Senin, Juni 13, 2016

Setapak Cahaya: PERSAUDARAAN DALAM ISLAM



Alhamdulillah sahabat, semua hari-hari kita bisa berjalan lancar meskipun sesekali ada kerikil bebatuan dan ombak-ombak yang menerjang. Buktinya, kita masih ada dan survive hingga hari ini. Bukan karena kita hebat dalam menjalani hidup tapi karena Allah telah menampakkan jalan dan membukakan pintu keluar untuk menyelesaikan maze dan labirin permasalahan kita. Masih ingat apa yang kita bahas kemarin di Setapak Cahaya: Hari yang Sibuk? Ya, bahwa akan ada suatu hari dimana kita tidak akan memperdulikan orang-orang di sekitar kita, bahkan orang tua kita sekalipun. Oleh karenanya selama hari itu belum datang, mari kita syukuri keberadaan kita saat ini dan saling mengingatkan.
Persoalan saling mengingatkan tentunya bukan sesuatu yang sangat mudah tapi juga bukan sesuatu yang amat sulit. Mengingatkan orang tua dan guru misalnya, atau mengingatkan anak-anak kita, mengingatkan teman-teman sebaya atau teman-teman yang lebih muda bahkan yang lebih tua usianya dari kita. Hal yang demikian dapat kita pelajari tentunya. Sahabat bisa kembali mengintip tulisan tahun lalu (Day 6) Menasihati Nenek Moyang.
Ikatan batin adalah hal yang lebih utama seharusnya ada ketika kita mengingatkan orang lain atau sebaliknya. Ikatan ini di dalam Islam menjadi sangat khas dan mudah dikenali, karena sumber dan pokok keimanan yang kuat menjadi dasar untuk terbentuknya ikatan tersebut. Iya, hanya dengan menjadi bagian dari umat muslim alias beragama Islam berarti bahwa kita telah menjadi saudara. Hal ini pada umumnya disebut Ukhuwah Islamiyah atau dalam Bahasa Indonesia disebut Persaudaraan Sesama Muslim.
Mengenai pembahasan yang satu ini, saya akan menuliskan ulasan dari Ustadz Mudhofar Jufri Lc, MA ketika berceramah di Masjid Manarul Ilmi ITS malam kemarin. Bersaudara di dalam Islam, seperti yang saya tulis di paragraf sebelumnya, adalah sesuatu yang sederhana. Ya, hanya dengan menjadi muslim kita telah disebut sebagai saudara. Hal ini tertuang dalam surat Al Hujurot ayat 10 yang artinya: 10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Sayangnya, hal yang sederhana tersebut menjadi lebih kompleks di hadapan manusia. Banyak sekali di antara kita yang menambahkan syarat-syarat persaudaraan lainnya setelah syarat dari Allah. Saudara seiman berbatasan dengan kesamaan organisasi, kelompok, partai, harokah/gerakan, madzhab dan syarat lainnya yang mana apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi maka kamu bukanlah saudara saya. Padahal yang demikian ini akan menjadi salah satu pintu kekalahan umat Islam. Namun, kekalahan itu tidak akan terjadi bila umat muslim telah benar-benar menerapkan konsep persaudaraan atas iman karena Allah telah menjanjikan kemenangan Islam.
Konsep ukhuwah Islamiyah telah banyak dipaparkan di dalam hadits-hadits Rosulullah, salah satunya adalah riwayat Imam Muslim yang berisi bahwa orang-orang yang saling bersaudara adalah orang yang bersih hatinya terhadap saudaranya, tidak saling menganiaya, tidak juga mendholimi, tidak membiarkannya dalam keburukan dan kemaksiatan, tidak mendustainya pun juga tidak merendahkannya serta mencintai saudaranya apabila terdapat padanya apa-apa yang dicintainya untuk dirinya sendiri. Selanjutnya adalah adanya kerjasama dalam kebaikan yang disampaikan dalam surat Al-Anfal ayat 73 yang artinya 73. Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu[625], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.
[625] Yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.
Juga di dalam surat At-Taubah ayat 71 yang artinya 71. dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Maksud dari hadits yang berarti tidak beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya apabila terdapat padanya apa-apa yang dicintainya untuk dirinya sendiri adalah kita bukan hanya seseorang yang memikirkan diri sendiri. Apabila kita menginginkan kesuksesan tentu juga diimbangi dengan kita menginginkan kesuksesan tersebut untuk saudara kita. Apabila kita ingin hidup tenteram, maka kita juga menginginkan ketenteraman itu terjadi pada saudara kita. Apabila kita inginkan keberhasilan, maka kita juga ingin bahwa keberhasilan itu terjadi untuk saudara kita, dan lain sebagainya.
Sehingga, kesimpulan yang bisa diambil ada dua poin penting dalam persaudaraan umat muslim. Pertama, mempunyai kesepakatan dalam prinsip yaitu rukun iman, rukun islam, dan kitab. Kedua, mempunyai sikap tafahhum dan tasammuh, yaitu saling memahami dan mentoleransi terutama terhadap perbedaan perkara-perkara furu’iyah alias cabang/nonprinsip. Dengan demikian, apabila ukhuwah Islamiyah ini telah benar-benar berhasil diterapkan, InsyaAllah kemenangan Islam yang Allah janjikan akan semakin dekat datangnya. Amiin.

follow me @qhimahatthoyyib
#Kemesraan_Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar