Senin, Juni 20, 2016

Setapak Cahaya: MENGHARAPKAN KEMATIAN



Sahabat, tidak sedikit di antara kita beranggapan bahwa orang yang terlebih dahulu meninggal dunia adalah orang-orang yang dikasihi oleh Allah, orang-orang yang dicintai dan dirindukan oleh-Nya. Ya, demikian banyak orang yang percaya bahwa kematian merupakan pintu gerbang menuju kehidupan kedua. Sangat banyak orang percaya bahwa kematian pasti terjadi tetapi sangat sedikit orang yang benar-benar mempersiapkannya. Banyak pula orang menangis ketika melihat atau hanya dengan mengetahui saja, orang-orang yang tercinta pergi meninggalkannya. Tetapi waktu bisa menyembuhkan segalanya, bahkan bisa membuatnya kembali tertawa.
Kematian. Ya, tidak ada jodoh yang lebih dekat ketimbang mati. Mati bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, asalkan Allah telah menetapkannya. Sama seperti cinta, ia juga dapat ditemui di mana saja dan kapan saja, bila Allah telah menghendakinya. Bagi orang-orang yang beriman, tidak ada perbedaan dalam menyikapi terjadinya takdir. Biarlah Allah yang menentukan, apakah kita akan bertemu dengan si cinta atau mati terlebih dahulu. Yang jelas, persiapan kita harus benar-benar matang. Namun, menurut hemat saya, mempersiapkan bertemu dengan kematian lebih mudah dilakukan ketimbang persiapan menemui si cinta.
Menemui mati, adalah jalan utama untuk bertemu dengan Cinta Sejati. Syaratnya cukup mudah, lakukan saja apa yang diminta oleh Cinta Sejati tersebut. Ya, beriman-lah satu-satunya cara untuk menarik perhatian-Nya. Agar Ia melirik kita, melihat hingga memperdulikan serta mengutamakan kita. Sedangkan menemui si cinta, syaratnya sedikit lebih sulit. Selain beriman, terkadang ia juga memerlukan dana hahaha. Tapi tenang saja, Allah telah menjamin segalanya. Allah tidak akan membiarkan satu makhluk pun luput dari kasih sayangnya.
Di dunia, apapun bisa kita lakukan. Yah, namanya juga arena permainan, apapun bisa saja terjadi. Banyak orang berlomba menjadi terkaya, terpopuler, tercantik, tergagah, terkuat, terhebat, dan kategoti ter- lainnya. Sebaliknya, sedikit orang yang berlomba menyiapkan bekal mati. Padahal dunia adalah sesuatu yang fana sedangkan mati, sesuatu yang pasti terjadi. Ada kisah menarik dari Rosulullah dan para sahabat yang tertulis di dalam hadits bahwa suatu saat jumlah umat muslim amatlah banyak tapi mereka sangat lemah. Perumpamaannya seperti buih di permukaan laut. Sahabat bertanya mengapa kita begitu lemah? Rosul menjawab karena adanya sifat ‘wahn’ yaitu cinta dunia dan takut mati.
Kematian memang sudah pasti terjadi. Tetapi meminta mati adalah suatu hal yang lain lagi. Terlebih bila ada niat untuk bunuh diri. Terkadang, bila kita menganggap ‘dunia sedang tidak berpihak kepada kita’, kesedihan terlalu berlebih membawa kepada suasana yang demikian, yaitu menjemput kematian. Namun, bila giliran kita belum benar-benar tiba, tentu kematian tidak mendatangi kita. Sebagai seorang muslim, kita hanya bisa mempersiapkan hal terbaik, bekal terbaik untuk kita bawa saat kematian itu tiba. Serta kita berdoa agar kematian yang terjadi adalah kematian yang mudah dan kondisi kita tetap beriman berislam.
Sebagai penutup, mari kita lihagt terjemah surat Al-Jumu’ah ayat 6-8: 6. Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa Sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, Maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar". 7. mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. dan Allah Maha mengetahui akan orang-orang yang zalim. 8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".
Tafsir Jalalain menyebutkan pada ayat 6 bahwa pernyataan pertama menjadi syarat dan mengikat bagi pernyataan kedua. Artinya, jika kalian benar-benar di dalam dugaan kalian yang menganggap bahwa kalian adalah kekasih-kekasih Allah. Dan merupakan kelaziman bagi kekasih Allah itu selalu mementingkan kehidupan di akhirat, dan permulaan jalan untuk meneuju ke akhirat itu adalah mati. Oleh karena itu, harapkanlah kematian itu.


follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar