Senin, Mei 30, 2016

Setapak Cahaya: TERJEBAK KESENANGAN



Semoga hari ini sahabat sekalian dalam keadaan yang sehat dan dirahmati oleh Allah ya, amiinn.. Sebelum masuk kepada apa yang kita bahas hari ini, saya ingin mengingatkan kepada sahabat semua mengenai tulisan saya sebelumnya berjudul Karena yang Menyenangkan itu Mematikan. Yap, mari kita ulas sedikit terkait kesimpulan dari tulisan tersebut. Bahwasannya kesenangan yang terdapat di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Terutama jika dilakukan secara berlebihan maka akan berdampak buruk pada diri kita. Karena kesenangan-kesenangan tersebut akan menjadi candu dan menyebabkan rasa sakit (bisa juga terjadi stress bila parah) pada tubuh kita.
Poin yang lebih penting terkait kesenangan duniawi adalah harganya yang mahal. Dalam melakukan kesenangan duniawi selalu ada harga yang harus dibayar, tidak bisa kita dapatkan secara gratis dan cuma-cuma. Contohnya tiket konser berjuta-juta, narkoba dan minuman keras yang selangit harganya, wanita bertarif di kota, rokok yang terus melejit biayanya, tiket bioskop, hotel dan kafe, tarif listrik, pulsa dan paket data tidak ada yang seketika tersedia. Hal ini berbeda dengan ibadah-ibadah yang seharusnya kita lakukan. Sholat bisa di mana saja bahkan di atas tanah, berpuasa tanpa sahur dibolehkan bila tidak punya, senyum kepada saudara dan melakukan ibadah dhuha pun telah berarti sedekah, ibadah haji pun diwajibkan bagi yang mampu saja, dan masih banyak lagi kebaikan serta ibadah yang cuma-cuma. Namun, mengapa kesenangan duniawi lebih banyak peminatnya?
Hal ini dapat kita temukan di dalam AlQur’an surat Al-Hijr ayat 3 yang artinya: “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” Sehingga dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa ternyata kesenangan duniawi seperti candu yang dapat melalaikan pelakunya. Kesenangan duniawi merupakan candu yang menyebabkan terbentuknya angan dan harapan kosong terkait kepemilikan terhadap dunia. Seolah dunia dan seisinya ini dapat kita miliki selamanya.
Terjebak dalam kesenangan duniawi. Inilah yang terjadi pada para pemuja dunia. Sesungguhnya hal ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang kafir. Bahkan kita yang mengaku umat muslim juga seharusnya mengoreksi dan instropeksi diri apakah kita juga demikian adanya? Maka hal ini menjadi perenungan yang sangat serius. Karena terdapat kisah lebih menyedihkan pada permulaan dan lanjutan dari cerita di atas. Tepat pada surat Al-Hijr ayat 2 dan 4-5 yang artinya:
2. orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim.
4. dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.
5. tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (Nya).
Penjelasan keempat ayat tersebut di dalam Tafsir Al-Muyassar (Syaamil AlQur’an THE MIRACLE 15in1) adalah sebagai berikut:
2. Orang-orang kafir kelak ketika memperhatikan keadaan dirinya di neraka dan melihat keadaan orang-orang yang beriman, mereka menginginkan seandainya dulu menjadi orang-orang yang mengesakan Allah atau beriman kepada keesaan-Nya, tentu mereka terbebas (dari neraka) sebagaimana orang-orang yang beriman.
3. Biarkanlah—wahai Rosulullah—orang-orang kafir makan dan bersenang-senang dengan kehidupan dunia mereka. Ketamakan mereka melalaikan diri mereka dari menaati Allah. Kelak, mereka akan mengetahui akibat dari perbuatannya tersebut yang merugikan kehidupan dirinya di dunia dan akhirat.
4. Jika mereka (orang-orang kafir) meminta diturunkan siksa untuk diri mereka demi mendustakanmu—wahai Rsoulullah—Sesungguhnya, Kami tidak membinasakan suatu negeri, kecuali pada waktu yang telah ditetapkan. Kami tidak membinasakan mereka sehingga mereka sampai pada waktu kebinasaan, seperti kaum-kaum sebelum mereka.
5. Suatu umat tidaklah bisa mengundurkan ajalnya sehingga mereka menambah ajal tersebut. Tidak pula bisa mendahulukan sehingga mereka menguranginya.
Demikian sahabat, insyaAllah apa yang kita bahas hari ini semoga dapat diambil pelajaran dan dapat menjadikan kita sebagai seorang muslim dan mukmin yang lebih baik lagi pada hari-hari selanjutnya. Teringat tulisan sebelumnya berjudul (Day 7) Orang-orang yang Paling Mulia, di sana dapat kita temukan bagaimana ciri-ciri orang yang mulia. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya :)


follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar