Tampilkan postingan dengan label perubahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perubahan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 12, 2023

Dorama denga Kondisi Ekstrem—yang Menyatukanmu

 

                Sudah kita ketahui bersama bahwa Jepang adalah negara yang paling banyak mengalami gempa bumi atau bencana alam. Oleh karena itu, mereka mengembangkan berbagai teknologi untuk mencegah atau mengantisipasi dan meminimalisir kerusakan/kerugian akibat bencana tersebut. Mulai dari bangunan tahan gempa, museum teknologi penanganan gempa, hingga ransum dan berbagai macam produk kemasan yang kreatif, mudah digunakan dan mudah dijumpai masyarakat di minimarket atau swalayan.

                Nah, berkaitan dengan bencana alam, ada dua drama Jepang bertema survival yang sangat menarik untuk ditonton. Drama pertama berjudul Cold Game (2021), yang mengisahkan tentang seorang wanita penipu cerdas dalam menghadapi kericuhan kondisi manusia yang bertahan hidup di bumi yang tiba-tiba berubah menjadi dunia es bersuhu -45°C. Drama kedua berjudul Pending Train (2023), yang mengisahkan sekelompok manusia yang terjebak di kereta yang putus dari rangkaian lalu bepindah ke masa depan (2050) melalui worm hole dan saat itu kondisi bumi sangat alami setelah mengalami bencana besar pada tahun 2026.

                Beberapa kesamaan yang ditunjukkan dalam kedua dorama tersebut adalah tahap penyatuan manusia/komunitas, bermacam karakter manusia yang ada saat survival adalah tipe pemimpin, pencari solusi, penyemangat, acuh tak acuh dll, serta tahap kebersamaan dan kekompakan untuk bertahan hidup. Sehingga banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari dorama ini terutama berkaitan dengan survival atau bertahan hidup saat terjadi bencana. Mungkin inilah yang ingin disampaikan oleh tim produksi khususnya kepada masyarakat Jepang, agar manusia selalu berhati-hati dan adaptif terhadap segala kondisi demi keberlangsungan generasi.

Demikian review kali ini, semoga teman-teman selalu dapat mengambil hikmah dari semua aktivitas yang dilakukan~ ja matta ne, arigatou minna-san~~

 


cold game (2021)

pending train (2023)


Senin, September 26, 2022

Irresistible Start-Up Business Dorama

 

    Aku nonton drama? sudah pasti, asalkan dari jepang. Genre yang juga menarik bagiku adalah tentang bisnis, tapi tidak semua dorama bisnis kusuka tentu saja. Satu yang sampai saat ini kuingat adalah dorama berjudul Rich Man Poor Woman, yang tayang pada tahun 2012. Dorama ini mengisahkan pemuda tampan nan kaya yang memulai bisnis start-up-nya sejak berada di bangku kuliah. NEXT Innovation, perusahaan IT yang ia kembangkan dengan seorang partner bisnis menjadi sukses besar di saat usianya 29 tahun. Saat melakukan promosi dan perekrutan karyawan, saat itulah kisah sebenarnya dan konflik besar pun dimulai.

     Hyuga Toru, bukan hanya seorang jenius tapi juga si perfeksionis. Namun, sisi gelapnya adalah tak dapat menerima pendapat orang lain dan mudah meremehkan. Hal itulah yang menjadi masalah besar dalam sistem kerja di kantornya. Perusahaan IT yang nyaman itu, sering terganggu karena keras kepalanya sang CEO. Teknologi yang seharusnya memudahkan malah menjadi sulit digunakan karena kejeniusannya dalam membuat program baru. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan wanita aneh yang melamar ke perusahaannya tersebut. Namun ternyata, wanita itulah yang berhasil mengubah hidupnya.

rich man poor woman (2012)

unicorn ni notte (2022)
        
       Dorama rekomendasiku berikutnya adalah unicorn ni notte dengan judul bahasa inggris yaitu riding a unicorn yang baru saja ditayangkan sejak bulan juli lalu. Drama ini juga mengisahkan tentang perjuangan, perubahan dan scale-up dari perusahaan IT start-up milik seorang gadis miskin lulusan SMA dan tak bisa melanjutkan kuliah karena tak ada biaya. Gadis miskin yang bercita-cita menjadi pebisnis itu asal masuk saja ke sebuah kampus dan mengikuti kelasnya. Hingga akhirnya, semangat yang membara itu semakin meletup-letup setelah mengikuti salah satu seminar bisnis yang pembicaranya adalah pebisnis favoritnya.

        Pada dua dorama ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa perubahan pada diri seseorang bukan hanya berdasarkan pada faktor lingkungan. Tetapi, teguhnya kemauan diri sendirilah yang mempunyai pengaruh terbesar dalam mencapai tujuan tersebut. Baik itu tujuan baru yang sangat berbeda dari tujuan semula, atau target yang lebih besar dan lebih tinggi dari sebelumnya. Halang rintangan yang melintang adalah hal biasa, jika tekad dalam diri sudah membabi-buta. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di tulisan selanjutnya~

Selasa, Juni 29, 2021

SKETSA PANDEMI-Bagian 9

 

                Kenyataannya sampai saat ini, pandemi belum usai. Malah muncul beberapa varian virus korona yang baru. Rumah sakit mulai penuh kembali, stok tabung oksigen pun menipis, terlebih para nakes yang berjuang sudah mulai ada yang tumbang lagi. Tapi sebagian masyarakat masih tak percaya kalau virus ini benar-benar ada, bahkan hingga tingkat pejabat negara. Ada apakah sebenarnya? Apakah koar-koar pemerintah tentang protokol kesehatan masih kurang? Atau masih banyak sebenarnya yang belum tercerahkan? Alih-alih mengatakan masyarakat kita kurang pendidikan, atau mungkin akses pendidikan memang belum merata (?).


Aihhh, jangankan masalah virus dan penyakit yang baru ada, bukankah penyakit yang lama masih kita pelihara? Berlebihan makan gorengan misalnya, atau melupakan kelengkapan gizi yang seharusnya, lalu kurangnya olahraga. Selain penyakit fisik, berbagai penyakit pikiran dan kebiasaan buruk pun bermunculan. Jam karet lah, buang sampah sembarangan lah, tak tertib rambu lalu lintas lah, terkadang masih ada juga yang tidak bisa antri dengan baik dan benar, dan lain-lain lagi. Tentu saja, sebagian lainnya tak berbuat demikian dan terus mengupayakan kebaikan. Semoga itu termasuk aku dan kalian ya.

Para sahabat yang sampai saat ini masih sulit berbuat kebaikan, yuk semangat yuk pasti bisa. Cari teman yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita. Para sahabat yang saat ini sudah mulai mengusahakan berbuat baik, teruslah berbuat baik, selalu berusaha menjadi versi terbaik kita dari hari ke hari. Para sahabat yang sudah istiqomah dalam kebaikan, yuk bagi ilmunya dan ajak semakin banyak orang untuk bergabung sebagai bagian dari pejuang kebaikan. Selamat berjuang semuanya~ semoga Allah meridhoi setiap langkah dan gerakan kita.

Sabtu, Juni 26, 2021

One of The Sights – Ichikei no Karasu

 

                “Sampai jumpa di pengadilan akhirat!”

                Kata-kata itu tidak pernah ada di salah satu drama Jepang bertema pengadilan berjudul Ichikei no Karasu (Ichikei’s Crow) yang tayang baru-baru ini. Karena si hakim satu ini adalah hakim yang sangat adil dan benar-benar mencari kebenaran atas suatu perkara. Bahkan, ia seringkali menggunakan otoritasnya untuk melakukan rekonstruksi kejadian guna menghindari kesalahan putusan. Sehingga, ia ditakuti oleh para pengacara dan jaksa. Selain itu, organisasi kehakiman tertinggi pun ingin menyingkirkannya karena ulah yang ia perbuat merugikan para atasan dan politisi.


                Tentu saja yang ditampilkan dalam drama ini hanyalah hal fiksi, tapi tidak menutup kemungkinan perkara tersebut terjadi di dunia nyata. Bahwa hakim yang baik dan benar akan dibenci dan perlahan-lahan disingkirkan oleh kekuasaan. Sehingga, para hakim tak punya pilihan lain selain menjalankan amanah sebagaimana pesanan atasan. Namun, drama ini menggambarkan bahwa kebenaran akan selalu menunjukkan wujudnya, dan sedalam apapun kesalahan disembunyikan, suatu saat hal itu akan muncul ke permukaan.

                Persoalan pengadilan ternyata sama saja di negeri ini dan negeri itu. Sedemokratis apapun kondisinya, yang namanya penguasa ya pasti merasa punya kuasa atas segalanya. Atas rakyatnya, atas sumber dayanya, bahkan atas segala yang terjadi pun harus sesuai kehendaknya. Siapa yang seharusnya bertahta, siapa yang semestinya dipenjara, mereka atur sedemikian rupa. Tak peduli yang terjadi pada rakyatnya, asalkan mereka bisa makan enak dan tidur nyenyak. Sungguh, hal itu bukanlah kepemimpinan yang digambarkan dalam Islam. Tapi bagaimanapun kondisinya, pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Oleh karena itu, teruslah jadi orang baik dan bertahanlah dalam kebaikan agar suatu saat muncul pemimpin terbaik di antara yang baik itu.

Senin, November 09, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 3

 

                Alhamdulillah, ini adalah tulisan bebas ke-101 (di luar tulisan bulan Romadhon ’36 dan ‘37 H serta tulisan tentang Keluarga Harmoni) setelah sepuluh tahun aku menulis di blog ini. Meskipun tidak rutin, tak pula banyak pembaca, aku bersyukur masih bisa dengan bebas menuliskan banyak hal dan memberikan manfaat untuk sahabat pembaca. Tentangku, tentang keluargaku, tentang ilmuku dan tentang semua yang ada di pikiranku. Ya.. mudah-mudahan gak akan kena UU ITE yang menjebak itu sih. Hmm, parah sih emang, belum lama dibuat aja udah menimbulkan banyak kegaduhan. Banyak pasal karet katanya. Saat itu, sudah jelas banyak masyarakat termasuk kaum terpelajar menolak RUU itu. Tapi yaa, tetap aja tuh disahkan oleh yang berwenang.

                Belum lama ini juga, lagi-lagi DPR (Dewan Perwakilan Rakyat ‘katanya’) dan pemerintah membuat keributan dengan masyarakat. Mereka telah mengesahkan Omnibus Law, kumpulan berbagai UU, termasuk di dalamnya adalah UU Cipta Kerja. UU itu mengkhawatirkan banyak pihak, mulai dari pekerja, pengusaha hingga investor. Namun, seperti kita ketahui, endingnya tetap saja RUU itu disahkan menjadi UU. Lucunya, jumlah halaman dan isi dari UU tersebut berubah-ubah setelah disahkan. Bukannya menyelesaikan masalah pandemi, pemerintah malah membuat masalah baru. Atau jangan-jangan memang sengaja untuk mengalihkan perhatian? Yaahh.. who knows~

                Pandemi, ternyata tidak banyak mengubah perilaku manusia, termasuk masyarakat Indonesia. Setelah satu semester menjalani kehidupan yang lumayan ketat dan membosankan, orang-orang kembali menjalani kehidupannya dengan bebas seolah masa pandemi telah berakhir. Banyak alasan yang memang tak dapat disalahkan. Kondisi keuangan misalnya, rindu berkumpul dengan keluarga, ingin jalan-jalan bersama dengan kesayangan, atau sekedar iri dengan negara yang telah berhasil menekan penyebaran si virus. Meskipun demikian, kita terus berdoa agar Allah selalu menjaga negeri ini dan meridhoi kebaikan yang kita niatkan dan kita perbuat.

                Allah selalu memberikan kemudahan di tengah kesulitan yang terjadi. Ia selalu menepai janji.

                Tiga setengah tahun adalah jangka waktu abnormal untuk menyelesaikan studi magister. Studi itu harusnya selesai dalam waktu singkat, hanya 1,5 atau 2 tahun saja. Namun, kondisi yang tak biasa terjadi padaku. Seperti kukisahkan pada lembar-lembar sebelumnya. Di tengah perjalanan, tentu saja ada sepercik rasa ingin menyerah. Penyakit yang muncul, penelitian yang tak kunjung selesai, biaya belajar yang tak murah adalah sebagian sebab munculnya perasaan itu. Namun tentu saja, lebih banyak sebab lain yang memicuku untuk melanjutkan dan menyelesaikan amanah ini hingga akhir. Perlukah kutuliskan? Mungkin enggak ya, karena terlalu emosional dan mungkin sebagian sahabat yang mengalami ujian serupa sudah mengetahui alasannya hhe~ Ya, semoga Allah selalu memberi kita kekuatan untuk menyelesaikan persoalan duniawi yang sangat kecil ini.

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, November 07, 2020

One of The Sights - Tenno no Ryoriban

 

                Sahabat sekalian yang mungkin sudah mengenaliku dari tulisan-tulisan yang kubuat, pasti tahu kalau aku hobi belajar bahasa asing, seperti bahasa jepang, korea, dan china. Tentu saja, pengaruh paling banyak berasal dari entertainment, film kah, drama kah, variety show kah dan tayangan semisalnya. Saat ini, belajar jadi lebih mudah dengan adanya platform youtube. Semua bisa ditemukan di sana. Kita pun bebas memilih guru yang cocok dengan keinginan dan gaya belajar kita. Selain bahasa, tontonan juga memberi kita pengetahuan tentang budaya, habit, hingga sejarah latar negara yang ditampilkan. Oleh karena itu, bertemakan ‘One of The Sights’, aku menuliskan insight yang kudapatkan dari hasil nonton. Agar kejahilan yang dulu kulakukan itu setidaknya bermanfaat.

                Tayangan pertama yang kita review adalah drama berjudul ‘Tenno no Ryoriban’. Seperti bisa ditebak dari judulnya, drama jepang yang tayang tahun 2015 ini menceritakan seorang chef di istana kaisar. Drama ini sangat menarik untukku karena ternyata produksinya terinspirasi dari kisah nyata. Terlebih untuk sahabat yang punya hobi nonton drama jepang, mungkin tidak akan melewatkan tayangan unik ini. Drama ini membuatku tertarik untuk mencari dan membaca kisah lengkap si tokoh utama, yang ternyata dapat dengan mudah kita cari dengan bahasa inggris.

                Tokuzo, si tokoh utama, dikisahkan sebagai seorang yang sangat inspiratif. Lahir di keluarga yang cukup berada, ia adalah anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya adalah lelaki. Karakter Tokuzo sangat unik, berbeda dengan kakaknya yang bertanggungjawab, pun berbeda dengan adeknya yang cukup dewasa, ia adalah seorang anak yang usil, tak sabaran, dan (mungkin) pengacau. Di usianya yang ke-16, ia sudah beberapa kali kabur dari pekerjaan (kegiatan) yang ia pilih sendiri. Ia tak sabar belajar, tak sabar menghadapi ujian dan selalu kabur setelah 3 bulan bekerja.

Sifatnya yang demikian membuat orangtua terutama sang ayah geram. Berkali-kali dinasehati tapi tak dihiraukan. Akhirnya, ia dinikahkan dengan seorang wanita dari keluarga kaya yang berasal dari desa sebelah. Karakter si istri yang sabar sangat cocok dengan Tokuzo yang pecicilan. Tapi, hal itu tentu saja menyakitkan, karena akhirnya si istri lebih banyak mengalah. Orangtua si istri tentu saja tidak diam melihat anaknya diacuhkan. Sang ayah akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah orangtua Tokuzo untuk memintakan cerai karena selain mengacuhkan istrinya, ia juga tidak serius menjadi kurir dan marketer usaha keluarga. Terlebih saat diketahui, ternyata ia diam-diam belajar memasak di kamp militer (salah satu pelanggan tetap) selama berbulan-bulan dengan dalih melakukan penawaran dagangan keliling.

sumber gambar: google


                Keinginannya menjadi juru masak ternyata sangat membuncah sehingga membuatnya ingin pergi ke Tokyo untuk belajar dari guru utama.  Tapi tentu saja, sang ayah tidak menghiraukan keinginan tersebut, karena mungkin itu adalah ambisi sementara seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Singkat cerita, Tokuzo akhirnya belajar di suatu restoran terkenal di Tokyo dan mengalami beberapa persoalan. Meskipun demikian, ternyata ia tak mudah menyerah, karakternya cukup mengalami perubahan. Ketekunannya belajar dari dua tempat yang berbeda, ternyata malah memberi masalah besar untuknya.

                Hingga suatu hari, setelah semua permasalahan di Tokyo selesai, ia nekat belajar ke tempat yang lebih jauh. Paris, pusat resep ternikmat dari juru masak terbaik. Akhirnya, dengan segala keteguhannya untuk belajar dan segala kesabarannya menghadapi masalah, ia berhasil menjadi koki ‘Escoffier’ dari Jepang. Kemudian ia kembali ke jepang dan diminta menjadi kepala chef di dapur istana kaisar. Tokuzo, tentu saja menerima tawaran itu. Ia akhirnya menjadi seseorang yang ia impikan, yaitu juru masak nomer satu di Jepang. Ia berhasil menaklukkan ego dan habit buruknya, hingga ia mendapatkan kepercayaan di usianya yang ke-25 sampai ke-83, sejak tahun 1913 (masa kekaisaran Taisho) sampai 1972 (masa pertengahan kekaisaran Showa).

                Sahabat, suksesnya seorang pemuda di usia 20-an ternyata bukan hal yang mengejutkan. Jauh sebelum kisah ini terjadi, pada zaman Rosulullah pun demikian. Meskipun Rosulullah diangkat menjadi Nabi pada usianya ke-40, tetapi kegemilangan beliau saat muda dan para sahabat muda lainnya juga banyak dikisahkan. Azzam yang kuat, niat yang baik dan usaha yang keras tentu saja menjadi beberapa faktor penentu keberhasilan. Sahabat, selamat berjuang dan sampai jumpa di kisah-kisah selanjutnya~

follow me @qhimahatthoyyib

Kamis, November 05, 2020

SKETSA PANDEMI-Bagian 2

 

                Masyarakat Indonesia dan juga seluruh dunia sedang berduka. Banyak korban berjatuhan akibat makhluk kecil satu ini. Masyarakat sipil, militer, anak-anak, orang tua, rakyat biasa, hingga pejabat bahkan petugas kesehatan tak terlewatkan sebagai korban. Januari 2020, kudengar pertama kali kejadian bermula di suatu tempat, di sebuah negeri daratan, beberapa ribu kilometer di sebelah utara pulau Jawa. Hingga maret 2020, kondisi itu merambah dan terjadi di Indonesia, tepat di ibu kota. Pertokoan, sekolah, kantor, dan segala tempat keramaian ditutup. Kejadian ini, memang tak menguntungkan untuk manusia, tapi mungkin menguntungkan untuk makhluk lain. Perbaikan kondisi bumi misalnya, atau perbaikan habitat sebagian flora fauna.

                Seketika mewabah di Indonesia, meskipun berjarak beberapa ratus kilometer dari pusatnya, kampusku mengondisikan diri untuk tutup. Saat jadwal hari pertama wisuda masih di gedung, namun jadwal hari kedua dengan sekejap berubah menjadi daring. Dosen dan pegawai dirumahkan, mahasiswa pun dipulangkan. Kampusku membenahi diri, menyiapkan protokol dan melengkapai perangkat lain yang dibutuhkan agar kehidupan kampus dan pembelajaran segera kembali berjalan.

Pandemi mengubah semua kondisi. Tak terkecuali, aku.               

Dosen pembimbingku yang tak lagi muda, memilih untuk bekerja sepenuhnya dari rumah meskipun diberi pilihan dari kampus untuk bekerja sebagian di kantor dan sebagian di rumah. Grup kami melakukan pertemuan daring sepekan sekali agar penelitian tetap terpantau dengan baik. Namun, karena laboratorium ditutup sementara sebelum semuanya selesai disiapkan, sehingga aku dan beberapa kawan tidak dapat melanjutkan penelitian. Padahal kami dituntut untuk berakhir dan lulus semester ini (bulan agustus lalu).

Sejak saat itu, perubahan yang signifikan terjadi padaku. Terutama pada penelitian yang kukerjakan. Target penelitianku berubah, dipermudah. Bapak pembimbing memberi keringanan padaku, menyesuaikan dengan data yang telah kudapatkan dan menyesuaikan dengan hal yang bisa kulakukan secepat mungkin di masa sulit ini. Alhamdulillah, aku sangat beruntung tahun ini. Meskipun kesulitan terjadi, kemudahan pun selalu mengikuti.

Beberapa pekan setelahnya, semua persiapan dan perangkat selesai dilengkapi, akhirnya kampus dibuka kembali dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, hanya diperbolehkan untuk mahasiswa yang melakukan penelitian di laboratorium. Kalau adek tingkat yang hanya kuliah di kelas, ya masih di rumahnya masing-masing. Masuk ke dalam lab dan kantor pun terjadwal. Sehingga, kami tak leluasa bekerja seperti sebelumnya. Namun demikian, sesegera mungkin target yang sudah diringankan itu kuselesaikan. Meskipun ada perasaan tak rela karena berbeda dengan mahasiswa magister lain bimbingan beliau. Tetapi, begitulah nasib (dan keuntungan) yang harus kuterima. Akhirnya, pada bulan Juli, semua persyaratan untuk lulus segera kupenuhi. Agar aku tak lagi menjadi beban, baik untukku sendiri, untuk dosen-dosenku, dan terutama untuk orangtuaku.

follow me @qhimahatthoyyib

Selasa, Februari 26, 2019

COUPLE TIME: Persiapan Tiga-Mencari Pasangan



               Jika semua persiapan sebelumnya (komunikasi dan ilmu) sudah dilakukan, maka kini saatnya mencari pasangan. Ketiga hal tersebut dapat dilakukan bersamaan, namun lebih pas dilakukan berurutan. Seperti dua persiapan sebelumnya, perkara yang satu ini untuk sebagian orang juga bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Beberapa mungkin tak pede (red: percaya diri) dan merasa belum pantas, beberapa juga tak kunjung mendapatkan yang cocok setelah kenalan sana sini hingga akhirnya menyerah, dan beberapa mengalami gejolak dalam dirinya karena merasa belum butuh pasangan. Meski banyak alasan yang menghalangi, namun ada banyak pula alasan untuk melakukannya. Rosulullah SAW bahkan memperingatkan dan melarang umatnya untuk membujang. Selain itu, Rosulullah SAW bersabda ‘seseorang yang telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaknya dia bertaqwa kepada Allah SWT pada separuh sisanya.’
                Seperti sahabat semua ketahui, bahwa saat ini adalah era media sosial dimana semua informasi terbuka luas dari siapapun dan untuk siapapun. Salah satunya yaitu maraknya kemunculan selebgram dan vlogger. Minidrama, webdrama, kajian, dan informasi tentang ta’aruf, jodoh dan sebagainya semakin mudah didapatkan. Selain pasangan selebriti lokal atau pasangan lokal lainnya, banyak pula international couple (pasangan antar negara) yang memperlihatkan kehidupan mereka melalui sosial media. Berbagai tontonan tersebut bisa jadi ilmu yang bermanfaat jika kita dapat mengambil hikmah dan tidak hanya sekadar refreshing. Terutama jika kita melihat berbagai komentar dari netizen, yaitu ada complemet, bullying, agreement dan lain-lain maka pastikan semua hal itu dapat kita jadikan sebagai pelajaran.
                Banyak hal menarik yang disampaikan oleh para vlogger atau selebgram pasangan, sampai seringkali netizen dibuat baper atau ingin melakukan atau mendapatkan hal yang sama, mungkin asal negaranya, mungkin pekerjaannya, mungkin sifatnya, mungkin tempat atau negara yang ditinggalinya dan lain sebagainya. Hingga kemudian berbagai keinginan yang membingungkan itu berebut memenuhi kepala kita. Namun sebagai muslim/ah, Rosulullah SAW sudah memberikan saran bagaimana karakter pasangan yang sebaiknya dipilih pada haditsnya yaitu ‘dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Nabi SAW bersabda, wanita dinikahi karena empat perkara. Pertama hartanya, kedua kedudukannya, ketiga kecantikannya dan keempat agamanya. Maka carilah wanita yang beragama agar engkau beruntung.’ Hadits Nabi SAW tersebut menunjukkan bahwa hal terpenting pada seorang pasangan adalah agamanya, maksudnya pasangan tersebut taat beribadah dan baik dalam melaksanakan syari’at. Jadi hal-hal di luar itu adalah perkara tambahan yang disesuaikan dengan kondisi dan selera tiap orang.
                Beberapa tips untuk sahabat yang ingin proses pencarian pasangannya dilakukan dengan syar’i yaitu pertama minta dicarikan oleh kawan-kawan yang sudah menikah. Kedua minta dicarikan oleh orangtua. Tapi mungkin banyak sahabat yang malu melakukan hal ini. Ketiga minta dicarikan oleh guru ngajinya.  Keempat mendatangi biro jodoh islami, biasanya didahului dengan menghadiri kajian, seminar atau kelas pranikah. Kelima terus berusaha memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah. Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf bila ada salah dan kurang dalam penulisan. See you later~

follow me @qhimahatthoyyib

Jumat, Desember 28, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 4: Reaksi


                Hari ini masing-masing anggota lab kami (laboratorium bahan alam) melakukan presentasi capaian 2018 dan rencana 2019. Setiap orang menampilkan desain, poin, dan isi presentasi berbeda karena memang tidak ada format khusus/tetap seperti penulisan makalah tesis atau jurnal. Sehingga masing-masing orang menampilkan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Terutama pada poin rencana yang akan dilakukan pada tahun 2019, sebagian besar poin sangat beragam di samping menyelesaikan tesis atau tugas akhir. Beberapa berencana untuk wirausaha, beberapa ingin melanjutkan studi di luar negeri, beberapa hanya menyampaikan fokusan studi saja, beberapa juga ingin mendapat pekerjaan tetap. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kestabilan yang diinginkan masing-masing orang sangat berbeda dan beragam. Keinginan tersebut ada karena latar belakang yang berbeda, kemampuan yang berbeda, dan sebab-sebab lainnya.
                Poin-poin yang dapat diambil dari kejadian tersebut adalah pertama bahwa reaksi setiap individu terhadap perintah amatlah beragam terlebih ketika tidak ada persyaratan tertentu. Pun saat ada syarat-syarat khusus, perbedaan reaksi antar individu juga tidak akan hilang sepenuhnya. Kedua yaitu definisi stabil setiap orang berbeda bergantung pada keadaan diri dan mungkin juga lingkungan. Kestabilan pada diri manusia juga mencakup hal yang disebut kemapanan. Ketiga yaitu usaha yang dilakukan pun juga akan berbeda oleh setiap individu meskipun target akhir yang ingin dicapai sama. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kita tidak perlu risau menghadapi pebedaan di dalam kehidupan ini. Terlebih dalam perbedaan pendapat terutama di tahun politik 2019. Bahkan dalam hal beragama pun telah disebutkan di dalam Al-Qur’an oleh Allah yaitu tidak ada paksaan dalam memilih agama islam. Tetapi jika kita berbeda agama maka diperintahkan bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Hal ini justru merupakan pernyataan kebebasan dan toleransi terbaik yang diberikan oleh agama islam. Namun, jika sudah menjadi muslim maka ketetapan, perintah, larangan dan aturan lainnya bagi kaum muslimin wajib kita taati.
                Sikap-sikap demikian tersebut sebenarnya sudah alami terjadi di kehidupan ini. Setiap tumbuhan misalnya, memiliki senyawa yang berbeda di masing-masing tubuhnya. Hal ini dikarenakan mereka harus bertahan hidup di tempat-tempat yang berbeda. Beberapa harus tahan di dasar laut melawan dingin, sebagian di atas gunung melawan angin, sebagian lainnya mengeluarkan bau tak sedap, sebagian lain lagi menyemprotkan harum yang menyengat, dan sebagainya dan sebagainya. Tumbuhan bertahan hidup dengan caranya masing-masing. Senyawa yang ada di dalam tubuhnya bereaksi dengan cara masing-masing.
Secara umum reaksi yang terjadi di dalam kehidupan adalah reaksi oksidasi dan reduksi karena unsur utama senyawa organik yaitu oksigen, hidrogen dan karbon. Reaksi tersebut kemudian didetilkan menjadi empat reaksi utama yaitu subtitusi (penggantian), eliminasi (pengurangan), adisi (penambahan) dan penataan ulang (perubahan struktur namun jumlah unsur tetap). Maka begitu pulah lah reaksi yang dapat kita lakukan dalam menjalani kehidupan. Jika ada yang rusak maka dilakukan penggantian. Jika ada kelebihan maka dilakukan pengurangan. Jika ada kekurangan maka harus dilengkapi. Jika tidak ada input dari luar maka sebaiknya restrukturisasi/penataan ulang. Pada sistematika reaksi adisi senyawa alkena (rangkap dua) dan alkuna (rangkap tiga) pun ada perbedaan hasil. Ada senyawa yang memenuhi aturan markovnikov (kaya semakin kaya) atau anti markovnikov.
Oleh karena itu, hendaknya kita sewajarnya saja dalam menyikapi perbedaan. Baik pada perbedaan pendapat, perbedaan sifat, perbedaan derajat, atau perbedaan lainnya karena sesungguhnya setiap makhluk itu sama yaitu memiliki perbedaan. Sekian, semoga bermanfaat. insyaAllah tulisan-tulisan ke depan masih dalam tema yang sama dengan permasalahan dan solusi kimia yang lebih rinci. Wassalam~

follow me @qhimahatthoyyib

Minggu, Desember 16, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 3: Perubahan Struktur



                Suatu hari seorang teman mengungkapkan pendapatnya, “Mengapa saat mencari makanan harus melihat ada tidaknya tulisan halal? Bukankah Indonesia mayoritas muslim? Seharusnya tak perlu menuliskan label halal pada produk makanan, kan?” Apabila dilihat dari satu sisi, menurutku pendapat ini sangat benar. Tetapi jika dilihat dari sisi lain, pendapat ini kurang tepat.
                Di negara ini, umat muslim jarang merasa khawatir jika berbelanja daging di pasar baik tradisional maupun modern, membeli makanan di warung, atau keperluan lain. Namun, setelah globalisasi mulai berkembang biak, bukan hanya perubahan cuaca tetapi juga bahasa, budaya, kesenian, mode, teknologi bahkan pasar global, Indonesia sedikit demi sedikit berubah untuk tetap eksis di dunia Internasional. Sehingga kekhawatiran umat muslim terhadap makanan, kosmetik atau keperluan halal lainnya meningkat. Jika MUI tidak mengeluarkan label halal, maka produk (industri/homemade) yang tidak halal harus menuliskan label ‘Tidak Halal’, atau ‘Mengandung Babi’, ‘Mengandung Alkohol’, ‘Mengandung Rum’ atau label lain untuk menunjukkan ketidakhalalannya. Tindakan seperti ini akan menyulitkan bahkan dapat menyudutkan umat muslim. Padahal berbagai produk tersebut dijual untuk umum, tetapi seolah-olah hanya umat muslim yang tinggal di negeri ini dan berhak mengatur regulasi penjualan mereka. Jadi, sudah merupakan hal yang tepat produk halal untuk umat muslim bertuliskan label halal oleh MUI. Lalu bagaimana jika produk tidak/belum terdaftar label halal MUI? Maka, keputusan jual beli diserahkan kembali kepada produsen dan konsumen. Jual beli dapat berlangsung apabila kita merasa produk tersebut aman dan cocok, produsen tidak berbohong atas detail produknya, atau hal-hal lainnya.
                Persoalan tersebut menunjukkan bahwa reaksi lingkungan tergantung pada tindakan yang telah kita lakukan. Namun, tindakan yang kita lakukan tidak harus dipengaruhi oleh lingkungan. Seperti yang telah saya tuliskan pada kedua judul sebelumnya, partikel terkecil yaitu atom sampai materi terkompleks yaitu manusia menginginkan kehidupan yang stabil, tanpa masalah, tanpa kesulitan. Tetapi kenyataanya kestabilan bukanlah sesuatu yang tetap, bukan hal yang kekal karena terkadang ia dipengaruhi oleh lingkungan.
                Senyawa air, H2O, adalah salah satu senyawa alami yang melimpah di muka bumi. Zat cair ini dikenal dengan warnanya yang bening, tidak berasa, dan tidak mudah terpisahkan. Namun, kenyataanya air dapat mengalami perubahan warna, rasa dan juga dapat dipisahkan. Hal ini merupakan salah satu contoh bahwa kestabilan suatu senyawa dapat berubah sesuai lingkungan. Misalnya, pada suhu dingin 0°C (nol derajat celsius), air akan berubah wujud menjadi es dimana peristiwa ini disebut pembekuan. Dalam wujud es, senyawa H2O akhirnya dapat dipecahkan. Peristiwa lain yaitu penguapan, adalah saat air berubah wujud menjadi uap akibat lingkungan yang panas 100°C (seratus derajat celsius). Dalam wujud ini, akhirnya senyawa H2O tercerai berai.
                Jika kestabilan suatu benda mati dapat mengalami perubahan, maka manusia pun pasti demikian. Suatu kestabilan yang berubah merupakan suatu hal yang berbeda dengan ketidakstabilan. Karena suatu hal yang tidak stabil tersebut tidak akan terbentuk. Namun, pada ketiga wujud yang telah dijelaskan sebelumnya, senyawa H2O tetap ada di muka bumi. Bagaimanapun bentuknya, bagaimanapun strukturnya, H2O akan terus eksis di dunia. Begitupun manusia, masing-masing mempunyai kriteria kestabilan berbeda dan dapat berubah-ubah. Perubahan dapat terjadi karena lingkungan ataupun sebaliknya. Misalnya, semasa sekolah merasa stabil jika selalu ranking pertama. Setelah bekerja, merasa stabil jika gaji di atas 10 juta. Saat berkeluarga merasa stabil jika punya rumah mewah.
Sahabat, tingkat kestabilan seseorang akan mempengaruhi cara ia bereaksi terhadap lingkungannya. Semakin stabil seseorang, maka ia tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Ia tidak juga membandingkan kestabilan dirinya dengan kestabilan orang lain. Pun ia tidak juga memberikan standar kestabilan pada selain dirinya. Lalu bagaimana seharusnya bereaksi terhadap lingkungan? insyaAllah akan kita bahas pada tulisan selanjutnya. Sekian, selamat menikmati akhir pekan~

follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Desember 15, 2018

POLITISASI KEHIDUPAN-Bagian 2: Pembentukan Ikatan



                Fakta yang ada di Indonesia yaitu bahwa Islam adalah agama mayoritas. Sebanyak apapun orang membenci islam, entah terhadap orangnya, entah terhadap agamanya, entah memang parno dari sononya, atau sudah sakit telinga saat mendengarnya, kita tidak dapat menafikan kenyataan bahwa Islam telah menguasai Indonesia. Jika agama islam adalah agama penebar kebencian, maka tidak masuk akal jika 80% penduduk negeri ini adalah muslim. Padahal sebelum Islam datang, kita tahu bahwa Majapahit dengan latar belakang Hindu-Budha-Animisme telah menguasai Nusantara yang meliputi Indonesia  dan beberapa Negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Islam merupakan pilihan utama masyarakat.
                Kini, islamophobia, ungkapan untuk seseorang yang fobia dengan Islam, semakin berani menunjukkan dirinya. Mereka meyakini bahwa Islam harus ditumpas, apapun alasannya. Kejadian ini serupa dengan hal yang telah dialami oleh Rosulullah dan kholifah setelahnya. Bukankah tidak ada hal yang baru di dalam hidup kita? Semuanya pasti berulang, berputar seperti roda, meskipun jaman dan teknologi semakin berkembang tetapi sifat manusia pada dasarnya begitu-begitu saja. Jika kita baca sejarah perkembangan Islam di masa Rosulullah, kaum kafir Quraisy atau musuh islam lainnya ‘hanya’ merasa terancam dengan keberadaan Islam. Mereka akan melakukan segala cara agar Islam tak dapat mengalahkan ‘kepopuleran’ mereka. Orang-orang itu ‘hanya’ gengsi, tinggi hati dan ingin berkuasa atas segala.
                Kebencian ini berimbas pada seluruh aspek kehidupan. Kampus dan sekolah Islam dianggap ladang teroris, organisasi Islam dianggap mengancam kesatuan Negara, hingga parta Islam pun tak luput dari berbagai tudingan. Oleh karena itu, untuk menghadapi kebencian ini diperlukan sikap politik (taktik, rencana, siasat, strategi) agar umat Islam tidak terbakar, terpengaruh atau termakan ucapan tersebut. Bagaimanapun umat islam harus bersatu, memperkuat ikatan ukhuwah islamiyah, agar tidak mudah terpecah-belah.
                Kekuatan akan terbentuk jika masing-masing diri kita saling berikatan. Peristiwa ini bahkan terjadi pada partikel terkecil pembentuk materi yaitu atom. Tidak ada satu atom pun di muka bumi ini yang tidak berikatan. Karena ikatan ini diperlukan agar atom-atom tersebut menjadi lebih stabil. Kestabilan pada atom terjadi apabila elektronnya telah memenuhi kaidah duplet (dua elektron) atau oktet (delapan elektron). Kaidah tersebut hanya terjadi apabila suatu atom berikatan dengan atom lain. Sehingga tak ada cara lain untuk mencapai tingkat kestabilan yang lebih tinggi selain saling berikatan.
                Berbagai ikatan yang terjadi di dalam senyawa adalah ikatan ion (umumnya antara atom logam dan nonlogam), ikatan kovalen (umumnya antara atom nonlogam dan nonlogam), ikatan kovalen koordinasi dan ikatan logam. Jenis-jenis ikatan tersebut ada karena masing-masing sifat atom berbeda. Di antaranya ada atom yang mempunyai pasangan elektron bebas, ada yang mudah melepaskan elektron, ada yang senang mengambil elektron, dan ada juga yang senang dengan sesama kelompoknya sendiri. Selain terjadi antara dua atom, ikatan juga dapat terbentuk antara sekelompok atom. Oleh karena itu, beberapa istilah yang dikenal pada atom-atom yang saling berikatan yaitu molekul, unsur dan senyawa.
                Jadi, begitupun halnya yang terjadi pada manusia. Pembentukan ikatan, perkuat ukhuwah, juga merupakan salah satu cara untuk mencapai kestabilan. Namun, apakah kestabilan tersebut bersifat kekal? insyaAllah akan kita bahas pada tulisan selanjutnya. Wassalamu’alaikm dan selamat berjuang~

follow me @qhimahatthoyyib

Rabu, Desember 12, 2018

Revolusi Industri 4.0: VR, AR, KOREA AND INDONESIA



Assalamu’alaikum sahabat, semoga Allah selalu limpahkan kebaikan pada kita semua amiin. Kali ini saya mencoba menuliskan sesuatu sedikit keluar dari bidang saya. Seperti sahabat semua ketahui, bahwa banyak tulisan saya yang mengedepankan analisis. Terutama di bidang keilmuan saya yaitu Kimia, serta bidang lain yang saya tekuni yaitu tadabbur ayat Al-Qur’an, juga hal lain yang menarik bagi saya yaitu variety show Korea, dorama Jepang, dan tontonan dengan action and sci-fi theme. Namun kali ini kita akan membahas sesuatu yang berbeda yaitu salah satu drama Korea yang baru saja tayang pada awal bulan Desember 2018 ini.
Beberapa sahabat yang telah mengikuti tulisan ini sejak lama, mungkin sudah tahu bahwa saya tak suka dengan drama Korea (read: drakor bukan movie/film). Terutama karena tema-tema drakor 90% adalah romance yang membuat saya ithcy and chilly. Berbeda dengan penggemar lain yang menggandrungi negeri ginseng itu karena drama dan idolnya, saya menggandrungi mereka karena kecepatan perkembangan teknologi dan kekokohan warisan budayanya. Jadi, banyak judul drakor terlewatkan bagi saya meskipun hal tersebut sangat hits di Indonesia.
Selama ini, drakor yang menarik bagi saya adalah ‘Jang Yeong Sil’ (2015) yang menceritakan ilmuwan perbintangan Korea, ‘SPY’ yang menceritakan agen rahasia China, dan ‘Descendent of the Sun’ (2016) yang bertema perang dan pemberontakan. Sebelum itu belum banyak mengenal Korea dan setelah itu tak ada. Namun saat ini, saya tidak menyangka bahwa akan kembali tertarik pada drakor. Drama ini setengahnya berisi adegan roman dan sisanya adalah adegan aksi. Tidak seperti drama bertema aksi lainnya, drama ini mengambil konsep AR (Augmented Reality) yang telah dikembangkan pada aplikasi permainan.
Berjudul ‘Memories of the Alhambra’, saya mengira drama ini hanya berisi roman seperti biasa. Hanya saja kata Alhambra sangat mengusik saya, karena tempat ini adalah salah satu tempat bersejarah bagi dunia Islam. Namun, sangat tidak disangka bahwa episode pertama sudah membuat saya terkagum dengan adegan virtual yang disajikan. Menurut saya dengan konsep baru ini, drakor yang biasanya hanya mengambil hati penonton wanita melalui adegan roman, kini dapat juga mengambil hati penonton pria melalui adegan game yang dibuat nyata. Saya yakin drama ini akan disukai oleh kaum adam (terutama para gamers) karena konsep AR dan graph editing yang sangat meyakinkan.
VR (Virtual Reality) dan AR adalah dua kata asing bagi saya karena istilah tersebut tidak dikenal di bidang kami. Bidang-bidang yang menggunakan VR dan AR adalah bidang elit teknologi seperti teknologi pesawat, teknologi militer, dan teknologi kedokteran. Namun saat ini, kedua istilah tersebut sangat umum dikenal terutama di kalangan gamers. Salah satu aplikasi permainan berkonsep AR yang terkenal adalah pokemon GO!. Permainan menjadi sangat menarik karena melibatkan benda dan lingkungan nyata di sekitar kita.
Korea merupakan salah satu negara yang terkenal cepat dalam pengaplikasian teknologi. Permainan berkonsep VR dan AR sudah dapat dinikmati oleh orang-orang umum. Selain dengan mobile phone, mereka juga dapat menikmatinya di kios permainan setempat. Sebagai negara yang kemerdekaannya hanya dua hari setelah negeri ginseng itu, Indonesia, menurut saya patut mencontoh cara berkembangnya negeri tersebut. SDM negeri ini tak kalah banyak dan tak kalah pandai. Kampus teknik sudah tersebar di mana-mana. Sebagian ilmuwan juga telah belajar dari kampus negara lain. Jadi, tunggu apa lagi?
Indonesia yang saat ini hingga 15 tahun ke depan sedang mengalami bonus demografi, dinyatakan oleh banyak ahli bahwa kita berada dalam “masa emas”. Terlebih dengan adanya Revolusi Industri 4.0 yang berbasis teknologi digital, Indonesia harus segera memperbaiki diri sebelum terlambat jika ingin menguasai dunia. Berbicara tentang perbaikan Indonesia, maka perbaikan terkecil harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Sekian tulisan kali ini, semoga bermanfaat dan selamat menikmati perubahan.

follow me @qhimahatthoyyib

Senin, Agustus 27, 2018

SELINGAN 2 : Apresiasi untuk Para Atlet



                Sebenarnya aku masih ragu tentang judul apa yang cocok untuk tulisan kali ini, tapi biarlah. Meriahnya agenda ASIAN GAMES di Indonesia membuatku tak rela jika harus tertinggal pertandingan khususnya badminton. Seperti yang telah kuceritakan di SELINGAN1 sebelumnya, karena aku sempat mendalami badminton maka sedikit banyak masih terdapat jiwa-jiwa atlet dalam diriku. Menonton siaran ulang atau hanya mendengar liputan terkait hasilnya saja seringkali membuatku tetap tidak puas. Jadi, aku tahu rasanya bagaimana para pecinta sepak bola rela bangun malam-malam demi menyaksikan pertandingan klub favoritnya.
Setelah mengamati beberapa kali pertandingan badminton, ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku. Salah satunya adalah raket yang digunakan oleh para atlet. Salah satu bukti bahwa raket sangat menarik perhatianku adalah ketika para atlet menggunakan raket bermerk YONEX, orangtuaku akhirnya menghadiahkan raket merk tersebut padaku saat aku mulai mendalami badminton sekitar 18 tahun yang lalu. YONEX kami anggap sebagai raket paling bagus dan berkualitas tinggi. Namun, akhir-akhir ini tampaknya para atlet sudah tidak menggunakan raket bermerk lagi. Entah apapun sebabnya, hal inilah yang membuatku penasaran.
                Kejadian tersebut mengingatkanku pada dorama jepang berjudul Rikuoh yang dirilis pada tahun 2017 lalu. Dorama ini bercerita tentang pabrik tabi yang menjelma dengan produk sepatu untuk para atlet lari. Dorama tersebut juga menceritakan lika-liku perebutan sponsor sepatu untuk para eatlet lari tersebut. Mungkinkah hal demikian juga terjadi di dunia nyata lika-liku para atlet? Bagaimanapun sepatu adalah alat perang bagi para atlet lari, begitupula raket adalah senjata bagi para atlet bulutangkis. Maka dari itu, sponsor bertugas untuk memberikan semangat pada mereka agar dapat tetap memberikan yang terbaik.
                Rasa penasaran tersebut membuatku harus mencari kabar tentang YONEX dan akhirnya aku mendarat pada kisah sejarah YONEX, para atlet yang diberi sponsor, dan keberadaan pabrik tersebut saat ini. Aku hanya membaca dan tidak berani menyimpulkan apapun, meski Informasi tersebut telah sedikit menghapus rasa penasaranku. Namun, apapun yang terjadi semoga saja para atlet tetap semangat untuk memberikan yang terbaik terutama bagi bangsa dan negara. Hanya saja, apresiasi terutama dari pemerintah juga harus setimpal dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para atlet tersebut.
                Bukan hanya atlet, tentunya pada pengorbanan apapun, manusia membutuhkan apresiasi. Bukan haus akan penghargaan, tetapi apresiasi, hadiah atau apapun namanya akan membuat seseorang berusaha memberikan hasil yang terbaik, berlomba menjadi yang paling unggul, baik dalam rangka mengalahkan diri sendiri di masa lalu maupun melawan orang lain. Oleh karena itu, hargailah apapun yang dilakukan oleh orang lain, serendah apapun pekerjaan mereka menurutmu. Karena belum tentu jika kamu dalam posisi itu, kamu dapat melakukannya lebih baik daripada mereka. Dalam rangka menghargai orang lain, aku jadi teringat hal yang telah diajarkan oleh para guru dan senior di SMA dulu yaitu ucapkanlah 3 kata saat meminta bantuan orang lain MAAF, TOLONG, TERIMAKASIH. Demikian kisah hikmah hari ini, semoga bermanfaat untuk kita semua. Wassalamu’alaikum.

follow me @qhimahatthoyyib

Minggu, Juni 19, 2016

Setapak Cahaya: TERGANTIKAN ATAU MENGGANTIKAN



Assalamu’alaikum, sahabat bagaimana kabarnya akhir pekan ini? Semoga istirahat hari ini dapat memberi semangat kepada kita untuk berkegiatan kembali esok dan hari-hari setelahnya. Sahabat, di beberapa kesempatan tulisan saya menyebutkan bahwa suatu saat kita akan terganti dalam kehidupan ini. Entah dalam jabatan, entah dalam kepemilikan harta, entah dalam menjadi manusia. Hidup ini selalu bergulir, suatu saat yang hidup akan mati dan yang mati suatu saat akan dibangkitkan kembali, yang berharta suatu saat juga tidak memiliki apa-apa, yang menjadi pejabat suatu saat akan ada masa turunnya. Begitu pun dengan hidup kita.
Pada tulisan yang lalu di Setapak Cahaya: Membiasakan yang Benar, kita telah membahas bagaimana seharusnya kita bersikap dalam hidup kita. Berbuat baik saja tidak cukup, karena ukuran baik adalah relatif untuk setiap orang. Nah, bagi kita umat muslim kebenaran yang mutlak telah semuanya diberikan oleh Allah melalui kitab Al-Qur’an serta hadits-hadits Rosulullah berupa ucapan, tindakan, pernyataan, dan ketetapan lainnya. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbuat benar dan berada dalam jalan kebenaran yang telah dituntun oleh-Nya.
Hidayah Islam, merupakan hidayah yang tidak akan terkira harganya. Maka dari itu Nabi Ibrahim berpesan agar jangan sampai kita mati dalam keadaan tidak beriman. Sahabat masih ingat kisah paman Nabi yang beberapa hari lalu telah kita bahas di Setapak Cahaya: Membohongi Diri Sendiri. Bahwa tidak ada hal yang lebih baik daripada mengajak orang lain berbuat kebenaran dengan menjadi muslim. Dengan demikian, kita telah mempunyai banyak alasan mengapa kita tidak akan meninggalkan Islam dan selalu kuat dalam menjaganya. Tegas kepada orang-orang yang ingin menghancurkannya.
Berikut mari sedikit kita baca terjemah surat Al-Maidah ayat 54 tentang bagaimana seharusnya kita tidak meninggalkan islam dan tidak berputus asa dalam menyebarkan keindahan dan kedamaian Islam. Artinya: 54. Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.
Baiklah, maka dari itu dengan tulisan ini semoga dapat menjadi pengingat kita untuk selalu tetap dalam kebaikan dan menyebarkan kebenaran. Tetap semangat, semoga hari-hari yang kita lalui berada dalam cahaya-Nya dan mendapatkan ridho serta berkah-Nya, Amiin~


follow me @qhimahatthoyyib

Sabtu, Juni 18, 2016

Setapak Cahaya: MEMBIASAKAN YANG BENAR



Assalamu’alaikum sahabat, setelah kemarin kita membahas tentang ilmu pengetahuan di Setapak Cahaya: Berfikir Logis, mari kita buka tulisan ini dengan surat Al-Ahqof ayat 3-4 artinya: 3. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. 4. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku Apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau Adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"
Sahabat, belajar selama kurang lebih 5 tahun di jurusan Kimia membuatku sadar bagaimana sesungguhnya ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan terutama pada ilmu pengetahuan alam. Berbuku-buku yang telah kita baca juga menjadi bukti bahwa sesungguhnya Ilmu Allah masih lebih luas daripada semua buku yang telah ada di muka bumi. Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah buku dan ilmu yang kita baca hanya menumpang lewat mata kanan dan mata kiri? Bahkan tidak melalui bibir kita, juga tidak menghujam dalam hati kita? Serta tidakkah ia dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah? Maka dari itu perlu kita koreksi jenis bacaan tersebut dan kita cek kembali hati kita.
Bukankah Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna? Tidakkah kita merasa harus bersyukur dan membalas apa yang telah diberikan Allah kepada kita? Bukankah Allah telah memberikan kepada masing-masing kita bagian tubuh yang sama? Otak dan akal untuk berfikir, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara dan bagian lainnya mempunyai fungsinya sendiri. Lalu mengapa kita tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk berbuat baik pada setiap bagian tubuh kita, memberikan hak-hak kebaikan pada setiap ruas yang telah diciptakan-Nya. Tidakkah kita juga diberikan waktu yang sama selama sehari? Hanya saja sedikit berbeda beberapa tahun berada di dunia. Bukankah kematian tidak mengenal usia, baik tua maupun muda.
Ada salah satu kata menarik yang bisa juga sahabat ingat semua bahwa ‘biasakanlah yang benar jangan benarkan yang biasa (kebiasaan)’. Di dalam suatu hadits juga dijelaskan bahwa setiap ruas tubuh diri kita harus mengeluarkan sedekah, cara mudah salah satunya adalah dengan sholat dhuha. Oleh karena itu, sahabat semua mari kita biasakan untuk berbuat hal yang benar karena baik saja tidak cukup. Kebaikan adalah suatu hal yang relatif, artinya hal tersebut akan berbeda pada setiap orang. Itulah mengapa hukum di suatu negara berbeda antara yang satu dengan yang lain. Namun, hal yang benar atau kebenaran adalah sesuatu yang mutlak.
Maka dari itu sahabat, kebenaran inilah hal yang seharusnya kita cari dan kita biasakan. Dengan demikian, untuk mengakhiri tulisan ini mari kita baca terjemah surat Al-Ahqof ayat 19: “19. dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menerima amal kebaikan yang dilakukan oleh setiap ruas anggota tubuh kita. Amiin~


follow me @qhimahatthoyyib