Tampilkan postingan dengan label opening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opening. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 19, 2022

COUPLE TIME: Persiapan Empat-Menemukan Pasangan


    Minnasan¬ o genki desuka? Alhamdulillah dua bulan ini adalah bulan yang membahagiakan untuk kami. Ya, seperti yang teman-teman baca di judul tulisan, bahwasannya Allah telah mengirimkan pasanganku dan mempertemukan kami berdua. Akhirnya, setelah 28 tahun masa penantian dan tigapuluh sekian purnama pasca menulis COUPLE TIME: Persiapan Tiga-Mencari Pasangan, Allah mewujudkan doaku.

undangan via online

    Hari ini, adalah jum’at keempat pasca akad nikah kami pada Jum’at, 22 Juli 2022 pukul 16.00 WIB. Setelah sebelumnya, pada 28 Juni 2022, kami melakukan Rafak di KUA Kecamatan Sukolilo (Kota Surabaya), dan sebelumnya lagi pada 27 November 2021, kami melangsungkan prosesi lamaran setelah ta’aruf (tatap muka) pada 4 November 2021. Alhamdulillah, semua proses tersebut berjalan lancar atas kehendak Allah SWT.

    Bagiku, proses tersebut bermula dari satu kejadian besar setahun sebelumnya yaitu adanya akad nikah dan resepsi pernikahan adik kandungku pada bulan Agustus 2021. Sehingga, banyak sekali keluarga dan tamu undangan yang mendoakanku segera menyusul adik ke pelaminan karena adik perempuanku itu menikah dengan ‘melangkahiku’, kata orang jawa. Berdasarkan adatnya, untuk anak perempuan, pernikahan itu haruslah urut dari kakak tertua ke adik termuda. Jika adik melangkahi kakaknya, maka seharusnya dilangsungkan ritual sesuai adat. Lain aturannya untuk anak lelaki. Oleh karena itu, beberapa keluarga dan tamu malah mendatangiku untuk mendoakan atau menawarkan si fulan ini dan itu padaku.

undangan fisik

    Atas ijin Allah, suatu hari di bulan Oktober 2021, guru ngajiku memberikan CV (biodata) seorang lelaki sholih padaku. Lelaki yang sama sekali belum aku kenal, bukan teman sekolah, bukan teman kuliah, dan bukan juga teman organisasi. Namun ternyata, paman lelaki itu dan pamanku telah berkawan dan sudah saling kenal bertahun-tahun sebelumnya. Sehingga, selang beberapa hari, setelah tahu beberapa informasi, beristikhoroh, dan berdiskusi dengan orangtua, aku setuju untuk melanjutkan proses berkenalan dengan pria asing itu. Akhirnya hari ini, satu bulan sudah kami lalui hari-hari berdua, membicarakan banyak hal, mendiskusikan banyak persoalan, membahas banyak tema, serta merancang ini dan itu lainnya.

foto wedding di Surabaya

    Sebagai penutup tulisan, kami mohon doa dari kawan-kawan pembaca semua untuk ibadah panjang kami. Agar menjadi sakinah, mawaddah dan rahmah pernikahan kami, agar kami bisa lalui segalanya dengan keadaan terpuji, agar kami bisa lewati badai permasalahan yang terjadi, agar kami menjadi keluarga Qur’ani yang Samawi. Amiin ya Rabbal 'aalamin¬

Minggu, November 01, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 1

 

Hi everyone~ mohon maaf ya, sudah setahun lebih tidak update tulisan. Sahabat, tahun ini adalah tahun yang mengejutkan bagiku. Pada dua bulan terakhir tahun 2020 ini, aku ingin sedikit mengisahkan beberapa hal yang terjadi padaku. Kisah-kisah berikut mungkin hanya sekedar curhat, tetapi semoga sahabat sekalian masih dapat mengambil hikmah dari apa yang kutuliskan. Lembar ini adalah kisah pertama yang ingin kusampaikan.

Sudah dua tahun berlalu sejak terakhir kali aku menjalani operasi telinga-CWD. Alhamdulillah semakin hari kondisiku semakin membaik. Meskipun sebagian pendengaranku tak dapat berfungsi seperti semula, syukur anggota tubuh lainnya tetap bekerja dengan baik. Sebisa mungkin aku tidak berhenti untuk beraktifitas, walaupun sudah tidak banyak keluar rumah. Selain itu, mengonsumi obat selama sekitar hampir dua tahun tanpa henti sepertinya sangat mempengaruhi keadaan dan kebiasaanku, misalnya lebih sering ngantuk atau jadi malas makan. Ya, tapi mungkin juga itu hanya sekedar perasaan.

Sejak tahun lalu, aku memang sudah sangat jarang keluar rumah. Hanya pergi ke kampus untuk menghadiri kuliah atau menyelesaikan penelitian tesis di laboratorium sebagai syarat lulus magister. Kadang juga keluar untuk menghadiri kajian atau belanja keperluan. Tidak ada pergi main, tamasya, dan sejenisnya. Meski demikian, penelitian tak kunjung menunjukkan hasil yang kuinginkan. Frustasi? Sudah jelas. Bahkan berpekan-pekan lamanya aku absen ke kampus karena tiba-tiba mual, pusing dan demam setiap akan berangkat nge-lab. Semua itu kuceritakan kepada dosen pembimbing dan orangtuaku untuk menghindari masalah. Sejujurnya, sebelum hal itu terjadi, aku sudah berencana mengajukan cuti satu semester agar dapat beristirahat dengan baik, namun dosen waliku berhasil membujukku untuk terus menyelesaikan kuliah tanpa cuti. Beliau menceritakan pengalamannya dan beberapa mahasiswanya yang berhasil melewati masa sulitnya dengan terus berkuliah tanpa cuti.

Berangkat dengan tenang, tetap bersantai di dalam ruang diskusi lab meskipun merasa tidak baik dan tidak bekerja, mengurangi beban pikiran, fokus pada penelitian sendiri, tidak terpengaruh progres orang lain yang lebih melejit dan hanya melakukan hal yang perlu diselesaikan hari itu adalah beberapa terapi yang disarankan dosen pembimbingku. Alhamdulillah, perlahan-lahan penelitanku berprogres meskipun belum dapat diketahui kapan ujungnya akan muncul. Setidaknya, kurasa, aku dapat melewati masa kritis ini meski masih harus menambah semester. Sampai suatu saat, januari 2020, berita kejadian di Wuhan, China tersebar di Indonesia yang ternyata akan mengubah nasibku.

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Februari 20, 2019

COUPLE TIME: Being Single Ga Perlu Baper



                Setiap orang pasti punya impian. Level impian pun berbeda-beda bergantung pada latar belakang, mungkin juga kebutuhan, atau bisa saja obsesi yang berlebihan. Rencana demi rencana, langkah demi langkah disusun sedemikian rupa agar semua target terwujudkan. Gagal merencanakan berarti sudah merencanakan kegagalan, itu kata sang motivator pengejar impian. Setelah selesai satu target, segera selesaikan target lainnya. Sadar atau tidak, sejak usia dini impian adalah mantra ajaib yang sering kita ucapkan. Salah satunya yaitu, saat guru, orangtua atau kawan-kawan seringkali bertanya “cita-citamu apa?” sejak itulah kita mecoba merancang masa depan. Impian untuk sekolah di tempat favorit, kuliah di kampus ternama, punya kerjaan keren, target minimal gaji per bulan, berhaji kapan, hingga urusan pernikahan dan keluarga impian. Sayangnya kita selalu lupa tidak mencantumkan apa yang harus kita persiapkan jika sewaktu-waktu ajal menjemput terlebih dulu daripada daftar impian yang telah kita rancang.
                Saat beberapa impian itu tak terwujud dan takdir Tuhan berbeda dengan apa yang kita inginkan, maka setiap orang punya cara masing-masing untuk menyelesaikan keresahan. Beberapa terus berusaha, beberapa langsung terima seadanya, beberapa mungkin putus asa. Tapi kawan, yakinlah bahwa Tuhan pasti memberikan sesuatu yang kita butuhkan dan tidak keluar dari batas kemampuan. Oleh karena itu, pada tema Couple Time ini, kita akan membahas khusus tentang kaula muda yang beranjak tua di masa-masa menunggu dan menjemput separuh jiwanya yang tak kunjung datang. Ya, termasuk saya hehe.
                Kawan-kawan, bulan ini sudah berapa banyak terima undangan pernikahan? Apa, ratusan? Ah bercanda~ Biasanya bulan-bulan ramai pernikahan adalah Rojab, Sya’ban, Syawwal dan Dhulhijjah tapi bulan ini pun (Jumadil tsani) tidak menutup kemungkinan ada undangan yang datang hehe. Untuk kawan-kawan yang baru saja berada pada masa-masa ini, mungkin pada awalnya akan kaget karena tiba-tiba begitu saja segerombolan undangan menghampiri dan kawan-kawan kita itu telah mencapai fase baru dalam hidupnya. Tetapi hal itu juga akan menyenangkan, karena siapapun kawan yang menyebar undangan, kita akan ramai-ramai berdatangan. Terlebih jika kawan yang menikah adalah pasangan seangkatan, seorganisasi, atau sealumni akan lebih menggembirakan. Namun untuk kawan-kawan yang sudah melewati tahapan ini cukup lama, dua tahun bahkan lebih misalnya, pasti sudah terbiasa dengan tumpukan undangan yang tersedia.
                Kejadian itu menunjukkan bahwa setiap fase yang kita jalani dalam hidup adalah fase biasa. Perpindahan, perubahan, dan ketidakstabilan adalah hal biasa. Setiap kejadian pasti akan berulang dan mengalami perputaran. Jadi, tidak perlu merasa lebih sedih dari orang lain, lebih kaya dari orang lain, lebih sengsara dari orang lain, lebihh pandai dari orang lain, atau perasaan-perasaan lainnya. Karena suatu kisah pasti akan berulang. Bisa jadi kitalah aktor selanjutnya. Oleh sebab itu, untuk kawan-kawan para jomblowan-jomblowati fii sabilillah—yang sedang menunggu dan menjemput sang belahan jiwa yang tak kunjung datang—tak perlu baper berlebihan. Tetap bersabar dan selalu perbaiki diri karena kelak ‘katanya’ pasangan kita adalah cerminan diri kita. Jika kita punya waktu untuk baper pada hal-hal menggalaukan semacam demikian, mengapa kita tak terbiasa baper saat menghadiri pemakaman? Atau mungkin kita lupa bahwa kematian, tanpa disangka, sewaktu-waktu datang.
                Setiap jiwa pasti akan menemui kematian. Demikian, semoga kita dapat dipertemukan kembali pada tulisan selanjutnya. InsyaAllah kita masih membahas tema tulisan yang sama yaitu Couple Time. Selamat beraktifitas~ Barokallahufiikum.

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Desember 14, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 1: Ionisasi



