Selasa, Juni 30, 2015

(Day 13) THE WRONG PEACE



Assalamu’alaikum, insyaAllah mulai hari ini tidak akan ada tulisan yang terlambat lagi ya sahabat. Tidak karena kesibukan, tidak pula karena sakit, tidak pula karena ibadah lain yang tertunda. Semua harus tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah kita rencanakan. Sahabat, ada hal unik yang perlu saya ceritakan kepada anda semua. Beberapa waktu lalu saya melihat ceramah dr. Zakir Naik (‘ulama ahli medis yang menguasai ilmu perbandingan agama) di salah satu situs web ternama. Di dalam sesi pertanyaan ada seseorang yang menawarkan kepada dr. Naik mengenai agama kedamaian (peace)-yang dimaksud oleh penanya bukan agama Islam, karena beliau adalah non-muslim. Dengan santai, dr. Naik menjelaskan bahwa kedamaian yang diinginkannya adalah kedamaian yang salah, misalnya seperti penyembah setan (satanisme) mereka tetap nyaman dalam keadaan yang demikian, merasa damai dengan berada pada keadaan yang demikian. Ternyata kedamaian yang salah (the wrong peace) ini telah disebutkan di dalam al-Qur’an surat Fathir ayat 5-8 yang artinya:
5. Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.
6. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala
7. orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
8. Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa karena Kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.
Nah, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya dalam tulisan berjudul Semenjak Aku Tahu, Bahwa ketika kita mulai menyadari dan tahu kebenaran akan sesuatu, maka semenjak itulah kita mulai menyadari ia ada di sekitar kita, menyadari bahwasannya kebenaran itu dekat dengan kita. Letak kebenaran itu sama, namun sebelumnya kita tidak menyadari keberadaannya karena tidak mengetahuinya. Mengenai hidayah, seperti yang telah dikatakan oleh guru-guru saya, adalah seperti sebuah cahaya mentari yang apabila jendela rumah kita tertutup maka ia (hidayah/cahaya itu) tidak akan masuk dan tidak pula menerangi rumah kita.
Dengan demikian, mulailah dari sekarang untuk selalu membuka jendela rumah kita agar cahaya mentari dapat masuk dan bisa menerangi hati kita. Sehingga kita tidak lagi berada dalam kesesatan. Bahwa seperti apa yang disampaikan pada ayat 8 di atas, hanya Allah-lah yang dapat menunjuki siapa yang ia kehendaki, tapi kitalah yang merencanakan apakah ingin dikehendaki oleh Allah atau tidak. Wallaahu A’lam bishshowaab..

follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar