Kamis, Desember 01, 2011

Akulah Serigala Berbulu Domba


Oleh : Qurrota A’yun Thoyyibah XII IPA 3
-Entahlah apa yang aku pikirkan. Kenapa sekarang diriku berbeda. Kata temanku seperti itu-

            Baru saja aku mematikan televisi 21 inci yang ada di kamarku-Huh! Ribut sekali, berita yang disiarkan selalu yang itu-itu, bukan aku malas mendengarnya atau tak mau mengerti apa yang terjadi pada negeri ini. Seharusnya hidup ini seindah pelangi, meski berwarna-warni tetap saja terlihat indah-Seorang loper koran melemparkan koran itu seperti biasa ke dalam rumah, hanya di depan pintu saja, aku memungutnya dan pertama kali yang aku lihat adalah headline-nya. Huh! Berita itu lagi, tak sengaja aku lempar koran itu jauh-jauh agar tak terlihat lagi oleh mataku.

            Kata orang, berita yang gencar saat ini adalah memang berita itu. Kawan! Mau tahukah kau itu berita apa? Memang, sebenarnya sangat tidak enak didengar tapi apalah dayaku menghadapi keingintahuanmu. KORUPSI. Itulah beritanya, ku tulis besar-besar agar kau tak bertanya lagi di akhir cerita. Media massa manapun, selalu memuat berita-berita seperti itu, korupsi, koruptor, tak tahu apa! Bahwa masyarakat Indonesia terutama aku sudah muak mendengarkannya. Bisa apa media massa itu, apa mereka pikir dengan semakin sering  diberitakan maka pelaku akan mengaku? Tidak mungkin, mustahil! Malah para koruptor itu menjadi semakin kebal [1] terhadap pemberitaan tentang mereka. Katanya, media massa adalah anjing penyalak[2] dan kontrol negara dan pemerintahan tapi mana buktinya.

            Kawan, tahukah kalian arti dari kata 'Korup'? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi kata 'Korup' adalah memakai kekuasaan untuk kepentingan sendiri dan sebagainya. Jadi, koruptor bukan hanya seseorang yang menggelapkan[3] uang untuk kepentingan sendiri namun juga menggelapkan hal-hal lain. Contohnya saja, pohon yang diciptakan oleh Tuhan kita adalah koruptor, ia makan, minum, bernafas tapi tidak melakukan apa-apa, pemalas! Tidak bergerak seperti kita. Tapi, pohon sangat bermanfaat dalam kehidupan kita, penyuplai oksigen utama.

            Oh ya! Kawan, aku lupa memperkenalkan diri padamu. Namaku Danang, Danang Kusuma Atmaja, saat ini usiaku 18 tahun, kata temanku aku adalah anak terdisiplin yang ada di sekolah. Kata-kata mereka yang aku tangkap adalah seperti ini :

            “Oi, Danang!” Doni menyapaku dari belakang, saat aku hendak masuk melewati gerbang sekolah. Saat itu aku berusia 16 tahun-1SMA-dan Doni adalah teman sekelasku.
            “Apa?” jawabku sambil menengok padanya.
            “Rajin amat! Udah sampe sini, amat aja gak rajin! Hahaha.” balas Doni sambil tertawa.
            “Iya, udah sampe aja!” temanku Wid ikut menimpali percakapan kami, berkata sambil memegang pundakku. Aku terkaget dan aku menengok padanya.
***
            “Anak-anak, pada pertemuan kali ini kita akan membuat karya sastra dan bapak akan mengirimkan karya kalian ke rubrik Horison[4]. Karya sastra yang kalian buat terserah kalian, boleh puisi, cerpen, esai, resensi atau apapun. Kumpulkan hari ini paling lambat jam 3 sore nanti di meja saya!” guruku, Kresna Hariwangsa namanya, guru Bahasa Indonesia di sekolah, yang paling aku idolakan.

            Setelah memberi tugas padaku dan teman-teman sekelas, pak Kresna keluar dari ruang kelas dan aku juga segera keluar dengan membawa pensil dan kertas-yang telah menjadi separuh nyawaku-mencari inspirasi.

            Aku sangat suka menulis puisi, sampai saat ini aku telah punya 2 buku puisi berisi puisi-puisi yang aku buat sendiri namun belum ada satu karya pun ku kirimkan ke majalah manapun. Aku jadi teringat puisi yang aku buat tentang korupsi dan para koruptor itu, aku membuatnya sebelum berita-berita itu sangat gencar seperti saat ini. Begini kira-kira isinya :

Pembawa Berita

Tak seorangpun tahu!
Bahwa kau si pelaku itu
Sangat cerdik
Meski caramu tak terdidik

Entahlah
Mengapa dirimu bangga
Dianggap serakah

Aku hanya pengisah
Tak bisa apa-apa

Aku hanya pelepah
Pembawa berita saja

Aku hanya kicau burung
Tak seorangpun percaya padaku
Meski ku berkicau merdu
Kau tetap penipu

Bagaimana pendapatmu? Itulah puisiku. Menurutku kurang panjang isinya dan belum mengena tapi dayaku sudah tiada, sudah terasa muak menulisnya.

            Sejak saat ini aku bertekad dan bila ditanya tentang apa cita-citaku aku menjawab akan menjadi ketua KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) selain menjadi penulis yang sangat aku idamkan semenjak aku ada di tingkat tsanawiyah[5].
***
            “Bapak ini bagaimana! Laporan keuangan memang sudah benar, tapi mana hasilnya! Hah! Jawab! Saya ini atasan anda!”

            Yang baru saja kalian dengar adalah ucapan pak Dimas-Dimas Hadi nama lengkapnya-yang sedang memarahi bawahannya. Bawahan yang sedang dimarahi hanya menunduk kemudian terduduk lesu di kursi kerjanya setelah ditinggalkan pak Dimas.

            Saat melihat sang bawahan terduduk lesu seperti itu, salah satu rekannya-Risha Fiatna namanya-menghampirinya. Mereka berdua adalah sahabat semenjak mereka kuliah di salah satu universitas terkenal di Jakarta dan sekarang mereka bekerja di tempat yang sama di daerah Jakarta pula.

            “Tenang aja, kalau dirimu tidak melakukan kesalahan buat apa takut!” Risha mencoba menenangkan hati temannya.
            “Tapi Rish, memang benar pak Dimas, aku memang salah!” jawabnya.
            “Apanya yang salah? Laporan sudah benar kan!” kata Risha mencoba menenangkan lagi.
            “Kamu kenapa sih, ketakutan seperti itu, bilang saja padaku, kamu memang agak sedikit berubah ya! Berbeda, tidak seperti biasanya.” Risha menangkap adanya hal mencurigakan pada wajah rekannya.
            “Entahlah, apa yang aku pikirkan. Kenapa sekarang diriku berbeda. Kata temanku-Risha sendiri-bilang seperti itu.” kata si bawahan itu dalam hati, menyesali perbuatannya sendiri.


            Kawan, tahukah apa yang diperbuat oleh bawahan itu? Jabatan bawahan itu adalah ketua KPK dan yang dilakukannya ternyata korupsi. KORUPSI. Aku perbesar agar kau tak lagi bertanya.

            Kawan, tahukah kalian! Sayangnya ketua KPK itu sendiri adalah aku. Aku yang dulu bercita-cita sebagai pemberantas korupsi. Aku yang muak sekali mendengar berita tentang korupsi. Aku yang dulu habis-habisan menulis, mengkritik lewat puisiku pada para koruptor.

            Kawan, akulah ‘Serigala Berbulu Domba’. Aku tak tahu mengapa semakin hari semakin liar. Di usiaku sekarang-54 tahun-aku tertangkap, tersiar di seluruh media massa yang memuakkan manusia dan para remaja. Kawan, semoga cerita ini berguna untukmu. Aku tak mau hal yang sama terjadi padamu.


[1]    tahan
[2]    Kritik, koreksi (melakukan)
[3]    Mengambil dengan sembunyi
[4]    Majalah Sastra
[5]    Jenjang pendidikan setingkat SMP

follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar