Minggu, Juli 17, 2022

One of The Sights - Extraordinary Attorney Woo Young Woo

 

“Normal” People

                Halo semuanya~ Assalamu’alaikum. Udah setahun lebih sehari kita ga ketemu ya. Kangen banget rasanya ^^v. Entah hal apa yang membuatku mager nulis di blog, padahal list judul tulisan untuk lapak ini sudah berjejer rapi di salah satu halaman notebook ku. Tapi jangan khawatir, tulisan baru ini sangat menarik karena kita akan membahas drama korea terbaru bulan ini yang berjudul Extraordinary Attorney Woo Young Woo. Pastiii sudah tahu drama itu kan?

                Yap, seperti judulnya, drama ini mengisahkan seorang pengacara autis pertama di Korea—berkaitan dengan hal ini, aku belum cek faktanya, apakah benar-benar ada di negeri gingseng itu—yang merupakan anak dari seorang single father. Di episode 3, ia menghadapi satu kasus berkaitan dengan penderita autis lainnya. Si autis inilah yang merupakan terdakwa pada permasalahan tersebut. Keseruan perdebatan antara pengacara terdakwa dan jaksa pun terjadi di persidangan.

                Di persidangan, sang jaksa bertanya kepada saksi yang merupakan seorang dokter, “Berapa banyak penderita autis di ruangan ini?”, tapi dokter terdiam dan tidak berkenan menjawab. Sampai kemudian terjadi percakapan seperti tampak pada gambar di bawah ini.







Ya, sang jaksa hendak menyampaikan bahwa para pengacara tidak perlu meminta keringanan hukuman dengan alasan autisme terdakwa. Karena jika terdakwa dianggap cacat mental, maka pengacara woo juga seharusnya tidak bisa disamakan dan diberi wewenang sebagaimana pengacara ‘normal’ lainnya.

                Hmm pendapat yang menarik dari jaksa ya. Tapi sebenarnya, apa sih definisi dari orang normal itu? Menurut WHO, normal adalah kondisi dimana seseorang yang sempurna fisik, mental dan sosialnya, tidak mengidap penyakit dan kelemahan-kelemahan tertentu. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang dimaksud dengan sempurna fisik, mental dan sosial? Jika seorang anak terlahir dalam kondisi autis, siapa yang harus memaklumi, si anak atau para orang ‘normal’ di sekitarnya? Padahal bisa jadi kondisi anak tersebut adalah hal yang sempurna menurut Allah.

Allah swt berfirman:

 

 (4) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

 

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

 

Kesempurnaan penciptaan di sini merupakan penggambaran anugerah Allah bahwa manusia tidak hanya dilengkapi dengan kesempurnaan fisik namun juga psikis yang menjadikannya berbeda atas makhluk lainnya. Manusia dianugerahi akal agar bisa membedakan antara baik dan buruk serta mampu menganalisis segalah hal yang berkaitan dengan alam semesta yang pada puncaknya menjadi pribadi paripurna sehingga bisa menjalani mandat sebagai khalifah di bumi (https://bincangsyariah.com/kolom/tafsir-surat-tin-1-8-manusia-sebagai-makhluk-tuhan-paling-sempurna-jika/).

Sebagai penutup, menanggapi pernyataan dan pertanyaan sang jaksa, bahwa setiap orang itu dianugerahi hal yang berbeda. Si autis satu dengan lainnya tentu saja berbeda, hal itu berlaku juga pada orang ‘normal’. Si normal satu dengan lainnya juga berbeda. Jadi, adakah hal yang dianggap adil itu menyamaratakan semuanya? Wallahu a’lam.

Jumat, Juli 16, 2021

Miskin Boleh, Tapi Bodoh Jangan, Ditambah Lagi Penyakitan


                Tulisan ini masih satu series dengan tulisanku sebelumnya yang berjudul Sketsa PandemiBagian 10 dan Miskin Boleh, Tapi Bodoh Jangan. Berikut sebuah hadits Rosulullah SAW untuk membuka tulisan ini, Hadis riwayat Abu Hurairah ra., Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah. (Shahih Muslim No.4022). Dari hadits tersebut kita tahu bahwa salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah menjenguk saudara semuslim yang sakit.

Penyakit atau Wabah yang menimpa manusia, bisa termasuk dalam siksaan, ujian, atau rahmat. Bergantung pada kondisi keimanan si penerima. Seperti disebutkan dalam hadits berikut, Dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal penyakit taun, lalu beliau memberitahukannya bahwa sesungguhnya taun itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Ta'ala kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya, tetapi juga sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah Ta'ala kepada kaum mu'minin. Maka tidak seorang hamba pun yang tertimpa oleh taun, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keridhaan Allah serta mengetahui pula bahwa taun itu tidak akan mengenainya kecuali karena telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan memperoleh seperti pahala orang yang mati syahid." (Riwayat Bukhari).

Berdasarkan hadits tersebut, penyakit/wabah adalah sesuatu yang dikirimkan oleh Allah ke muka bumi. Tapi seperti kita tahu, bahwa sebagian besar musibah (termasuk penyakit) yang terjadi pada kita adalah akibat ulah kita sendiri. Kita sudah diciptakan demikian sempurna, tapi karena kurang bersyukur dan tak merawat diri sebaik mungkin, sehingga banyak penyakit hinggap dalam diri. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. QS: As-Syuura (42)  ayat 30-31”. Hal ini menjadi peringatan bagi kita semua.

Tetapi sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berikut hadits-hadits yang berkaitan dengan hal itu:

  • 1.       Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kami berobat?" Beliau menjawab, "Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)". (HR. Ashabussunnah)
  • 2.       Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • 3.       Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)
  • 4.       Dalam riwayat selain Tirmidzi disebutkan: "Peliharalah Allah, maka engkau akan mendapatkanNya di hadapanmu. Berkenalanlah kepada Allah -yakni tahulah kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan untuk Allah- di waktu engkau dalam keadaan lapang -sehat, kaya dan lain-lain-, maka Allah akan mengetahuimu -memperhatikan nasibmu- di waktu engkau dalam keadaan kesukaran –sakit, miskin dan lain-lain-. Ketahuilah bahwa apa-apa yang terlepas daripadamu itu -keuntungan atau bahaya, tentu tidak akan mengenaimu dan apa-apa yang mengenaimu itu pasti tidak akan dapat terlepas daripadamu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran dan bahwasanya kelapangan itu beserta kesukaran dan bahwasanya beserta kesukaran itu pasti ada kelonggaran."

Penyakit memang bukan hal yang menguntungkan untuk keseharian kita, tapi pasti ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian tersebut. Berkaitan dengan judul tulisan, bukan bermaksud untuk memojokkan kaum fakir miskin tetapi justru menjadi renungan kita bersama. Terlebih karena kondisi negara yang belum bisa optimal dan maksimal dalam memberikan pengobatan gratis kepada mereka. Akhir kata, semoga kita semua selalu bisa menjadi hamba yang bersyukur.