Minggu, Mei 02, 2021

Keracunan Tontonan


                Assalamu’alaikum semuanya~ Selamat berpuasa dan beribadah di bulan Romadhon 1442 H untuk semua yang menjalankan. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada tulisan rutin dariku selama bulan Romadhon ya, padahal list yang ingin kutuliskan sudah kurancang lagi sejak tahun lalu. Kesibukan? Oh tentu itu hanyalah satu dari sekian alasan yang dapat kita ucapkan bukan? Lain kali akan kuceritakan tentang pendapatku terhadap ‘alasan’. Saat ini, aku ingin mengisahkan hal lain terlebih dahulu.

Sejak dulu, aku merasa bukan termasuk pengikut tren. Genre lagu favorit, drama/film favorit, atau produk lain meski hanya sekedar warung makan yang menjadi favoritku cenderung berbeda dengan orang kebanyakan di masanya. Misalnya, aku bisa saja suka sesuatu yang disukai orang-orang tua dan tak disukai kalangan seusiaku. Terkadang aku juga sesuatu yang disukai anak-anak kecil atau yang lebih muda daripadaku. Bahkan sesuatu yang semua kalangan suka pun, kenyataannya, aku tak suka. Sejumlah teori kukaitkan, karena golongan darahku yang AB lah, atau kategoriku yang INFJ berdasarkan hasil tes MBTI lah, atau mungkin karena aku seorang melankolis plegmatis. Tetapi teori terkini berdasarkan fakta yang kudapati adalah karena aku belum bertemu dengan segerombolan manusia yang satu selera.

Sekarang, siapa sih yang tak bisa terhubung dengan manusia lain di ujung dunia yang berseberangan dengan kita? Semua media bisa digunakan, hanya bermodalkan sekotak telpon pintar dan kemauan saja. Kita bisa menjelajahi seluruh negeri. Dari itulah, aku mulai banyak menemukan orang-orang yang sama, yang satu selera, yang sepemikiran. Meskipun pada dasarnya, aku tetaplah sama, masih merasa asing terhadap sebuah julukan ‘pengikut tren’. Kenyataannya, banyak orang di luar sana yang pengikut media sosialnya jutaan, tapi aku bukan salah satu dari mereka. Banyak lagu, tontonan atau hal lain di luar sana yang digandrungi puluhan juta orang, tapi aku bukanlah di antaranya.

Hal yang kusukai memang cenderung berbeda dari orang kebanyakan. Tapi sama seperti semua orang, aku juga dapat terpengaruh dari hal-hal yang kulihat. Contohnya adalah dua gambar berikut ini.

 


Gegara tontonan, aku jadi ingin mempunyai barang-barang tersebut. Tentu saja, banyak hal yang bisa dijadikan alasan agar barang-barang itu bermanfaat. Karena sebagai seorang muslim, semua yang kita lakukan, semua yang kita miliki, semua yang kita ikuti, jangan sampai termasuk ke dalam hal yang sia-sia. Kata Rosululllah, di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya (HR. at-Tirmidzi). Dalam hadits lain, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

    Dua hal itulah yang selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Tetapi kenyataannya, menjadi bermanfaat adalah hal yang cukup mudah dilakukan, namun meninggalkan hal yang sia-sia, aku sendiri masih harus sangat berjuang. Akhir kata, yuk kita tingkatkan amalan di sepertiga malam terakhir bulan Romadhon ini, dan juga di hari yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional, yuk kita ingatkan diri kita untuk terus belajar dan terus tingkatkan keilmuan dunia yang dapat memperberat timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

#merdekabelajar #hardiknas2k21

Rabu, Maret 17, 2021

Kritik Sosial

 


                Kritik sosial adalah hal yang wajar, tapi kenyataan saat ini, pembicaraan itu kembali tabu di Indonesia. Bahkan orang sekelas pejabat negara yang seharusnya menampung aspirasi rakyat malah bilang, “Kalau pemerintah sudah bilang itu hoaks, ya hoaks”. Sungguh pernyataan yang menyakitkan bagi kita sebagai rakyat jelata, yang meskipun kedaulatan ada di tangan rakyat, tapi tak punya kuasa apa-apa. Meskipun demikian, kritik sosial masih harus dilakukan, sampai negara benar-benar mempunyai pemimpin yang sesuai dengan visi misi negara dalam pancasila dan undang-undang dasar yang Indonesia punya.

                Salah satu kritik sosial yang mudah dilakukan adalah dengan film/sinetron atau media visual lainnya. Maka dari itu, segala tipe konspirasi, aspirasi hingga imajinasi banyak dipamerkan dan dijejalkan pada otak banyak orang melalui tontonan. Sehingga kritik tersebut dikenal oleh banyak orang sampai dipercaya hal itu benar-benar nyata terjadi. Banyak orang yang terlena, bahkan saling berkomentar tentang apa yang ditayangkan. Padahal sebagian besar merupakan hiperbola dari kenyataan.



                Seperti yang semua sahabat tahu, di antara semua tontonan yang ada, kalau soal drama atau film, aku paling update tontonan dari Jepang. Kalau variety show adalah dari Korea dan kalau dari Indonesia, saat ini aku lebih tertarik berita politik, sejarah, pendidikan dan kuliner yang itu pun bukan tayangan televisi, melainkan media daring. Sedangkan tontonan dari barat sudah lama aku tinggalkan, sejak tahun 2012-an sepertinya. Segala hal dari barat yang sebagian besar dari Amerika tidak lagi kutonton, meskipun itu adalah film ter-hits. Tapi, tontonan berbahasa inggris yang kutonton di media daring bukanlah film/drama, melainkan kuliner, teka-teki, seni/kreasi, dan eksperimen.

                Saking seringnya nonton drama/film jepang, salah satu pertanyaan yang ada di kepalaku adalah apakah tayangan tersebut diproduksi sebagai kritik sosial? Baik itu kepada masyarakat atau kepada pemerintah. Karena saat kuamati, setiap tahun ada tema-tema khusus yang diangkat. Pada tahun 2020 misalnya, selain banyak tontonan dengan tema utama pandemi, mengatasi pandemi, bertahan saat pandemi dan sebagainya, ada banyak juga tontonan bertema nikah muda yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tema ini sudah lama digaungkan, tapi sebagian besar adalah married by accident, bukan benar-benar dirancang sebagai anjuran pernikahan hingga promosi matching app untuk menemukan jodoh. Apakah ini metode yang digunakan untuk meningkatkan populasi mereka kembali? Aku sendiri juga tak tahu, selain karena tak tinggal di Jepang, aku juga tak mengikuti berita atau kejadian populer dari sana.

                Tema-tema yang selalu ada tiap tahun adalah berkaitan dengan aparat keamanan yaitu detektif dan kepolisian, ada juga tema yang berkaitan dengan pemerintahan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tayangan yang pernah kutonton dengan tema tersebut adalah CHANGE!, HERO, Legal High, Against False Charge, dan Legal V. Selain itu, ada juga tayangan bertema permainan tradisonal. Permainan Go, Shogi, Karuta, Kindama, dan Haiku adalah hal tradisional mereka yang kuketahui lewat dorama/movie Jepang. Ketiga tema tersebut membuatku bertanya-tanya apakah hal yang demikian ini merupakan kritik sosial, ataukah itu merupakan kenyataan yang terjadi di Negeri matahari terbit itu? Yaahh, seperti kita tahu, Jepang sangat bangga akan dirinnya, meskipun negaranya kecil tapi tekad mereka sangat luar biasa besar. Hingga mereka mampu menguasai Indonesia di tahun-tahun yang pahit itu. Mereka juga pernah berkelana menguasai Korea, dari salah satu kisah yang kutahu.