Minggu, Januari 14, 2018

Untuk Apa Tangan Kita Diciptakan?

Beberapa waktu lalu saya melihat dorama Jepang jadul berjudul Great Teacher Onizuka (GTO)-Taiwan series. Dorama jepang dengan genre sejenis atau hampir mirip dengan GTO mudah sekali ditemukan, misalnya dorama akhir tahun 2017 Saki ni Umareta Dake no Boku dan Minshuu no Teki atau dorama lama yaitu Gakko no Kaidan (2016) dan Change. Perbedaan dari masing-masing dorama tersebut adalah aktor utama yang berperan sebagai agen perubahan dan target wilayah yang diubah. Kembali pada dorama GTO Taiwan, terdapat salah satu scene (saya lupa pada episode ke berapa) Onizuka sensei berbicara pada Xieli sensei kurang lebih terjemahnya adalah “...lalu, buat apa kedua tanganmu itu?...” kemudian Xieli sensei terdiam dan berpikir. Pada dorama tersebut, Onizuka sensei berperan sebagai agen perubahan dalam suatu sekolah. Ia digambarkan sebagai guru yang sangat peduli kepada muridnya dan mengatasi berbagai masalah yang menimpa muridnya dengan cara unik versinya.
Kata-kata tersebut kemudian membuatku berpikir bahwa mungkin saja kita diciptakan tidak hanya untuk memikirkan keberadaan diri sendiri, egois nama lainnya, khususnya dengan hadirnya kedua tangan ini. Entah pemikiran tersebut sudah berapa kali muncul di kepala selama seperempat abad hidupku ini. Pemikiran jenis ini entah sudah pernah kutuangkan dalam tulisan atau belum. Seperti sudah pernah kuungkapkan tetapi dicari tulisannya pun tidak ketemu. Mungkin sudah waktunya untuk saya tuliskan tentang hal ini sekarang.
Sahabat, mengenai persoalan ‘untuk apa kedua tangan kita’ diciptakan ini kemudian saya mencari kata ‘tangan’ di dalam al Qur’an dan menemukan satu ayat yang tepat untuk menjawabnya. Selain itu, di dalam hadits Rosulullah menyebutkan pula kegunaan dari tangan pada manusia yang tepat digunakan sebagai jawaban dari pertanyaan Onizuka sensei terhadap Xieli sensei. Al-Qur’an surat al-Isro’ (17) ayat ke-29 menyebutkan (artinya):
29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal
Menurut Abu Umamah r.a. ayat ini turun ketika suatu hari Rosulullah SAW berkata kepada ‘Aisyah r.a. “aku akan menafkahkan semua yang aku miliki”, kemudian ‘Aisyah menjawab "jika begitu, tentu tidak akan ada lagi yang tersisa sedikitpun.” (HR ibnu Mardawaih).
Tafsir Jalalain menyebutkan bahwa tangan yang terbelenggu pada leher artinya menahan diri dari berinfak secara keras-keras (pelit sekali) karena hal itu akan membuatnya tercela. Sedangkan membelanjakan atau mengeluarkan harta secara berlebihan dan tidak memiliki apa-apa lagi maka hal itu akan membuatnya menyesal.
Hadits Rosulullah SAW yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi pada Riyadhus Shalihin bab ke-23 tentang Memerintah Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran nomor 1/184 menyebutkan bahwa Abu Said Al-Khudri mendengar Rosulullah SAW bersabda “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Imam Ahmad menjelaskan lebih lanjut tentang hadits ini  yaitu mengubah kemungkaran dengan tangan maksudnya bukanlah dengan pedang atau senjata melainkan kemampuan/kedudukan yang digunakan untuk mengingatkan dengan berlaku santun dan lembut, tanpa kekerasan, halus dan tidak mengundang kemarahan serta kebencian.
              Sahabat, telah jelas sudah mengapa tangan ini diciptakan oleh Allah untuk kita. Bukan hanya sebagai alat untuk mengepal, tetapi juga untuk menggenggam tangan-tangan yang membutuhkan bantuan. Bukan hanya digunakan untuk menyendok makanan, tetapi juga untuk meraih kembali orang lain pada jalan kebaikan. Bukan hanya memberikan nafkah pada keluarga atau apapun namanya, tetapi juga untuk menebarkan kebahagiaan. Jadi, sudahkah kau temukan jawaban untuk apa selama ini kedua tanganmu kau gunakan?
Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan dari sastrawan sekaligus ahli tafsir Sayyid Quthb yaitu “Orang yang hidup untuk dirinya sendiri akan hidup sebagai seorang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup untuk orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.” Jadi, untuk siapa kau dedikasikan hidup yang kau jalani sekarang? Semoga Allah merahmati kehidupan sahabat sekalian. Wallahu a’lam.


follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Kamis, Desember 28, 2017

Yang Allah Cinta, Tidak Cinta dan Benci

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, sahabat, beberapa waktu lalu setelah saya menuliskan Allah Berpuisi melalui Al Qur’an, ada sepercik rasa penasaran terkait Kecintaan Allah lainnya. Salah satunya yaitu terkait orang-orang yang dicintai oleh Allah dan tidak dicintai oleh-Nya. Penasaran itu akhirnya terungkap dan terselesaikan dengan Al Qur’an. Cinta, dengan kata kerja ‘mencintai’ dalam bahasa arab disebut يحبّ (untuk subjek ‘dia’) sedangkan kata ‘benci’ dalam bahasa arab disebut كره. Hasil pencarian dua kata tersebut di dalam Al Qur’an menunjukkan bahwa ada tiga kelompok manusia yaitu kelompok orang yang dicintai oleh Allah, orang yang tidak dicintai oleh Allah dan orang yang dibenci oleh Allah.
Pertama, hasil rangkuman dari 16 tempat di dalam Al Qur’an menyebutkan bahwa terdapat tujuh macam orang yang dicintai oleh Allah. Tempat-tempat tersebut adalah QS As-Shaff: 4, Al-Mumtahanah: 8, Al-Hujurot: 9, At-Taubah: 108, 7, 4, Al-Maidah: 93, 42, 13, Ali Imron: 159, 148, 146, 134, 76, dan Al-Baqoroh: 222, 195. Orang-orang tersebut adalah محسنين، متطهّرين، متّقين، متوكّلين، مقسطين، توّابين، صابرين yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi orang-orang yang adil, orang-orang yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah, orang-orang yang bertaqwa (takut kepada Allah), orang-orang yang menyucikan diri, orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang sabar, dan orang-orang yang bertaubat (kembali ke jalan Allah).
Kedua, hasil rangkuman dari 23 tempat di dalam Al Qur’an menyebutkan bahwa terdapat sembilan macam orang yang tidak dicintai oleh Allah. Tempat-tempat tersebut adalah QS Al-Hadiid: 23, As-Syuro: 40, Luqman: 18, Ar-Rum:15, Al-Qosos: 77, 76, Al-Hajj: 38, An-Nahl: 23, Al-Anfal: 58, Al-A’rof: 55, 31, Al-An’am: 141, Al-Maidah: 87, 64, An-Nisaa’: 148, 107, 36, Ali Imron: 140, 57, 32, dan Al-Baqoroh: 276, 205, 190. Orang-orang tersebut adalah معتدين، مفسدين، مسرفين، مستكبرين، فرحين، كلّ كفّار اثيم ظالمين، خائنين، مختالا فخورا yang artinya orang-orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa, orang-orang yang membanggakan diri, orang-orang yang sombong, orang-orang yang berlebihan, orang-orang yang berbuat kerusakan, orang-orang yang melampaui batas, orang-orang yang sombong dan membanggakan diri, orang-orang yang berkhianat, dan orang-orang yang dzolim (suka menganiaya).
Ketiga, ada dua macam orang yang dibenci oleh Allah berdasarkan hasil rangkuman lima tempat di dalam Al Qur’an yaitu كافرين (orang-orang kafir, artinya bukan muslim) pada surat At-Taubah ayat 32, Ghofir ayat 14 dan As-Shaaf ayat 8, dan مشركون (orang-orang musyrik, artinya menyekutukan Allah dengan sesembahan lain) pada surat At-Taubah ayat 33 dan As-Shaaf ayat 9. Selain itu, terdapat pernyataan kebencian tidak langsung dari Allah seperti pada surat Al-Hujurot ayat 7 terhadap فسوق و عصيان kedurhakaan dan kefasikan.
Berdasarkan hasil rangkuman tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat menjadi seorang muslim yang dicintai oleh Allah lebih mudah dibandingakan dengan menjadi manusia yang tidak dicintai-Nya karena Allah memberi kita banyak jalan dan kesempatan menjadi hamba kecintaan-Nya. Pemilihan salah satu dari tujuh macam sikap dan perbuatan tersebut untuk menjadikannya sebagai tingkah laku dan kebiasaan kita, maka kita sudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu hamba yang dicintai oleh Allah. Namun, kecintaan Allah kepada kita akan terhalang oleh sembilan macam sikap yang tidak dicintai oleh-Nya. Sikap tersebut sangat erat kaitannya dengan hubungan antar manusia atau yang juga disebut hablumminannaas sekaligus bab muammalah.
Demikian pula jika kita ingin menghindari kebencian Allah kepada kita. Hasil rangkuman tersebut menunjukkan bahwa caranya sangatlah mudah karena hanya dua sikap saja yang dibenci oleh Allah. Penghindaran terhadap kedua sikap itu telah menjauhkan kita dari rasa kebencian Allah kepada kita. Sehingga menjadi pribadi yang dicintai oleh Allah bukan tidak mungkin bagi semua manusia. Perlakuan yang harus kita jaga sebagai sikap keseharian yaitu menjaga hubungan baik dengan Tuhan dan menjaga hubungan baik dengan manusia. Satu hal lain yang utama dan penting yaitu menjadi seorang muslim, yaitu menghamba kepada Allah dengan sepenuh hati dan mengakui bahwa Rosul Muhammad adalah utusan Allah.
Wallahu a’lam bisshowwab. Semoga dengan adanya tulisan terakhir di penghujung tahun 2017 ini dapat membuat kita tetap bersemangat dan berlomba-lomba menjadi yang terbaik serta Menjadi Bintang di hadapan Allah. Amiin.


follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra