Kamis, Juni 18, 2015

(Day 2) AGAR ANAK TETAP TENANG DI DALAM MASJID



Sahabat, Assalamu’alaikum.. tulisan kali ini berkaitan dengan tulisan saya Romadhon 1434 Hijriah dua tahun lalu yang berjudul Anak Ribut di Masjid Saat Tarawih, jadi Masalah? Nah, dengan judul yang berbeda saya mencoba mengulas hal yang sama yaitu anak-anak dan Masjid. Kisah ini bermula dari pengamatan kami mengenai fenomena Tarawih yang dilakukan rutin setiap tahun pada bulan Romadhon. Yap, berkah dari adanya sholat inilah terdapat kenaikan pesat jumlah jamaah Masjid di kampus kami (Masjid Manarul Ilmi) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Bukan hanya mahasiswa kampus ITS, namun juga pegawai kampus, para dosen, keluarga dosen hingga masyarakat kampung dan mahasiswa kampus lain yang menjadi jamaah kali ini.
Oleh karena itu, dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah Masjid maka bertambah pula fasilitas masjid yang diperlukan. Mulai dari jumlah takjil dan nasi untuk berbuka. Jumlah pengeras suara agar jamaah putri dapat secara jelas mendengar apa yang disampaikan oleh khotib atau penceramah. Jumlah air wudhu dan kenyamanan serta kebersihan Masjid dan lain sebagainya. Demikian pula jumlah akhwat-akhwat yang diperlukan untuk menjaga bayi-bayi dan anak-anak keluarga dosen maupun masyarakat yang sedang sholat berjamaah.
Dalam ceramahnya pada malam kedua Romadhon 1436 Hijriah kali ini, pak Darmaji (Ketua TPKI ITS) menyampaikan bahwasannya keributan anak-anak yang berada di Masjid menjadi maslaah tahunan yang belum terselesaikan dengan baik. Hal ini memang tidak mengganggu bagi sebagian orang tapi bisa mengganggu bagi sebagian besar jamaah lainnya. Sesungguhnya sangat baik mengajak anak-anak datang ke Masjid namun akan lebih baik apabila mereka dapat duduk tenang di samping orang tuanya untuk mengikuti jalannya sholat jamaah.
Dari pernyataan beliau tersebut, aku jadi berpikir mengapa anak-anak itu selalu membuat keributan di dalam masjid. Apakah mereka tidak tahu tempat seperti apakah masjid? Mungkinkah mereka belum paham mengenai sopan santun dalam menggunakan masjid? Atau hal-hal lain sebagainya? Sejujurnya aku tidak pernah merasakan masa kecil yang demikian. Bahwa aku selalu dapat duduk tenang di samping orang tua (ibuku terutama) untuk mengikuti jalannya jamaah entah hanya duduk-duduk, membaca buku, tiduran, makan camilan, atau mengikuti sholat sesekali. Apakah hal ini dikarenakan bahwa aku seorang perempuan? Begitu pula dengan kedua adik perempuanku, mereka bisa sangat tenang di dalam Masjid. Namun sangat berbeda dengan adik ketigaku (seorang lelaki yang kini berusia 9 tahun) yang tidak bisa tenang, seingatku ia selalu berlari menemui umi (ibu) kemudian kembali berlari menemui abi (ayah) dan demikian seterusnya.
Mengatasi masalah ini, hal yang diperlukan dari kedua orang tua adalah pertama memberi contoh atau teladan kepada putra-putrinya. Bukankah Rosulullah Muhammad SAW di utus kepada ummatnya untuk menyempurnakan akhlaq? Kedua adanya ketegasan dari orang tua, termasuk peringatan dan pembelajaran mengenai pentingnya menghargai jamaah, menghargai imam sholat, menghargai orang lain, adab dan tata karma dalam Masjid dan lain sebagainya. Mengenai hal ini, aku jadi teringat sebuah kajian kitab Ta’lim Muta’allim yang mempelajari tentang betapa pentingnya kita mengetahui adab, mengutamakan akhlaq dan mengedepankan budi pekerti luhur. Karena hal inilah yang akan menjadi modal awal dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan tiadanya akhlaq dan adab maka dapat kita lihat seperti sekarang Negara kita tercinta Indonesia bagaimana akibatnya. Ketiga barangkali diperlukan ruang khusus di lingkungan Masjid untuk mengasuh dan menitipkan anak atau taman baca anak-anak dengan ruangan yang persis seperti kelas kelompok bermain di sekolah mereka.
Akhirul kalam, saya menyarankan kepada para muslimah untuk mencari ikhwan (lelaki muslim) berkepribadian baik. Karena konon katanya (dosen Biologi kala itu menerangkan bahwa) 90% pekerti dan perilaku kebiasaan seorang anak berasal dari ayahnya. Sedangkan 90% kecerdasan dan paras pada anak diturunkan oleh ibunya. Semoga infonya berkah dan dapat diambil pelajaran :3.

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Juni 17, 2015

(Day 1) MENGENANG 1434 HIJRIAH



                Alhamdulillaahilladzi arsala Rosulahu bil huda wadiinil haq, liyudzhirohu ‘alaa diini kullih, wa kafaa billaahi syahidaa. Aaaaaahhhh rasanya menyenangkan bisa dipertemukan kembali oleh Allah dengan Romadhon. Bulan mulia, bulan yang amat sangat istimewa. Sahabat ingat tidak bahwa banyak sekali kejadian-kejadian ajaib zaman Rosulullah dan para sahabat terdahulu yang terjadi pada bulan ini. Ternyata bukan hanya untuk mereka begitu pun jua untukku, banyak sekali kejadian ajaib yang berhadapan denganku pada bulan Romadhon ini.
Hari ini, hari pertama Romadhon 1436 Hijriah. Tapi bukan kejadian hari ini yang ingin kuceritakan. Di sini aku sangat ingin mengenang apa yang terjadi padaku dua tahun lalu, yap tepatnya Romadhon 1434 Hijriah. Pada bulan itu, bulan di mana aku sama sekali meninggalkan urusan kampus (karena liburan), menanggalkan urusan kepanitiaan (karena aku tidak menjadi panitia RDK-Ramadhan Di Kampus ITS ’34 kala itu), mengabaikan urusan duniawi (karena aku fokus pada hafalan Al-Qur’anku). Dua tahun lalu merupakan Romadhon yang begitu menyenangkan bagiku.
-----------------------------------------------
Tepat tujuh hari sebelum Romadhon 1434 H, aku memutuskan untuk pergi ke kampung halamanku, di Madiun. Sejak saat itu, aku bertekad untuk menghabiskan satu bulan Romadhon penuh ditambah tujuh hari Syawwal di sana. Alkisah begitulah mengapa tadi kusebutkan di atas bahwa aku meninggalkan segala urusan di Surabaya dan tidak memperdulikannya. Dengan bulatnya tekad aku tidak terlalu susah beradaptasi untuk tidak memikirkan apa yang kawan-kawanku lakukan di Surabaya, tidak pula memikirkan pekerjaan-pekerjaan apa yang perlu kusiapkan untuk semester baru nanti. Tapi satu hal yang aku ingat, bahwasannya aku membawa satu jurnal ilmiah internasional untuk dipelajari sebagai bahan Kolokium-ku (Kolokium itu semacam latihan untuk skripsi, menulis naskah tapi tanpa bekerja yaitu hanya mempelajari hasil kerja orang lain) nanti. Selain itu, tak ada.
Sejak malam pertama Romadhon 1434 H itulah kurasakan nikmatnya Sholat Tarawih dengan satu juz Al-Qur’an setiap malam. Sejak malam pertama itulah kurasakan indahnya hari-hari dengan Al-Qur’an. Sejak malam pertama itulah kurasakan senangnya menulis setiap hari tanpa beban. Sejak malam pertama itulah kurasakan sejuknya malam-malam Romadhon hanya bersama Al-Qur’an. Sejak malam itulah aku mencintai Romadhon daripada tahun-tahun yang telah tenggelam. Hari-hari kujalani dengan tenang, memperbanyak amal, membaca, menulis, tilawah, berinfaq, tahfidz, mempersiapkan kolokium, mempersiapkan sahur dan berbuka, berkumpul dengan orang sholeh serta keluarga, tadarus dan sebagainya.
Oh ya, ada satu hal yang selalu datang padaku seiring dengan datangnya Romadhon sejak 1434 Hijriah lalu begitu pun dengan Romadhon tahun ini. Kau tahu? Ada lelaki yang (rencananya) diperkenalkan padaku :D.

follow me @qhimahatthoyyib