Sabtu, Maret 03, 2018

Menikmati Kasih Sayang Allah


Kehilangan, adalah sesuatu yang lazim terjadi pada manusia. Mulai dari barang yang sangat sederhana sampai orang yang paling istimewa. Begitulah dunia, jika ada yang lahir pasti ada yang meninggal. Jika ada pemasukan pasti ada pengeluaran. Jika ada keberuntungan pasti ada juga kemalangan. Momen kehilangan yang sudah biasa terjadi dalam riwayat hidup manusia sepanjang masa, akhirnya saat ini terjadi pada diri saya. Barangnya mungkin dapat dianggap sederhana, tetapi hikmah dari kejadian ini sangat luar biasa.
Hari ini, Sabtu 3 maret 2018 sekitar pukul 20.00 WIB, aku berjalan menuju tempat di mana motorku kuparkirkan. Jalanan semi gelap yang kulalui sepanjang laboratorium hingga tempat parkir tidak membuatku gelisah karena sudah kurang lebih 5 tahun aku mengambil studi di jurusan tersebut. Apalagi setelah menuruni tangga lantai dua aku bertemu kawan lama bersama suaminya yang dulu juga kuliah di jurusan tersebut. Tidak ada perasaan apapun saat itu. Namun, setiba di tempat parkir aku menemukan motorku dalam keadaan tidak tertutpi oleh helm pada salah satu kaca spionnya. Sejenak aku terkaget, tetapi aku ingat bahwa beberapa jam sebelumnya sekitar pukul 13.00 WIB seorang kawan meminjam motorku untuk keluar membelikan kami (penghuni lab) nasi untuk makan siang. Segera kuhubungi kawan tersebut dan menanyakan keberadaan helmku. Di luar dugaanku, ternyata si ukhti menjelaskan bahwa sejak tadi siang helmku tidak ada, namun dia lupa menanyakan dan memberitahukannya padaku. Berdasarkan informasi itulah, aku yakin bahwa apa yang dikatakan olehnya benar dan aku mulai sadar bahwa aku telah kehilangan helm.
Panik. Di dalam pikiranku hanya ada pertanyaan bagaimana caranya aku pulang ke rumah tanpa helm padahal jarak dari kampus ke rumah sekitar 10 km. Kepanikan tersebut membuatku melirik barisan motor yang terparkir di sebelah motorku. Ketemu. Dalam barisan tersebut, ada dua motor dengan helm bermerk dan berwujud sama dengan milikku. Perlahan aku mulai membandingkan keduanya, melihat manakah helm yang lebih mirip dengan milikku. Ternyata salah satu helm sangat mirip dengan milikku, karatnya, pola goresan kerusakannya, warnanya, kenyamananya, seratus persen aku yakin bahwa helm itu adalah milikku. Jika dilihat dari penampilan motornya, helm itu tidak pantas berada di sana. Motor itu terlihat tua dan usang, bahkan merk motor tersebut berbeda dengan helmnya. Hal itu membuat keyakinanku menjadi-jadi sehingga muncul kesimpulan dalam kepalaku bahwa pemilik motor tersebutlah yang meminjam helmku tanpa izin dan tidak mengembalikannya.
Keputusan untuk membawa helm tersebut pulang sudah bulat. Suasana tempat parkir yang sepi, penerangan yang kurang adalah situasi yang pas untuk melakukan tekad tersebut. Tetapi, sejenak kemudian aku teringat untuk menelpon abi(ayah)ku. Kukabarkan bahwa helm yang ada di motor hilang. Tidak lupa kunyatakan bahwa aku menemukan helm dengan jenis dan wujud yang sama dan aku berniat untuk memakainya untuk perjalanan. “ya Allah, jangan mbaakk”, abi membalas pernyataanku dengan sedikit berteriak. Sejenak aku terdiam, hingga kemudian aku memaksa untuk memberikan fotonya agar abi percaya bahwa helm itu benar-benar 100% sama dan aku diperbolehkan untuk membawanya pulang. “ya Allah, ndak usah mbak”, abi mengulangi jawabannya. “nanti orangnya pulang pakai helm apa? Sekarang mba a’yun kehilangan helm, terus ambil punya orang itu, terus orangnya juga kehilangan helm nanti sama kayak mba a’yun juga, kasihan”, lanjutnya. Aku tersentak, hampir saja aku melakukan kesalahan yang memberikan sumbangsih dosa jariyah. Bagaimana bisa aku berpikir untuk mengambilnya sedangkan aku tahu bahwa helm itu jelas-jelas berada di motor orang lain. Bukan helm liar yang berkeliaran tanpa pemilik. Bukan pula helm pinjaman. Astaghfirullahal’adziim~
“mba lewat jalan kecil aja yang bukan jalan raya melewati terowongan bawah MERR”, abi menyebutkan solusinya. Memang, jalan daerah terminal keputih, medokan semampir sampai kampus AWS dan nginden intan, yang biasa kusebut jalan belakang adalah jalan kecil yang orang lain kata ‘tidak perlu helm’ untuk melewatinya. Aku juga sudah melewatinya, tetapi tidak pernah tidak memakai helm. Namun, pada kondisi tubuhku sekarang ini aku sudah jarang bahkan menghindari jalan tersebut. Alasannya sederhana, gelap. Hal lain adalah perasaan sedikit trauma karena pernah jatuh di area sepanjang jalan tersebut, bukan hanya sekali tetapi tiga kali pada tiga tempat berbeda. Kondisi jalan semi licin, tikungan tajam, gelap, berlubang dan sempit adalah alasan-alasan logis yang membuatku menghindari jalan tersebut. Hal inilah yang membuatku bersikukuh untuk membawa helm ‘milik orang’ itu pulang. Tetapi abi telah menyadarkanku dari kebutaan atas tindakan laknat itu. Aku duduk menyimpuh, menunduk dan menangis di tempat gelap itu. Aku merasa tertampar, untuk apa ilmu agama yang selama ini kupelajari, ayat-ayat Allah yang selama ini kuhafal, hadits-hadits Rosul yang selama ini kubaca jika pemikiran dan perbuatanku ternyata masih sedangkal dan selicik itu. Padahal setengah jam sebelumnya aku tengah menghafalkan surat Qaf ayat 16-20,
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ ١٦ إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ ١٧  مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ١٨ وَجَآءَتۡ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ ١٩ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِۚ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡوَعِيدِ ٢٠
16. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya
17. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri
18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir
19. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya
20. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman
Ayat-ayat tersebut seharusnya cukup untuk membuatku sadar dan mengehentikan rencana tercela itu. Karena Allah Maha Dekat dengan kita, Ia yang mengetahui segala rencana kita, pemikiran kita, perbuatan kita baik diam-diam dan tersembunyi, maupun terang-terangan dan terbuka.
Pukul 20.17 WIB, seseorang menghampiriku untuk memberikan helm yang rencananya akan digunakannya. Beberapa detik sebelum aku keluar dari laboratorium untuk pamit pulang, dia menanyakan kepemilikan dua helm yang ada di ruang diskusi lab. Aku tak tahu, sehingga dia menanyakan hal itu di grup anggota lab. Helm yang satu ternyata bertuan, sedangkan satunya lagi entah milik siapa sehingga dinyatakan sebagai milik umum. Setelah kutelpon untuk menanyakan perihal helm. Kawanku yang meminjam motorku siang tadi merasa bersalah dan memohon pada ‘dia yang menanyakan helm’ untuk meminjamkan helm tersebut padaku. Akhirnya dia mengantarkan helm tersebut padaku.
Alhamdulillah, rencana jahatku gagal terlaksana. Aku kembali ke jalan yang benar. Aku sadar dan sangat bersyukur karena Allah masih memberikan kasih sayangNya kepadaku melalui peringatan dari orang tua dan kebaikan kawan-kawan di sekitarku. Alhamdulillah, aku terhindar dari perbuatan tercela. Bila syariat islam benar-benar terlaksana, mungkin sudah hilang tanganku jika Allah tidak menyayangiku. Dengan ketidaktaatan orang tua kepada Allah, tidak adanya ketakutan atas balasan perbuatan buruk, tidak adanya kawan-kawan yang peduli, aku yakin bahwa aku akan melalui jalan orang-orang dholim. Alhamdulillah, itu semua tidak terjadi. Ternyata, Allah masih sangat menyayangiku hingga kini dengan menunjukkanku pada jalan yang lurus, jalan orang-orang bertaqwa. Wallahu a’lam~

follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Jumat, Maret 02, 2018

Memahami Kasih Sayang Allah


                Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh. Sahabat, bagaimana kabarnya? Alhamdulillah kita semua masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati hari yang berbahagia ini. Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi satu hal yang menurut saya harus saya ceritakan kepada sahabat sekalian. Kisah ini sudah saya pendam selama kurang lebih satu bulan, karena kebimbangan atas pertanyaan apakah hal ini baik untuk diceritakan, apakah orang lain juga perlu mengetahui hikmah/ibroh yang saya ambil dari kisah berikut dan berbagai pertanyaan lainnya. Namun kemudian hari ini, pada akhirnya saya putuskan untuk membagikan kisah tersebut.
Pekan lalu, tanggal 24 februari 2018 masehi saya mengikuti suatu halaqoh Qur’an dengan materi tadabbur al-Qur’an. Serangkaian surat yang kami bahas dan tadabburi adalah QS. al-Fatihah, an-Nas, al-Falaq, al-Ikhlas, al-Lahab, dan an-Nasr. Ketika sampai pada ayat kedua dari surat al-Fatihah yang berbunyi:
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
sang ustadz memberikan penjelasan terhadap makna kata ‘Rohmaan’ dan ‘Rohiim’. Beliau menyebutkan bahwa ‘Rohmaan’ merupakan bentuk kasih sayang Allah di dunia sedangkan ‘Rohiim’ adalah bentuk kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Meskipun ada pendapat lain terkait makna dari dua kata tersebut, namun ustadz lebih condong dan cocok terhadap makna yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Beberapa hasil tadabbur yang kami dapatkan terkait ayat tersebut yaitu pertama,  bahwa sesungguhnya kasih sayang Allah itu tiada batas. Kedua, tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi pemberian kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya. Ketiga, Allah akan memberikan kasih sayang-Nya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Serta keempat, apapun yang terjadi pada kehidupan kita merupakan pemberian dan bukti kasih sayang Allah. Allah tidak membeda-bedakan makhluk-Nya, karena semua yang ada di muka bumi, di dunia, dan di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya. Karunia dan kasih sayang yang Ia berikan kepada makhluk-Nya sangatlah luas, bukan hanya harta, makanan, keluarga, kerabat atau hal materialis lainnya tetapi juga mencakup kesehatan, ketentraman hati, ketenangan jiwa termasuk pula keimanan.
Pada penjelasan berikutnya, ustadz menyebutkan bahwa salah satu kasih sayang Allah adalah bahwa Ia sudah memberikan semua yang terbaik untuk makhluk-Nya, seperti bentuk tubuh yang baik, sempurna dan lengkap. Meskipun suatu musibah terjadi pada diri kita misalnya sakit pada salah satu telinga, tidak akan menandingi bukti kasih sayang dari Allah yaitu bahwa masih ada satu telinga lainnya, masih ada bibir dan mulut yang sehat, masih ada anggota tubuh lain yang sehat. Penjelasan tersebut bagi sebagian orang mungkin terdengar biasa, apalagi penekanan pada kata ‘salah satu telinga’. Namun, tadzkiroh dari ustadz berhasil membuat mata saya berair dan hampir meneteskan air mata. Bagaimana tidak, gendang telinga kiri saya sudah tidak bisa diperbaiki. Akibatnya, aktifitas mendengar hanya mengandalkan telinga kanan. Fungsi pendengaran yang berkurang menyebabkan saya harus fokus dan memanfaatkan indera mata untuk melihat gerak bibir lawan bicara. Namun, mata saya sudah mengalami rabun jauh sejak kelas 5 SD dan fungsi penglihatan semakin menurun sampai saat ini. Sehingga, kacamata sangat saya perlukan untuk mencerna ucapan dan berkomunikasi dengan seseorang.
Kisah ini berawal pada akhir tahun 2016, terjadi hal yang tidak lazim pada salah satu bagian tubuh saya yaitu adanya rasa gatal dan terdapat cairan yang menetes dari telinga kiri. Penyebabnya, infeksi, kata dokter. Setelah pengobatan pertama, karena rasa sakit menghilang akhirnya pemeriksaan tidak saya lanjutkan. Namun, januari 2017 penyakit tersebut kambuh kembali. Setelah pengobatan tersebut, karena rasa sakit menghilang akhirnya pemeriksaan saya hentikan kembali. Selanjutnya, penyakit tersebut muncul kembali sekitar juni 2017. Setelah itu, saya bertekad untuk merutinkan pengobatan sampai akhirnya diputuskan untuk operasi pada awal februari 2018 lalu oleh dokter. Alhamdulillah, meskipun gendang telinga sudah tidak dapat ditambal dan diselamatkan, dokter sudah mengangkat dan mebersihkan granula liar yang tumbuh di dalam telinga. Sehingga granula tersebut tidak mengganggu dan merusak otak.
Alhamdulillah ‘ala kulli haal, Allah masih memberikan kasih sayang-Nya kepada saya. Tidak ada satu kejadian pun terjadi pada saya kecuali memiliki hikmah dibaliknya. Huwarrohmaanurrohiim, Dia-lah Allah Maha Pengasih Maha Penyayang, kepada semua hamba-Nya, makhluk-Nya tanpa terkecuali. Demikian kisah hikmah pada tulisan kali ini. Semoga sahabat semua dapat merasakan dan mensyukuri besarnya kasih sayang Allah kepada kita. Semoga para sahabat dapat mengemban amanah atas karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Semoga Allah limpahkan selalu rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, amiiin.

follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra