Senin, September 24, 2018

SELINGAN 4 : Tokoh Utama Tak Selalu Sempurna Kemenangannya



                Selain korean variety show atau japanese dorama, genre tontonan favoritku adalah action-science fiction movie terutama dari mancanegara seperti mission impossible dan kawan-kawan yang berasal dari Barat, maupun oolong courtyard dan leluhurnya yang berasal dari China, hingga jelmaan (adaptasi) anime seperti Tokyo ghoul, Jojo’s bizarre adventure dan sejenisnya yang berasal dari Jepang.
                Movie yang baru saja kutonton akhir-akhir ini tak kalah menarik dari movie lainnya. Selain adegan, grafis, dan aktor-aktris yang bagus, movie ini memiliki alur cerita dan pelajaran tersendiri bagiku. Judulnya adalah Bleach, salah satu movie jelmaan anime dengan judul yang sama. Meski tak menggemari animenya, movie ini memberi kesan tersendiri bagiku. Selain itu, movie berjudul Reborn (2018) juga memiliki benang merah yang sama. Kedua film tersebut sangat kurekomendasikan bagi sahabat yang juga mempunyai genre film favorit yang sama dengaku.
                Aku menonton dua movie tersebut di RS (rumah sakit), sehari sebelum dan setelah menjalani operasi telinga revisi CWD(s) pada 21 september lalu. Akan kujelaskan satu per satu mengapa aku menganggap dua film tersebut memberi pelajaran yang sama menurutku. Pertama, Reborn mengisahkan para hacker yang pada akhir cerita diketahui adalah agen rahasia suatu negara berhasil menggagalkan rencana pengacakan aplikasi terbaru oleh seorang pengusaha IT terkenal di Asia yang juga mantan hacker. Kedua, Bleach berkisah tentang seorang manusia yang berubah menjadi soul reaper (shinigami) setelah bertemu shinigami wanita yang berusaha menyelamatkannya dari Hollow pemakan nyawa.
Setelah membandingkan inti kedua kisah tersebut, seolah memang tak berkaitan satu dengan lainnya. Tetapi pada akhir kisah, film Reborn menceritakan bahwa meskipun berhasil menggagalkan misi jahat sang pengusaha, namun si hacker tokoh utama kehilangan rekan kerja wanita yang juga adalah soulmatenya. Selanjutnya pada film Bleach, manusia tokoh utama tersebut telah kehilangan ibu di masa kecilnya, selain itu sebagai seorang anak lelaki tertua dia tidak berhasil melindungi siapapun. Menurutnya, hanya dirinya yang selalu mendapatkan perlindungan.
Dari akhir kedua kisah tersebut, meskipun si tokoh utama berhasil mengalahkan lawannya, namun ia harus rela kehilangan orang yang dicintainya. Apakah itu orang tua, saudara, pasangan, selalu ada hal yang dikorbankan oleh tokoh utama untuk mencapai keberhasilannya. Sampai-sampai mereka menganggap keberhasilan itu didedikasikan untuk yang telah tiada atau menganggap keberhasilan itu adalah keberuntungan semata.
Sesungguhnya pelajaran hidup seperti ini dapat diperoleh dari mana saja, dari film apapun, dari kisah siapapun. Tetapi jika kita tidak cermat mengambil pelajaran dari suatu kisah dan melewatkannya begitu saja, lalu untuk apakah akal pikiran kita gunakan. Sahabat, tokoh utama bukanlah seorang yang sempurna kebahagiannya. Tokoh utama bukan pula orang yang selalu menang dalam hidupnya. Tokoh utama juga tak selalu happy ending kisahnya. Sahabat, kitalah tokoh utama dari kisah hidup kita masing-masing, dengan Allah sebagai sutradara dan malaikat sebagai kru-kru lainnya. Oleh karena itu, jalani saja hidup ini semaumu, semampumu, seolah kau hidup selamanya. Namun jangan lupakan ibadahmu seolah esok kau tiada.
Sahabat, aku menulis ini beberapa jam pulang ke rumah setelah opname pasca operasi. Aku masih tak percaya aku bisa membuka mataku kembali setelah beberapa jam terbius tiga hari lalu. Aku bersyukur ternyata Allah masih memberikan kepercayaan padaku untuk melanjutkan jalan hidup. Kisah-kisahku tentang rumah sakit akan kutuliskan pada lembar berikutnya. Nantikan ya~

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, September 01, 2018

RUMAH SAKIT BERCERITA #5



Selain dorama dan Japanese movie, tayangan yang seringkali kutonton adalah Korean variety show berjudul Hello Counselor. Setiap episodenya, show ini menampilkan tiga laporan masalah dari penduduk korea untuk diselesaikan oleh host dan penonton. Belum lama ini, salah satu episodenya menampilkan laporan dari orangtua yang mempunyai anak dengan dua warna mata berbeda. Anak tersebut memiliki mata berwarna hitam di satu sisi dan biru di sisi lain. Seperti bisa kawan-kawan bayangkan, anak dengan keistimewaan seperti itu sangatlah jarang sehingga pastilah menjadi pembicaraan hingga bahan ejekan karena orang lain tidak terbiasa melihat hal yang demikian. Maka dari itu, kedua orang tua si kecil tersebut memberanikan diri untuk tampil di televisi agar menjadi pelajaran bagi masyarakat. Selain itu juga dapat memunculkan rasa percaya diri pada si kecil.
Keadaan seperti itu ternyata tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan negara kita Indonesia. Masih banyak orang dengan pandangan sebelah mata pada penderita kelainan terlebih pada anak-anak. Aku masih ingat ketika dulu pertama kali aku memakai kacamata yaitu saat kelas 4 SD/MI. Berarti sekitar 15 tahun yang lalu, aku juga mengalami hal yang sama dengan si kecil pada cerita di atas. Tetapi mungkin tidak separah itu, tidak juga separah anak-anak penderita kelainan lainnya.
Tayangan tersebut dan gambaran masa lalu itu mengingatkanku pada beberapa momen di rumah sakit ketika aku melihat seorang gadis kecil berkacamata di rumah sakit. Mungkin sama usianya denganku dulu saat pertama kali mengenakan kacamata. Aku tak yakin apakah yang dipakai kacamata berlensa ataukah kacamata pelindung biasa karena aku tak berbincang sama sekali dengan orangtuanya. Tetapi dari penampakannya, itu adalah kacamata berlensa. Meski tak yakin, namun seringkali feelingku benar. Selain itu, aku juga beberapa kali melihat anak-anak dengan kelainan bicara atau mendengar di klinik tempat aku berobat yaitu klinik THT (telinga, hidung, tenggorok). Hebatnya, keadaan yang demikian tidak membuat mereka kehilangan semangat dan keceriaan. Para krucil itu tetap berlarian kesana kemari, mencoba bicara semampunya, atau bermain jika bertemu dengan kawan sebayanya.
Melihat kejadian itu, atau jika mereka ada di sebelahku, aku hanya bisa tersenyum dan seringkali tak bisa berkata-kata karena takut apa yang kukatakan mungkin saja menyinggungnya atau orangtuanya. Selain itu, aku selalu kagum dengan orangtua mereka. Ayah ibunya pasti memiliki kesabaran yang luar biasa dibandingkan dengan orangtua dari anak-anak normal. Ayah ibunya pasti memiliki kecintaan yang luar biasa agar anak tetap merasa bahagia dan tidak merasa dikucilkan. Ayah ibunya pasti memiliki rasa percaya diri dan semangat luar biasa untuk tetap peduli pada putra-putrinya. Setelah mengamati hal demikian, aku yakin bahwa Allah tidak akan memilih orang yang salah untuk diberi ujian. Ia pasti tidak akan memberi ujian diluar kemampuan makhluk-Nya. Hanya saja, hasilnya tergantung pada kita. Apakah kita sendiri berniat untuk berubah atau tidak, serta yakin atau tidak. Mudah-mudahan kita semua termasuk pada makhluk-Nya yang beriman dan bersabar.

follow me @qhimahatthoyyib