui al-Qur’an yang diturunkannya kepada Muhammad SAW (sehingga sampai pada kita). Hal ini menjadi bukti bahwa Allah mencintai seni yang tidak lain juga mencintai keindahan. Selain itu juga merupakan bukti bahwa kesenian adalah bagian dari agama Islam. Maka dari itu, seni yang kita pelajari atau kita lakukan harus berkoridorkan syari’at Islam. Apakah bukti yang demikian itu tidak menggoyahkan hati kita semua untuk mencintai puisi-puisi, surat cinta, dan cerita dari Allah dalam al-Qur’an?
Sahabat, apabila tidak atau belum timbul perasaan cinta kita terhadap al-Qur’an mungkin karena kita tidak dapat memahami di mana letak keindahan gaya bahasa tersebut karena bahasa arab adalah bahasa asing bagi kita (Indonesian). Seperti saya sebutkan pada paragraf sebelumnya bahwa terkadang orang asing tidak paham keindahan puisi yang berasal dari negara berbeda dengannya. Namun, salah satu hal yang mendasari kecintaan kita kepada puisi adalah rasa percaya terhadap sejarah panjang di balik munculnya puisi tersebut. Begitu pula dengan al-Qur’an, bahwasannya kecintaan kita timbul bukan hanya karena segi bahasa melainkan adalah keimanan yang kita miliki di dalam hati. Kepercayaan kita terhadap nasehat, cerita, dan penjelasan dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang terdapat di dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, menyempatkan diri untuk membaca al-Qur’an terus menerus (setiap hari, setiap waktu) terlebih dengan suara lembut dan nada yang indah, membiasakan diri berinteraksi dengan al-Qur’an juga dengan orang-orang yang mencintai al-Qur’an merupakan beberapa cara yang dapat kita gunakan untuk menimbulkan rasa cinta dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah dan al-Qur’an.
Wallahu a’lam, semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu dekat dengan al-Qur’an. Tidak hanya ketika kita mendapat ujian dan kesedihan tetapi juga ketika kita mendapat kesenangan dan karunia. Sesungguhnya apa yang terjadi pada diri kita, selain takdir dari Allah, juga merupakan hasil dari perbuatan kita. Amin ya robbal ‘alamin.

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Juni 21, 2016

Setapak Cahaya: MENYERAHKAN DIRI



Sahabat, mohon maaf bila tidak ada cerita pada hari ini. Namun, ada satu doa Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an yang ingin saya bagikan kepada sahabat sekalian. Oya, sebelum itu sahabat tahu kan bahwa ayah Nabi Ibrahim tidak menyembah Allah dan ia lah ternyata si pembuat berhala. Ternyata seorang Nabi sekeren Ibrahim mempunyai keluarga yang tidak seiman dengannya. Dari sini dapat kita lihat bahwa Allah telah memberikan contoh-contoh nyata yang mungkin kejadian tersebut bisa terulang kembali saat ini.
Beriman, seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Tidak akan berbatasan dengan apapun. Siapapun kamu, bagaimanapun keluargamu, dimanapun keberadaanmu, beriman kepada Allah adalah satu-satunya jalan untuk selamat dari kecaman dunia ini. Siti Asiyah misalnya, ia beriman meski mempunyai suami sekeji Fir’aun. Nabi Ibrahim, ia beriman meski ayahnya seorang penyembah dan pembuat berhala. Siti Masyitoh, ia beriman meski sang majikan tidak sama keyakinannya. Ashabul Kahfi, mereka beriman meski pemerintahan tidak mendukungnya. Nabi Yusuf, tetap beriman meski saudara-saudaranya begitu kejam padanya. Siti Maryam, masih beriman meski masyarakat setempat mencaci-makinya. Dan masih banyak contoh lainnya.
Beriman, percaya kepada Allah, malaikat-Nya, utusan-Nya, kitab-Nya, ketentuan-Nya hingga datangnya hari akhir. Ya, beriman adalah simbol penyerahan diri seorang hamba kepada pemiliknya, kepada majikannya, kepada Tuhannya. Namun, seperti yang juga sudah kita bahas sebelumnya. Berserah diri bukan berarti kita tidak perlu berusaha atas kehidupan kita. Masih ingatkah sahabat bahwa Allah selalu melihat amal kita, kerja keras kita, proses-proses yang kita usahakan, dan Allah yang akan menilainya. Oke, kembali kepada topik dan mengakhiri tulisan ini bahwa ada satu doa dari Nabi Ibrohim yang keren abis di surat Asy-Syu’aro ayat 70-91 yang artinya seperti berikut dan dilengkapi Tafsir Jalalain:
70. ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?"
71. mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala (mereka menjelaskan secara terang-terangan supaya berhala-berhala itu disukai olehnya) dan Kami Senantiasa tekun menyembahnya (mereka menyembah sepanjang siang dan malam, jawaban ini untuk membanggakan diri mereka terhadap Nabi Ibrahim)".
72. berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?,
73. atau (dapatkah) mereka memberi manfaat (jika kalian menyembahnya) kepadamu atau memberi mudharat (jika kalian tidak menyembahnya)?"
74. mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang Kami berbuat demikian".
75. Ibrahim berkata: "Maka Apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah,
76. kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,
77. karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku (Nabi Ibrahim tidak emnyembah mereka), kecuali Tuhan semesta alam (hanya yang di sembah),
78. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku (kepada agama yang benar),
79. dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu,
80. dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,
81. dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),
82. dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (hari pembalasan)".
83. (Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh (golongan para Nabi),
84. dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian (orang-orang sesudah nabi Ibrahim hingga hari Kiamat),
85. dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan (yakni di antara orang-orang yang memperolehnya),
86. dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat (Allah memberikan jalan taubat lalu diampuni. Doa ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim sebelum jelas baginya bahwa ia adalahmusuh Allah, sebagaimana pada surfat At-Taubah),
87. dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,
88. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
89. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (dari syirik dan munafik yaitu hati orang mukmin yang imannya memberikan manfaat kepada dirinya),
90. dan (di hari itu) didekatkanlah surga (dijadikan dekat hingga mereka dapat melihat dengan jelas) kepada orang-orang yang bertakwa,
91. dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang- orang yang sesat (orang-orang yang kafir)",


follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Juni 17, 2016

Setapak Cahaya: PHOBIA (FOBIA)



Sahabat bagaimana kabar hari ini? Semakin hari semakin berkurang waktu kita membersamai Romadhon. Sedih? Iya, sangat. Selain karena bulan ini adalah bulan dilipatgandakannya amal serta bulan yang terdapat di dalamnya malam seribu bulan, bulan Romadhon juga dapat mengondisikan umat muslim sendiri dan bahkan umat kepercayaan lain untuk memperbaiki perilakunya. Seandainya saja sepanjang tahun adalah bulan Romadhon atau setidaknya mulia seperti bulan Romadhon, tentu hal ini sangat menyenangkan. Hanya saja, pengharapan tersebut tidak terjadi pada semua orang. Bahkan lebih banyak yang berharap agar bulan ini segera berakhir.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai fobia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa, kata fobia memiliki arti seperti berikut “fobia/fo·bia/ n ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya”. Perlu digarisbawahi yaitu pada kata ‘sangat berlebihan’ dan ‘keadaan’. Kata pertama ‘sangat berlebihan’, yap sesuatu yang berlebihan telah jelas dilarang oleh Rosulullah. Pada salah satu hadits disebutkan agar kita tidak mencintai sesuatu secara berlebihan juga tidak membenci sesuatu secara berlebihan. Karena boleh jadi sesuatu yang kamu benci suatu saat akan menjadi hal yang disukai dan sebaliknya.
Salah satu ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal ini dan juga menjadi salah satu ayat favorit saya terdapat pada surat Al-Baqoroh ayat 216, artinya: 216. diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Ya, ‘boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui’. Pada ayat tersebut jangan terfokus pada kewajiban berperang ya, karena untuk hal itu ada kaitannya dengan ayat setelahya. Serta ada sebab-sebab mengapa turun perintah wajib perang saat itu.
Selanjutnya, kata kedua ‘keadaan’ adalah suatu hal yang berada di sekitar kita. Keadaan juga bisa berarti lingkungan atau juga kondisi dari dalam diri (di dalam ilmu pengetahuan alam bisa juga disebut sistem). Lingkungan dan kondisi seseorang adalah sesuatu yang bisa berubah-ubah tergantung masa dan waktu. Terlebih bila kondisi tersebut bergantung kepada hati karena hati sangat mudah terbolak-balik. Maka dari itu, berdasarkan dua keterangan tersebut seharusnya fobia bisa disembuhkan. Tergantung bagaimana hati dan pikiran kita apakah ingin sembuh atau tidak. Tetapi tampaknya hal ini berbeda dan tidak berlaku bagi orang-orang yang fobia terhadap Islam atau yang umum disebut Islamophobia. Sampai akhir hayat mungkin mereka sudah menutup diri dari hidayah Allah. Ya, bukan karena Allah tidak memberikan hidayah. Tapi layaknya jendela, hati mereka sudah tertutup rapat sehingga cahaya hidayah itu tidak memasuki rumah mereka.
Demikian, untuk mengakhiri tulisan ini mari kit abaca terjemahan surat As-Shaff ayat 7-8 berikut: 7. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan Dusta terhadap Allah sedang Dia diajak kepada Islam? dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. 8. mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya".


follow me @qhimahatthoyyib