                Semakin dekat dengan tahun 2019, semua kegiatan yang ada tidak pernah lepas dari dugaan “ini pasti ada apa-apa”, ”pasti ingin menaikkan elektabilitas”, “wah, ini pasti jadi ajang kampanye”, dan pernyataan lain yang lebih heboh. Maklum, 2019 mendatang adalah tahun pergantian pemerintahan semua elemen, dari legislatif sampai eksekutif. Ingat! April 2019 nanti jangan golput yaa~ meskipun banyak sekali anggapan ‘halah, siapapun pemerintahnya toh gak akan ngaruh buat kehidupan kita’. Perlu diketahui oleh buibu dan pakbapak sekalian bahwa pemerintah punya kekuasaan untuk mengatur pajak, mengeluarkan perundang-undangan, mengatur semua elemen dari pendidikan sampai kesehatan. Hanya ada dua kemungkinan hasil dari semua aturan tersebut yaitu mensejahterakan dan membahagiakan rakyat, atau mencekik dan menyakiti rakyat. Berhubung Indonesia masih menggunakan sistem kedaulatan rakyat, maka mari kita gunakan dengan baik hak tersebut. Karena nasib bangsa ini, nasib rakyat, nasib kita, dan keturunan kita ada di tangan kita.
                Pada tema tulisan ‘Politisasi Kehidupan’ berikut, saya tidak akan membahas hal di luar bidang saya atau di luar kemampuan saya. Singkat kata, saya akan mencoba membahas dari sisi keilmuan Kimia. Fokusan ilmu kimia adalah sifat, bentuk dan perubahan. Intinya adalah jika terjadi perubahan dalam suatu reaksi, maka perubahan reaksi tersebut berasal dari perubahan bentuk senyawa di dalamnya. Sehingga sifatnya pun mengalami perubahan dan terjadilah reaksi. Oleh karena itu, mendalami ilmu kimia setara dengan mempelajari kehidupan. Karena kehidupan terkecil di muka bumi berasal dari partikel terkecil yang disebut atom.
                Sangat sempit pemikiran seseorang apabila menganggap sikap politik hanya digunakan dalam politik praktis, atau selalu mengaitkan kata politik dengan partai politik, dan hal-hal lain yang serupa. Padahal sikap politik sudah terjadi dari kehidupan terkecil hingga kehidupan terbesar. Jika dipelajari lebih rinci, sikap politik terjadi pada atom, tubuh makhluk hidup, kehidupan makhluk hidup serta alam semesta. Berdasarkan KBBI, kata politik (n) mempunyai beberapa arti yaitu 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain; 3 cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah), kebijaksanaan. Jadi, kata ‘politik’ dapat digunakan dalam berbagai hal mengenai pengambilan tindakan atau siasat. Sehingga tidak ada satu hal pun yang terhindar dari politik.
                Atom merupakan partikel terkecil penyusun materi yang di dalamnya terdapat elektron (partikel negatif), proton (inti atom postif), dan neutron (inti atom tidak bermuatan). Di dalam sistem periodik, atom dikelompokkan berdasarkan sifatnya, nomor massanya, jumlah kulit atau tingkat energinya, banyaknya elektron valensi/terluar dan sebagainya. Atom-atom logam yang tergolong pada 1A dan 2A mudah mengalami ionisasi dengan melepaskan elektron terluarnya, sebaliknya atom-atom golongan 6A dan 7A dapat mengalami ionisasi dengan menangkap/mengambil elektron dari atom sekitarnya. Ionisasi/pembentukan atom bermuatan merupakan salah satu sikap politik yang terjadi pada atom. Atom selalu mencari cara termudah dan tercepat untuk mencapai kondisi stabil.
Seperti atom, manusia pun mencari cara tercepat dan termudah untuk mencapai kestabilan. Berbagai kondisi stabil yang diharapkan oleh manusia seperti badan yang sehat sehingga apapun bisa dilakukan atau harta yang melimpah agar semua keinginan terkabulkan serta hal-hal lain yang berkaitan. Setelah mencapai kondisi stabil, mengapa setiap manusia masih memerlukan manusia lainnya? InsyaAllah akan kita lanjutkan di bagian dua. Terimakasih, selamat beraktifitas~

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Agustus 03, 2018

RUMAH SAKIT BERCERITA #1



                Assalamu’alaikum sahabat semua, semoga kita selalu dalam kondisi hati dan iman yang baik serta bersih. Meskipun pada hari ini sebagian kita mendapat cobaan, atau sebagian yang lain mendapat kesenangan mudah-mudahan kita selalu mendapatkan keberkahan. Amiin~ Sahabat, kali ini saya mencoba berkisah dan mengambil ibroh (pelajaran) dari kejadian-kejadian di Rumah Sakit selama saya berobat kurang lebih dua tahun terakhir.
                Pagi itu, seperti biasa aku berobat ke RS (Rumah Sakit) yang jaraknya sekitar 20 km dari rumah. Kontrol pertama setelah dua bulan lamanya aku meliburkan diri. Meskipun pada hari-hari sebelumnya keluhan itu ada, tetapi kucoba bertahan namun sia-sia. Semakin hari semakin parah, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke RS. Meskipun harus melewati drama di puskesmas saat minta rujukan, karena aku libur minta rujukan dua bulan, seharusnya tidak boleh langsung kembali ke RS. Tapi petugas puskesmasnya baik sekali :) Alhamdulillah Allah masih memberikan kemudahan padaku.
                Kubuyarkan kebosanan menunggu antrian dengan membuka hape (handphone), membaca al-qur’an, memainkan game asah otak, menulis puisi, terkadang bercakap dengan orang sebelah dan apapun yang bisa dilakukan. Akhir-akhir ini aku menikmati buku yang baru saja kubeli NEGERI SENJA sambil menunggu antrian. Saat itu, ketika sedang menikmati story kawan-kawan di layar hapeku, aku mendengar seorang ibu berbincang dengan ibu lain di sampingnya. Obrolan ringan yang memang biasa dilakukan di rumah sakit, tidak jauh dari tema seputar penyakit, cara penanganannya, bagaimana di rumah, bagaimana pelayanan rumah sakit. Tetapi satu kalimat yang membuatku terhenti bermain hape dan fokus pada obrolan mereka adalah, ”bojoku mba seng loro, wong e maem e rewel, koyok gak gelem waras”, “iyo, lek wong lanang loro awak dewe repot, tapi lek awak dewe loro wong lanang iki gak gelem repot”.
                Percakapan mereka memang dalam bahasa jawa, maka kutuliskan seperti asalnya. Jadi begini, maksud dari kata-kata kedua ibu tersebut adalah sebagian keluarga jika suami yang sakit maka istri akan setia merawatnya, memenuhi segala kebutuhannya dan mendukung untuk kesembuhannya. Tetapi jika istri yang sakit maka seringkali suami acuh dan tidak bisa memberikan perawatan terbaik atau yang dibutuhkan istrinya. Setelah mendengar pernyataan tersebut, aku mulai berpikir sepertinya bukan kali pertama aku tahu akan hal itu. Saat di puskesmas, atau ruang rawat inap, atau IGD, banyak wanita terutama seorang istri dan ibu berpikiran sama, menyampaikan pendapat yang sama. Apakah memang hal tersebut terjadi pada sebagian besar keluarga? Tetapi hebatnya adalah wanita memiliki kemauan sembuh lebih besar daripada pria. Terlebih jika wanita tersebut adalah seorang istri yang merasa dibutuhkan oleh suami atau ibu yang merasa dibutuhkan oleh anak-anaknya.
                Di masa-masa sakit seperti ini, kisah epik dan heroik yang selalu terlintas adalah kisah Nabi Ayyub. Bagaimanapun di masa sulit beliau, sang istri satu-satunya yang mau merawatnya dengan sabar selama 7 tahun. Bukan waktu yang sebentar, tetapi jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang sudah diberikan bertahun-tahun lebih lama maka kata beliau 7 tahun bukanlah apa-apa. Ketika seorang istri dengan sabar dan rela merawat suaminya, serta sellau mendekat kepada Allah, maka keberkahan dan kemudahan akan diberikan oleh Allah kepada keluarga kita. Setelah masa suit itu, akhirnya harta mereka kembali, anak-anak pun dilahirkan lagi. Semoga kita selalu dapat mengambil hikmah dari semua kejadian yang kita alami. Sampai jumpa di Rumah Sakit Bercerita selanjutnya. Semoga bermanfaat~

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Mei 19, 2015

Sejejak Kenangan (prolog): KELUARGA HARMONI (KATANYA)



Siang, Alhamdulillah bisa kembali lagi pada dunia ini. Dunia imajinasi :). Sempat bingung mengapa berbulan-bulan lalu kemampuan ajaib ini tidak keluar lagi, sempat stress karena banyak pikiran yang harus ditumpahkan namun tidak bisa dilakukan. Walhasil terbitlah hari ini tulisan panjang, kalau bisa malah nanti akan kujadikan novel mengenai kisah personel kami :p Selamat menikmati kisah kami! Kisah sejejak kenangan dua belas akhwat tangguh nan kece B)
-----------------------------------------------------------------------------
6 tahun berkelana bukan waktu yang lama buatku. Memang aku tidak punya hobi travelling atau jalan-jalan, tapi aku selalu senang menjelajah tempat baru, menghirup segarnya udara taman, atau tempat-tempat hening nan romantis lainnya. Hmmm hanya dengan membayangkan pun sudah menyenangkan buatku. Entah mengapa, hingga kini rasanya masih tidak rela kembali lagi ke daerah asal. Tapi inilah yang terjadi. Sudah hampir empat tahun aku kembali. Surabaya. Inilah kota kelahiranku meski sebenarnya aku tidak benar-benar tinggal di sini sebelum berkelana selama itu. Terlalu panjang bila kuceritakan sekarang, karena tulisan kali ini akan fokus bercerita tentang ‘kalian’.
Yap, kalian sahabat terbaik, siapa lagi kalau bukan Keluarga Harmoni? Orang asing yang mengaku sebagai sebuah keluarga. Orang tak dikenal yang tiba-tiba masuk dalam kehidupan seolah membangun persahabatan dan keakraban. Persahabatan, kata-kata manis yang memuakkan itu selalu menjadi penghalang perpisahan. Bahkan sebelum tahu artinya, sebelum kita tahu makna dari kata itu berdasarkan referensi, kita sendiri telah lancang memaknai persahabatan buah dari pengalaman. Aku sendiri buktinya, tanpa buka kamus, tanpa tahu artinya, suka-suka saja menyebut kericuhan dan keributan kita sebagai bumbu persahabatan. Ah, apalah arti mengetahui makna dari suatu kata tanpa pernah mengalaminya. Apalah arti memahami definisi tanpa bisa menerapkannya.
Banyak yang bilang kalau setahun berada di tempat ini bukanlah waktu yang lama. Semester pertama untuk beradaptasi dan semester kedua untuk mempersiapkan penerus generasi. Memangnya kalian juga merasa seperti itu? Ah, biarlah. Terserah kalian mau merasa macam mana aku sudah tak peduli. Terdengar apatis memang, hiperbolis dan sarkatis. Tapi itulah yang kurasakan di pekan-pekan terakhir kepengurusan kita. Antara rasa tak ingin mengerti lagi, tak peduli lagi namun juga… ingin terus bersama lagi semua bercampur aduk. Ah entahlah. Lagi-lagi kata entahlah muncul pada tulisan tentang kalian.
Desember tahun 2013, entah tanggal berapa. Aku tak pernah hapal detil-detil tanggal kejadian meski sepenting apapun kejadian tersebut (kecuali bila tertulis pada buku ajaibku). Seingatku kita dipertemukan kala itu, meski pada masa kepengurusan berlangsung tidak utuh lagi seperti kala itu. Aku selalu bersyukur dan tetap bahagia bisa dipertemukan dengan kalian pada masa-masa terakhir studi sarjana pertamaku. Meski sebenarnya tidak banyak hal menyenangkan yang telah kita lakukan bersama. Memangnya siapa yang pernah bilang kalau jalan dakwah itu menyenangkan? Bahkan jalan ini penuh batu dan berliku. Namun tak terasa kini, setahun kemudian 17 Mei 2015 amanah penting nan sangat berat itu telah berpindah kepada pundak yang lain (pundak yang masih perlu dikuatkan dan pundak yang masih perlu dilatih) dan amanah lain akan berpindah kepada kita. Sejujurnya, banyak dari kita yang tidak menginginkannya (memangnya siapa yang mau meminta amanah?) namun, kita bersedia menerimanya. Bukan, bukan karena kita tidak rela meninggalkan dan memberikan amanah sebelumnya kepada pundak yang baru tapi terlebih karena kita ingin selalu bersama dan bersatu.
