Minggu, Agustus 05, 2018

RUMAH SAKIT BERCERITA #2



                Assalamu’alaikum sahabat, rencananya selama bulan Agustus ini dan (mungkin) September, saya akan menuliskan kisah-kisah berdasarkan pengalaman di Rumah Sakit. Mudah-madahan banyak hal yang bisa saya bagikan dan kita ambil hikmahnya bersama-sama.
                Sejak tahun 2016 bulan Desember, saya mengeluhkan penyakit ini hingga akhirnya harus dirujuk dari puskesmas ke Rumah Sakit (RS). Rumah saya berada di Surabaya Timur, merupakan letak yang strategis karena banyak Rumah Sakit pemerintah dekat dari sini. Saat itu, aku dirujuk ke salah satu Rumah Sakit Islam yang biasa kudatangi saat periksa mata. Namun, beberapa bulan kemudian dokter RSI tersebut merekomendasikanku untuk pindah rumah sakit. Rumah Sakit Angkatan yang pelayanan terkait penyakit THT dan Jala Puspa disebut nomor satu di Jawa Timur. Akhirnya, bulan Juni 2017 aku mulai memeriksakan diri di RS tersebut.
                Suasana di RS Angkatan memang dapat dikatakan berbeda dengan RS lainnya. Semua tenaga kerja kesehatannya cekatan dan tanggap. Mungkin karena sudah terlatih demikian atau sudah terbiasa dalam kondisi perang, bencana, atau dalam tekanan. Jangan percaya, karena itu hanya perkiraanku saja. Seragam Angkatan, sejak dulu kuanggap istimewa karena kakekku juga seorang tentara. Jadi, menurut orang tuaku RS ini adalah RS bersejarah bagi keluarga. Saat menjagaku di ruang inap H2 menjelang operasi bulan Oktober 2017 dan Februari 2018 lalu, kata ummiku (read: ibuku) lorong-lorong, taman, dan ruangan seperti mengisahkan kejadian pada masa kecilnya dulu, nostalgia begitu.
                Siang itu, entah sudah keberapa kalinya aku berada di ruang yang sama. Mengantri seperti biasa, menunggu panggilan obat dan mencoba melepas kebosanan dengan hal-hal yang bisa kulakukan sembari duduk. Dua kursi kanan dan kiriku kosong, hal yang biasa tejadi padaku. Karena saat mengantri seperti itu, aku lebih memilih jauh dari keramaian, kadang duduk di pojokan, atau duduk di kursi paling pinggir. Bukan apa-apa, karena terkadang berbincang dengan orang yang sama-sama sakit bisa jadi tidak menguntungkan. Jika kalian tidak percaya, nantikan kisahku selanjutnya. Karena kali ini aku akan mengisahkan hal berbeda.
                Tiga orang bapak-bapak di samping kiriku dengan jarak satu kursi kosong tersebut tengah berbincang sambil menunggu antrian dan mengusir kebosanan. Sama sepertiku tetapi bedanya aku sendiri menikmati bacaan di layar hape (handphone). Mereka mengenakan seragam tentara, karena seorang Anggota tetap harus berseragam pada jam kerja apapun aktivitasnya. Mendengar perbincangan mereka, tidak kusangka ternyata bapak-bapak tentara juga bisa bercanda, bahkan bergosip ria :) hihi. Salah satu topik perbincangan yang kuperhatikan dengan benar adalah bagaimana gaya hidup seorang tentara, termasuk bersikap pada keluarganya, koleganya, serta kegiatan mereka saat merantau jauh di wilayah penempatan.
Topik hangat yang selalu tetap hangat di kalangan bapak-bapak adalah poligami. Tetapi di kalangan tentara bentuk poligaminya berbeda. Dulu, aku hanya sering mendengar dan seringkali tidak percaya jika seorang tentara dikatakan senang bermain wanita. Tetapi, yang kudengar siang itu, adalah berbagai data dan fakta yang disebutkan seorang tentara berdasarkan pengalaman kawan-kawannya. Bagaimana mungkin aku tidak percaya jika yang menyampaikan adalah seorang kenalan atau bahkan kawan dekat dengan si empu yang melakukan kejadian. Meskipun juga belum bisa kupastikan kebenarannya. Setidaknya sumbernya terlihat dapat dipercaya. “arek iku, pangkatnya belum apa-apa tapi mainnya sudah luar biasa. Gimana nanti kalau sudah diangkat, wah malah berbahaya.” Salah satu poin obrolan mereka saat berbicara tentang seorang kawan dengan pangkat masih di bawah tetapi sikapnya (bermain) dengan wanita sudah sangat luar biasa. Bagaimana nanti jika sudah naik pangkat? Apalagi yang akan dikerjakannya, mungkin jauh lebih berbahaya.
Poin hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian ini adalah, bisa jadi seseorang bersikap demikian karena ia jauh dari Allah. Bisa jadi di wilayah tugasnya tidak banyak atau bahkan tidak ada orang yang diajak atau mengajak untuk selalu ingat kepada Allah. Kemungkinan lain yang menyebabkan hal itu terjadi adalah kurangnya teguhnya niat dalam hati saat bertugas. Hendaknya saat melakukan kegiatan kita niatkan untuk mencari ridho Allah. Maka insyaaAllah, Allah akan menghindarkan dan menjauhkan kita dari berbagai kejadian buruk di sekitar kita. Maka dari itu sahabat, mari kita mohon kepada Allah agar selalu melindungi kita di manasaja berada. Baik saat sekolah, bekerja, berwisata, dan kegiatan lainnya. Amiin~

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Agustus 03, 2018

RUMAH SAKIT BERCERITA #1



                Assalamu’alaikum sahabat semua, semoga kita selalu dalam kondisi hati dan iman yang baik serta bersih. Meskipun pada hari ini sebagian kita mendapat cobaan, atau sebagian yang lain mendapat kesenangan mudah-mudahan kita selalu mendapatkan keberkahan. Amiin~ Sahabat, kali ini saya mencoba berkisah dan mengambil ibroh (pelajaran) dari kejadian-kejadian di Rumah Sakit selama saya berobat kurang lebih dua tahun terakhir.
                Pagi itu, seperti biasa aku berobat ke RS (Rumah Sakit) yang jaraknya sekitar 20 km dari rumah. Kontrol pertama setelah dua bulan lamanya aku meliburkan diri. Meskipun pada hari-hari sebelumnya keluhan itu ada, tetapi kucoba bertahan namun sia-sia. Semakin hari semakin parah, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke RS. Meskipun harus melewati drama di puskesmas saat minta rujukan, karena aku libur minta rujukan dua bulan, seharusnya tidak boleh langsung kembali ke RS. Tapi petugas puskesmasnya baik sekali :) Alhamdulillah Allah masih memberikan kemudahan padaku.
                Kubuyarkan kebosanan menunggu antrian dengan membuka hape (handphone), membaca al-qur’an, memainkan game asah otak, menulis puisi, terkadang bercakap dengan orang sebelah dan apapun yang bisa dilakukan. Akhir-akhir ini aku menikmati buku yang baru saja kubeli NEGERI SENJA sambil menunggu antrian. Saat itu, ketika sedang menikmati story kawan-kawan di layar hapeku, aku mendengar seorang ibu berbincang dengan ibu lain di sampingnya. Obrolan ringan yang memang biasa dilakukan di rumah sakit, tidak jauh dari tema seputar penyakit, cara penanganannya, bagaimana di rumah, bagaimana pelayanan rumah sakit. Tetapi satu kalimat yang membuatku terhenti bermain hape dan fokus pada obrolan mereka adalah, ”bojoku mba seng loro, wong e maem e rewel, koyok gak gelem waras”, “iyo, lek wong lanang loro awak dewe repot, tapi lek awak dewe loro wong lanang iki gak gelem repot”.
                Percakapan mereka memang dalam bahasa jawa, maka kutuliskan seperti asalnya. Jadi begini, maksud dari kata-kata kedua ibu tersebut adalah sebagian keluarga jika suami yang sakit maka istri akan setia merawatnya, memenuhi segala kebutuhannya dan mendukung untuk kesembuhannya. Tetapi jika istri yang sakit maka seringkali suami acuh dan tidak bisa memberikan perawatan terbaik atau yang dibutuhkan istrinya. Setelah mendengar pernyataan tersebut, aku mulai berpikir sepertinya bukan kali pertama aku tahu akan hal itu. Saat di puskesmas, atau ruang rawat inap, atau IGD, banyak wanita terutama seorang istri dan ibu berpikiran sama, menyampaikan pendapat yang sama. Apakah memang hal tersebut terjadi pada sebagian besar keluarga? Tetapi hebatnya adalah wanita memiliki kemauan sembuh lebih besar daripada pria. Terlebih jika wanita tersebut adalah seorang istri yang merasa dibutuhkan oleh suami atau ibu yang merasa dibutuhkan oleh anak-anaknya.
                Di masa-masa sakit seperti ini, kisah epik dan heroik yang selalu terlintas adalah kisah Nabi Ayyub. Bagaimanapun di masa sulit beliau, sang istri satu-satunya yang mau merawatnya dengan sabar selama 7 tahun. Bukan waktu yang sebentar, tetapi jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang sudah diberikan bertahun-tahun lebih lama maka kata beliau 7 tahun bukanlah apa-apa. Ketika seorang istri dengan sabar dan rela merawat suaminya, serta sellau mendekat kepada Allah, maka keberkahan dan kemudahan akan diberikan oleh Allah kepada keluarga kita. Setelah masa suit itu, akhirnya harta mereka kembali, anak-anak pun dilahirkan lagi. Semoga kita selalu dapat mengambil hikmah dari semua kejadian yang kita alami. Sampai jumpa di Rumah Sakit Bercerita selanjutnya. Semoga bermanfaat~

follow me @qhimahatthoyyib