Jumat, Agustus 19, 2011

Nasi Goreng 'SENJA'


Akhirnyaaa,,, saat itu, 31 mei 2011 adalah pertama kalinya setelah beberapa tahun aku tidak merasakan kenikmatan nasi goreng yang tiada tara, dan saat itu pula aku tahu nama si penjual nasi goreng kesukaanku tersebut, namanya Cak To dan masih bersama istrinya ditambah seorang pegaawai, sekarang warungnya berada di kawasan Semolowaru Selatan, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Dan sampai saat ini aku telah merasakannya 6 atau 7 kali.

Entah mengapa sampai saat ini—sudah 18 tahun—Aku suka sekali nasi goreng,, (sampai-sampai aku ingin sekali berbisnis nasi goreng nanti saat usiaku sudah matang dan menamakannya dengan nasi goreng ‘Senja’ dan mendekorasi ruang dengan kehangatan yang ditawarkan senja, dengan diiringi lagu bernuansa senja) kemungkinan terbesar adalah saat pertama kali aku merasakannya, aku sangat terpesona dan merasakan kenikmatan yang tak terhingga dan mengalahkan kelezatan makanan apapun dan dari manapun, jujur saja (maaf Bunda, aku tidak bermaksud tidak menghargaimu,,) tak terkecuali masakan ibuku.

Kisah ini berawal dari sebuah tempat di kawasan Semolowaru, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan yang tidak elit inilah pertamakali—yang aku ingat—nya aku mengawali hidupku. 

SEMOLOWARU UTARA, TK RADEN PATAH begitulah tulisan yang terpampang di gapura kawasan tersebut. Tidak jauh dari kawasan tersebut, di seberang jalan(yang dahulu—13 tahun yang lalu—di seberang sungai), ada seorang penjual nasi goreng, seorang pria yang selalu ditemani istrinya dalam berjualan,, warung yang sederhana, aku bahkan tak tahu apa nama warungnya—kemungkinan besar karena aku belum bisa memperhatikan hal-hal detil seperti itu karena usiaku yang masih terlalu kanak-kanak—apalagi nama penjualnya. Di warung itulah pertama kalinya aku merasakan masakan bernama NASI GORENG, saat suapan pertama aku masukkan ke dalam mulut kecilku, aku merasakan kenikmatan yang tak terhingga, seolah-olah kenikmatan bumbu di dunia ini berada dalam mulutku,, aromanya yang khas, rasanya yang luar biasa meski warung si penjual sangat sederhana,, nasi goreng yang SEMPURNA! 

Sayangnya 2 tahun kemudian aku harus pindah dari tempat tinggalku yang mungil itu untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, Sekolah Dasar Islam MARYAM di kawasan Manyar, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Orangtuaku pun tahu bahwa aku suka sekali nasi goreng sejak kami—ayah, bunda, dan satu adikku—membelinya beberapa kali di kawasan Semolowaru dulu, maka yang pertama kali aku cari adalah penjual nasi goreng. Setelah membeli nasi goreng di berbagai tempat, ternyata aku tidak menemukan nasi goreng  yang rasanya seenak nasi goreng kesukaanku, orangtuaku pun berpendapat demikian, akhirnya nasi goreng Semolowaru menjadi favoritku dan keluargaku. Manyar-Semolowaru jaraknya tidak terlalu jauh, jadi tidak masalah jika beberapa kali kami membeli nasi goreng disana, namun yang menjadi masalah adalah,,

4 tahun kemudian aku harus pindah dari Manyar, karena ayahku telah memutuskan untuk membeli rumah—karena selama ini mengontrak—di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. Aku melanjutkan pendidikan dasarku di sebuah lembaga Madrasah Ibtidaiyah NURUL ISLAM. Belum sampai setahun aku berada di sana, aku sangat kangen dengan nasi goreng Semolowaru kesukaanku, sayangnya saat kami—orangtuaku—berkesempatan pergi ke Semolowaru, warung itu sudah pindah tempat kata orang-orang sekitar, Alhamdulillah, selang beberapa menit mencari, ayahku yang hebat dalam menemukan sesuatu, akhirnya menemukan warung tersebut, memang agak jauh tempatnya dari tempat semula. Mulai saat itulah aku sudah tidak bisa lagi sering-sering menikmati nasi goreng kesukaanku itu. Apalagi setelah itu,, 

2 tahun kemudian aku lulus sekolah dasar dan melanjutkan pendidikanku di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren AMANATUL UMMAH di kawasan Siwalankerto, Surabaya, JawaTimur. Meskipun ada di Surabaya, tempat ini lumayan jauh dari Semolowaru apalagi dalam suasana pesantren aku tidak sering ditengok orangtua. Jadilah selama tiga tahun aku berada di sana, aku hanya 5 kali menikmati lezatnya nasi goreng semolowaru kesukaanku tersebut, karena sampai saat itupun aku tidak menemukan nasi goreng yang lebih lezat bahkan menyerupai nasi goreng semolowaru itu. 

3 tahun kemudian, Allah menakdirkanku bersekolah di Madrasah Aliyah negeri INSAN CENDEKIA di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia. Selama 3 tahun berada di sekolah tersebut, aku hanya beberapa kali pulang ke rumah, sepertinya hanya 4 kali, itu yang aku ingat. Jadi setiap kali aku pulang, aku selalu meminta kepada orangtuaku untuk membelikan nasi goreng semolowaru kesukaanku itu namun lagi-lagi, tempat nasi goreng itu pindah, dan ayahku tidak menemukannya di kali pertama aku pulang ke rumah. Padahal aku sangat merindukan kenikmatnya, karena meskipun sudah sampai Tangerang, aku tidak menemukan nasi goreng dengan rasa yang begitu nikmat, yang bisa dibilang nikmatnya sampai suapan terakhir dan sepertinya hukum gossen tidak berlaku pada nasi goreng yang satu ini karena aku telah membuktikannya,, Alhamdulillah, saat aku pulang kedua sampai keempat kalinya, abi telah menemukan tempatnya dan akhirnya aku sempat merasakan nikmatnya hidup dengan nasi goreng,,

Dan sekarang aku kembali ke Surabaya, berada di ITS membuatku dekat dengan nasi goreng kesukaanku, begitulah sampai sekarang, rasa dan aromanya yang masih sama, kenikmatan nasi goreng yang tiada tanding, nasi goreng Cak To--sekarang di SEMOLOWARU SELATAN--berada di hatiku selama kurang lebih 13 tahun,, nikmatnya yang SEMPURNA dan harganya yang murah harus kalian rasakan juga teman,, serta tunggulah sampai aku menggantinya dengan nasi goreng ‘Senja’ yang LEBIH SEMPURNA.

follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar