Rabu, Juni 29, 2016

For Desember



Louvember, 20th 2021
Desember aku senang sekali hari ini, kau tahu kenapa? Entahlah! Sebenarnya aku juga tak begitu mengerti mengapa diriku dan perasaanku terasa sangat bahagia, tanpa beban, dan sangat ringan. Aku ingin sekali bercerita sesuatu kepadamu tentang negeriku saat ini. Aku sangat senang, sekarang negeriku menjadi nyaman, tenteram dan menyenangkan. Semua warga negara sejahtera dan sentosa, tidak ada kerusuhan dimana-mana, sungguh menyenangkan sekali tinggal di negeri yang semacam ini.
Sekarang aku tinggal di sebuah rumah dengan ayahku, ibuku, adik-adikku sayangnya aku tidak punya kakak, maukah kau menjadi kakakku Desember? Tidak perlu sih sebenarnya, aku cukup senang kau menjadi sahabat terbaikku yang selalu mau menemaniku selama ini. Desember, aku sangat senang meskipun di rumahku tidak ada barang-barang yang kata orang sudah menjadi kebutuhan pokok mereka, seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci juga barang-barang yang lainnya. Aku sudah cukup senang meski tak ada semua barang itu di rumah, aku senang punya keluarga yang sangat istimewa, selalu tertawa, selalu bahagia, aku pun senang jika semua tetanggaku sudah sejahtera, aku sangat senang.
Desember, lihatlah di sekelilingku, semua bahagia, tertawa, semua sejahtera, aku pun akan bahagia jika semua bahagia. Orangtuaku pun selalu bahagia, kami sekeluarga selalu bahagia. Satu tetanggaku yang sangat kukagumi, ia selalu bahagia meskipun setiap hari harus mencari sampah demi memenuhi kebutuhan hidupnya, ia selalu tersenyum meskipun tak seberapa banyak hasil jerih payah yang ia dapatkan setelah seharian penuh mencari sampah, ia selalu berbagi kepada keluargaku, berbagi tentang cerita hidupnya, berbagi rezeki yang telah ia dapatkan, berbagi apapun kepada kami. Sungguh hidup kami sudah sejahtera.
Desember, lihatlah langit itu! Senja itu begitu mempesona, selalu merona berwarna merah dan jingga, selalu membuatku bahagia dan merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Desember, sungguh aku sangat senang berada di negeri ini, negeri yang hijau, negeri yang biru, negeri yang penuh dengan warna, warna yang selalu membuat negeri ini mempesona dan membuat siapapun terpesona padanya. Desember, harusnya kau kuajak kesini untuk melihat betapa indahnya negeri yang kutempati ini.
Desember, pagi ini aku harus berangkat bekerja. Aku harus pergi mencari rezekiku yang telah ditetapkan Tuhan dan akan diberikan oleh-Nya padaku. Aku bekerja di tempat yang tak disukai banyak orang tetapi desember, aku sangat bahagia, jika tempat itu tak disukai banyak orang maka tidak banyak orang mencari nafkah disana namun ternyata aku salah, banyak sekali orang bernasib sama seperti aku. Jadi aku punya banyak sekali kenalan dari tempat kerja itu. Kata orang sih jarak dari rumah ke tempat kerjaku kurang lebih 2,5 km karena aku tidak tahu pasti ukurannya berapa, kau tahu kenapa? Karena aku tidak pernah lulus SMA dan pendidikan terakhirku adalah sekolah dasar.
Desember, tempat kerjaku tak berbeda jauh dengan tempat kerja tetanggaku yang kuceritakan tadi, tetapi tempat kerjaku jauh lebih nyaman dari tempatnya. Di tempatku lebih banyak sampah yang dapat kuambil, sedangkan di tempatnya sedikit. Di tempatku lebih banyak kawan yang bisa kuajak berkenalan sedangkan di tempatnya sangat sepi. Di tempatku banyak orang baik yang dengan senang hati memberikan sampahnya pada kami, sedangkan di tempatnya tak ada orang yang peduli. Tempat kerjaku juga sangat luas daripada tempatnya.
Desember, sekarang aku bingung bagaimana harus membahagiakan kedua orangtuaku, meskipun mereka selalu terlihat bahagia di depanku padahal aku sangat tahu bagaimana perasaan mereka terhadap keadaan kami. Kami sungguh sudah sejahtera, negeri ini pun sudah sejahtera, kami sangat diurus dengan sangat baik oleh pemerintah negeri ini. Warga di sekitar kami, semuanya sejahtera. Kami dapat bekerja dengan aman dan nyaman tanpa ada yang mengganggu kami.
Desember sudah dulu ya, kita berbincang-bincang lagi besok. Sekarang senja sudah mulai tenggelam dan kau juga harus istirahat, jaga kesehatanmu, bekerjalah dengan baik jangan lupa tersenyum karena dunia ini akan takluk pada senyum kita. Semangat!! Sampai jumpa..
000
Senja turun dengan indahnya semakin merah dan jingga saat ia mengakhiri tulisannya yang akan ia berikan pada Desember. Ah entahlah! jika kalian bertanya kepadaku tentang siapa itu Desember yang dia maksud sungguh, aku juga tidak tahu siapa Desember yang ia maksud sebenarnya jadi sebaiknya tanya saja sendiri kepadanya.
Namanya Shofiy, pria yang lembut—sama seperti namanya yang berasal dari bahasa arab yang artinya lembut—tipikal orang yang ramah dan sopan dengan rambut hitam legam namun telah menjadi kemerahan karena teriknya sinar matahari selalu mengenai rambutnya saat ia bekerja. Usianya kira-kira 28 tahun, terlihat dari parasnya yang tampan namun telah pudar karena tak pernah dirawatnya dan badannya yang gagah namun sedikit kurus karena nutrisi tubuh yang tak pernah dipenuhi.
Aku tak begitu tahu dimana ia tinggal, dimana ia bekerja, namun kami bertemu disini, di tempat ini ia ceritakan semua padaku, tentang Desember—meski sampai saat ini aku tak tahu Desember itu siapa—tentang keluarganya, tentang tempat kerjanya, tentang semua aktifitas yang ia lakukan. Di tempat ini, kami sering bertemu, saat aku menjajakan daganganku dan saat itu ia beristirahat dari pekerjaannya. Di tempat ini pula kami mengatakan janji itu.  
000
Louvember, 20th 2012
Desember, hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sangat istimewa menurutku. Ia seorang pria namanya Rizqi, seorang pedagang keliling yang ramah dan murah senyum.
Ceritanya begini, saat aku tiba-tiba saja merasa penat dan sangat lelah, aku berjalan menyusuri waktu, maju perlahan-lahan menghindari tempat kerjaku dan tanpa terasa aku telah berjalan sejauh 1 km dari tempat kerjaku. Di tempat itulah tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang yang tersenyum padaku, menawarkan dagangannya padaku. “Dia pikir, siapa dia? Senyum-senyum gak jelas! gak tahu orang lagi pusing apa?” aku berceloteh dengan diriku sendiri saat melihatnya tersenyum padaku.
“Minum mas?” ia tersenyum padaku.
“Gak butuh!” kujawab dengan muka masamku.
“Sepertinya mas-nya ada masalah ya? Ada apa?” masih dengan senyumnya.
“Dasar orang aneh, dibentak malah gak pergi” omelku dalam hati.
“Kenapa mas? Ada apa? Mau minum? Gak papa ini saya beri, gratis kok..”
“Benarkah! Gratis?” tetap bertanya dalam hati.
“Tetapi sebagai gantinya, mas bisa cerita pada saya ada apa sebenarnya..” lanjutnya.
“Hmm, orang aneh! Dagangan kok dikasih ke orang asing gak dikenalnya..”
“Mas, siapa namanya?” tanyanya padaku tetap dengan senyumnya ditambah uluran tangannya.
Tidak tega membiarkannya, kujawab saja seenakku. “Indra” tanpa menjabat uluran tangannya.
“Oh mas Indra, saya Rizqi pake q lho mas jangan pake k..” ia perkenalkan dirinya tetap dengan ulasan senyum di wajahnya. “Mari mas duduk sini kita minum sebentar.” Lanjutnya dengan memberikan sebotol teh padaku.
Dengan sedikit terpaksa dan sangat ingin, kuambil saja botol itu dari tangannya dan anehnya ia malah tersenyum senang melihatku mengambil botol itu dari genggamannya. “Nah begitu dong.. tawaran saya diambil, mari minum sambil duduk mas Indra.” Ucapnya setelah aku mengambil botolnya dan kami duduk berdampingan, aku ada di sebelah kanannya, dan ia ada disebelah kanan gerobaknya.
“Mas Indra, sungguh sebenarnya tidak ada hidup seorang manusia itu mudah, kaya miskin, tua muda, pria wanita, semuanya sulit, saat kaya sulit memberi, saat miskin sulit menerima, saat tua sulit berkarya, saat muda sulit bekerja, pada pria sulit merasa, pada wanita sulit memaksa. Semuanya serba sulit namun dengan kesulitan, kita bisa mengerti dan merasakan adanya kemudahan. Ketika kesulitan melanda, kita harus memaksa, memaksa diri kita untuk menerima, memaksa diri kita untuk memberi, memaksa diri kita untuk berkarya, memaksa diri kita untuk bekerja,memaksa diri kita untuk merasa, memaksa diri kita untuk  memaksa.
Mas Indra, hidup ini adalah seni mengelola keterpaksaan, jika kaya harus terpaksa memberi, jika miskin harus terpaksa menerima, jika tidak sejahtera terpaksa harus bersikap sejahtera.”
000
Pertama yang aku tahu, namanya Indra orang yang sangat cuek dan tidak punya harapan, entah mungkin karena hari itu ia benar-benar suntuk atau memang tabiatnya seperti itu, aku tidak tahu. Lalu saat hari itu berlalu, ia kembali ke tempat itu kedua kalinya, membawa temannya dengan wajah gembira entah karena apa, aku belum tiba di tempat itu saat ia datang kemudian duduk dan menantiku. Ia yang kemudian aku tahu dipanggil shofiy oleh temannya, pria ramah luar biasa sesaat sebelum aku tiba disana.
“Kenapa baru datang!” tiba-tiba ia membentakku.
“Kita tidak janjian di sini kan? Siapa suruh kamu kesini?” tetap dengan senyumku. “Mau minum?” lalu kutawarkan minuman pada temannya.
“Kenapa harus berbohong padaku tentang namamu Shof? Itukan nama yang bagus.. nama pemberian orangtuamu, kau tahu kan apa artinya? Mereka sangat berharap kau akan menjadi pria yang lembut. Dalam hidup ini, kau harus yakin bahwa apapun yang kau jalani dan semua yang kau tekuni akan membuahkan hasil.”
Ah! Semua kenangan itu membuatku rindu padanya, sahabat terbaik yang pernah kumiliki seumur hidupku, bersama merasa sejahtera meski tak sejahtera, bersama merasa gembira meski tak sepenuhnya gembira, bersama merasa bahagia meski tak pernah bahagia, bukankah saat kesedihan dibagi maka kesedihan itu berkurang setengahnya dan saat kebahagiaan itu dibagi maka akan bertambah dua kali lipat? Tapi mengapa banyak orang tak sadar, Tak pernah mau berbagi saat ia bahagia tapi selalu berbagi saat ia berduka, padahal saat ia tiada siapa yang mau berduka untuknya?
Hari ini pun aku masih berduka, hari kesepuluh setelah pemakamannya, ia yang selalu gembira, ia yang selalu membuatku bahagia, ia sahabat terbaik yang pernah ada, semangatnya, jasanya, meski tak banyak orang tahu karena tak banyak orang mau tahu. Entah seberapa miskinnya, ia selalu menganggap dirinya sejahtera, menganggapku, menganggap keluarganya, menganggap tetangganya, menganggap negeri ini sejahtera.
Negeri yang kaya, negeri yang hijau, negeri yang biru, negeri yang berwarna katanya. “Tak ada negeri yang seperti ini kawan, negeri yang memberimu banyak pelajaran, negeri yang memberimu kesempatan untuk menunjukkan kekreatifanmu dalam menjalani hidup, negeri yang sungguh mempesona. Mari bersama-sama berjuang memperbaiki hidup ini dan memperbaiki negeri ini. Sungguh! Dengar janjiku, kau juga harus berjanji ya.. kita BERSAMA bermimpi dan MEWUJUDKANNYA.”
Itulah kat-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya, semangat yang menggebu-gebu untuk memperbaiki negeriku, negeri kami, tempat tinggal kami. 
000
For Desember
Desember, kumohon pertemukan kembali aku dengannya, sungguh bahagia sekali bertemu dengannya hari ini, ia memberiku banyak hal, tak hanya minuman, tapi juga pelajaran untuk menjalani hidup di negeri yang sejahtera ini. Ia mengajariku berseni dalam hidup, ia membuatku bermakna, meski sebenarnya tak ada orang yang menganggapku bermakna, selain ia, orangtuaku, dan adik-adikku.
Desember, kumohon, aku rindu sekali pada mereka meski negeri ini tak sama sejahteranya dengan tempat ini, meski negeri ini tak sehijau tempatku saat ini, meski negeri ini tak sebiru tempat ini, meski negeri ini sungguh tak sebaik tempat ini.
Desember, Senja ini, aku sangat rindu padanya, aku rindu pada hidupku, tapi aku senang sudah merasakan kesejahteraan ini lebih dahulu daripada mereka. Ingin sekali aku mengajak mereka ke tempat ini, merasakan kenyamanan ini, merasakan kesejahteraan ini. Sungguh benar katanya, hidup ini adalah seni melawan dan memanfaatkan keterpaksaan. Senja ini aku terpaksa meninggal, meninggalkan dunia, meninggalkan keluarga dan temanku di sana. Senja ini aku terpaksa meninggalkanmu Desember, sampai jumpa, semoga kau selalu ceria, hiduplah dengan semua keterpaksaan yang ada dan rasakan manfaatnya.

Selesai ditulis pada 16 September 2014
follow me @qhimahatthoyyib

Roti Bakar Penyemangat




Menurut berita perkiraan cuaca yang gua lihat di TV Nasional semalam seharusnya hari ini tidak turun hujan. Jadi, gua putuskan saja untuk tidak membawa payung ataupun jas hujan hari ini.
“Sip, semuanya udah lengkap.”
“Ma, berangkat dulu ya..” Jam 06.00 gua udah harus berangkat, daripada telat dan gak ngerti apa yang bakalan diomongin sama dosen, lagian telat itu juga bukan kebiasaan gua.
“Kamu gak makan dulu? Kalo gitu ini bawa bekalnya..”
“Oke, makasih ma..” gua ucapin sambil mencium tangan mama.
Seperti biasa mama selalu bawain gua bekal meskipun gua udah sarapan, tapi hari ini gua telat bangun jadi gak sempet sarapan dulu. Dan seperti biasa juga setelah gua pergi, rumah pasti langsung sepi karena.. ah! Ntar dulu masa pagi-pagi gini gua langsung cerita kesitu.
Setelah pamitan sama mama, langsung gua ambil sepeda butut kesayangan gua dan ngibrit mengejar waktu karena sekarang udah jam enam lebih sepuluh. Kalian tahu kenapa gua harus berangkat jam enam? Karena perjalanan dari rumah gua ke kampus memakan waktu minimal 30 menit, itu pun kalo gua ngebut di jalan dan kalo santai banget bisa satu jam.
000
Jam tujuh kurang 15 menit, akhirnyaaa! Gua sampai juga dan tidak terlambat. Setelah memarkir sepeda, gua langsung menuju kelas pertama gua hari ini. Kelas itu cukup jauh jaraknya dari tempat parkir gua sekarang, tapi, gua gak mungkin parkir di deket kelas karena gua harus muterin kampus dulu kalo mau kesana jadi gua putuskan untuk berjalan saja kesana.
“Hai tsa..”
“Hai juga..”
Mata kuliah yang akan gua hadapi adalah Kewarganegaraan. Sejujurnya gua agak gak suka dengan mata kuliah ini tapi terkadang juga gua sangat suka. Sayangnya, semester ini gua gak dapet mata kuliah Bahasa Indonesia jadi ya.. gua berharap tetap bisa refreshing meskipun gak ada Bahasa Indonesia.
Jam tujuh lebih sepuluh menit dan dosennya belum juga datang. Bosan menunggu, gua baca aja novel yang gua bawa judulnya Rumah Kaca dan penulisnya.. yaa kalian pasti tahu! Sastrawan yang pernah dipenjara di pulau Buru dan karyanya dibakar, mengerikan! Gua gak bisa ngebayangin seberapa sabar penulis itu sampai-sampai tidak melakukan perlawanan saat karya-karyanya dibakar dan betapa jahatnya jajaran pemerintah yang memutuskan untuk melakukan pembakaran. Yap! Siapa lagi kalau bukan Pramodya Ananta Toer.
“Assalamu’alaikum..” suaranya sangat pelan dan seisi kelas tidak mendengar tapi.. kenapa gua dengar ya? Entahlah terkadang hal yang sederhana tidak sesederhana yang kita pikirkan dan tidak mudah untuk dilakukan. “Wa’alaikumussalam” gua bergumam.
Gua alihkan pandangan sebentar ke arah sumber suara, gua pikir suara pak dosen tapi ternyata bukan. Suara seorang pria, sepertinya salah satu mahasiswa di kelas ini karena dia langsung mengambil tempat di kursi yang ada di barisan ketiga sebelah barat belakang gua. Gua emang suka banget memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar gua sampai-sampai gua tahu seperti apa mereka dari cara mereka berjalan dan berbicara. Sepertinya gua cocok jadi psikolog tapi gua gak mau berurusan terlalu dalam dengan makhluk yang bernama manusia khususnya para pria, gua lebih suka berurusan dengan tumbuhan.
Sudah duapuluh menit berlalu dari jam tujuh tapi dosen kami belum juga datang, jadilah kelas ini sangat ramai oleh suara teman-teman yang belum gua kenal kecuali teman yang sejurusan ama gua karena mereka emang benar-benar udah gua kenal. Gua tutup novel gua dan mengedarkan pandangan gua ke seisi kelas, aneh! rasanya ada yang berbeda tapi apa ya?
000
Sepanjang pertemuan pertama ini, dosen gua nerangin Rancangan Pembelajaran selama satu semester ke depan dan bercerita tentang apa itu kewarganegaraan dan sejarahnya. Menarik! Apalagi akhirnya gua menyadari ternyata yang aneh adalah perasaan gua yang tiba-tiba senang melihat wajah adem pria yang tadi gua jawab salamnya dan sekarang baik banget mau ngebantuin dosen itu. Gua tahu itu gak boleh, tapi..
Kata bu Rin, dosen Kewarganegaraan gua, sebelum berubah nama menjadi Kewarganegaraan dulu namanya adalah Kewiraan yang diajarkan pada orang-orang dari kalangan tertentu dan lama pembelajarannya adalah 3 bulan dan hanya sekali seumur hidup jadi seperti sebuah seminar yang berkelanjutan selama tiga bulan. Seminar yang menuntut manusia-manusia yang ada di Indonesia ini menjadi rakyat yang taat aturan, hukum dan taat dengan pemerintah. Pelajaran macam apa itu? Hanya selama tiga bulan namun menuntut seumur hidup? Apalagi setiap sekali seminar hanya 40 orang dewasa, sungguh! Sangat tidak efisien. Kemudian, banyak yang protes karena tidak mendapat pelajaran itu jadilah Kewiraan menjadi mata kuliah wajib mahasiswa. Selanjutnya gua sedikit lupa, sepertinya pada tahun 2001 atau sebelum itu ya? nama Kewiraan berubah menjadi Kewarganegaraan karena dua nama itu adalah dua hal yang mempelajari bagian-bagian yang berbeda. Gua juga lupa tentang apa karena gak gua catat sejarah yang diterangin bu Rin.
Hal lain yang dapat gua ambil dari semua yang diterangkan oleh bu Rin adalah, mahasiswa tidak pernah belajar dari apa yang mereka pelajari. Saat menjadi sukses nanti kebanyakan dari mereka akan melupakan apa itu hak, apa itu kewajiban, apa itu tenggang rasa, tolong menolong,  membela dan membangun negara, persatuan, kesatuan, arti dan filosofi pancasila, apalagi peran dan fungsinya. Tapi tetap saja dimanapun, seorang guru atau dosen akan mendoakan kesuksesan untuk mahasiswa mereka.
Sebelum mengakhiri kelas, bu Rin mengabsen nama-nama kami dan gua menunggu kapan pria itu mengangkat tangannya.
“Ilham Fauzi Hassan..” ya! Itu namanya, lihat! Dia mengangkat tangannya.
Setelah semua selesai diabsen, bu Rin meninggalkan kami, kelas pun bubar dan gua menunggu datangnya pekan depan di kelas ini.
“Tsabii..” sahabat gua, Rara, dateng ke gua dengan nafas terengah-engah sepertinya dia habis berlari.
“Ada apa ra, tenang dulu.. baru ngomong.”
“Kita kesana yuk, ngobrol.”
“Oke!”
000
Sambil makan roti bakar yang udah di bawain sama mama, gua dan Rara ngobrol apa saja, berdiskusi apa saja, dan berkomitmen serta berjanji.
“Ra, aku jadi mikir kenapa aku bisa seneng ya ngeliat wajah anak itu, emang sih wajahnya menenangkan. Aku juga mikir tentang apa yang diomongin sama bu Rin banyak benarnya. Coba deh, pikirin aja ya, mahasiswa di Indonesia kan banyak meskipun tidak sampai sepertiga dari penduduk Indonesia, di kampus kita aja contohnya meskipun sudah seringkali digembor-gemborkan Peran dan Fungsi Mahasiswa alias PFM yang berjumlah empat itu buktinya Indonesia tidak berubah, padahal kan lulusan kampus kita katanya sudah menyebar dimana-mana entah sukses, entah tidak. Malahan sekarang mahasiswa banyak yang tidak peduli apa yang terjadi di luar sana karena sistem pendidikan saat ini membuat mahasiswa disibukkan dengan tugas dan tugas tanpa boleh melihat dunia luar. Aku jadi takut kalo aku juga cuma bisa ngomong doang tanpa berbuat, tapi beneran aku pengen banget bermanfaat dan mengubah Indonesia dengan memelihara yatim-piatu dan pertanian Indonesia.”
“Setuju! Ah iya! Aku juga inget sama kata-kata yang ada di novel roman yang kamu baca. Sejak dulu, sebenarnya aturan dan hukum itu dibuat bukan untuk melindungi tapi untuk seenaknya hati dipakai kapan. Jadi sejak dulu sampai sekarang kita masih dijajah, buktinya prinsip itu dateng dari kolonial tapi masih dipakai turun-menurun sampai sekarang. Iya ya, kapan kita bisa merubah Indonesia kalo pemudanya aja kayak gini.” Rara meyakinkan kata-katanya dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.
“Eh ra, kamu liat deh anak itu..” lo liat yang baik ra, kayaknya gua kagum ama dia tapi kan kita gak boleh kayak gini, bagaimana mengubah Indonesia apabila kita mudah terpesona pada dunia? Tidak bisa!
“Ada apa? Tsa, kok kamu diem aja..”
“Enggak, bukan apa-apa, gak jadi.”
“Oke deh kalo gitu, kalo ada apa-apa bilang ya tsa.. Pokoknya kita harus janji gak boleh bertingkah sembarangan demi Indonesia. Oh ya, sahabatku Tsabita Rahmania kamu yakin gak perlu aku antar jemput.. aku takut kamu kecapean aja kalo harus ngontel tiap hari jam enam pagi pula!”
“Enggak apa-apa Rastika Fitriatna, aku sudah harus bersyukur punya sepeda itu daripada harus jalan kaki. Benar kan?”
“Hmm begitu ya, kalo gitu hati-hati ya.. Semoga Allah membalas usahamu.”
“Amiin, makasih. Aku pulang duluan ya.. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam.”
Hah, senang rasanya.. ternyata perkiraan cuaca semalam benar dan hari ini gua tidak basah kuyup di tengah jalan. Mulai detik ini ada semangat baru yang menggebu dalam hati gua. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari semua sejarah yang pernah terjadi dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk negara dan bukan berpikir apa yang akan kita dapatkan dari negara.
000
“Tsabita Rahmania ya? Aku Ilham Fauzi, kita kelompok lima bareng ama Ristia Farasya temen sejurusanku dan dia juga dia..” tunjuknya pada anak yang masih menyiapkan barangnya dan menuju kami.
Apa? Gua sekelompok sama Ilham? Kok bisa? Dan darimana dia tahu kalo nama gua Tsabita? Walah-walah, gua gak boleh tergoda dengan apapun! “Oh, iya aku ngerti.. namanya Saiful Ramadhani dan satu lagi aku gak tau.”
Ya Tuhan.. sepertinya Kau mulai mengujiku dengan ini.. sekarang harus bagaimana???

Selesai ditulis 2 Juni 2012
follow me @qhimahatthoyyib