Sabtu, Juni 26, 2021

One of The Sights – Ichikei no Karasu

 

                “Sampai jumpa di pengadilan akhirat!”

                Kata-kata itu tidak pernah ada di salah satu drama Jepang bertema pengadilan berjudul Ichikei no Karasu (Ichikei’s Crow) yang tayang baru-baru ini. Karena si hakim satu ini adalah hakim yang sangat adil dan benar-benar mencari kebenaran atas suatu perkara. Bahkan, ia seringkali menggunakan otoritasnya untuk melakukan rekonstruksi kejadian guna menghindari kesalahan putusan. Sehingga, ia ditakuti oleh para pengacara dan jaksa. Selain itu, organisasi kehakiman tertinggi pun ingin menyingkirkannya karena ulah yang ia perbuat merugikan para atasan dan politisi.


                Tentu saja yang ditampilkan dalam drama ini hanyalah hal fiksi, tapi tidak menutup kemungkinan perkara tersebut terjadi di dunia nyata. Bahwa hakim yang baik dan benar akan dibenci dan perlahan-lahan disingkirkan oleh kekuasaan. Sehingga, para hakim tak punya pilihan lain selain menjalankan amanah sebagaimana pesanan atasan. Namun, drama ini menggambarkan bahwa kebenaran akan selalu menunjukkan wujudnya, dan sedalam apapun kesalahan disembunyikan, suatu saat hal itu akan muncul ke permukaan.

                Persoalan pengadilan ternyata sama saja di negeri ini dan negeri itu. Sedemokratis apapun kondisinya, yang namanya penguasa ya pasti merasa punya kuasa atas segalanya. Atas rakyatnya, atas sumber dayanya, bahkan atas segala yang terjadi pun harus sesuai kehendaknya. Siapa yang seharusnya bertahta, siapa yang semestinya dipenjara, mereka atur sedemikian rupa. Tak peduli yang terjadi pada rakyatnya, asalkan mereka bisa makan enak dan tidur nyenyak. Sungguh, hal itu bukanlah kepemimpinan yang digambarkan dalam Islam. Tapi bagaimanapun kondisinya, pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Oleh karena itu, teruslah jadi orang baik dan bertahanlah dalam kebaikan agar suatu saat muncul pemimpin terbaik di antara yang baik itu.

Minggu, Mei 02, 2021

Keracunan Tontonan


                Assalamu’alaikum semuanya~ Selamat berpuasa dan beribadah di bulan Romadhon 1442 H untuk semua yang menjalankan. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada tulisan rutin dariku selama bulan Romadhon ya, padahal list yang ingin kutuliskan sudah kurancang lagi sejak tahun lalu. Kesibukan? Oh tentu itu hanyalah satu dari sekian alasan yang dapat kita ucapkan bukan? Lain kali akan kuceritakan tentang pendapatku terhadap ‘alasan’. Saat ini, aku ingin mengisahkan hal lain terlebih dahulu.

Sejak dulu, aku merasa bukan termasuk pengikut tren. Genre lagu favorit, drama/film favorit, atau produk lain meski hanya sekedar warung makan yang menjadi favoritku cenderung berbeda dengan orang kebanyakan di masanya. Misalnya, aku bisa saja suka sesuatu yang disukai orang-orang tua dan tak disukai kalangan seusiaku. Terkadang aku juga sesuatu yang disukai anak-anak kecil atau yang lebih muda daripadaku. Bahkan sesuatu yang semua kalangan suka pun, kenyataannya, aku tak suka. Sejumlah teori kukaitkan, karena golongan darahku yang AB lah, atau kategoriku yang INFJ berdasarkan hasil tes MBTI lah, atau mungkin karena aku seorang melankolis plegmatis. Tetapi teori terkini berdasarkan fakta yang kudapati adalah karena aku belum bertemu dengan segerombolan manusia yang satu selera.

Sekarang, siapa sih yang tak bisa terhubung dengan manusia lain di ujung dunia yang berseberangan dengan kita? Semua media bisa digunakan, hanya bermodalkan sekotak telpon pintar dan kemauan saja. Kita bisa menjelajahi seluruh negeri. Dari itulah, aku mulai banyak menemukan orang-orang yang sama, yang satu selera, yang sepemikiran. Meskipun pada dasarnya, aku tetaplah sama, masih merasa asing terhadap sebuah julukan ‘pengikut tren’. Kenyataannya, banyak orang di luar sana yang pengikut media sosialnya jutaan, tapi aku bukan salah satu dari mereka. Banyak lagu, tontonan atau hal lain di luar sana yang digandrungi puluhan juta orang, tapi aku bukanlah di antaranya.

Hal yang kusukai memang cenderung berbeda dari orang kebanyakan. Tapi sama seperti semua orang, aku juga dapat terpengaruh dari hal-hal yang kulihat. Contohnya adalah dua gambar berikut ini.

 


Gegara tontonan, aku jadi ingin mempunyai barang-barang tersebut. Tentu saja, banyak hal yang bisa dijadikan alasan agar barang-barang itu bermanfaat. Karena sebagai seorang muslim, semua yang kita lakukan, semua yang kita miliki, semua yang kita ikuti, jangan sampai termasuk ke dalam hal yang sia-sia. Kata Rosululllah, di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya (HR. at-Tirmidzi). Dalam hadits lain, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

    Dua hal itulah yang selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Tetapi kenyataannya, menjadi bermanfaat adalah hal yang cukup mudah dilakukan, namun meninggalkan hal yang sia-sia, aku sendiri masih harus sangat berjuang. Akhir kata, yuk kita tingkatkan amalan di sepertiga malam terakhir bulan Romadhon ini, dan juga di hari yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional, yuk kita ingatkan diri kita untuk terus belajar dan terus tingkatkan keilmuan dunia yang dapat memperberat timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

#merdekabelajar #hardiknas2k21