Meski begitu, hingga kini aku merasa belum bisa memahami kalian. Jujur saja, diri ini masih hanya dekat dengan orang tertentu dan tidak terbuka pada semua orang. Hal itu sangat sesuai dengan teori kelarutan yang diajarkan di jurusanku, Kimia. Sebut saja, “Like dissolve Like”. Bahwasannya yang sejenislah yang dapat saling bersenyawa dan saling melarutkan. Bukankah kalian juga seperti itu? Memilih bercerita dengan bebas kepada orang tertentu saja? Meski kau bilang bahwasannya tempat curhat hanya Allah semata tapi kita tetap memerlukan orang lain untuk memberikan dorongan moral kepada kita.
Sayangnya kita bukan orang biasa yang dipertemukan oleh Allah tanpa kesengajaan. Aku lebih senang menyebutnya bahwasannya kita adalah orang-orang aneh yang dipertemukan dengan cara yang juga aneh. Yap, perkenalkan bahwa kami adalah dua belas manusia aneh yang semakin aneh ketika kami dikumpulkan sehingga keanehan itu dirasakan oleh orang lain di luar kami serta membuat mereka geli kepada kami dan memandang sebelah mata kepada kami. Aku sendiri pun tak paham mengapa tapi bukan kami namanya apabila tidak berisik, tidak suka memerintah, tidak tangguh, tidak suka mengomel, tidak mudah mengeluh, tidak kreatif, tidak suka ikut campur, tidak suka bertengkar, tidak suka keributan, tidak mandiri, tidak kece, dan terakhir tidak cantik :p itulah dua belas sifat yang menggambarkan dua belas anggota kami.
Kuberitahu ya, bahwa kita adalah orang-orang unik dan manusia langka yang tidak bisa ditemukan di manapun. Sayangnya keunikan dan kelangkaan kami hanya terlihat apabila kami bersama. Namun, meskipun sudah bersama selama satu setengah tahun dan mengerti satu sama lain kami tetap sama di mata orang lain yaitu tidak bisa dimengerti :v Berikut adalah sejejak kenangan yang menggambarkan kami, dua belas akhwat tangguh nan kece di lingkaran ini. Lingkaran keluarga yang bernama JMMI (Jamaah Masjid Manarul Ilmi) sebuah LDK (lembaga Dakwah Kampus) di ITS (institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya. Pada suatu hari, 10 Mei 2014 kami berdua belas ditetapkan sebagai penopang punggawa akhwat alias PH (Pengurus Harian) kabinet kami (yang kemudian bernama KKH Kabinet Kolaborasi Harmoni, penghuni RH (Rumah Harmoni) dan pembangun KH (Keluarga Harmoni). Pokoknya serba harmoni tapi yaa itu cuma katanya :v (jangan percaya karena itu hanya ilusi, tapi kami selalu berhasil menyembunyikannya. Hayoo kurang keren gimana cobak :p).
Begitulah sejejak kenangan tentang kami, ikuti kisah selanjutnya karena akan banyak tulisan yang terbit mengenai kami B). Semoga Barokah dan dilancarkan semua urusan kalian  yaa. Terimakasih telah membaca. Sedikit kutipan penyemangat dari kami (SIMFONI) “Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya (HR Turmudzi). Kehidupan dunia hanyalah tempat berteduh sejenak dan sebaik-baik bekal adalah amal sholeh.”

follow me @qhimahatthoyyib

Minggu, Maret 08, 2009

Pengantar 'Balada Senja'

Assalamualaikum,,,

alhamdulillah akhirnya Balada Senja terbuat sudah, mari berkarya, mari berbagi,,
memberi saran, memberi komentar, saling melengkapi,,

follow me @qhimahatthoyyib