Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 13, 2021

SKETSA PANDEMI-Bagian 10

                 Assalamu’alaikum semuanya~ semoga dalam keadaan sehat yaa..

                Sungguh, pekan-pekan ini terasa menyedihkan. Setiap hari, dari setiap grup yang kuikuti, selalu ada berita duka, kalau tak berkabar sakit, pasti tentang kematian, entah ayah, ibu, atau keluarga dekat ybs. Sedih sekali rasanya, sejak tahun lalu, sudah ratusan ulama dan ribuan orang-orang baik diambil kembali oleh Sang Pemilik nyawa mereka. Cepat sekali mereka berpulang. Mudah sekali bagi Allah untuk mengangkat ilmu dan mengambil kebaikan yang telah diberikan-Nya di dunia.

                Dengan cara yang tak pernah kita sangka dan kondisi yang tak pernah kita duga. Allah datangkan makhluk kecilnya. Ia beri ujian pandemi pada manusia. Lalu ambil kembali orang-orang baik dan berilmu yang menjadi penerus para Nabi dan Rosul-Nya. Dan seterusnya entah ada ujian apa lagi, hingga yang tersisa di dunia hanyalah kebodohan dan DUARRR!! Entah kapan kiamat akan terjadi, yang jelas sudah pasti sebentar lagi. Karena tanda-tanda datangnya waktu itu, sudah semakin marak jika kita cermati.


                Tak adanya orang beriman yang berilmu merupakan malapetaka yang lebih besar dari pada sekedar ujian kemiskinan. Ratusan kelompok kehilangan kader cerdasnya, ribuan murid kehilangan gurunya, dan jutaan masyarakat kehilangan pemimpin terbaiknya. Kalau ekonomi bisa cepat diperbaiki, tapi tidak dengan regenerasi. Entah berapa puluh tahun lagi pengganti dan penerus generasi terbaik itu dihadirkan oleh Allah lagi di dunia ini.

-cek LAPORAN MUI-

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun,

Teriring doa untuk semua almarhum/ah para alim ‘ulama, para cendekiawan, para mu’minin dan mu’minat dimanapun dikuburnya mereka. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi mereka, mengampuni segala dosa mereka, menerima segala amal perbuatan mereka, menerima segala pengorbanan yang telah mereka lakukan dalam menyebarkan kebaikan dan keilmuan mereka.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه\ها وَارْحَمْه\ها وَعَافِه\ها وَاعْفُ عَنْه\ها، وَأَكْرِمْ نُزُوْلَه\ها، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه\ها، وَاغْسِلْه\ها بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَ\ها مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْه\ها دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه\ها، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه\ها، وَأَدْخِلْهَ\ها الْجَنَّةَ، وَأَعِذْه\ها مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَه\ها وَلاَ تَفْتِنّا بَعْدَه\ها وَاغْفِرْلَنَا وَلَه\ها وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثوَاه\ها.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَه\ها رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهُ\ها حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِيْرانِ.

آمِـيْنَ... آمِيْنَ... آمِيْنَ... يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Minggu, Mei 02, 2021

Keracunan Tontonan


                Assalamu’alaikum semuanya~ Selamat berpuasa dan beribadah di bulan Romadhon 1442 H untuk semua yang menjalankan. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada tulisan rutin dariku selama bulan Romadhon ya, padahal list yang ingin kutuliskan sudah kurancang lagi sejak tahun lalu. Kesibukan? Oh tentu itu hanyalah satu dari sekian alasan yang dapat kita ucapkan bukan? Lain kali akan kuceritakan tentang pendapatku terhadap ‘alasan’. Saat ini, aku ingin mengisahkan hal lain terlebih dahulu.

Sejak dulu, aku merasa bukan termasuk pengikut tren. Genre lagu favorit, drama/film favorit, atau produk lain meski hanya sekedar warung makan yang menjadi favoritku cenderung berbeda dengan orang kebanyakan di masanya. Misalnya, aku bisa saja suka sesuatu yang disukai orang-orang tua dan tak disukai kalangan seusiaku. Terkadang aku juga sesuatu yang disukai anak-anak kecil atau yang lebih muda daripadaku. Bahkan sesuatu yang semua kalangan suka pun, kenyataannya, aku tak suka. Sejumlah teori kukaitkan, karena golongan darahku yang AB lah, atau kategoriku yang INFJ berdasarkan hasil tes MBTI lah, atau mungkin karena aku seorang melankolis plegmatis. Tetapi teori terkini berdasarkan fakta yang kudapati adalah karena aku belum bertemu dengan segerombolan manusia yang satu selera.

Sekarang, siapa sih yang tak bisa terhubung dengan manusia lain di ujung dunia yang berseberangan dengan kita? Semua media bisa digunakan, hanya bermodalkan sekotak telpon pintar dan kemauan saja. Kita bisa menjelajahi seluruh negeri. Dari itulah, aku mulai banyak menemukan orang-orang yang sama, yang satu selera, yang sepemikiran. Meskipun pada dasarnya, aku tetaplah sama, masih merasa asing terhadap sebuah julukan ‘pengikut tren’. Kenyataannya, banyak orang di luar sana yang pengikut media sosialnya jutaan, tapi aku bukan salah satu dari mereka. Banyak lagu, tontonan atau hal lain di luar sana yang digandrungi puluhan juta orang, tapi aku bukanlah di antaranya.

Hal yang kusukai memang cenderung berbeda dari orang kebanyakan. Tapi sama seperti semua orang, aku juga dapat terpengaruh dari hal-hal yang kulihat. Contohnya adalah dua gambar berikut ini.

 


Gegara tontonan, aku jadi ingin mempunyai barang-barang tersebut. Tentu saja, banyak hal yang bisa dijadikan alasan agar barang-barang itu bermanfaat. Karena sebagai seorang muslim, semua yang kita lakukan, semua yang kita miliki, semua yang kita ikuti, jangan sampai termasuk ke dalam hal yang sia-sia. Kata Rosululllah, di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya (HR. at-Tirmidzi). Dalam hadits lain, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

    Dua hal itulah yang selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Tetapi kenyataannya, menjadi bermanfaat adalah hal yang cukup mudah dilakukan, namun meninggalkan hal yang sia-sia, aku sendiri masih harus sangat berjuang. Akhir kata, yuk kita tingkatkan amalan di sepertiga malam terakhir bulan Romadhon ini, dan juga di hari yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional, yuk kita ingatkan diri kita untuk terus belajar dan terus tingkatkan keilmuan dunia yang dapat memperberat timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

#merdekabelajar #hardiknas2k21

Sabtu, Februari 23, 2019

COUPLE TIME: Persiapan Dua-Ilmu



                Tidak ada yang menafikan kebutuhan ilmu dalam suatu pekerjaan. Beragama perlu ilmu, sholat perlu ilmu, memasak perlu ilmu, sampai hal aneh seperti sulap pun perlu ilmu. Saking perlunya amnusia terhadap ilmu, maka segala macam sekolah pun dibentuk. Cooking class, magic class, TOEFL preparation, sanggar tari, klub olahraga dan sebagainya adalah contoh-contoh sekolah untuk ilmu tertentu. Di dalam islam, ilmu menjadi suatu hal yang penting untuk diperoleh. Sebagai seorang muslim, ilmu utama yang perlu kita pelajari adalah segala macam ilmu yang berkaitan dengan syari’at dan pelaksanaanya. Begitupun dengan pernikahan.
                Sebelum mencari pendamping, bahkan sebelum muncul keinginan untuk menikah, segala ilmu tentang pernikahan hendaknya sudah kiita pelajari. Tentu saja jika sudah saatnya, saat pemikiran sudah mencukupi dan bukan pada masa kanak-kanak. Ilmu-ilmu tersebut dapat diperoleh dari kajian, seminar, buku, pengalaman kawan dan orang sekitar dan lain-lain. Semakin dini kita mengetahui ilmunya, maka kita akan semakin biijak pada saat menjalani prosesnya.
                Beberapa kali mengikuti seminar dan kajian, pun mengadakan seminar dan kajian, sangat sedikit peserta pria yang kudapati hadir dalam majelis tersebut. Beberapa fakta yang kudapati dari seorang kawan adalah pria-pria cenderung malu menghadiri majelis demikian, mungkin juga karena jumlah wanita saat ini lebih banyak daripada pria. Para pria cenderung mengambil jalan lain dalam mempelajari persoalan ini. Bisa jadi karena ego, atau mungkin gengsi, atau karena hal lain yang tidak dapat dipahami oleh wanita. Bagiku, hal ini wajar-wajar saja.
                Beberapa alternatif yang bisa kusampaikan kali ini untuk kawan-kawan yang malu atau tak sempat menghadiri majelis darat yaitu, pertama kawan-kawan bisa berbincang dengan sahabat dekat (tentunya sejenis) atau senior-senior yang sudah menikah terlebih dahulu. Kedua kawan-kawan bisa request di media sosial pada orang-orang yang sudah menikah untuk membagikan beberapa tips. Setahu saya saat ini sudah banyak kawan-kawan yang mengunggah berbagai tips (menikah dan merawat anak) pada ig storynya. Selain itu, sahabat juga bisa melihat video tentang kajian ustadz/ah atau berbagai tips di youtube atau mesin pencarian.  Ketiga, hal yang tak kalah penting yaitu banyak mengamati berbagai macam karakter keluarga di lingkungan sekitar, tetangga, keluarga besar, dan mengambil hikmah dari pengamatan tersebut. Keempat, selain melalui media online, sahabat juga bisa mendengarkan kajian dari radio-radio islami. Kelima, karena belum tentu apa yang kita dapatkan dari orang lain adalah hal-hal yang sesuai dengan syari’at islam. Maka peran ustadz menjadi sangat penting dalam hal untuk mencari ilmu tentang pernikahan.
Sahabat, meski sudah banyak cara untuk mencari ilmu dari media online, menghadiri majelis adalah suatu hal yang utama karena keberkahan dan malaikat Allah banyak dilimpahkan saat itu. Demikian mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Rosulullah SAW berpesan bahwa ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Maksudnya adalah sesuatu yang kurang manfaat. Oleh karena itu, berbagai ilmu syari’at pernikahan yang telah kita pelajari, hendaknya semaksimal mungkin kita lakukan. Meskipun latar belakang keluarga kita kurang islami atau kurang pengetahuannya terhadap syari’at islam, maka hendaknya kita dapat mengomunikasikan kepada mereka dan membujuk mereka dengan baik semampu kita dan semaksimal mungkin. Akhirul kalam, wassalamu’alaikum~

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Februari 22, 2019

COUPLE TIME: Persiapan Satu-Komunikasi



                Saat perjalanan pulang kami (DIY-Sby) dari family trip YP SDM IPTEK beberapa pekan lalu, tiba-tiba kami berada dalam suatu pembahasan pernikahan. Padahal saat itu bukan hari sabtu malam yang katanya hari galau, melainkan hari ahad malam. Kurang lebih dua jam yaitu 21.30 sampai 23.30 WIB, kami membahas seputar pernikahan. Lebih tepatnya, kajian pranikah dari senior kami saat itu yang sudah menikah. Beliau bersama suami dan anaknya semobil dengan kami malam itu. Aku hanya mendengarkan dari jok paling belakang dan sesekali menyahut jika dipanggil, karena sebetulnya kajian itu ditujukan pada dua pria di jok depan dan si supir yang sedang mengalami masa-masa tergalaunya. Dari sekian banyak kajian dan seminar pranikah termasuk pembahasan malam itu, persiapan utama yang harus dilakukan (menurutku) adalah komunikasi dengan orang tua.
                Komunikasi dengan orang tua sangat-sangat perlu dilakukan dari awal sejak kita merasa butuh dengan adanya pendamping. Pun sebaliknya, jika orang tua yang sudah mendesak kita agar segera memiliki pasangan sedangkan kita belum merasa butuh, maka komunikasi sangat penting dilakukan. Kita juga perlu tahu keinginan orangtua. Kriteria pasangan seperti pekerjaan pasangan, asal daerah pasangan, level pendidikan, pengetahuan agama, dan level sosial pasangan adalah hal biasa yang orangtua inginkan. Hal-hal demikian akan membuat kita jelas dan mudah untuk menyampaikan alasan jika pilihan kita berbeda dengan keinginan orang tua. Dalam beberapa kasus, orangtua menolak calon pasangan si anak karena tiba-tiba datang tanpa obrolan terlebih dahulu. Hal inilah yang perlu kita hindari.
                Persiapan demikian pasti sudah banyak kawan-kawan baca dan dengarkan dari berbagai kajian pranikah. Namun bagi sebagian orang, hal itulah yang paling sulit dilakukan karena berbagai alasan. Faktor kedekatan adalah salah satu alasan utama komunikasi antar dua orang sulit dilakukan. Atau bisa jadi sama sekali tidak ada yang mengawali pembahasan seputar pernikahan antara kita dan orang tua. Orang tuanya santai, kitapun santai. Tapi isi hati orang siapa yang tahu, bisa jadi sikap santai orang tua itu karena melihat kita enjoy-enjoy saja dalam bekerja, atau masih senang-senang saja menjalani hidup sendiri saat ini. Padahal usia si anak sudah matang secara fisik, secara mental pun juga materi.
                Dalam hal ini, si anak lah yang dapat mengawali pembicaraan. Perlu keberanian lebih untuk membahas hal ini karena bisa jadi orang tua benar-benar santai dan merasa belum siap jika anaknya saat itu harus menikah. Para orang tua yang dulu menikah muda, belum tentu saat ini setuju dengan pernikahan pasangan muda, begitu pun sebaliknya. Maka dari itu, keberanian untuk berkomunikasi tentang hal pernikahan dan pasangan sangat perlu dilakukan. Kawan-kawan yang kurang confident atau belum courage membahas hal ini dengan orang tua, ada beberapa tips yang ingin saya sampaikan.
                Pertama, sering-sering bertanya kisah masa lalu pernikahan orang tua. Hal ini cukup efektif hasilnya karena orang tua akan mulai membuka memorinya dan mulai membuka dirinya membahas pernikahan. Kedua, bertanya tentang target pendidikan atau keinginan pada kita (anak-anaknya), mengapa aku harus begini dan mengapa aku dibesarkan begitu, membahas tentang masa kecil dan masa depan. Hal ini juga akan membuat  orang tua mulai berfikir hal-hal yang harus dilakukan kita (anak-anaknya) di usia tersebut. Karena bisa jadi, orang tua lupa tentang target-target yang diinginkan pada putra-putrinya.  Ketiga, jika kawan-kawan sudah mulai dekat dengan orang tua, kawan-kawan bisa ikut dalam pembahasan yang lebih dalam seperti permasalahan keluarga, konflik yang terjadi di keluarga besar, atau meminta tips-tips agar tetap harmonis di keluarga besar. Hal ini sangat efektif untuk mengingatkan orang tua bahwa suatu saat kita juga akan berada di posisi yang sama dengan mereka. Keempat, tahapan yang perlu dilakukan saat kawan-kawan sudah sangat dekat dengan orang tua, sudah percaya diri menjalin komunikasi tentang hal ini dengan mereka, adalah mengungkapkan keinginan dan target-target kita seperti usia berapa kita ingin menikah, apakah orang tua setuju dan sebagainya. Serta hal-hal lain yang lebih membahas tentang diri kita pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kita sudah siap dengan semua resiko, ujian, konflik, dan hal-hal lain yang sudah diceritkan dan dibahas pada komunikasi sebelumnya. Kelima, hal terakhir yang dapat dilakukan oleh kawan-kawan adalah pembuktian. Mulai dari manajemen diri yang baik, manajemen sosial yang baik, dan hal-hal lain yang perlu dibuktikan pada orang tua. Tunjukkan dengan sikap dan kata-kata kepada orang tua. Pada tahap ini, kawan-kawan juga sudah dapat membicarakan tata cara memilih pasangan sesuai syari’at, adat pernikahan yang syar’i, dan lain sebagainya yang perlu kita bahas dalam mempersiapkan pernikahan.
                Demikian semoga bermanfaat bagi kta semua karena saya juga sedang belajar. Semoga Allah meridhoi dunia akhirat untuk siapapun yang menjadi pendamping kita nantinya. Bye~ selamat memperjuangkan.

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Juni 18, 2016

Setapak Cahaya: MEMBIASAKAN YANG BENAR



Assalamu’alaikum sahabat, setelah kemarin kita membahas tentang ilmu pengetahuan di Setapak Cahaya: Berfikir Logis, mari kita buka tulisan ini dengan surat Al-Ahqof ayat 3-4 artinya: 3. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. 4. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku Apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau Adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"
Sahabat, belajar selama kurang lebih 5 tahun di jurusan Kimia membuatku sadar bagaimana sesungguhnya ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan terutama pada ilmu pengetahuan alam. Berbuku-buku yang telah kita baca juga menjadi bukti bahwa sesungguhnya Ilmu Allah masih lebih luas daripada semua buku yang telah ada di muka bumi. Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah buku dan ilmu yang kita baca hanya menumpang lewat mata kanan dan mata kiri? Bahkan tidak melalui bibir kita, juga tidak menghujam dalam hati kita? Serta tidakkah ia dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah? Maka dari itu perlu kita koreksi jenis bacaan tersebut dan kita cek kembali hati kita.
Bukankah Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna? Tidakkah kita merasa harus bersyukur dan membalas apa yang telah diberikan Allah kepada kita? Bukankah Allah telah memberikan kepada masing-masing kita bagian tubuh yang sama? Otak dan akal untuk berfikir, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara dan bagian lainnya mempunyai fungsinya sendiri. Lalu mengapa kita tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk berbuat baik pada setiap bagian tubuh kita, memberikan hak-hak kebaikan pada setiap ruas yang telah diciptakan-Nya. Tidakkah kita juga diberikan waktu yang sama selama sehari? Hanya saja sedikit berbeda beberapa tahun berada di dunia. Bukankah kematian tidak mengenal usia, baik tua maupun muda.
Ada salah satu kata menarik yang bisa juga sahabat ingat semua bahwa ‘biasakanlah yang benar jangan benarkan yang biasa (kebiasaan)’. Di dalam suatu hadits juga dijelaskan bahwa setiap ruas tubuh diri kita harus mengeluarkan sedekah, cara mudah salah satunya adalah dengan sholat dhuha. Oleh karena itu, sahabat semua mari kita biasakan untuk berbuat hal yang benar karena baik saja tidak cukup. Kebaikan adalah suatu hal yang relatif, artinya hal tersebut akan berbeda pada setiap orang. Itulah mengapa hukum di suatu negara berbeda antara yang satu dengan yang lain. Namun, hal yang benar atau kebenaran adalah sesuatu yang mutlak.
Maka dari itu sahabat, kebenaran inilah hal yang seharusnya kita cari dan kita biasakan. Dengan demikian, untuk mengakhiri tulisan ini mari kita baca terjemah surat Al-Ahqof ayat 19: “19. dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menerima amal kebaikan yang dilakukan oleh setiap ruas anggota tubuh kita. Amiin~


follow me @qhimahatthoyyib

Kamis, Juni 16, 2016

Setapak Cahaya: BERPIKIR LOGIS



Assalamu’alaikum sahabat, bagaimana hari ini? Masihkah anda bahagia? Semoga demikian yaa.. Berdasarkan hasil riset dari beberapa sumber disebutkan bahwa indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain. InsyaAllah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an hati kita yang sakit akan menjadi kembali tenang dan sembuh. Ya, karena Al-Qur’an adalah obat untuk segala penyakit, baik penyakit yang tampak maupun yang tidak tampak oleh manusia. Allah sendiri yang mengatakannya. Namun karena keimanan kita yang masih dangkal, banyak sekali di antara kita yang masih menyangsikannya.
Di era kehidupan yang semakin sekuler seperti ini, ilmu pengetahuan dan logika seolah berbeda jalan dan tidak dapat beriringan dengan agama. Hal ini sudah menjadi momok sejak dulu. Mungkin sahabat ingat kisah awal mula ditemukannya teori halosentris (matahari sebagai pusat tata surya) yang sangat ditentang oleh pihak gereja. Hal inilah yang menyebabkan para ilmuwan saat itu tidak berteman baik dengan para pemeluk agama. Sehingga tidak diragukan lagi mengapa banyak sekali para ilmuwan memilih sebagai seorang atheis (tidak bertuhan).
Pengetahuan selalu dihubungkan dengan logika yang seolah-olah kedua hal itu berlawanan dengan agama. Banyak dari kita mengira bahwa agama tidak bisa dilogika, sehingga kita mudah sekali ditipu dengan pemikiran sekuler yang memang sengaja mengobrak-abrik konsep berislam. Padahal jelas-jelas bila kita tahu isi Al-Quran, sebagiannya berisi ilmu pengetahuan. Ilmuwan-ilmuwan yang sengaja meneliti Al-Qur’an pun kemudian banyak yang menjadi muallaf dan taat berislam karena ayat-ayat-Nya. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa kita lah yang sesungguhnya kurang dalam belajar. Kurang bisa mengambil pelajaran dari Al-Qur’an untuk dilogikakan, juga kurang mengasah otak untuk bisa berpikir logis untuk mengalahkan pemikiran logika para kaum sekuler.
Beberapa contoh sikap logis yang ditunjukkan oleh Rosulullah adalah ketika menyelamatkan seseorang yang dikejar seorang quraisy untuk dibunuh. Seorang quraisy tersebut bertanya kepada Rosulullah, apakah beliau melihat si fulan yang dikejarnya. Kemudian Rosulullah berpindah satu langkah dari tempat beliau berdiri dan mengatakan semenjak aku berdiri di sini aku tidak melihatnya. Tentu saja sikap itu dilakukan untuk melindungi dan menghindari pembunuhan. Demikian, untuk mengakhiri tulisan ini mari kita baca terjemah surat Az-Zumar ayat 1-2: 1. kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah yang Maha Perkasa (Maha Mulia) lagi Maha Bijaksana. 2. sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu (Muhammad) kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan (tulus ikhlas beragama) kepada-Nya.
Sebagai penutup, sesungguhnya seberapa tinggi pun kita berlogika, tentu saja ada batasnya. Seperti komputer yang diciptakan oleh manusia, manusia juga sesuatu yang diciptakan oleh Dzat lainnya. Kecanggihan komputer tidak akan melebihi kecanggihan manusia yang membuatnya. Serta manusia tidak akan lebih canggih dari penciptanya. So, selamat belajar sahabat :)


follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 15, 2016

Setapak Cahaya: TOLERANSI DAN KONSEKUENSI



Assalamu’alaikum sahabat, Bulan Ramadhan yang notabene adalah bulan suci tahun ini kembali ternodai. Banyak sekali pihak-pihak yang ingin memecah belah umat islam. Banyak sekali pihak-pihak yang berkumpul membuat tipu daya untuk menghancurkan agama islam. Seperti telah kita bahas di tulisan-tulisan sebelumnya, Setapak Cahaya: Menjadi Bintang, bahwa terkenal di dunia bukanlah menjadi tujuan umat islam. Tidak peduli sebanyak dan sejahat apa serangan-serangan orang kafir dan kawan-kawannya terhadap Islam, agama ini akan selalu berjaya dan semakin hari semakin banyak yang terkagum-kagum padanya. Allah telah menjanjikannya.
Berbicara mengenai Islam, telah banyak dibahas oleh pakar-pakar sejarah bagaimana awal mula agama ini datang kemudian berkembang selanjutnya menyebar. Banyak juga dibahas oleh pakar bahwa agama ini adalah agama termoderen yang pernah ada. Agama yang pertama kali mengajarkan kebersihan, mandi, bersuci dan lain sebagainya. Agama terlengkap yang mengajarkan segala hal, mengatur semuanya semenjak bangun tidur hingga tidur kembali. Agama yang mempunyai orang nomer satu dunia dan akhirat, yap Rosulullah SAW. Agama yang mempunyai Kitab yang tidak ada kekurangan di dalamnya, yang bahkan kebenarannya baru dapat dibuktikan setelah ribuan tahun semenjak Kitab tersebut diturunkan.
Al-Qur’an adalah undang-undang terlengkap bagi umat Islam. Kitab yang berisi panduan, tuntunan, perintah dan larangan bagi penggunanya. Sayangnya, di dunia yang terdiri dari berbagai negara, manusia dengan berbagai kepercayaan yang dipeluknya tidak mungkin menggunakan Al-Qur’an sebagai panduan hidupnya. Sehingga dibuatlah aturan-aturan yang menurut mereka benar dan membuat mereka nyaman. Hal ini kemudian juga menyingkirkan beberapa pemeluk agama Islam yang ingin menerapkan Al-Qur’an dalam keseharian hidupnya. Bagaimana tidak, bahwa di dunia ini hanya sedikit negara yang menerapkan syar’at islam. Alasannya tentu saja hal yang klise, bahwa negara tersebut bukanlah negara Islam sehingga bukan aturan Islam yang digunakan.
Seperti telah kita bahas pada tulisan sebelumnya, Setapak Cahaya: Penegak Keadilan, mengapa pemerintah tidak menerapkan aturan Islam untuk pemeluknya dan aturan kepercayaan lain untuk pemeluknya. Alasannya sederhana dan lagi-lagi klise, bahwa aturan yang tidak menyeluruh dan merata akan menimbulkan pemikiran bahwa pemerintah bersikap tidak adil. Padahal itu hanya alasan-alasan saja yang mereka buat. Sudah jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang membenci Islam tidak akan berhenti untuk menjauhkan umat muslim dari ajaran yang sebenarnya. Mari sedikit kita tengok surat Ali ‘Imron ayat 54 yang artinya: 54. orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.
Berislam, sudah pasti memiliki konsekuensi tersendiri. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberitahukan segalanya. Bagaimana kita harus bersikap terhadap sahabat juga terhadap musuh apalagi terhadap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat. Demikianlah, untuk mengakhiri tulisan ini mari kita lihat terjemah surat Fathir ayat 45: 45. dan kalau Sekiranya Allah menyiksa (menghukum) manusia disebabkan usahanya (perbuatan mereka), niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun[1262] akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka (nanti) apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. 
[1262] Daabbah artinya ialah makhluk yang melata. tetapi yang dimaksud di sini ialah manusia.




follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Juni 10, 2016

Setapak Cahaya: ALLAH YANG MENGAJARKAN



Sahabat, seperti yang kita ketahui bersama bahwa di dunia ini ada beragam suku bangsa, beraneka macam jenis ras, berbagai jenis makhluk hidup dan lain sebagainya. Namun semua hal itu tidak akan menjadi masalah apabila Islam adalah agama yang kita peluk bersama. Bahasa yang sama, ibadah yang sama, bahkan juga memiliki sapaan yang sama. Assalamu’alaikum, satu kalimat ajaib yang dapat menjadikan aku dan kamu seperti saudara jauh yang telah lama tidak bertemu ketika pertama kali kita dipertemukan. Iya, kamu hehe. Tetapi sungguh, hal itu banyak terjadi pada muslimin yang benar-benar ikhlas menjalani aturan Islam. Terutama bila kita melancong ke luar negeri. Berucap salam adalah kunci untuk berkenalan dengan muslim lainnya.
Salam. Seperti kata-kata lainnya, kata ini juga memiliki beberapa makna yaitu damai dan selamat. Kemudian dijabarkan menjadi kata ‘ISLAM’ yang berarti kedamaian atau keselamatan. Yang juga memiliki makna jawa Isya’, Shubuh, Luhur (Dhuhr), Ashr, Maghrib. Ya, memeluk agama Islam adalah pilihan yang tepat bagi siapa saja. Agama yang tidak hanya sekedar ritual tapi juga sebagai ideologi dalam bertindak dan bermasyarakat. Agama yang tidak hanya dipeluk oleh golongan manusia tapi juga jin dan makhluk lainnya. Golongan yang memiliki satu kesamaan yaitu percaya bahwa Allah sebagai Tuhan yang menciptakan, mengatur dan memelihara kita semua.
Sahabat, tidakkah kita ingat kapan pertama kali kita terjatuh? Tidakkah kita ingat kapan pertama kali kita bangkit dari jatuh? Bukan, bukan saat belajar mengendarai sepeda. Bahkan lebih jauh sebelum itu. Ya, ketika kita belajar merangkak juga sebelum itu ketika kita belajar tengkurap. Sejak kecil kita telah belajar, hingga kini kita pun masih belajar. Benar bila pepatah arab mengatakan carlahi ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat.
Berjalan misalnya, sahabat ingat tidak siapa yang meminta kita belajar berjalan? Siapa yang mengajarkan kita berjalan? Orangtua kita kah? Tentu saja bukan. Jika belajar dalam arti yang sesungguhnya tentu saja bukan orangtua kita yang mengajarkan. Tidak mungkin kita mampu berjalan bila orangtua selalu menuntun kita, justru sebenarnya merekalah yang membiarkan kita terjatuh.
Layaknya ikan yang ketika terlahir sudah berada di perairan, atau burung yang terlahir sudah harus berada di ketinggian penuh angin kencang, pun unta yang baru lahir telah merasakan panasnya mentari, begitu pula dengan makhluk lain yang terlahir di tempat bermulanya. Kita tentu juga mempunyai permulaan. Nabi Adam namanya. Di dalam Al-Qur’an terdapat penggalan ayat menarik yang memberitahu kita bahwa Allah-lah yang mengajarkan semua hal kepada kita. bukan orangtua juga bukan orang-orang lainnya di sekitar kita. Ialah Allah yang membukakan pintu pikiran kita agar ilmu-ilmu-Nya yang kita temui dapat sedikit demi sedikit masuk ke dalam diri kita.
Surat Al-Baqoroh ayat 31-33, menyebutkan: 31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" 32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]." 33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
[35] Sebenarnya terjemahan hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, karena arti hakim Ialah: yang mempunyai hikmah. Hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.
Ialah Allah, Tuhan yang menciptakan, mengatur dan memelihara kita semua. Seandainya air laut digunakan sebagai tinta untuk menuliskan ilmu-Nya tentulah tidak akan selesai meski telah habis isinya. Itulah salah satu penggalan hadits Rosulullah yang menyatakan bahwa ilmu yang dimiliki oleh manusia atau makhluk lainnya bukan semata-mata milik mereka. Namun, dibalik itu adalah Allah yang telah mengajarkan dan memberikannya kepada kita. InsyaAllah sekian untuk hari ini, bila ada salahnya saya mohon maaf karena berasal dari saya sendiri dan jika ada benarnya itu adalah karunia dari Allah. Wassalam~

follow me @qhimahatthoyyib